Blog Single

15 Mei

Yuk Wujudkan Ramadhan Terbaikmu

Di satu sisi, saya melihat umat Muslim di negeri ini sangat ‘percaya diri’ dengan amal-amalnya di bulan Ramadhan. Begitu percaya dirinya mereka, sehingga ‘Idul Fitri disebut sebagai ‘Hari Kemenangan’.

Di sisi lain, saya juga melihat wacana Ramadhan justru terlihat sangat ‘receh’. Kita bisa menangkap kesan ini dari pertanyaan – pertanyaan yang muncul di bulan Ramadhan. Misalnya: “Muntah dengan sengaja itu membatalkan shaum atau nggak?”

Padahal, yang lebih pantas untuk dipertanyakan adalah: Emang ngapain sih orang bersengaja muntah?

Begitu juga pertanyaan, “Kalau diinfus, shaumnya batal apa nggak?”

Padahal demam biasa saja di rumah kita sebaiknya langsung berbuka. Kalau diinfus, berarti kan parah sakitnya. Masak dipaksakan untuk terus shaum?

Yang paling parah adalah pertanyaan misterius yang sejak saya SD masih terus dikumandangkan:

“Kentut di kolam renang membatalkan shaum atau nggak?”

Hellaw, kalo lagi shaum, ngapain ente di kolam renang? ??

Ini semua menunjukkan bahwa ada trend untuk ‘tidak serius’ memandang ibadah Ramadhan. Padahal kita sudah gembar-gembor jadi pemenang di 1 Syawal. Saya khawatir, kita merasa sudah dapat podium, padahal cuma sekedar jadi finisher. Atau jangan2, finisher pun tidak.

Kalau ditanya apa makna shaum, banyak yang menjawab, “tidak makan, minum dan berhubungan suami-istri dari subuh sampai maghrib”. Padahal yang disebutkan itu hanya hal-hal yang membatalkan shaum, bukan yang mendefinisikannya.

Implikasinya besar. Karena kita keliru membedakan keduanya (yaitu yang membatalkan dan yang mendefinisikan), maka kita merasa sudah sukses shaum, padahal kita cuma sekedar tidak batal saja. Dan kita pun tahu, kalau cuma tidak batal, adik-adik kita yang TK dan SD pun bisa. Lantas, apa ibadah Ramadhan kita sama saja dengan mereka?

Saya biasanya mengajak orang untuk melakukan napak tilas terhadap sejarah dakwah Rasulullah saw. Mari melihat Sirah Nabawiyah.

Ketika shaum Ramadhan pertama kali disyariatkan, yaitu pada tahun 2 H, pada saat itu pula Perang Badar terjadi. Di sekitar tgl 17 Ramadhan. 300an umat Muslim yg bersenjata seadanya (karena tadinya hanya berniat mencegat kafilah dagangnya Abu Sufyan) berhadapan dengan 1.000 orang prajurit bersenjata lengkap dari Mekkah. Dan menang!

Bagaimana kita menjelaskan kemenangan ini? Apa cukup hanya dengan mengatakan bahwa ini mukjizat? Well, kalau semua persoalan mau diselesaikan dengan mukjizat, kenapa gak dari dulu aja, sehingga Nabi saw dan para sahabatnya gak perlu capek-capek hijrah? Kalau kemenangan itu karena bantuan malaikat, maka di Perang Uhud pun Allah SWT mengirimkan malaikat kok. Tapi hasilnya beda.

Bagaimana org yang shaum bisa menang perang? Keajaiban apa yang terjadi?

Atau jangan-jangan memang ini bukan keajaiban, dan kita bisa menduplikasinya? Setidaknya, kita mesti berusaha!

Mari melakukan napak tilas sejarah!

Setelah turun wahyu pertama, tak lama kemudian Malaikat Jibril mengajari Nabi saw caranya wudhu dan shalat, kemudian Nabi saw mengajarkannya kepada orang terdekatnya. Memang tidak diketahui pasti kapan hal ini diajarkan, yang jelas semua ahli sepakat bahwa ibadah shalat telah membersamai umat Muslim sejak awal masa dakwah Rasulullah saw.

Saat itu, shalat tidak lima waktu. Ada shalat pagi dan petang. Semua shalat sembunyi-sembunyi. Di balik bukit, di gang-gang sempit. Sebab banyak orang yang memeluk Islam tapi tidak diridhai oleh keluarganya. Itu mungkin hikmahnya diperintahkan shalat di pagi dan petang, yaitu sebelum orang-orang larut dalam kesibukan, dan sesudahnya. Supaya mudah bersembunyi.

Setelah itu, bagian awal Surah al Muzzammil turun. Qiyamul Lail diperintahkan dgn status wajib dan dilaksanakan sepanjang sepertiga atau separuh malam terakhir. Hikmahnya diperintahkan shalat di akhir makan, lagi-lagi supaya bisa sembunyi-sembunyi. Tapi menariknya, dalam Surah Al Muzzammil dijelaskan bahwa ‘Allah akan menurunkan perkataan yang berat’. Ini ditafsirkan sebagai cobaan yang berat.

Benar saja, tak lama kemudian, mulailah terjadi kekerasan dan penyiksaan terhadap umat Muslim. Bilal ra disiksa, ‘Ammar ra menyaksikan ayah bundanya disiksa sampai syahid, dan ia sendiri (yang waktu itu masih belia) juga turut disiksa.

Bertahun-tahun kemudian, umat Muslim diboikot secara ekonomi. Rasulullah saw dan Khadijah ra sampai kehabisan harta demi menghidupi umatnya. Sahabat-sahabat yang lain juga menderita, kelaparan dan miskin. Begitu kelaparannya, mereka sampai makan rumput. Setelah beberapa lama (ada sejumlah riwayat yang berbeda tentang lamanya boikot tersebut), boikot itu berakhir. Tapi umat Muslim sudah sangat menderita, dan tidak mudah bangkit dari keterpurukan.

Lepas dari boikot, Abu Thalib dan Khadijah ra wafat. Kehilangan Khadijah ra sudah pasti membuat Nabi saw terpukul. Tapi kehilangan Abu Thalib, di samping menimbulkan kesedihan, juga mengekspos umat Muslim terhadap bahaya. Pasalnya, yang selama ini melindungi Rasulullah saw adalah Abu Thalib. Setelah Abu Thalib wafat, siapa yg melindungi beliau?

Untuk melindungi dakwah, Rasulullah saw berusaha mencari perlindungan ke Thaif. Alasan pemilihan Thaif setidaknya dua: (1) Thaif itu subur, dan (2) di sana ada Bani Tsaqif, kabilah yang sama besarnya dengan Quraisy.

Poin kedua ini penting. Sebab, bila Nabi saw ingin meninggalkan keluarganya (yaitu orang-orang Quraisy), maka itu berarti memutus pertalian darah, dan itu artinya perang. Jadi, beliau butuh kabilah kuat yang bisa menandingi Quraisy.

Qadarullah, misi ke Thaif tidak berhasil. Kondisi malah makin runyam, karena Quraisy mendengar kepergian Nabi saw ke Thaif. Nabi saw baru masuk ke Mekkah lagi setelah dapat perlindungan dari Muth’im bin Adiy.

Di tengah-tengah suasana gawat itu, terjadilah peristiwa Isra’ Mi’raj. Peristiwa ini bisa dibaca dgn 3 cara.

1. Ini cara Allah SWT menghibur Nabi saw. Bisa dibayangkan, hamba yang dalam keadaan terjepit malah bertatap muka langsung dengan Allah. Semua masalah lewaaat….

2. Ini isyarat telah berlalunya kesempatan bagi Bani Israil. Sebab perjalanan berawal di Masjidil Haram dan berakhir di tempat yang sama, hanya transit di Masjidil Aqsha. Masjidil Aqsha adalah pusat dakwahnya Nabi-nabi dari Bani Israil. Setelah Nabi ‘Isa as, Bani Israil tak lagi ditemani Nabi hingga 600 thn. Nabi terakhir, ironisnya, bukan dari golongan mereka.

3. Disyariatkannya shalat lima waktu. Jika sebelumnya orang bisa shalat sambil sembunyi-sembunyi, sekarang tidak. Apapun keadaannya, di tengah hari, seorang Muslim harus Shalat Zhuhur. Maka, tidak ada lagi yang bisa berpura-pura. Semua harus terang-terangan memperlihatkan keislamannya, justru ketika tak ada lagi perlindungan dari Abu Thalib dan Quraisy!!!

Setelah itu, Allah SWT bukakan pintu untuk hijrah ke Madinah. Ada dua kali Bai’at, dan ketika Nabi saw hijrah, sebagian besar penduduk Yatsrib (nama Madinah dulu) sudah menjadi Muslim.

Tentu kita tidak lupa bahwa hijrah bukan persoalan gampang. Orang tidak sempat menjual asetnya dulu baru berangkat. Bahkan ada yang tak sempat bawa apa-apa. Segalanya ditinggalkan demi hidup bersama Rasulullah saw di negeri yang baru. Bahkan ‘Abdurrahman bin ‘Auf ra yang kaya raya di Mekkah pun datang ke Madinah dalam keadaan miskin.
Dengan demikian, kehidupan awal di Madinah tidak mudah. Rasulullah saw dan para sahabatnya harus membangun perekonomian bersama, dan di sini kita lihat peranan hebat Kaum Anshar yang tidak setengah-setengah dalam menolong Kaum Muhajirin.

Tibalah kita pada tahun ke-2 H. Awalnya, Nabi saw selalu berbaik-baik dengan orang Yahudi di Madinah. Mereka pun memandang beliau sebagai orang baik, karena beberapa syariat dari Taurat beliau lestarikan. Ada hukum rajam di Taurat, Nabi saw memerintahkan umat Muslim untuk mengikutinya. Orang Yahudi shaum di Hari Asyura, umat Muslim pun diperintahkan oleh Nabi saw untuk shaum di hari yang sama. Itulah shaum wajib pertama bagi umat Muslim.

Di bulan Sya’ban 2 H, disyariatkan 3 hal.

1. Perhitungan zakat fitrah

2. Perpindahan kiblat. Ini dianggap serius oleh kaum Yahudi, sebab terlihat jelas bahwa umat Muslim tidak mau lagi menyamakan diri dengan kaum Yahudi. Maka orang Yahudi mulai memusuhi dan mencemooh umat Muslim.

3. Disyariatkannya shaum Ramadhan selama 1 bulan penuh. Shaum Asyura statusnya menjadi sunnah.

Di pertengahan bulan Ramadhan itulah terjadinya Perang Badar.

Marilah kita bercermin dari kisah di atas. Ada dua poin besar yang ingin saya garis bawahi.

A. Dalam setiap fase perjuangan, umat Muslim selalu diperkuat dengan shalat. Sebelum menghadapi siksaan, Allah perkuat kita dengan Qiyamul Lail. Di saat-saat paling genting di Mekkah, Allah mewajibkan shalat lima waktu. Maka janganlah lupa, selain shaum Ramadhan, ada pula qiyam Ramadhan, yaitu Tarawih. Begitu adzan Maghrib 1 Syawal berkumandang, tak ada lagi Tarawih. Karena itu, sudah saatnya kita ubah pandangan kita yang menganggap Tarawih adalah ibadah sekunder. Memang tidak wajib seperti shaumnya, tapi ia adalah ibadah yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari ibadah Ramadhan lainnya, sebagaimana umat ini selalu tak terpisahkan dari ibadah shalat.

B. Jika Anda kagum dengan pasukan Perang Badar yang bisa menang melawan musuh yang jauh lebih banyak dan lebih lengkap persenjataannya, bahkan saat itu mereka sedang shaum, maka ketahuilah bahwa ini bukan keajaiban.

Para sahabat Nabi saw ini adalah mereka yang kuat komitmennya dengan shalat, sehingga sembunyi-sembunyi di balik bukit pun mau. Kalau kita untuk melangkah ke mushola yang berjarak 1 lantai saja malas, jangan bandingkan diri kita dengan mereka.

Para sahabat Nabi saw ini diperintah shalat sepertiga malam, langsung dikerjakan. Tidak banyak nanya, tidak banyak alasan. Shalat sepanjang sepertiga malam jelas butuh stamina, dan butuh hapalan yang banyak. Kalau shalat sepanjang itu tapi hapalannya sedikit, pasti cepat bosan. Jadi jangan tanya kedekatan mereka pada Qur’an. Oya , Ramadhan adalah bulannya Qur’an. Lantas, selama Ramadhan, apa yg kita lakukan bersama Qur’an?

Para sahabat Nabi saw ini sudah disiksa, diboikot sampai makan rumput, disuruh hijrah, disuruh berbagi dengan saudaranya yang baru hijrah, tetap bertahan dengan keimanannya. Mereka yang pernah tak makan berhari-hari dan makan rumput, apakah akan mengeluh saat disuruh shaum dari Subuh sampai Maghrib?

Jadi jangan heran kalau mereka tidak mengeluh soal lapar saat shaum, sebab levelnya sudah jauh melampaui itu semua. Bayangkanlah karakter mereka yang telah ditempa demikian, lantas berjihad di Perang Badar. Bukankah ini adalah pasukan yang sangat menakutkan?

Bercerminlah dengan kualitas pribadi dan shaum mereka. Kalau kita shaum tapi masih menunggu-nunggu waktu berbuka, tak ada bedanya dengan adik-adik kita yang TK. Kalau kita harus merayakan ‘makan siang terakhir’ sebelum Ramadhan dengan makan-makan bareng, seolah-olah tidak makan siang sebulan itu menderita banget, ya sebatas itulah kualitas ibadah kita. Jika kita memandang enteng shalat Tarawih di bulan Ramadhan, ya berhentilah menyanjung diri sebagai ‘pemenang’ di 1 Syawal. Dan katakanlah, “Taqabbalallaahu minnaa wa minkum…” Semoga Allah SWT menerima ibadah kita.

Diterima aja udah bagus, syukur alhamdulillaah!

Mari membawa ibadah Ramadhan kita kepada level berikutnya!

Related Posts

Leave A Comment