You Are Not Alone

Tadabbur Surah Al-Hadid 57:4 dan sekitarnya

*****

Saat kecil dulu, saya suka menyanyikan lagu ini. Naik-naik ke puncak gunung. Tinggi-tinggi sekali.

Saat belajar di sekolah yang lebih tinggi, saya paham bahwa gunung itu tidak tinggi-tinggi sekali. Masih ada yang lebih tinggi.

Saat ikut ESQ, saya belajar dan sekaligus diingatkan lagi, bahwa gunung yang tinggi itu ada di bumi. Bahwa masih ada matahari dan galaksi.

*****

Allah bersemayam di atas ‘Arsy. Letak ‘Arsy di atas langit ke-tujuh. Maha Tinggi. Jauh sekali tingginya. Jauh lebih tinggi lagi dari sekedar tinggi-tinggi sekali.

Tapi di ketinggian yang Maha Tinggi itu, Allah mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalam bumi.

Bumi disebut sebagai the lowest life. Kehidupan terendah. Allah, dari singgasana-Nya yang sangat tinggi, tahu apa yang terjadi di tempat terendah, di bumi. Ya’lamu maa yaliju fil ardhi wa maa yakhruju minhaa.

*****

Allah bersamamu di mana saja kamu berada. Wa huwa ma’akum ayna maa kuntum. Kamu tidak sendirian. You are not alone.

Dia bersamamu. Dia melihatmu. Dia melindungimu. Dia mengamatimu. Dia mengujimu. Terus-menerus.

Aku tidak pernah sendirian.

Aku tidak sendirian di kamar hotel. Aku tidak sendirian di kampus. Aku tidak sendirian di mobil.

Aku tidak sendirian. Kita tidak pernah sendirian.

Buat yang punya pertanyaan tentang kehidupan di jagat raya, tentang alien, apakah dia sendirian di jagat raya, jawabannya sudah ada. Tidak pernah sendirian.

Kita adalah alien itu. Karena kita bukan berasal dari bumi. Tapi kita dikirim ke bumi. Jadi kalo kita mau melihat kehidupan alien, cukup lihat di kanan kirimu. Itu lah alien. Dan mereka yang melihatmu, mereka juga sedang melihat alien. Karena kita bukan berasal dari bumi.

Malaikat mengirim ruh itu dari langit. Masuk ke rahim ibumu. Kita bukan berasal dari dunia ini. Sebagiannya, memang iya, dari bumi. Tapi bagian terpentingnya, jiwanya, berasal dari langit.

Layangkan lagi ingatan kita ke bapak kita semua. Adam ‘alayhis salam. Beliau turun ke bumi. Beliau berasal dari surga.

*****

Wa huwa ma’akum ayna maa kuntum. Kalo saja kita paham satu ayat ini saja, ya, ayat ini saja, bahkan bukan keseluruhan ayat ke-4 tapi potongan ayat yang ini saja, huwa ma’akum ayna maa kuntum, caraku bicara akan berubah. Situs web yang aku telusuri akan berubah. Nomor telpon yang aku hubungi akan berubah. Segala sesuatunya akan berubah. Segala sesuatunya tentang aku, akan berubah.

Benarkah karyawan perilakunya beda kalo bosnya ada satu ruangan sama dia? Benarkah pengemudi perilakunya di jalan tol beda kalo ada polisi di bahu jalan? Benarkah yang akan lewat traffic light perilakunya beda kalo di lampu itu juga dipasang kamera CCTV?

Ya. Mereka perilakunya beda. Automatic Taqwa.

Kamu merasakan hadirnya kekuatan yang lebih tinggi dan perilakumu berbeda.

Kalo kita menginternalisasikan ‘huwa ma’akum ayna maa kuntum’, akan ada perubahan yang terjadi dalam perilaku kita.

*****

Allah memilih kata yang sungguh indah ini. Ma’a.

Ada banyak cara untuk mengatakan ‘seseorang sedang bersama seseorang’. Seseorang ada di dekat saya, maka saya bisa bilang ‘huwa bijaanibikum’. Atau, ‘huwa shaahibukum’.

Kata ma’iya digunakan saat ada yang hadir di situ untuk mendukung kamu. Kata ma’a tidak hanya digunakan untuk ‘bersama’. Atau, ‘dengan’. Tapi kata ma’a digunakan saat ada yang hadir di situ untuk mendukung kamu.

Saat kurang pede berada di dalam gua, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bilang ke Abubakar Ash-Shiddiq, “Laa tahzan. Innallaaha ma’anaa.” Jangan khawatir. Allah bersama kita. Allah mendukung kita. Allah melindungi kita di sini.

Allah peduli sama kamu.

*****

Wallaahu bimaa ta’maluuna bashiir. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Allah punya full view atas kamu.

*****

Lahuu mulkussamaawaati wal ardhi. Milik-Nya lah kerajaan langit dan bumi. Ini ayat ke-5. Tapi Allah sudah bilang persis seperti ini tadi di ayat sebelumnya, ayat ke-2. Kenapa Allah mengulanginya dua kali?

Seorang ayah bicara sama anaknya. Volume suaranya cukup keras meski tanpa pengeras suara. Kalimat pertama sudah meluncur. Diikuti keheningan beberapa detik kemudian. Tak berapa lama, kalimat sang ayah kembali memecah kesunyian. Kalimatnya persis sama dengan kalimat yang pertama tadi. Apa itu artinya?

Anaknya tidak mendengarkan. Anaknya tidak menunjukkan rasa hormat. Ayahnya harus mengatakannya dua kali.

Allah mengatakannya dua kali karena firman-Nya itu tidak didengarkan. Allah pemilik kerajaan langit dan bumi. Lahuu mulkussamaawaati wal ardhi. Kali ini, di ayat yang ke-5 ini, disertai ancaman. Wa ilallaahi turja’ul umuur. Dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan. Allah akan menghakimi semua urusan kamu itu.

*****

Yuulijullayla finnahaar. Sekarang, ketika kamu menyadari bahwa semua urusan itu kembali ke Allah. Allah memasukkan malam ke dalam siang. Wa yuulijunnahaara fillayl. Dan Allah memasukkan siang ke dalam malam.

Kenapa Allah menyebutkan malam dan siang? Karena ketika kamu paham bahwa semua perbuatanmu akan diperiksa oleh Allah, siangmu akan berubah. Malammu akan berubah. Kamu akan merenungi apa yang telah kamu lakukan hari ini. Kamu akan merenungi apa yang akan kamu lakukan esok hari.

Siang tak terasa telah berganti malam. Malam tak terasa telah berganti siang. Allah mengajari kita sense of urgency. Rasa kemendesakan. Untuk memberikan amal yang terbaik.

Wa huwa ‘aliimun bidzaatish-shuduur. Allah punya pengetahuan yang penuh, full knowledge, jauh di dalam dada.

Dada itu seperti apa sifatnya? Apa yang ada di dalam dadamu? Godaan yang merayumu. Pikiran-pikiran jahat yang kamu punya. Apa-apa yang ingin kamu katakan tapi tidak kamu katakan, tapi masih ada di benakmu. Semua bisikan setan yang merasukimu.

Allah tahu apa yang ada di dalam dada kita. Wa huwa ‘aliimun bidzaatish-shuduur.

Kita bertemu muka, berhadapan satu sama lain, berpakaian bagus dan rapi. Kita bicara lemah lembut. Kita berbuat yang terbaik. Kita belajar untuk berperilaku dan berinteraksi satu sama lain sebagai makhluk sosial.

Tapi jika semua formalitas itu, semua topeng itu dilepas, itu lah diri kamu yang sebenarnya. Allah tahu siapa kamu sesungguh-sungguhnya. Sebenar-benarnya. Aslinya. Sejatinya.

Angel Lelga tidak benar-benar tahu siapa itu Vicky Prasetyo. Vicky Prasetyo tidak sungguh-sungguh tahu siapa itu Angel Lelga. Suami-istri memang lebih tahu satu sama lain, dibandingkan orang lain, biasanya.

Ibu dan anak juga lebih tahu satu sama lain, dibandingkan orang yang lain.

Tapi mereka yang kelihatannya dekat itu kadang-kadang terkejut sendiri. “Apakah betul kamu itu sebenarnya seperti itu?”

Allah tahu persis dengan sebenar-benarnya, sesungguh-sungguhnya, siapa kita.

Kamu bisa tunjukkan curriculum vitae kamu kepadaku biar aku terkesan. Ada orang-orang hebat di balik kamu yang percaya sama kamu. Bangga sama kamu. Orang-orang yang suka sama kamu. Tapi Allah Maha Tahu. Jika itu semua penuh kepalsuan, Allah langsung tahu.

Jika kamu ingin benar-benar punya hubungan sama Allah, jika aku ingin benar-benar punya hubungan sama Allah, ingat baik-baik ini. Tolong ingat ini baik-baik. Ini sangat-sangat penting:

Orang mungkin punya opini yang bagus tentang kamu. Dan orang mungkin punya opini yang buruk tentang kamu. Semua itu tidak ada artinya bagi Allah.

Opini Allah tentang kamu tidak ada hubungannya dengan pendapat orang tentang kamu.

Jika orang berpikir kamu itu hebat. Tidak ada jaminan bahwa Allah juga berpikir kamu itu hebat. Tidak ada. Tidak ada itu. Guyonan itu kalo kamu berpikir bahwa karena orang-orang berpikir kamu itu hebat lantas kamu yakin bahwa Allah juga berpikir kamu itu hebat. Bercanda itu.

Jika orang berpikir kamu itu payah. Kamu pasti masuk neraka. Kamu jahat. Tidak ada jaminan bahwa Allah juga berpikir kamu itu jahat. Allah masih punya cinta untukmu.

Apa yang orang pikirkan tentang kamu, apa yang orang pikirkan tentang aku, tidak ada artinya bagi Allah.

Ketika orang memuji kita, ketika orang mengutuk kita, kita tidak boleh berpikir bahwa Allah juga berpikir begitu.

Di satu sisi, seseorang dipenuhi khayalan. Seseorang yang penuh oleh puja dan puji manusia. Dia pun berpikir, “Pasti Allah juga suka sama aku.” Kemunafikan menyelinap masuk. Pembenaran diri (self-righteousness) menyelinap masuk. Padahal di sisi Allah dia ga dapat ranking sama sekali. Apa yang dia dapat hanya lah dunia semata. Dan pujian-pujian manusia itu.

Orang ini menghadap Allah dan Allah bilang, “Kamu sudah dapat apa yang kamu inginkan di dunia. Kamu ga dapat apa-apa lagi dari-Ku.”

Di sisi yang satunya, ada seseorang yang terus mencoba melakukan kebaikan. Tapi orang-orang menghakimi dia. Memvonis dia. Memberi label yang buruk kepadanya. Dia berkata lirih, “Mereka bilang aku kacau. Aku pasti memang benar-benar kacau.” Siapa yang bilang bahwa dia kacau? Allah?

Bukan. Allah tidak pernah menyerah untuk membantunya. Dia lah yang menyerah pada dirinya sendiri. Dan ketika dia bertemu Allah, dia bilang, “Ya Allah. Aku benar-benar kacau.” Allah menjawab, “Saat itu orang-orang menghakimimu, tapi Aku tidak. Aku biarkan pintu taubat terbuka lebar-lebar untukmu. Mengapa kamu menyerah? Jangan salahkan mereka. Salahkan dirimu sendiri.”

Ini adalah hubungan yang harus kita miliki sama Allah. Wa huwa ‘aliimun bidzaatish-shuduur. Ilmu Allah menembus dada manusia. Allah tahu siapa saya sebenarnya. Siapa saya yang sesungguhnya. Tidak ada satu orang pun yang tahu siapa saya dengan lebih baik.

Kadang ada yang mengeluh, “Tidak ada seorang pun yang memahamiku. Suamiku tidak mengerti aku.” Atau, “Istriku tidak mengerti aku.” Atau, “Orang tuaku tidak memahamiku.” Tapi tidak banyak yang sadar, Allah paham tentang dia. Sangat-sangat paham tentang dia. Karena Allah selalu bersama dia. Dan tidak sekedar bersama, tapi siap mendukungnya.

Semoga kita selalu dalam keadaan sadar untuk memahami ketidaksendirian kita.

Semoga kita selalu bertasbih kepada-Nya, sebagaimana seisi langit dan bumi melakukannya.

Semoga kita tidak berhenti memohon kepada-Nya, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Semoga kita terus belajar ilmu dari-Nya, Dia Mahamengetahui segala sesuatu.

Semoga kita isitqomah mengerjakan amal kebaikan, kepada-Nya lah segala urusan dikembalikan.

Semoga Allah jaga kebersihan hati kita, Dia Mahamengetahui segala isi hati.

Semoga, ketika kita sudah beramal yang terbaik, dan orang-orang menganggap kita hebat, kita tetap sadar bahwa yang jauh lebih penting adalah penilaian Allah terhadap kita.

Semoga, ketika kita sudah beramal yang terbaik, tapi orang-orang dan seisi dunia seperti tidak berpihak membuat kita tenggelam, kita tetap ingat bahwa Allah adalah pemilik keadilan yang sempurna.

Semoga, ketika kita sedang terpuruk dan rasanya susah untuk bernapas lega, kita tetap yakin bahwa Allah bersama kita, selalu siap mengulurkan pertolongan-Nya.

Because you are not alone.
You are never alone.

*****

Ditulis oleh Heru Wibowo

*****

2 pemikiran pada “You Are Not Alone”

Tinggalkan komentar