Working Mom vs Full-time Mom

Sebelum kita membahas mengenai di manakah seharusnya posisi perempuan. Apakah lebih utama baginya tinggal di rumah mengurus urusan keluarga 100% ataukah berkarir di luar rumah? Mari kita tengok dua tokoh perempuan yang kiprahnya begitu besar dalam mengangkat harkat dan derajat kaum perempuan berikut:

a. Siti Walidah mendirikan kelompok pengajian Sopo Tresno pada 1914, yang selanjutnya bertransformasi menjadi Aisiyah (lembaga khusus perempuan dalam organisasi Muhammadiyyah yang bergerak di bidang pendidikan). Selain mengajarkan pentingnya pendidikan (tak hanya pendidikan agama) bagi masyarakat, Siti Walidah juga menentang praktik kawin paksa.

b. Dewi Sartika, merintis pendidikan bagi kaum perempuan sejak 1902 yang mengajarkan perempuan berbagai macam keterampilan, seperti: merenda, memasak, menjahit, membaca, menulis, dsb. Ia mendirikan Sakola Istri pertama se-Hindia Belanda pada 1904 yang cabangnya terus bertambah.

 

Saya yakin, kedua tokoh perempuan ini adalah ibu rumah tangga yang hebat. Mereka juga mampu menjadi penggerak perubahan yang radikal bagi kaum perempuan di zamannya. Mereka adalah teladan saya untuk mendalami konsep pedagogi maupun andragogi dalam pendidikan.

Pertentangan mengenai di manakah posisi perempuan yang terbaik di mata agama dan adat sejujurnya tidak didapati saat kita bersekolah di SMP/SMA hingga kuliah semester awal. Sejak belia, kita didorong untuk memiliki cita-cita tertentu: menjadi pebisnis, dosen, akuntan, penulis, insinyur, dokter, perawat, polisi, diplomat, guru, dsb. Bahkan, beberapa tahun belakangan, kita dikenalkan dengan berbagai jenis profesi baru: content creator, youtuber, beauty influencer, fashion blogger, dll.

Setelah menjadi ibu, barulah terasa “panasnya” medan pertentangan ini. Bisa jadi hal ini disebabkan karena masing-masing kalangan, baik itu working mom maupun full-time mom kerap melegitimasi pilihannya sebagai satu-satunya kebenaran mutlak serta mendiskreditkan pilihan perempuan lain yang tak sejalan dengannya. Padahal, kondisi keluarga tidaklah sama, baik dari latar belakang pendidikan, keterampilan, maupun ekonomi. Bahkan, beberapa perempuan tidak dihadapkan pada kesempatan untuk memilih.

Sependek yang tahu, dikotomi antara working mom dan full time mom ini berkembang karena beralihnya struktur keluarga besar/extended family menjadi keluarga batih/nuclear family. Dalam keluarga besar, peran pengasuhan dilakukan secara gotong royong oleh orangtua, kakek, nenek, dan famili terdekat lainnya. Demikian juga dalam peran mencari nafkah dan urusan rumah tangga lainnya. Dengan beralihnya pola kehidupan masyarakat agraris, beberapa keluarga meninggalkan keluarga intinya di desa dan merantau di kota, muncullah tipe keluarga inti/nuclear family. Peran pengasuhan dan urusan rumah tangga diampu oleh keluarga inti saja. Maka kemudian diperlukanlah bantuan untuk tetap melaksanakan peran pengasuhan seperti baby sitter dan asisten rumah tangga.

Beberapa keluarga memiliki ibu yang 100% mendedikasikan diri dan hidupnya mengurus keluarga. Tapi jangan berpikir bahwa mereka tidak bisa berperan dalam hidup bermasyarakat. Banyak di antara mereka yang juga aktif dalam organisasi masyarakat, sebagai anggota komunitas/paguyuban dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Seperti Dewi Sartika masa kini, komunitas ini menjadikan dapur (yang biasanya erat dengan stigma pemarginalan kaum perempuan) sebagai ladang ekonomi yang menjanjikan. Komunitas ini mengadakan workshop mengenai cara memasak aneka makanan/camilan/kue, fotografi makanan, menentukan harga jual produk agar memeroleh laba, dan melakukan berbagai kegiatan sosial seperti bakti sosial/membuka dapur umum saat terjadi bencana.

Bagi ibu yang memilih untuk bekerja. Ibu akan merasa energi terkuras di tempat kerja, tetapi ketika berada di rumah ibu juga dituntut untuk memberikan performa terbaik yang dimiliki. Tidak bisa ditampik, waktu kebersamaan dengan anak berkurang daripada saat menjadi full time mom. Usaha keluarga yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah dengan merencanakan waktu yang berkualitas dengan anak dan memilih partner pengasuhan yang sejalan dengan visi misi keluarga kami dalam mendidik anak.

Tentu, setiap orang memiliki pengalaman berbeda. Ada perempuan yang justru memilih resign dari tempat kerjanya demi memiliki waktu yang lebih lapang untuk mengurus rumah tangga dan mendidik anaknya. ?

Permasalahan utamanya bukanlah pada lebih baik bekerja atau 100% di rumah, tetapi menjadikan semua pilihan itu membawa kebermanfaatan yang optimal bagi keluarga dan lingkungan, dengan berupaya untuk berperan dalam:

1. Melindungi peran-peran utama perempuan (kalau jadi IRT bisa mengedukasi keluarga dan lingkungan sekitar, kalau bekerja di publik mengadvokasi hak-hak perempuan untuk melindungi tercapainya perannya secara sempurna).

2. Menunjukkan keberpihakan pada persoalan yang menyangkut hajat hidup orang banyak (kesehatan, pendidikan, maupun persoalan lingkungan). Dalam tahap yang paling sederhana: mengelola sampah rumah tangga/tempat kerja serta menjaga kebersihan rumah/lingkungan kerja.

3. Mendukung pilihan setiap perempuan dan berhenti mendikotomikan (dan memancing debat kusir) antara full time mom dan working mom. Setiap ibu yang bekerja terus berusaha menjadi istri dan ibu terbaik bagi keluarganya. Pun, setiap IRT telah berperan dominan dalam pengasuhan anak dan mengurus rumah tangga yang membuat IRT sebetulnya ya merupakan working mom.

Semoga diskusi mengenai working mom vs full time mom bukanlah semata untuk mendapatkan pengakuan dan kepuasan untuk diri kita sendiri. Dalam keseharian kita, fokuskan pembahasan ini pada hal-hal yang lebih konstruktif, seperti bagaimana meningkatkan produktifitas ibu di rumah, atau bagaimana menciptakan waktu berkualitas bagi para ibu yang per 8 jam di tiap harinya bekerja di luar rumah. Diskusi-diskusi semacam ini seharusnya membuka jembatan ke dalam diri kita masing-masing, membuka ruang pemahaman baru, dialog, dan mau menerima pilihan/sikap hidup orang lain dengan bijaksana.

1 thought on “Working Mom vs Full-time Mom”

Leave a Comment