SAAT PILIHANMU MENJADI IBU RUMAH TANGGA

Berbicara tentang pilihan menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga menjadi sebuah pembicaraan yang tidak pernah berakhir. Banyak menganjurkan seorang ibu bekerja untuk berhenti. Menurut mereka yang pro ibu rumah tangga, seorang ibu bekerja itu dipastikan akan menelantarkan anak-anak mereka maka mereka menganjurkan untuk tinggal di rumah, mendidik anak-anak dengan lebih baik. Pertimbangan anak menjadi salah satu pertimbangan penting mengapa mereka memutuskan untuk berhenti bekerja. Namun, seorang ibu bekerja tatkala memutuskan berhenti bekerja harus menyiapkan diri sebab tantangan sebagai ibu rumah tangga bisa jadi lebih berat daripada saat mereka bekerja. Tantangan tersebut diantaranya seorang ibu rumah tangga tidak banyak memiliki waktu. Apalagi jika masih memiliki bayi ataupun anak kecil. Waktunya tersita mengurusi anak-anak mereka. Masih beruntung jika ada orang lain yang masih membantu misalnya orang tua atau ART (Asisten Rumah Tangga). Padahal waktu itu sangat penting untuk mengembangkan dirinya.
Lelah dan capek. Berjibun urusan rumah tangga yang tidak selesai-selesai, mulai dari memasak di dapur, mencuci baju, membersihkan rumah, mengurusi anak. Seringkali dalam sehari waktunya habis hanya untuk membersihkan mainan anak. Untuk makan saja kadang susah. Hanya sekedar memasak mie instan, harus menunggu anak tidur. Jika mau ke kamar mandi, jantungnya berdegup kencang karena khawatir dengan anaknya di luar. Rasa capek, lelah yang dirasakan bisa menjadi kontraproduktif dari tujuan awalnya menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anak sekaligus istri yang baik dalam melayani suaminya. Kelelahan itu bisa memacu emosi yang meluap. Kemarahannya itu bisa berdampak negatif bagi anak.
Salah satu hiburan bagi ibu rumah tangga adalah berkumpul ngrumpi dengan tetangga, atau komunitas sosialitanya. Ini tidak salah, karena ibu rumah tangga butuh hiburan dan ngrumpi adalah hiburan yang menyenangkan. Namun, perlu hati-hati tatkala topik pembicaraan itu mengarah pada gosip, ghibah, fitnah maka itu juga kontraproduktif dari tujuan awal menjadi ibu rumah tangga yang baik. Jika engkau ingin menjadi ibu rumah tangga maka hal-hal berikut ini yg perlu disiapkan.
Tentukan misinya dulu saat engkau memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanmu dan menjadi seorang ibu rumah tangga. Misi ini sangat penting agar pilihanmu menjadi ibu rumah tangga tidak sia-sia. Misalnya engkau ingin mendidik anak-anak menjadi hafidz Quran, menjadi ilmuan, mendidik mereka menjadi pembisnis sukses atau mendidik mereka menjadi orang hebat sesuai dengan minat bakat yang mereka miliki di masa depan. Misi yang lain misalnya saat engkau menjadi rumah tangga maka engaku harus mampu memperbanyak raihan pahala dengan cara lebih bermanfaat bagi masyarakat. Engkau punya misi untuk lebih banyak menggali sumber-sumber pahala yang mengalir dengan cara misalnya mengajari anak di lingkungan tempat tinggal, mendidik ibu rumah tangga yang lain sesuai kompetensi yang engkau miliki, mengasah ilmu agar menjadi pakar yang mampu bermanfaat bagi orang lain, Menulis sesuatu yang bermanfaat. Engkau bisa merumuskan misi yang lain agar keluargamu lebih meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan YME. Tanamkan dalam jiwamu rugi jika engkau sudah putuskan menjadi ibu rumah tangga tapi ketakwaan keluargamu masih sama seperti saat engkau masih bekerja.

Sebagai kompensasi dari keputusanmu keluar dari pekerjaan engkau harus mampu mengelola diri dan waktumu untuk terus meningkatkan ketakwaan keluarga. Itulah contoh menetapkan misi saat pilihan menjadi ibu rumah tangga engkau pilih. Share misimu dan diskusikan dengan suami. Rumuskanlah misi yang terbaik bagi keluargamu. Jadikalah misi itu menjadi misi keluarga. Tulis misi itu dengan tulisan yang besar lalu tempel di dinding agar engkau senantiasa ingat bahwa keputusanmu untuk menjadi ibu rumah tangga bukan keputusan yang sia-sia, dan bukan pula keputusan yang akan engkau sesali dikemudian nanti. Dikala motivasimu loyo, dikarenakan beban pekerjaan rumah tangga yang overload, baca kembali dengan keras misi yang kamu tulis itu. Camkan dengan seksama bahwa keputusanmu menjadi ibu rumah tangga itu adalah yang terbaik. Kejar misimu hingga dapat sebagai kompensasi atas keputusanmu keluar dari pekerjaan. Jangan sampai kondisi rumah tanggamu sama saja saat engkau masih bekerja dengan saat engkau sudah memutuskan menjadi ibu rumah tangga, lebih parah lagi jika kondisi keluargamu memburuk saat engkau menjadi ibu rumah tangga. Rugi, ya saya katakan rugi. Maka berkomitmenlah dan tunjukkan pada dunia bahwa keputusanmu menjadi ibu rumah tangga adalah keputusan yang terbaik dengan cara merealisasikan apa yang menjadi misimu itu.
Setelah menentukan misi maka engkau harus berilmu. Kalau engkau ingin mendidik anak-anakmu menjadi anak yang sholeh, anak yang baik, anak yang pintar, engkau berharap kelak mereka menjadi pemimpin hebat, wirausaha sukses, atau apapun maka engkau harus berilmu. Luangkan waktumu untuk terus belajar, menghadiri seminar, kajian agar engkau menjadi ahli dalam mendidik anak dan Insha Allah kelak engkau akan menikmati manisnya pendidikan yang telah engkau ajarkan. Engkau perlu ilmu saat engkau memutuskan untuk berbisnis untuk menambah penghasilan keluarga, engkau perlu ilmu saat engkau menetapkan keluargamu agar lebih sholeh dan bertakwa serta saat engkau ingin menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Saya perlu garis bawahi, percuma saat engkau memutuskan menjadi ibu rumah tangga tapi hasil capaianmu sama saja bahkan lebih buruk daripada saat engkau bekerja. Lalu kalau hasilnya sama bahkan lebih buruk kenapa engkau memutuskan menjadi ibu rumah tangga. Buktikan saat engkau menjadi ibu rumah tangga keadaanmu dan keluargamu jauh lebih baik. Carilah komunitas yang positif. Menjadi ibu rumah tangga sangat rentan terpengaruh hal-hal yang tidak produktif. Hal ini menjadi salah satu upaya untuk mengalihkan kejenuhan. Misalnya membuang banyak waktu bermain game, asyiik dengan berbagai chat di sosial media, menonton gosip dan sinetron di TV yang hanya membuang waktu, atau ngrumpi bersama tetangga yang malah berujung tambahnya dosa. Untuk meminimalisasi hal tersebut engkau perlu bergabung dalam komunitas positif misalnya ikut pengajian, ikut komunitas menulis, komunitas mengajar. Komunitas positif akan menjadikanmu positif sebaiknya komunitas negatif akan mempengaruhimu menjadi negatif. Jika memungkinkan berperan di masyarakat. Jadikan dirimu menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat sesuai dengan apa yang engkau sukai.

Leave a Comment