Urgensi Shalat dalam Memimpin

Kapan hari menjelang pemilihan umum baik di jurusan, fakultas, universitas, daerah, provinsi, hingga negara selalu dibeberkan dikotomi antara agama dan dunia. Padahal, kedua substansi ini saling berikatan tidak bisa dilepas. Namun penggiringan memisahkan keduanya selalu gagal, karena generasi sekarang paham betul bahwa Islam semakin tumbuh dan mereka tidak bisa menafikan kenyataan yang sudah terjadi. Aksi bela hingga Tragedi Gubernur Jakarta dengan tegas memperlihatkan sekat diantara kita, memperjelas bahwa terdapat dua kelompok jelas yaitu kelompok yang Al-Haq (Kebenaran) dan Al Bathil (Kebathilan) terutama dalam memilih pemimpin.

“Syarat mutlak untuk menjadi pemimpin adalah mereka yang sudah selesai dengan urusan pribadinya sendiri, tanpa terkecuali” – Bachtiar Firdaus, aktivis UI 90’

Hablum Minallah dan Hablum Minannas harus seimbang dan keduanya harus terlihat sebagai dua ikon penting tidak bisa dipisahkan dari karakter seseorang. Dalam memilih pemimpin, kadangkala dikotomi terhadap dua komponen ini seringkali dilakukan. Kekeliruan ini merabah hingga dalam menentukan kapasitas seseorang seperti halnya: “Doi dari cara mengatur temen-temen udah bagus, tapi sayangnya sih shalatnya masih sering bolong. Gapapa deh, kalau urusan amalan kan antara doi dengan Allah, kita mah fine-fine aja.”. Seakan-akan masalah hubungan dengan Allah di kesampingkan.

Dampaknya bisa jadi memunculkan spekulasi dan kemungkinan yang berbeda. Seperti halnya mengetahui posisi Allah berada di puncak segala-galanya, kemudian keridhaan Allah dalam berkehendak mampu mengubah apapun dan kapanpun suasananya. Lantas kemudian ketika hubungan kita dengan Allah atas interaksi yang lalai, maka seketika kemungkinan untuk kelancaran dalam memimpin di dunia juga tentunya pasti ada terhadap masalah. Wong sing duwe kuosa gusti Allah. Kowe iso opo?

Diambil contoh seperti shalat 5 waktu, merupakan proses belajar menjadi pemimpin. “Sebenernya lu engga sholat gapapa, yang penting kan itu urasan lu sama Allah” Padahal di shalat juga terdapat komponen-komponen penting dalam belajar untuk menjadi pemimpin. Shalat juga punya prinsip-prinsip bersumber dari barat maupun dari timur yaitu berjamaah.

“Pemimpin yang baik ialah ulil amri. Ketika shalat sebagai imam Ia tidak membenci jamaahnya, begitu pula jamaah tidak juga membenci dirinya.”

Dalam shalat berjamaah kita dapat melihat bagaimana peran seorang imam yang sangat penting di dalamnya. Imam pertama-tama harus mengingatkan para jamaah untuk merepatkan barisan, seseorang yang menjadi imam juga bukan sembarang orang, yakni seseorang yang benar-benar fasih, atau penghafal,atau memahami ayat Al-quran dan lain sebagainya sebagaimana disyariatkan dalam islam. Hal ini menunujukkan bahwa imam sangat penting, bahkan dalam memilihnya pun bukan sembarang orang.

1. Niat. Seperti setiap ibadah yang umat muslim lakukan yakni membaca niat atau berniat untuk melakukan shalat. Imam dalam shalat melafadzkan bahwa ia berniat untuk shalat fardhu dan dia sebagai imamnya. Konteks niat bukan hanya berbatas pada ucapan akan tetapi, niat yang benar-benar berasal dari hati bahwa dia siap untuk menjadi imam shalat. Sama halnya pemimpin, seorang pemimpin harusnya mengawalinya dengan niat yang sungguh-sungguh dalam mengemban amanatnya. Niat bukan hanya terbatas pada kalimat yang dilafadzkan tapi sebagai suatu gas pendorong dari diri untuk semaksimal mungkin mengemban amanatnya.

2. Forward looking (terlihat paling depan) posisi imam yang dibiratkan sebagai pemimpin yakni pemimpin dalam shalat. Keberadaannya selalu di depan dan harus di depan. Karena sebagai seorang pemimpin yang dapat mempengaruhi para anggotanya yakni makmum dalam shalat, seorang pemimpin harus berada di depan. Bagaimana jikalau seorang pemimpin tidak berada di depan, lalu siapa yang mengarahkan mereka dalam pencapaian tujuan yang arahnya pun akan selalu ke depan. Terdepan bukan hanya posisi akan tetapi dalam makna ini yakni terdepan dalam ide, inovasi, penyelesaian permasalahan, pengambilan keputusan demi tercapainya tujuan dalam suatu kelompok.

3. Influencing (mempengaruhi) ketika seorang imam bertakbir dan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan telinga kiri dan kanannya, para makmum lalu mengikutinya dengan bertakbir pula hal ini menandakan seorang pemimpin harus dapat mempengaruhi baik jiwa dan jasmaninya. Jiwa yakni dalam semangat, motivasi, dan penyampaian ide. jasmani yakni mampu untuk benar-benar mengeluarkan seluruh potensinya demi tercapainya tujuan organisasi.

4. Memiliki tanggung jawab penuh akan kelompoknya. Setiap ma’mum dalam shalat berjamaah tidak diperbolehkan mendahului gerakan imam. Sama halnya dalam kelompok dan para anggota harus mengikuti arahan, petunjuk pimpinan nya dalam bertindak. Maka dari itu peran tanggung jawab pemimpin dalam kelompok sangat penting karena dialah yang menentukan arah suatu kelompok tersebut, apakah sudah sejalur, selaras dengan tujuan, atau keinginan bersama.

5. Reminding (mengingatkan) sebelum shalat dilaksanakan imam memperingatkan para jamaah untuk merapatkan shaf demi kesempurnaan shalat. Peran penting seorang pemimpin untuk mengingatkan para anggotanya untuk tidak merubah alur, menggantinya dengan yang mereka inginkan agar selaras dengan tujuan kelompok yang telah disepakati

Disisi lain, melaksanakan shalat berjamaah selain menjadi sarana mengelola jamaah, ternyata ini berlaku berlipat ganda manakala bulan ramadhan. Pahala dilipatgandakan tidak terbatas, jamaah masjid semakin membludak, nuansa islam semakin terasa, donasi poster dimana-mana, dan berada pada kondisi saling rebutan untuk kebaikan.

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.” – (HR Bukhari dan Muslim)

Dari sini coba bayangkan berapa jumlah pahala shalat berjamaah kita panen. Hadist diatas sangat jelas tanpa keraguan bahwa mereka yang meninggalkan bener manakala dalam keadaan sangat luar biasa merugi. Membiasakan mengulang kembali seraya memahami bacaan shalat tentu sangat tepat dilakukan di Ramadhan agung ini.

Mulailah memperbaiki diri dari perencanaan dalam interaksi dengan Allah. Kegagalan perencanaan terhadap targetan mempengaruhi kualitas pribadi ketika memanagement diri. Muasabah untuk mengoptimalisasi kebaikan, merubah perilaku buruk, memperteguh jiwa sosial bermasyarakat, sehingga nantinya mampu menjadi pemimpin yang amanah. Mencari sosok pemimpin Indonesia dengan ketaqwaannya kepada Allah swt.

Hablum Minallah dan Hablum Minannas bagaikan pembuluh darah yang berdampingan antara arteri dan vena, kemudian bermuara di jantung sebagai iman dan taqwa serta dialirkan keseluruh tubuh sebagai amal perbuatan.

“Masyarakat selalu punya pandangan terhadap dirimu, Allah juga. Pada akhirnya Allah yang jauh lebih penting” – @sahabatalaqsha

Pastikan detik-detik ramadhan ini bisa dimaksimalkan utk kebaikan.

Tinggalkan komentar