Blog Single

13 Jun

Tips Menjawab Pertanyaan Kapan

Sebentar lagi libur lebaran tiba. Akan ada banyak pertemuan baik dengan keluarga maupun teman yang mungkin sudah sekian lama tak bersua.

Meski sudah banyak yang memberi saran untuk menghindari mengajukan pertanyaan KAPAN dan pernyataan KOK; kapan nikah, kapan punya anak, kapan punya anak kedua, kapan punya anak laki-laki, kok kurusan, kok gemukan, kok muka jerawatan, sepertinya tetap akan ada yang ketemu kejadian ini.

Lalu kalau ada orang yang tersinggung ditanya seperti itu, wajar sekali. “Sebel atuh lah ditanyain itu-itu aja.”

Nah, sekarang coba kita ambil posisi sebagai orang yang ditanya. Tipsnya: tidak usah diambil hati, anggap saja si penanya bingung mencari ide basa-basi.
‘Kan tidak mungkin basa-basi dimulai dengan “Menurutmu, bumi itu bundar atau datar?”

Jadi kalau ada yang bertanya, jawab saja dengan tulus. Siapa tahu mereka benar-benar perhatian. Karena ada kerabat saya yang suka memberi perhatian pada saya dengan: “Kamu kurus bangeeet. Jangan kurus-kurus, lah…”

Dia tidak menyampaikan itu dengan maksud nyinyir, tapi benar-benar kasihan lihat saya kurus. 😂
Saya juga jawab dengan, “Masa siiih? Kamu juga jangan gendut-gendut, woy! Apa kita tukar tambah lemak aja?” Dan kami berdua tertawa terbahak-bahak.

Mungkin mereka benar-benar bertanya karena ingin tahu. Mungkin mereka bertanya karena perhatian. Adapun kalau ada yang sengaja membuat hati kita kacau balau, abaikan saja.

Ih … Tapi kan malas kalau ditanya begitu terus. Eits, coba simak pertanyaan berikut.

“Bang, kenapa bumi nggak kotak?”
“Uni, boleh nggak adik aku jual?”
“Mas, kenapa Allah nggak terlihat?”

Jauh lebih menguras otak pertanyaannya!

Jadi, terhadap pertanyaan basa-basi, daripada manyun, lebih baik dijawab. Sekalian sambil minta dido’akan. Uhuy!

Buat yang sudah dan mau punya anak, manfaatkan ajang tanya jawab ini sebagai latihan menjawab pertanyaan anak-anak.

T: “Kok belum nikah?”
J: “Insya Allah segera ketemu jodoh yang baik hati, soleh/solehah/, kaya raya, dan dermawan. Do’akan, ya?”

T: “Kapan punya anak?”
J: “Belum tahu nih. Saya juga maunya sih segera. Do’akan, ya?”

T: “Kapan kakak punya adik?”
J: “Mau bangeeet. Tapi sama Allah belum dikasih. Do’akan, ya?”

T: “Kakak kok ngga sekolah?”
J: “Insya Allah nanti kalau udah usia 7+. Do’akan, ya?”

T: “Kapan punya anak laki-laki?”
J: “Iya nih, kami juga menunggu. Semoga nanti dikasih sama Allah. Do’akan, ya?”

T: “Iiiih…kamu kok kurus banget sih? Jangan kurus-kurus, donk!”
J: “Masa? Emang agak kurusan sih. Butuh naik 4 kg lagi. Ntar mau diet dan rajin olahraga, ah. Do’akan, ya?”

T: “Kamu kok gendutan sih skr?”
J: “Iya, memang. Maklum habis melahirkan anak ke-6. Insya Allah setelah ini mau diet dan olahraga biar lebih sehat. Do’akan, ya?”

T: “Mukamu kok kusam, ngga sekinclong dulu.”
J: “Gitu, ya? Suami saya ngga mengeluh apapun sih…Kapan-kapan saya mau perawatan biar makin disayang suami deh… Do’akan, ya?”

Endebray, endebray, endebray…

Puaskan saja rasa ingin tahu mereka, jawab apa adanya, hindari perdebatan, dan sekalian minta do’a darinya. Lumayan tuh kalau banyak yang nanya, bisa dido’akan warga sekampung!

Tapi itu mah kalau saya yang ditanya sih…
Yang lain boleh jadi punya pendapat yang berbeda, tak perlu berdebat. Hihi.

Because happiness is my choice. And those kind of questions will never degrade my happiness.

Selamat berbahagia ketemu pertanyaan KAPAN.

Related Posts

Leave A Comment