Tinta Ulama Menggoreskan Peradaban

“Sejarah islam hanya tertulis dalam dua warna tinta, hitam dan merah. Tinta hitam telah ditorehkan oleh tinta para ulama, dan tinta merah yang telah ditorehkan oleh darah para syuhada, dimanakah kita sekarang?” (DR. Abdullah Azzam)

Kalimat tersebut menusuk ke dalam relung hati kita semua sebagai aktivis dakwah di zaman ini, apa yang sudah kita lakukan dalam membangun sebuah peradaban? Ini yang menjadi pertanyaan yang sulit untuk kita jawab, bahkan yang sudah bertahun-tahun bergerak dalam dunia dakwah, dan sayangnya pilihan itupun hanya ada dua, tinta ulama atau darah syuhada.

Kampus menjadi salah satu sarana yang efektif untuk melahirkan banyak bahan baku dan bahan jadi yang dapat menjamin kualitas bangunan sebuah peradaban, di sanalah kelekatan antara ilmu dan peradaban berada. Sejarah islam juga membuktikan bahwa gabungan antara unsur pemuda dan ilmu pengetahuan adalah racikan alami yang luar biasa dalam pembangunan sebuah peradaban islam.

Allah SWT berfirman : “Tidak sepatutnya orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya itu mereka dapat menjaga menjaga dirinya” (QS. At-Taubah: 122)

Dalam ayat ini terdapat isyarat kuat bahwa Allah menghargai “tinta ulama” setera dengan “darah syuhada”, sungguh tidak main-main. Bahkan Imam Al-Ghazali mengatakan dalam Ihya Ulumuddin “Setetes tinta ulama lebih berat timbangannya di sisi Allah daripada ribuan darah syuhada’ yang meninggal di medan perang”. Dan luar biasanya lagi, dakwah kampus berpotensi untuk melahirkan keduanya. Maka dari itu, berarti pula baik buruknya kualitas dakwah kampus sangat mempengaruhi baik buruknya kualitas peradaban di masa depan.
Kalau aktivis di zaman ini belum sadar dan tidak tahu tentang adanya akhir alur tersebut maka perlu segera dibenahi dan dikejar ketertinggalannya. Jika tidak, ini akan menjadi boomerang. Pandangan yang sempit dan tidak menyeluruh tentang perannya sebagai pembangun peradaban adalah sosok pemuda bodoh yang tidur malas-malasan di siang hari bolong. Ia harus segera dibagunkan!.

Dakwah kampus begitu spesial karena ada proses ilmu di dalamnya, kalau diperhatikan tidak ada peradaban yang dibangun tanpa ilmu pengetahuan. Setiap peradaban apapun, baik Islam, Barat, Yunani, China, Mesir dan Babylonia, mampu membangun peradabannya masing-masing karena keunggulan ilmu pengetahuan.

Namun kini bagi kebanyakan mahasiswa mempunyai cara berfikir pragmatis yang mendarah daging dalam pola pikirnya. Gara-gara pola pikir sempit inilah umat islam jadi tidak tergerak untuk menjadi pembelajar dan hanya puas menjadi pelajar. Ini masalah pola pikir, menempatkan ilmu bukan pada posisinya sebagai juru kunci peradaban, berpolitik tanpa ilmu, berdakwah tanpa ilmu, bermasyarakat tanpa ilmu, bernegara tanpa ilmu, segalanya serba asumsi yang merupakan pisau tajam yang mematikan.

Semua ini menjadi tugas besar para ilmuan di kampus. Untuk itu mari kembali kita hidupkan majelis-majelis ilmu, diskusi yang menyehatkan, taman-taman buku yang begitu menyenangkan, tulisan-tulisan yang produktif dan menyadarkan. Ingat, hanya ada dua pilihan, “tinta ulama” atau “darah syuhada”. Kalau tinta ulama menjadi pilihan, maka jangan hanya diam, ambil penamu dan tulislah sesuatu saat ini juga, kata Imam Al-Ghazali “Kalau engkau bukan anak raja, dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”

“Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus jutaan kepala” (Sayyid Quthub)

Tinggalkan komentar