Terimakasih Uda

Bilangin masih seumur jagung, perjalanan belum lah sampai sehasta. Masih banyak yang belum bisa dipelajari dari seorang suami. Sejatinya ini adalah berproses.

“Kamu tau dik, di dalam perjalanan pun akan banyak gangguan dan rintangan yang kan menghadang, dan kita harus percaya serta yakin dapat melaluinya,”ujurnya suatu hari kepada ku. Dan tak lupa jemari ini ia genggam.

“Dik, jadilah teman berjalan kakak,”tambahnya lagi. Jadilah kuat, karena kita tidak pernah tahu badai seperti apa yang telah menunggu kita di depan sana. Jika bersama dalam kesabaran dan keikhlasan serta niat tak gentar karenaNya, insya Allah bisa kita hadapi kerikil kerikil tersebut.

“uda, adalah penenang diantara penenang, terimakasih,”jawab ku sambil menggenggam erat tangan uda. “Uda, jika aku lemah tolong dikuatkan, jika aku lupa tolong diingatkan, dan jika aku rapuh tolong uda doakan, karena sekarang amanah itu ada di bawah kedua tangan uda”.

“Istri ku, semenjak ijab diucap, uda telah bertekad bahwa semua yang ada pada mu menjadi tanggung jawab uda, dan uda insya Allah berjanji tidak akan mengingkarinya sampai maut memisahkan kita.

Tak kuasa menahan, akhirnya pecah juga bendungan ku. “Uda, terimakasih banyak uda, Rabb terimakasih alhamdulillah engkau kirim penyempurna seperti uda”.

#catatanharianistri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *