Tanamkan Tauhid Sejak Dini

Sabtu 1 Muharram kemarin, diberikan kesempatan untuk mengikuti kajian Ust. Syafiq Riza Basalamah di Plenary Hall JCC. Kajiannya tentang “Tanamkan Tauhid Sejak Dini“. Bismillah, saya bagikan disini ya. Semoga bermanfaat dan bisa diterapkan dalam mendidik amanah dari Allah.

Hal yang perlu diingat, anak adalah amanah. Anak adalah penyejuk jiwa. Tanggung jawab orang tua adalah mengajarkan aqidah yang benar pada anak. Bukan hanya mengajarkan matematika, agar dia juara, disanjung dan dipuja. Tapi ada tanggung jawab yang lebih besar dari itu. Karena, merekalah yang akan senantiasa berdoa “Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhuma kamaa Rabbayaani saghiira“. Seorang ayah, perlu mempersiapkan anaknya agar bisa meneruskan perjuangan (dakwahnya). Seorang ibu, mempersiapkan generasi yang kelak tidak akan menangis kecuali karena takut pada Allah. (Ya Allah, mampukan kami).

Mengenalkan tauhid disesuaikan dengan kadar pemahaman anak. Bisa dimulai dengan “MATA” : memandang keindahan alam kemudian merenunginya. Ajak anak melihat mentari terbit. “Nak, itu mentari terbit. Tidak ada yang bisa membuat dia terbit dari barat”. Ajak anak memandang langit, disana ada rembulan. Ajarkan anak tentang doa ketika melihat hilal.
Bisa juga dengan membacakan kisah Nabi dan sahabat Rasul.
Contoh lain, ketika makan bersama dan tersedia lauk ikan.
“Dari mana kita membeli ikan?
“Dari pasar.”
“Pedagang di pasar dapat darimana?”
“Dari laut”
“Siapa yang memberi makan ikan di laut?”
“Tentu saja Allah, Yang Maha Kuasa. Dengan rizqi dan pertolongan Allah ikan yang jumlahnya banyak bisa bertahan hidup di lautan yang luas”. Begitulah, kita dapat mengenalkan dan mengajak anak merenungi kekuasaan Allah dari hal-hal di sekitar.

Hal Yang Diperhatikan dalam Mengajarkan Tauhid

1. Selamatkan Fitrah Anak dari Kerusakan

Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim no. 1835)
Fitrah yang dimaksud adalah Fitrah Islam. Anak mengetahui dan mengakui penciptanya.
Salah satu nasihat Luqman pada anaknya “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Lukman: 13).
Ketika bayi lahir, jangan sampai kita memakaikan aksesoris yang bertujuan untuk tolak bala, karena itu termasuk syirik. Mohonlah perlindungan kepada Allah. Doanya bisa berupa ayat perlindungan (surah Al Ikhlas, Al Falaq, An-Naas). Atau membaca doa yang dipraktikkan Rasulullah kepada al-Hasan dan al-Husain.

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لامَّةٍ
U’idzukuma bi kalimatillahit-Taammah min kulli syaithanin wa haammah wa min kulli ‘ainil-laammah”

Artinya : Aku meminta perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan syaitan, binatang yang berbisa, dan pandangan mata yang jahat.
Ajarkan Anak kalimat “Laa ilaaha Illallah“. (Kisah Anas bin Malik dan ibunya, Ummu Sulaim. Ummu Sulaim tetap mengajarkan kalimat tauhid meskipun suaminya melarang).

2. Tanamkan Iman kepada Malaikat

إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ
“Tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya (malaikat)”. (At-Thariq :4)
Ceritakan pada anak tentang Malaikat. Agar menjadi anak yang berani karena ada yang menjaganya. Jelaskan pula tentang gangguan syaitan terhadap manusia. Jangan menakuti anak dengan syaitan. Tapi ajarkan mereka untuk senantiasa meminta perlindungan pada Allah dari godaan dan gangguan syaitan.

3. Tanamkan Iman kepada Hari Akhir

Ceritakan Surga dengan segala kenikmatan yang disiapkan bagi orang yang bertakwa. “Nak, nanti apa yang bapak belum bisa belikan di dunia bisa kamu dapatkan di surga”. Gambarkanlah juga tentang Neraka dan siksa pedih bagi orang yang berbuat dosa.
Tumbuhkan rasa pada anak bahwa dia ingin masuk surga. Arahkan perhatiannya pada mengerjakan kebaikan dan menjauhi keburukan. Hindari menakuti anak dengan kata-kata “Jangan begini nanti masuk Neraka!” Tapi timbulkanlah rasa takut untuk berbuat dosa.

4. Tanamkan Iman kepada Takdir

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

Jika anak terkena musibah (jatuh), katakanlah “Tidak apa-apa, ini adalah takdir. Insya Allah nanti sembuh”. Jangan salahkan lantai bahkan memukul lantainya. Ajarkan pada anak bahwa kebaikan dan keburukan yang terjadi, semua berdasarkan takdir atau ketentuan Allah. Yang perlu kita lakukan adalah sabar dan syukur.

5. Jangan berhenti menanamkan keimanan meskipun sudah dewasa atau menikah.

Karena manusia sering lupa. Wasiat Nabi Ya’qub agar anaknya tetap beribadah kepada Allah

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Artinya: “Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya” (QS Al-Baqarah : 133).

Poin lain dalam kajian ini adalah
a. Orang tua jangan lupa berdoa tentang tauhid untuk anak (agar anak tetap beribadah pada Allah, diselamatkan dari syirik).

c. Kisah Ummu Sulaim ibunda Anas bin Malik
(Setelah suami pertamanya meninggal), Ummu Sulaim menikah dengan Abu Thalah. Mahar yang diminta Ummu Sulaim adalah Abu Thalah masuk Islam. Masya Allah

Semoga bermanfaat. Bila ada kesalahan mohon dimaafkan. Astaghfirullah

Leave a Comment