Taman Siswa dan Pembinaan Pola Asrama

Tak kenal maka tak sayang. Sebelum kita bahas tentang taman siswa. Mari kita bahas siapa sih Ki Hajar Dewantara ini

Namanya lengkapnya R.M Suwardi Suryaningrat, kelak orang-orang mengenalnya sebagai bagian dari orang-orang perjuangan. Suwardi lahir dari keluarga ningrat jawa. Ayahnya mustinya naik tahta jadi raja jawa jikalau tidak mengalami kebutaan. Kakaknya R.M Soeryopranoto adalah seorang pemberani yang kelak menjadi pilar utama Sarekat Islam. Suwardi dibesarkan dalam keluarga priyayi yang berpikiran maju. Dia terus didorong untuk mengenyam pendidikan.

Saat belajar kedokteran di Batavia, Suwardi banyak belajar juga tentang jurnalisme. Dia membela orang-orang kecil yang tertindas dengan tulisan-tulisanya yang tajam. Sampai pada akhirnya Suwardi bertemu dengan dr. Tjipto mangunkusumo, seorang dokter patriotik yang sangat mencintai rakyatnya dan Dowes Dekker, seorang Indo yang memiliki pemikiran tentang kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Diskusi-diskusi ketiganya membuat Suwardi muda semakin matang konsep perjuanganya serta semakin tajam kemampuan jurnalistiknya. Pada 1913, Suwardi, dr. Tjipto serta Dowwes Dekker yang kemudia dikenal sebagai tiga serangkai mendirikan sebuah partai bernama Indische Partij. Partai politik pertama di tanah hindia,di bumi nusantara. Partai politik yang didirikan sebagai wadah perjuangan untuk lepas dari kolonialisme Belanda, lepas dari cengkraman penindasan kaum imperialis, kemudian membentuk sebuah bangsa yang multi etnis, hidup rukun antara pribumi, indo dan eropa. Kelak sejarah mencatat bahwa tak banyak anak muda yang berani mendirikan partai politik sebagai wadah perjuangan. Sayangnya usaha pendirian Indische partij mendapat gajalan dari pemerintah colonial. Organisasi ini tidak mendapatkan ijin karena dianggap membahayakan. Ketiganya kemudian diasingkan ke negeri belanda.

Jadi teman2, Ki Hajar Dewantara yang kita kenal sebagai bapak pendidikan itu, di masa mudanya adalah aktivis pergerakan politik yang cerdik dan pemberani.

Di Negeri belanda Suwardi kemudian memperdalam ilmu pendidikan sebagai sarana baru perjuangan usai masa pembuangan. Sepulang dari pembuangan Suwardi memilih menyokong perjuangan dari sektor pendidikian. Dia memutuskan lengser keprabon dari perjuangan politik seorang ksatria kemudian mandeg menjadi pandhito, menjadi guru bangsa yang menyiapkan generasi pejuang muda. Kemudian dia mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Pada 3 Juli 1922, di usianya yang menginjak 33 tahun Suwardi mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional yang diberi nama Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Nasional Taman Siswa. Perguruan ini didirikan untuk menyemai rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Dalam kumpulan tulisannya tentang pendidikan terang sekali bahwa ia ingin menjadikan anak-anak muridnya menjadi manusia merdeka. Akan tetapi tidak menjadi liberal seperti abses yang muncul akibat pola pendidikan barat. Bangsa Indonesia harus memiliki cita rasa pengajaranya sendiri.

Dalam buku kumpulan catatannya tentang pendidikan ki hajar menulis,

“Mendidik anak itulah mendidik rakyat. Keadaan dalam hidup dan penghidupan kita sekarang itulah buah yang kita terima dari pendidikan orang tua pada waktu kita masih kanak-kanak. Sebaliknya anak-anak yang ada waktu ini kita didik, kelak akan menjadi warga negara kita”

Upaya perjuangan Ki Hajar melalui jalur pendidikan rupanya juga mendapat rintangan dari pemerintah kolonial. Keluarnya kebijakan tentang Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932 membuat Perguruan taman siswa yang mulai berkembang dan memiliki banyak cabang mengalami banyak kesukaran. Namun berkat kegigiha perjuanganya, ordonansi itu akhirnya dicabut juga oleh pemerintah kolonial. Taman siswa terus berkembang menjadi salah satu pilar penting penyuplai kaum intelektual yang menyokong perjuangan politik kaum muda yang dimotori Soekarno, hatta, sjahrir.

Taman siswa ini bukanlah sebuah sekolah mainstream yang hanya mengajarkan ilmu pengetahuan saja, lebih dari itu, sekolah ini memiliki sistem pendidikan yang utuh, yang juga menyiapkan segala aspek yang dibutuhkan anak manusia dalammasa tumbuh kembangnya. Di tahun 1930an, taman siswa telah mengadopsi pola pendidikan montesori untuk anak-anak yang hari ini kembali hits diangkat kembali. Taman siswa juga sangat cosern pada pendidikan kesenian dalam upaya membentuk karakter para muridnya. Jadi kesenian bukan sekedar sebuah pelajaran pelengkap. Bahkan Ki Hajar Dewantara menulis sebuah buku tersendiri tentang masalah kesenian dan kebudayaan.

Soal masalah bahasa, barangkali hari ini kita justru mengalami kemunduran. Di zaman itu, taman siswa sudah terbiasa menggunakan banyak bahasa dalam sistem pendidikannya. Bahasa jawa sebagai bahasa daerah, bahasa nasional sebagai bahasa pergaulan, serta beberapa bahasa asing seperti belanda, inggris dan jerman. Ki Hajar paham betul bahwa bangsa kita adalah bangsa yang punya potensi besar menjadi bangsa polyglot, mengingat banyaknya bahasa daerah yang ada dan setiap anak manusia di bumi nusantara ini paling tidak mengusai 2 sampai 3 jenis bahasa. Penulis sendiri peling tidak menguasai 3 bahasa lokal (Indnesia, jawa dan Madura) serta dua bahasa asing (arab dan Inggris) padahal tidak digembleng dengan sistem pendidikan multi lingual yang serius.

Pendidikan adab dan kesusilaan merupakan salah satu concern taman siswa yang paling utama. Bahkan, dalam menyusun kelas-kelas dalam pembelajaran, taman siswa memperhatikan betul interaksi murid laki-laki dan perempuan. Untuk murid kelas dasar, usia kanak-kanak, sengaja kelas dicampur antara laki-laki dan perempuan agar mereka semakin memahami karakter masing-masing sebagai laki-laki dan sebagai perempuan. Sedangkan untuk siswa sekolah menengah, yang sedang berada pada masa puber, kelas dipisah antara laki-laki dan perempuan. Kemudian pada sekolah atas, saat dirasa sudah cukup dewasa, memahami adab dan kesusilaan, laki-laki dan perempuan bisa belajar dalamsatu kelas.

Taman siswa ini juga merupakan sebuah sekolah yang terpengaruh sistem pendidikan asrama dari india atau dikenal juga sebagai sistem pendidikan pesantren (pendidikan Islam) di Indonesia. Dalam bukunya tentang pendidikan, Ki Hajar menyebut bahwa sisitem asrama atau pondok adalah sistem pendidikan Nasional asli Indonesia. Menurut Ki Hajar, sistem pondok atau asrama dapat membuat seorang guru bisa memberikan keteladanan secara utuh. Karena guru dan murid tinggal bersama, melakukan kegiatan sehari-hari bersama, sehingga para murid secara lahir dan batin dapat menerima ilmu dari sang guru.

Menutup tulisan ini, saya ingin mengisahkan sebuah kisah yang dibahas dalam novel autobiografi Budiman Sujatmiko yang berjudul anak-anak revolusi. Dalam memoar tersebut, Budiman menceritakan pengalaman menimba ilmu di salah satu kampus terhebat didunia, Cambride University. Menurut Budiman, yang membuat Cambridge hebat bukan kelas-kelas kuliah di kampus, akan tetapi justru asrama mahasiswanya. Di asrama-asrama tersebut, sengaja di setting untuk dihuni mahasiwa lintar strata dan lintas jurusan, di tiap asrama ada seorang profeseor yang tinggal juga di situ. Secara rutin professor tersebut menghelat diskusi-diskusi asrama untuk mahasiswa lintas jurusan tersebut. Hasilnya,kita lihat sendiri, Cambridge menjadi sekolahnya orang-orang yang mengatur jalan mainnya dunia global. Sedang kita justru meninggalkan sistem pendidikan asrama dan pondok.

Leave a Comment