Soeharsikin Tjorkoaminoto

Perempuan memiliki pengaruh besar di balik kesuksesan seorang laki-laki.

Kalimat ini kiranya juga tepat untuk memberikan gambaran bagaimana Soeharsikin, sebagai pendamping hidup, menjalankan perannya dengan apik.

Perannya yang memang luar biasa dalam menjalani amanah sebagai seorang istri, ibu, serta ibu kost bagi para pemuda di Rumah Peneleh.

Soeharsikin merupakan puteri dari Raden Mangoensomo, seorang Patih yang membawahi wilayah Ponorogo. Bisa dikata, budaya priyayi sudah lekat dengan kehidupan Soeharsikin. Hubungan antara orang tua Soeharsikin (sebagai Patih di Ponorogo) dengan orang tua Tjokroaminoto, mengantarkan pertemuan keduanya pada pernikahan. Ya, Soeharsikin dan Tjokroaminoto menikah, berkat perjodohan oleh kedua orang tua. Dari pernikahan ini Tjokroaminoto memiliki dua orang anak perempuan dan tiga orang anak laki-laki yang masing-masing bernama Siti Oetari, SIti Islamiyah, Anwar Tjokroaminoto, Harsono Tjokroaminoto dan Ahmad Suyud Tjokroaminoto.

Namun, Tjokroaminoto yang dikenal keras kepala justru tidak akur dengan Sang Mertua. Hal ini memicu permasalahan, hingga nyaris mengakhiri pernikahan mereka yang baru seumur jagung. Namun, Soeharsikin bersikeras untuk memilih tetap mendampingi Tjokroaminoto. Dan menolak saran dari orang tuanya, agar berpisah dengan Tjokroaminoto.

Sebagai perempuan yang lahir dalam keluarga ‘serba ada’ , boleh dikata pilihan Soeharsikin untuk mengikuti jalan juang sang suami terbilang nekat. Memilih jalan hidup sulit di jaman yang serba susah. Di sinilah, keteguhan hati seorang Soeharsikin dibuktikan. Dengan ikhlas ia mendampingi jalan juang Si Raja Jawa Tanpa Mahkota. Hingga upaya ‘hijrah’ keduanya berlanjut di kota Surabaya. Sebuah kota dagang yang memiliki peranan penting pada awal-awal abad ke 20.

Di Surabaya, Soeharsikin membuka rumahnya menjadi tempat kost yang menampung para pemuda dan pelajar. Rumah kost ini juga menjadi wadah diskusi bagi kaum pergerakan.

Pada kisaran 1912 Tjokroaminoto tinggal bersama Soeharsikin di Surabaya. Rumah Tjokroaminoto selama di Surabaya juga sangat sederhana bagi ukuran seorang petinggi organisasi massa. Perihal kondisi keluarga Tjokroaminoto, Soekarno memberikan kesaksiannya sebagai berikut :

‘…Pak Tjokro semata-mata bekerdja sebagai Ketua Sarekat Islam dan penghasilannja tidak banjak….Pak Tjokro tinggal di kampung jang penuh sesak tidak djauh dari sebuah kali. Menjimpang dari djalanan jang sedjadjar dengan kali itu ada sebuah gang dengan deretan rumah di kiri-kanannya….dan terlalu sempit untuk jalan mobil. Gang kami namanja Gang 7 Peneleh. Pada seperempat djalan djauhnya masuk ke gang itu berdirilah sebuah rumah buruk dengan pavilijun setengah melekat. Rumah itu dibagi mendjadi sepuluh kamar-kamar kecil, termasuk ruang loteng. Keluarga Pak Tjokro tinggal didepan….jang-bajar makan dibelakang…’

Tinggal di kota besar seperti Surabaya memang banyak membutuhkan biaya. Sebagai contoh penghasilan yang didapat seorang buruh pabrik di kota Surabaya pada awal abad ke-20. Penghasilan yang didapat seorang buruh pabrik dari golongan Bumiputera berkisar antara f 25 perbulan sampai dengan f 60 perbulan. Biaya hidup juga dapat digolongkan atas kebutuhan primer dan sekunder. Kebutuhan primer seperti untuk membeli beras saja mencapai f 23,4 perbulan. Sedangkan kebutuhan sekunder bisa mencapai f 4 hingga f 6 perbulan. Bagi pekerja dengan penghasilan f 25 perbulan, pendapatan tersebut sangatlah kurang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Pendapatan tersebut masih digunakan lagi untuk menghidupi keluarga semisal kebutuhan anak-anak dan isteri.
Tjokroaminoto dan isterinya mendapatkan f 11 perbulan dari seorang anak kost dan jika ada sekitar lima belas hingga dua puluh anak kost di rumahnya (Tjokroaminoto, 1983: 34), berarti keluarga Tjokroaminoto mendapatkan pemasukan maksimal f 220 perbulan dari rumah kost. Pendapatan tersebut masih digunakan lagi untuk membeli beras sebagai jatah makan anak-anak kost, membayar emban, dan kebutuhan lainnya. Jumlah tersebut juga masih sangat kurang bila Tjokroaminoto sendiri memiliki tanggungan empat orang anak yang juga membutuhkan biaya.

Lalu, hal apa yang bisa kita pelajari dari sosok perempuan ini?

Sikapnya yang tegas !
Jelas ini terlihat dari bagaimana ia mampu memberikan ketegasan pada orang tuanya, untuk tetap mengikuti suaminya. Karena bagaimanapun, sudah menjadi tanggung jawab seorang istri untuk mendampingi suaminya dalam kondisi apapun, dan mendukung jalan juang yang ditempuh oleh sang suami, selama tidak menyalahi aturan agama maupun negara.

Selanjutnya, dari apa yang disaksikan oleh anak-anak kost, Soeharsikin merupakan seorang ibu yang memiliki kehalusan nurani, dibalik sikapnya yang tegas.

Menjalankan peran ganda tentu tidak mudah. Menjadi Istri, menjadi ibu bagi anak-anak kandungnya, dan menjadi induk semang bagi para aktivis pergerakan. Dalam karyanya berjudul Sarinah, Soekarno menuliskan bahwa tugas perempuan bukan hanya terbatas pada urusan ‘kurche-kirche, kleider, kinder’ atau dalam istilah bahasa Jawa kurang lebih berarti ‘masak, macak dan manak’. Sudah semestinya perempuan turut mengambil bagian dalam proses perjuangan dan pembangunan negara. Sebagai mana kalimat pembuka yang saya tuliskan dalam ringkasan mengenai sosok Soeharsikin, bahwa :

“…Perempuan memiliki pengaruh besar di balik kesuksesan seorang laki-laki…”

Dan benar saja, ketika Soeharsikin wafat pada 1921 secara perlahan pamor Tjokro semakin meredup.

Tinggalkan Balasan