Serangan Empat Penjuru

Motif Dibalik Itu

*****

Di surah ini, Al-A’raf, surah ke-tujuh, Allah bicara lengkap tentang penciptaan. Juga tentang Adam. Dan tentang setan. Ya, devil alias iblis.

Al-A’rof ayat ke-13. Allah mengusir Iblis keluar dari surga. Iblis kehilangan kedudukannya. Iblis kehilangan kehormatannya. Ditendang menjauh dari Allah.

Menarik juga mengamati bahwa terusirnya iblis ini ada di ayat ke-13. Angka 13 adalah angka yang dianggap sial. Angka yang sering dihindari. Tapi itu buat follower iblis. Bukan buat orang yang beriman. Karena orang yang beriman adalah follower Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah suka bilangan yang ganjil.

Iblis kehilangan membership di surga. Apakah dia diam saja? Tentu saja tidak. Iblis merespon. Apa responnya?

*****

Kata “syaithan” berasal dari Bahasa Arab. Tapi ada juga yang bilang, kata “syaithan” juga punya asal-usul dari bahasa lain. Selain Bahasa Arab.

Dalam bahasa Arab, asal-usul kata “syaithan” ada dua. Pertama, “syaith”. Artinya, terbakar atau menyala karena marah. Atau karena benci alias dengki. Kedua, “syathan”. Artinya, seseorang yang pergi jauh. Jauh sekali.

Ada yang mencoba menggabungkan keduanya. Syaithan adalah dia yang telah melangkah terlalu jauh dalam kebenciannya. Setiap ada kesempatan untuk kembali mendekati Allah, dia mendorong dirinya untuk kembali menjauh.

Faktanya, itu lah yang dia lakukan atas kita semua. Allah mengilhamkan setiap jiwa kejahatan dan ketakwaan (Asy-Syams, surah 91, ayat 8). Tugas iblis adalah membuat kejahatan itu menyala-nyala. Iblis pintar mengipasinya sehinga apinya berkobar. Supaya kita tambah jauh tersesat.

Wa yuriidusy-syaithoonu an yudhillahum dholaalan ba’iidan (An-Nisa’, QS 4:60). Setan ingin menyesatkan manusia sehingga mereka berada dalam kesesatan yang sejauh-jauhnya.

Seperti dia sendiri. Yang sudah terlanjur tersesat jauh. Dia juga ingin supaya kita semakin menjauh. Setan tidak ingin kita untuk berpaling. Untuk kembali ke jalan-Nya.

Kita akan pelajari bagaimana cara dia melakukannya. Bagaimana dia berhasil bikin kacau. Dan bagaimana dia bisa memastikan supaya manusia tetap kacau.

*****

Kembali ke situasi saat Iblis diusir dari surga. Apa responnya? An-zhirnii ilaa yawmi yub’atsuun (Al-A’rof 14). “Beri aku waktu”. Waktu tambahan. Dan itu bukan waktu yang panjang. Bukan waktu yang banyak.

Bukan nazh-zhoro, yang berarti waktunya banyak. Ayat ini pake kata anzhoro, yang berarti waktunya ga banyak. Setan tidak minta waktu yang banyak. Sampai datang hari kebangkitan (the day of resurrection). “Jangan hukum aku sekarang. Kasih aku waktu, mulai saat ini, hingga hari kebangkitan.”

Di benak setan, itu bukan waktu yang lama. Setan kan sudah pernah lama bersama Allah. Setan sudah pernah lama bersama para malaikat. Dia tahu persis, dari saat percakapan itu terjadi, hingga hari penghakiman (judgment day), waktunya tidak lama.

Tapi setan pintar memelintir fakta. Setan bilang ke kita, “Santai, Bro. Waktumu banyak. Di dunia ini waktumu panjang. Kamu tidak perlu berubah sekarang. Ramadhan masih lama. Kamu oke kok.”

Di benakmu, di benakku juga, kita berpikir bahwa kita masih punya banyak waktu. Itu pintarnya setan. Kita dibikin manja oleh setan. Dibikin berpikir bahwa kita masih punya banyak waktu. Bahkan meski kematian itu dekat, setan tidak berhenti melenakan kita. “So what, Bro. Tenang aja. Judgment Day kan masih jauh juga.” Kita ga tahu kapan datangnya.

Orang-orang kafir memandang bahwa azab itu jauh. Innahum yarownahuu ba’iidan. Surah Al-Ma’arij (surah ke-70) ayat 6. Sedangkan Allah memandangnya dekat. Wa naroohu qoriiban (ayat 7). Setan itu pintar. Kita dibius supaya kita jangan cemas. Supaya kita selalu berpikir bahwa waktunya masih jauh.

*****

Ada yang nanya, setan itu sudah ditendang keluar dari surga. Tapi kok bisa ya, setan berbisik ke ayah dan ibu kita semua, Nabi Adam dan Siti Hawa. Padahal Adam dan Hawa kan ada di dalam surga. Dan setan ada di luar surga. Atau tepatnya, sudah dikeluarkan dari surga.

Ya bisa aja. Allah kan Maha Segalanya. Allah kasih dia kemampuan. Bisikannya bisa menembus batas. Bisa menjangkau Adam dan Hawa.

Hari ini, hal seperti itu tidak susah untuk kita bayangkan. Orang bisa bermil-mil jauhnya dari kita, tapi suaranya bisa menjangkau kita. Beberapa abad yang lalu, mungkin itu dianggap sihir. Dianggap magic.

Hari ini, aku bisa lihat ibuku meski terpisah samudera. Dulu, itu magic. Sekarang, tinggal pake hape. Pake video call. Atau Skype.

Intinya, setan bisa menjangkau dari kejauhan. Bisa menghembuskan bisikan jarak jauh. Itu adalah kemampuan yang Allah izinkan Iblis untuk miliki. Hingga hari kebangkitan nanti.

*****

Setelah setan minta penangguhan waktu, apa jawab Allah? Qoola innaka minal mun-zhoriin. Surah Al-A’rof ayat 15. “Oke, kamu dikasih waktu”. Allah setuju. Iblis diberi penangguhan waktu. Allah kasih ruang gerak buat Iblis.

Kenapa Iblis minta waktu? Karena dia tahu dia sudah pasti dihukum. Dia tahu hukumannya tidak lama lagi. Dia tahu dia tidak bisa menghindar dari hukuman Allah. Dia tahu dia sudah ditolak. Sudah ditendang keluar. Tidak ada kata sukses dalam kamus Iblis. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya.

Juga, tidak ada permintaan maaf. Ribuan idul fitri sudah lewat, tapi Iblis tidak pernah minta maaf sama Allah. Iblis sudah nyerah untuk bertobat. Iblis sudah terlalu jauh. Iblis sudah mengambil keputusan seperti itu. Iblis tidak ingin mencapai apa-apa.

Tapi di benaknya, Iblis berpikir, “Aku tidak ingin sendirian. Makhluk yang diciptakan dari tanah yang kotor itu, memang menyebalkan. Masak aku disuruh sujud sama dia. Makanya aku ingin tunjukkan, aku ingin buktikan sama Allah, bahwa aku bukan satu-satunya yang gagal.”

“Well, aku sudah gagal. Ya, aku akui itu. Tapi aku masih bisa ‘sukses’ jika aku bisa buktikan bahwa mereka juga gagal. Ayo kita lihat. Kamu pikir hanya aku yang gagal? Mereka juga bisa gagal lho! Dan aku akan buktikan itu! Kasih aku waktu.”

Itu lah sukses a la Iblis. Di benaknya, itu lah goal dia. Membisiki kita dengan kenikmatan palsu. Padahal aslinya ingin menyeret kita menjadi temannya. Itu seperti virus yang menginfeksi manusia juga.

Ada orang yang sebenarnya tidak punya goal. Tidak punya hasrat berprestasi. Tidak ingin mencapai apa-apa. Dia tidak peduli dengan yang namanya achiement atau pencapaian. Yang dia inginkan hanya satu. Supaya orang lain juga tidak mencapai apa-apa.

Ini lah yang terjadi di kisah Habil dan Qobil, saat keduanya mempersembahkan kurban. Kurban Habil diterima. Kurban Qobil ditolak. Ada di surah Al-Ma’idah (surah ke-5) ayat 28. Qobil terganggu. Qobil tidak peduli lagi. Qobil terlanjur tidak sukses. Dan dia tidak bisa lihat Habil sukses. Qobil cemburu.

Di dunia ini terbentang banyak kisah tentang kecemburuan. Kecemburuan diantara sesama anak manusia. Kecemburuan diantara saudara sekandung. Kecemburuan diantara pasangan suami-istri. Kecemburuan diantara dua orang-tua.

Saya bahkan pernah ketemu seorang anak yang bilang, “Aku tuh ga suka sama orang tuaku. Karena mereka saling mencintai. Itu menggangguku.”

Haaah? Mengherankan! Kasih sayang suami istri yang begitu mesra kok bisa mengganggu anaknya. “Ya, emang gitu. Aku ga yakin aku bisa dapet kasih sayang yang seperti itu. Benar-benar bikin aku cemburu,” anak itu menegaskan. Wow! Beraaat! Kedengarannya sih aneh dan lucu. Tapi sebenarnya itu sungguh berat dan dalam!

Setan bisa bikin kamu menginginkan sesuatu. Tapi jika kamu tidak bisa memilikinya, setan bisa bikin kamu begini: yang penting buat kamu, orang lain juga tidak memilikinya.

“Aku sedih. Tapi selama mereka juga sedih, aku hepi.”

Ada juga orang yang merasa hepi sepanjang mereka tidak mendengar segala sesuatu tentang kamu. Tapi kalo dia dengar bahwa kamu hepi, kalo dia dengar bahwa kamu tersenyum, itu akan sangat mengganggunya. Dia akan gelisah, kenapa kamu bisa hepi. Dia gundah, apa yang sedang terjadi. Karena dia pikir kamu sedang bersedih.

Lalu dia lihat postingan gambar. Atau video. Atau denger dari seseorang. Ada kamu di situ. Sedang tersenyum lebar. Sedang tertawa lepas. “Apa ini?” pikir dia. Kepikiran terus dia. Jadi baper berat dia. Itu semua asalnya dari setan. Setan bikin dia ga bisa lihat kamu senang. Ga bisa lihat kamu sukses.

Setan minta waktu sama Allah. Supaya dia bisa buktikan, bukan dia saja yang antri tiket ke neraka.

Tapi bagusnya, dia beberken strateginya. Strategi yang bukan lagi jadi rahasia. Dia tidak sembunyikan apa yang akan dia lakukan. Dia pampangkan. Dia buka lebar-lebar. Dan Allah juga menyingkap strategi setan itu. Sebagai bagian dari petunjuk-Nya.

Allah kasih kita jalan yang lurus. Termasuk di situ, Allah juga kasih tahu bahaya-bahayanya apa. Di jalan yang akan kita tempuh itu, Allah kasih tahu tentang musuh kita.

“Ini adalah jalan menuju surga. Oke, kamu sudah tahu. Lalu ini adalah rintangan-rintangannya. Rintangan yang bisa menghalangi jalan kamu menuju surga. Ada musuh yang menunggumu di jalan itu.”

*****

Iblis bilang, qoola fabimaa agh-waytanii. Quran Surah Al-A’raf (surah ke-7) ayat 16. “Ini karena Kamu telah menyesatkan aku.”

Ini membuat Iblis melangkah maju. Maksudnya, makin parah tersesatnya.

Siapa yang Iblis salahkan? Allah. Mengerikan sekali. Allah disalah-salahkan. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

“Ini skema Kamu. Ini rencana Kamu. Kamu tahu apa yang menggangguku. Adam cuma dibuat dari tanah yang kotor. Kamu kan tahu segalanya. Jadi memang Kamu yang bikin kacau. Kamu yang bikin aku berdosa. Itu salah-Mu. Bukan salahku!”

“Kamu lah yang bikin masalah. Teganya Kamu lakukan ini padaku. Kamu tuh sebenarnya ga suka sama aku. Kamu tuh pilih kasih. Kamu tuh sayangnya sama manusia. Apapun akan Kamu lakukan untuk sakiti aku. Kamu lah yang mengutuk aku. Kamu lah yang ingin supaya aku tidak diampuni!”

“Dan karena Kamu sudah melakukan itu padaku, aku akan kerjain manusia-manusia itu. Makhluk yang sangat Kamu cintai.”

Perjalanan kesesatan setan yang makin jauh itu ada tahapan-tahapannya.

Pertama, setan menolak sujud kepada Adam. Itu tahapan awal menjauhkan dirinya dari Allah.

Kedua, setan itu sombong abis. “Aku kan lebih baik dari manusia. Aku diciptakan dari api, dong. Manusia, apa coba? Tanah yang kotor.” Arogansinya membuatnya makin jauh dari Allah.

Ketiga, dia bikin langkah besar. Sungguh besar. Maksudnya, kekKebenciannyaya. Langkah ini membuatnya melompat bermil-mil jauhnya dari Allah. “Aku ga salah. Kamu lah yang salah. Kamu lah Penulis Skenario dari semua kejadian ini.” Iblis bulat-bulat menyalahkan Allah.

Tebak sendiri sekarang apa yang akan Iblis lakukan sama manusia. Ingat lagi dua asal kata setan: benci dan tersesat jauh. Kebenciannya terhadap manusia membuatnya ingin menyesatkan manusia sejauh-jauhnya.

Dia akan datangi kita. Satu per satu.

Pertama, dia akan bikin kita ga patuh sama Allah. Kita memang di titik tertentu ga patuh sama Allah. Sekali dua kali. Karena kita ga sempurna. Makanya kita bikin kesalahan.

Mungkin suatu kali kamu ga taat sama Allah. Kamu merasa bersalah. Hatimu merasakan itu. Kamu menyadarinya. Kamu minta maaf sama Allah. Kamu bertobat. Kamu menangis. Ada perasaan bersalah jauh di lubuk hatimu.

Itu bagus. Itu bikin kamu jadi manusia. Itu bikin kamu jadi seperti Adam ‘alayhis salam.

Tapi kemudian setan datang lagi. Membuat kamu bikin dosa lagi. Dosa yang baru. Dan setan belum puas. Karena target dia adalah menyesatkan kamu sejauh-jauhnya. Maka kamu dibikin tergelincir lagi. Bikin dosa yang baru lagi.

Lalu setan membawamu melangkah lebih jauh lagi. Lebih buruk daripada sekedar berbuat dosa. Berbuat dosa itu sendiri sudah buruk. Tapi kini kamu terseret ke level yang lebih buruk. Kamu mulai melakukan pembenaran.

Ini jauh lebih buruk. Karena kamu mulai punya penjelasan yang logis kenapa kamu berbuat dosa. Kamu berkilah kondisinya darurat. Kamu berdalih sedang dapat banyak tekanan. Kamu yakin tidak ada yang bisa memahami situasinya yang memuakkan itu. Kamu punya banyak alasan untuk membenarkan perbuatanmu.

Saat kamu menjadi seperti itu, berarti setan telah berhasil membawamu ke level berikutnya. Makin jauh dari Allah.

Tapi ada yang lebih buruk. Yang paling buruk. Yaitu ketika kamu terus-menerus berbuat dosa. Dan ketika ada orang yang tanya sama kamu kenapa kamu terus melakukan itu, kamu bilang Allah lah yang ingin agar kamu seperti itu. Kamu bilang, kalo Allah tidak menginginkannya, pasti kamu sudah jadi orang yang lebih baik. Kamu bilang, kamu tidak tahu kenapa Allah begitu membencimu.

Kamu bilang, “Itu kan gara-gara Tuhan ga suka sama aku. Gitu aja sih!” Kamu mempertanyakan betapa teganya Tuhan melakukan itu padamu. Kamu yakin Tuhan benci sama kamu. Dan kamu ga habis pikir kenapa bisa seperti itu.

Kita sekarang menyaksikan bahwa seseorang bisa tergelincir sejauh itu. Selangkah demi selangkah menjauh dari Allah. Ngikutin prosedur mirip yang pernah dilalui setan. Melangkah setahap demi setahap. Makin menjauh dari Allah. Sampai akhirnya bermil-mil tak berhingga jauhnya dari Allah Berada di titik terjauh dari Allah. Setelah naik kendaraan dengan bahan bakar kemarahan.

*****

“Kamu lah penyebabnya. Kamu lah yang bikin gara-gara!” Setan marah sama Allah.

Tidak cukup sampai di situ. Setan tidak sekedar ingin menjauh dari jalan Allah. Tapi juga, la-aq’udanna ‘alaa shiroothokal mustaqiim. Ayat keenambelas dari surah Al-A’rof. Setan sungguh-sungguh bersumpah, dia akan duduk, menunggu mereka. Menunggu orang-orang yang akan mereka jerumuskan.

Qu’ud artinya tidak sekedar duduk menunggu. Qu’ud berarti menunggu sambil siap-siap menyergap. Seperti polisi di jalan tol yang menunggu. Dan segera menindak mobil yang ngebut di bahu jalan. Atau polisi di Sudirman dan Thamrin. Yang menindak mobil plat nomor salah tanggal.

Dalam bahasa Arab, duduk itu bisa qu’ud, bisa juga julus. Tapi di ayat ke-16 ini yang Allah gunakan adalah qu’ud. Qu’ud itu duduk berlama-lama. Julus itu duduk sebentar. Julus itu seperti duduk di antara dua khutbah Jum’at. Qu’ud itu duduk yang lama. Bisa lama sekali.

Jika kamu tidak sedang kacau, setan oke-oke aja. Setan tetap akan menunggu. Dia cool. Dia santai kok. Tapi dia yakin suatu saat kamu pasti kena. Dia konsisten menunggu.

Dia mempelajari kamu. Innahuu yarookum. Huwa wa qobiiluhuu. Dia dan minion-minionnya memperhatikan gerak-gerikmu. Dia bisa melihat kamu. Laa tarownahum. Kamu tidak bisa melihat mereka (QS 7:27). Dia terus menerus memperhatikan kamu. Dia meneliti kamu.

Dia mempelajari perilakumu. Dia mengamati bagaimana kamu merespon sesuatu. Dia mencari tahu apa yang membuat kamu terobsesi. Apa yang membuat kamu hepi. Mereka menggunakan hasil riset itu semua untuk melawan kamu. Untuk menyergap kamu.

Dia berjanji sama Allah. Sebuah janji yang aneh. Dia akan menunggu, menunggu, dan menunggu. Di mana? “Di jalan-Mu yang lurus,” kata dia.

Kadang-kadang orang bertanya, “Saya paham kalo orang yang ga beriman itu kacau. Saya paham kalo orang yang ga percaya sama Tuhan, dia minum, dugem malam-malam, berzina, itu masih masuk akal, kalo mereka semua itu kacau. Tapi aku ga paham kalo lihat orang yang tampak begitu salih, begitu relijius, pake baju koko, pake peci, ngomongnya juga lembut dan tertata, tahu Qur’an, hafal Qur’an, pake hijab, baru pulang dari tanah suci, tapi aku seperti ga percaya dengan apa yang mereka lakukan. Aku ga percaya saat denger mereka ngomong. Aku ga percaya sama perilaku mereka. Ini kan orang yang harusnya jadi orang baik. Tapi kenapa jadi kacau begitu?”

Setan itu terganggu dengan orang yang meniti di jalan-Nya. Setan menunggu untuk menyerang kamu. Kalo mereka gagal, mereka menunggu jauh di depan sana. Berharap kamu akan kena di halte berikutnya. Kalo mereka gagal lagi, mereka maju lagi. Menunggu lagi. Kamu tetap di jalan-Nya yang lurus, dia tetap akan duduk menunggu. Tetap siap menyergap.

Orang yang belum hijrah, orang yang masih berbuat dosa, saat melihat temannya yang dapat hidayah dan bersiap untuk hijrah, dia bilang, “Tuhan memang baik sama kamu. Allah buat kamu mudah.”

Ga gitu juga sebenernya. Itu karena setan mendatangi setiap orang. Tidak peduli apakah kamu shalat lima kali sehari. Tidak peduli apakah kamu shalat tahajud setiap malam. Tidak peduli apakah kamu ke tanah suci setiap tahun. Tidak peduli apakah kamu sering khatam Qur’an. Tidak peduli sudah berapa tahun kamu jadi imam shalat di masjid. Tidak peduli sudah banyak orang yang memuji kamu sebagai orang alim. Tidak peduli apakah kamu adalah ulama. Itu semua tidak akan membuat kamu immune alias kebal terhadap sergapannya.

Setan menunggu kamu. Siapapun kamu.

Dan setan juga paham peribahasa ini: lain ladang lain belalang. Artinya, setan menyerang pake cara-cara yang berbeda. Tergantung hasil riset dia terhadap profil kita.

Seperti dalam sport, ada riset dulu sebelum bertanding. Pasang strategi dulu. Pelatihnya bilang, strategi penyerangannya begini. Strategi bertahannya begini. Bisa seperti itu karena sang pelatih sudah mempelajari kekuatan dan kelemahan lawan dengan seksama.

Di dunia tenis profesional, kamu punya coach yang melakukan studi terhadap calon lawan tanding kamu. Mempelajari kelemahannya. Mempelajari kelebihannya. Sehingga coach kamu tahu kamu harus arahkan bola ke backhand dia. Atau harus sesekali kasih bola drop shot karena dia adalah baseline player. Coach juga melatihmu cara menangkis serve dia.

Selesai bertanding dan kamu menang, ada lawan yang lain. Mungkin kamu dapat lawan berikutnya yang kidal. Dengan tipe permainan berbeda. Coach kamu akan menerapkan strategi dan taktik yang berbeda. Karena di seberang net nanti individunya juga beda.

Setan pun begitu. Cara dia menyerang kamu beda dengan cara dia menyerang aku. Tidak akan sama. Setan sudah mempelajari segalanya tentang kamu. Setan sudah mempelajari segalanya tentang aku.

Kartu kamu, setan sudah tahu. Kelemahan kamu, setan sudah pegang daftarnya. Setan akan datang menyerang kamu dari situ.

Kartuku, setan juga tahu. Kelemahanku, setan sudah pegang daftarnya. Setan akan datang menyerangku dari situ.

Allah sudah kasih setan waktu. Sehingga dia bisa duduk mengintai dan menunggu. Lalu datang dan berbisik. Dan itu bisa dia lakukan meskipun kita sedang berada di jalan-Nya yang lurus.

Jadi kamu tahu kan apa yang sedang kita pelajari di sini? Bahwa yang paling sulit itu sebenarnya adalah: mengambil satu langkah maju mendekat ke Allah. Bukan satu juta kilometer. Hanya satu langkah saja.

Karena ketika kamu akan mengambil langkah itu, setan akan membisikimu, “Hei, tunggu friend. Kamu kan temenku. Kamu mau ke mana?” Melangkah menuju Allah berarti kamu berbalik jadi musuh setan.

Padahal kamu adalah alasannya, kenapa dia ditendang keluar dari surga. So, dia ingin buktiin bahwa kamu bisa jadi temannya di neraka. Kamu dan siapapun. Setan ingin menyeret sebanyak mungkin orang. Mempromosikan kesenangan semu. Kesenangan sesaat. Yang bisa berujung siksa selama-lamanya.

Sedikit pun kamu condong menuju Allah, setan akan mengerahkan segala daya dan upaya. Menyerangmu dari berbagai arah. Bikin barikade. Menghalang-halangi jalanmu.

Ustadz bahkan pernah ketemu orang-orang yang bilang, “Hidupku asli oke-oke aja. Segala sesuatunya beres. Tidak ada masalah apapun. Sampai aku mulai shalat. Begitu aku shalat, banyak masalah yang menimpaku. Tiba-tiba teman-temanku marah sama aku. Tiba-tiba sakit kepalaku kambuh lagi. Tiba-tiba bisnisku banyak masalah. Bisnisku yang di sana dan di sini. Saya takut untuk mulai shalat lagi karena segalanya akan menjadi kacau.

Ada seorang intelektual muslim yang ibunya Kristen. Dia mengajak ibundanya untuk memeluk Islam. Intelektual muslim itu sendiri sudah tua. Ibundanya lebih tua lagi. Dia tak berhenti ajak terus ibundanya. Tak pernah bosan diulanginya mengajak ibundanya. Lagi dan lagi. Menuju Islam. Tapi ibundanya tidak siap untuk meninggalkan agamanya.

Suatu hari ibundanya memutuskan untuk mempelajari Islam. Dan sejak saat itu ibundanya mulai mendapatkan mimpi buruk. Setiap malam. Benar-benar mimpi buruk. Setiap kali ibundanya memegang crucifix (salib dengan patung Kristus), mimpi buruknya lenyap.

Ya. Setan tahu. Setiap gelagat manusia yang akan mendekat ke ketauhidan, setan tahu. Dia akan mendatangimu. Dia akan pastikan kamu berbalik lagi. Menjauhi Allah. Kembali menjadi teman setan.

Dia akan tetap di sana. Menunggumu. Seperti blokade jalan. Meskipun kamu sedang melangkah di jalan-Nya yang lurus.

Tapi bagaimana cara setan meyakinkanmu untuk berbelok?

*****

Setan bilang sama Allah, “Tsumma la-aatiyannahum min bayni aydiihim wa min kholfihim wa ‘an aymaanihim wa ‘an syamaa-ilihim.” Setan bilang, “Aku akan menyerang mereka dari empat arah. Dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri.”

Itu bisa berarti, jika disederhanakan, setan akan menyerang kamu dari segala penjuru.

Tapi kata-kata Allah itu sangat presisi. Masing-masing serangan itu menggambarkan strategi setan. Ada strategi menyerang dari depan. Ada strategi menyerang yang berbeda dari arah kanan. Strategi menyerang dari kiri beda lagi. Jenis serangan yang beda lagi dari belakang juga ada. Empat-empatnya berbeda. Kita akan menggali lebih dalam masing-masingnya, satu persatu.

Empat jenis serangan yang berbeda itu punya satu goal. Apa goal setan? Atau, dengan kata lain, bagaimana caranya setan tahu bahwa serangannya itu berhasil?

Wa laa tajidu aktsarohum syaakiriin. “Kamu tidak akan dapati sebagian besar mereka bersyukur.”

Jika setan menyerang kamu, dan di akhir serangannya kamu tidak lagi bersyukur sama Allah, kamu jadi pesimis, maka itu berarti, setan sukses.

Apa yang sedang kita pelajari sekarang? Masalah terbesar setan adalah arogansi. Dan Allah sedang mengajari kita melalui ayat ini bahwa solusi terbesar untuk masalah arogansi adalah bersyukur.

Dan setan tahu itu. Selama manusia bersyukur, dia ga akan kena. Selama manusia berpikir tentang kebaikan-kebaikan Allah, dia ga akan kena. Selama manusia positif dan berharap sama Allah, dia ga akan kena. Selama manusia husnu zhan sama Allah, dia ga akan kena.

Jelas sekali kita ga akan bisa bersyukur kalo kita marah sama Allah. Kita juga ga akan bisa berterimakasih sama Allah kalo kita punya pikiran buruk terhadap Allah.

Jadi setan ingin mencuri atau merampok rasa syukur itu dari diri kita. Kalo kita ga bersyukur, berarti rasa syukur itu sudah hilang. Alias setan telah berhasil. Setan mengincar untuk merebut rasa syukur dari diri kita itu dari depan, belakang, kanan, dan kiri.

In sya Allah kita akan menjelajah lebih jauh. Apa itu artinya serangan dari depan? Apa itu artinya serangan dari belakang? Apa itu artinya serangan dari kanan? Apa itu artinya serangan dari kiri?

Nantinya, kamu harus bertanya pada dirimu sendiri. Buat kamu, mungkin titik terlemahmu adalah serangan dari depan. Buat teman kamu, mungkin titik terlemahnya adalah serangan dari kiri. Buat teman kamu yang lain, mungkin titik terlemahnya adalah serangan dari belakang.

Setan tidak akan mengandalkan satu serangan saja. Ga berhasil dari depan, dia coba dari kiri. Masih gagal juga, dia coba terus dari arah-arah yang lain.

Ini lah kenapa kita musti pelajari masing-masing serangan itu satu persatu. Karena serangan itu merusak perjalanan kita mendekat ke Sang Maha Pencipta di jalan-Nya yang lurus.

Semoga Allah membuat kita teguh dan berkomitmen di jalan yang lurus.

Pahami sekarang saat kamu baca fatihah. Saat kamu dan aku melafalkan shirootholladziina an’amta ‘alayhim. “Jalannya orang-orang yang Engkau bikin mudah ya Allah”.

Salah satu makna in’am adalah untuk bikin segalanya mudah. Nu’uma berarti kelembutan, kemudahan. Allah adalah satu-satunya yang bisa membuat segalanya jadi mudah.

Kamu pasti masih ingat dengan terjemahan “Jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat”. Ni’mah termasuk bagian dari maknanya. Nu’uma juga termasuk bagian dari maknanya. “Hanya Engkau lah, ya Allah, yang bisa membuat jalannya mudah buat mereka.” Karena tanpa-Mu, ya Allah, setan dan minion-minionnya akan membuat jalannya jadi susah. Jalan itu jadi ga mungkin dilalui tanpa-Mu.

Kita tidak hanya meminta jalannya orang-orang yang salih. Tapi juga jalannya orang-orang yang Allah intervensi, dan Allah bikin mudah.

“Tanpa Engkau bikin mudah dan muluskan jalannya, tidak mungkin kami lancar melewatinya.” Karena sampai hari penghakiman, setan mengintai di jalan itu. Setan dan minion-minionnya selalu siap sedia menunggu untuk menyerang. Untuk menyergap.

Bagaimana bisa jalan itu jadi mudah kalo kamu diserang dari empat penjuru? Hanya kalo Allah yang bikin jalan itu jadi mudah. Hanya jika kamu dan aku termasuk orang-orang yang dilukiskan di fatihah, alladziina an’amta ‘alayhim.

Berilah apresiasi yang baru terhadap apa yang kamu ucapkan sendiri saat sholat. Shirootholladziina an’amta ‘alayhim.

Semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga kita supaya tetap berada di jalan yang lurus itu. Dan menerima ibadah kita. Dan menyelamatkan kita dari serangan setan. Aamiin.

Barakallaahu lii wa lakum.

*****

Ditulis oleh Heru Wibowo

*****

Yakin Tak Mau Komen?