Serangan Empat Penjuru : Serangan dari Kiri

Kata yang digunakan di Qur’an untuk melukiskan serangan dari kiri adalah syamaa-il (QS 7:17). Berasal dari kata syamala. Artinya ada dua.

Arti pertama adalah inclusion. Penyertaan. Memasukkan sesuatu untuk masuk dan menjadi bagian dari sesuatu.

Arti kedua adalah sisi kiri. Bagian kiri. Dari arah kiri. Sebenarnya makna aslinya, untuk arti yang kedua ini adalah, tangan kiri. Banyak sekali kata dalam bahasa Arab yang berasal dari kata ini yang maknanya adalah menutupi. Contohnya adalah sarung bantal yang menutupi bantal. Atau seprei yang menutupi kasur. Atau pemburu binatang yang menutupi dirinya sehingga tidak terlihat oleh binatang yang sedang dia intai. Sehingga kata ini juga punya makna kamuflase. Atau penyamaran.

Di budaya manapun di seluruh dunia, tangan kanan adalah yang dominan. Membawa barang, menulis, mengangkat sesuatu, pake tangan kanan. Jika ada murid yang bertanya, dia mengangkat tangan kanannya. Ada makanan ringan kesukaan kita, kita ambil pake tangan kanan.

Tapi ketika tangan kanan kita tidak cukup lagi kapasitasnya, tangan kiri bantu membawa juga. Ini artinya kita menyertakan tangan kiri untuk ikut membawa. Atau, bisa juga kita artikan, kita menyertakan semua yang tidak terbawa oleh tangan kanan, untuk kita bawa sekalian, karena kita masih punya tangan kiri untuk membawanya serta.

***

Budaya di manapun juga mengasosiasikan tangan kanan dengan sesuatu yang baik. Sedangkan tangan kiri diasosiasikan dengan sesuatu yang tidak baik. Atau, tidak terlalu baik.

Bahkan bahasa Latin untuk kanan adalah dexter. Dari kata ini, muncul kata derivatif atau turunannya seperti kata dexterity dalam bahasa Inggris yang berarti ketangkasan. Atau keterampilan yang bagus. Keahlian dalam bidang tertentu.

Bahasa Latin untuk kiri adalah sinister. Dalam bahasa Inggris, sinister berarti jahat, seram, atau sesuatu yang buruk.

Jadi sepertinya semua bahasa itu kompak. Bukan hanya bahasa Arab. Bahasa Latin dan bahasa Inggris pun sama. Saat membahas kanan vs kiri. Sama-sama mengartikannya sebagai kebaikan vs kejahatan. Sesuatu yang dihargai vs sesuatu yang kurang baik.

***

Apa makna setan datang dari arah kiri? Pertama, ada hubungannya dengan setan datang dari arah kanan. Setan akan memperlambat atau menghilangkan motivasi kita dari melakukan kebaikan. Bikin kita malas. Bikin kita ga tertarik lagi untuk melakukan kebaikan.

Malas bangun shalat shubuh. Atau kamu sudah bangun tapi waktu shubuh masih lima menit lagi. Kamu rebahan sebentar. Kamu terlelap. Dan terjaga lagi saat waktunya tinggal dua menit. Kamu bilang, “Oke, oke, saya akan berhitung. Ntar langsung berangkat shalat di hitungan ke tiga puluh”. Apa yang terjadi? Baru nyampe hitungan ke sepuluh kamu sudah terlelap lagi.

Atau, malas berangkat ke masjid untuk shalat Isya karena kekenyangan habis makan malam.

Intinya adalah menunda-nunda perbuatan baik.

Atau kamu pernah punya rencana untuk baca Qur’an lebih banyak. Berulang kali kamu bilang pada diri sendiri, “Aku harus melakukannya.” Tapi rencanamu tinggal rencana.

Strategi setan di sini adalah bukan membuatmu melakukan kejahatan. Tapi melemahkan kemampuanmu untuk melakukan perbuatan baik. Mencabut motivasi berbuat baik dari dirimu. Mengalihkan perhatianmu dengan hal-hal yang lain.

***

Hati dan pikiran manusia bukanlah sebuah bejana yang kosong. Pasti ada isinya. Jika kamu tidak mengisinya dengan yang baik-baik, setan akan mengisinya dengan perbuatan yang buruk.

Itulah kenapa kita harus terus menyambung perbuatan baik yang satu dengan perbuatan baik yang berikutnya. Dan senantiasa mengisi hati serta pikiran kita dengan hal-hal yang baik.

***

Perbuatan baik itu bisa bermacam-macam. Membantu orang yang kesusahan. Menengok teman yang sakit. Kerja bakti bareng tetangga.

Ada juga perbuatan baik yang berhubungan langsung dengan ibadah kepada Allah seperti shalat, ngaji Qur’an, dan berdoa. Jenis aktivitas yang membuat kita langsung connect ke Allah.

Hati kita perlu mengingat Allah sebagaimana kita butuh air untuk kita minum. Sebagaimana kita butuh oksigen di setiap tarikan nafas kita. Setan ingin melemahkan kita dan menghalang-halangi kita dari mengingat Allah. Sedikit demi sedikit.

Kita mungkin lupa menyirami hati kita dengan ayat-ayat-Nya. Sama halnya dengan petani yang lupa menyirami tanamannya. Tanaman itu mengering. Menjadi layu. Seperti itu lah hatimu saat kamu menjalani hari-hari yang sulit. Yang membuatmu terhalang dari mengingat Allah. Hatimu mengeras. Hatimu menjadi lemah. Hatimu menjadi layu.

Alarm itu gagal fungsi. Tadinya kamu cukup sensitif untuk mengenalinya. Kata-kata yang kurang baik. Shalat yang mulai tidak tepat waktu. Tatapan mata yang berkhianat. Bacaan ayat suci yang tidak lagi menggetarkan jiwamu. Ketika hatimu layu, alarm itu melemah. Kamu kehilangan sensitivitas iman. Setan berhasil mencabutnya.

“Aku seharusnya tidak mengucapkan itu. Aku seharusnya tidak melakukannya. Aku seharusnya tidak diam saja. Aku seharusnya segera membantunya. Aku seharusnya tidak mager dan langsung berangkat shalat jamaah. Harusnya kiriman gambar seperti itu langsung aku delete saja.”

Alarm itu sudah tidak aktif lagi sekarang. Statusnya sudah diubah setan. Dari on menjadi off. Kamu tidak lagi tajam dan waspada. Alert system kamu sudah dimatikan setan semua.

Serangan setan berikutnya adalah membuatmu putus asa. Bikin kamu berpikir ga ada harapan lagi. Iblis atau ablasa itu berarti hopeless. Ga ada harapan.

Saat shalat, kamu ga ngerasa apa-apa lagi. Ga ada greng. Ga ada getaran. Karena hati itu sudah begitu keras. Kamu sudah lama ga connect sama Allah. Kamu selama ini shalatnya gerak cepat tanpa makna. Masih lima waktu. Tapi itu bukan shalat. Lebih mirip senam.

Kamu mikir sendiri. Mikirin kenyataan itu. Bahwa kamu shalat tapi merasa hampa. Jadi buat apa lagi shalat?

Masalahnya adalah, ketika tanaman itu menjadi layu, dan kamu ingin supaya sehat kembali, lalu kamu tuangi air, maka tanaman itu tidak serta merta langsung berubah segar dalam sekejap mata. Kamu harus menyiraminya lagi besok. Besoknya lagi. Dan terus seperti itu. Sedikit demi sedikit. Sampai kembali rejuvenate. Kembali pulih. Kembali segar. Tapi itu tidak bisa seketika.

Membangun kembali hubunganmu dengan Allah itu butuh kesabaran. Setan menginginkan ‘aajilah. Setan ingin kita terburu-buru. Ingin segera merasakan tetesan air mata shalat itu kembali. Dan karena masih belum mendapatkannya, setan ingin kita menyerah.

Kamu sedang berjuang. Mencoba untuk menjadi lebih baik. Lebih dekat sama Allah. Kamu sedang mencoba untuk re-connect hatimu dengan-Nya. Kamu harus menyadari bahwa itu adalah sebuah proses. Tidak kelar dalam semalam. Tidak terjadi dalam satu dua kali shalat. Tapi kamu inginnya buru-buru. Kamu merasa tidak ada kemajuan. Setan ingin kamu menyerah saja.

***

Serangan dari kiri jenis kedua berkaitan dengan hal-hal yang sudah lazim dikenal sebagai evil. Sesuatu yang sifatnya jahat. Sesuatu yang, siapapun tahu bahwa itu jahat. Setan ingin membuat kita makin condong pada kejahatan itu.

Ulama membedakan antara syubhat, sayyi-aat, dan syahwat. Ada jenis kejahatan yang sifatnya memberikan sesuatu kepada kita. Sifatnya ‘membawa manfaat’ buat kita. Mungkin itu adalah kesenangan. Mungkin itu adalah uang. Mungkin itu adalah pengakuan atau penghargaan. Kamu merasa lebih baik jika kamu melakukan hal-hal yang jahat itu.

Contohnya adalah makanan. Kita butuh makanan. Allah kasih kita makanan itu. Itu rizki anugerah Allah buat kita. Tapi setan ingin kita mencoba makanan yang haram. Dengan makanan yang halal pun, setan ingin kita consume berlebihan. Di luar batas. Kita dibuat merasa lebih baik dengan melakukan itu.

Hubungan lawan jenis seharusnya dibingkai dalam suatu pernikahan. Tapi setan ingin supaya kita mencoba yang di luar itu. Kita dibikin merasa senang dengan hubungan di luar nikah itu.

Kita menjadi dibutakan. Tidak bisa membedakan dua keindahan. Keindahan sejati yang datangnya dari Allah. Dengan keindahan semu yang dijadikan nampak indah oleh setan. Setan mencabut filter itu dari penglihatan kita.

Keindahan semu itu membuat dirimu merasa lebih baik.

Tapi ada jenis dosa yang lain. Dosa itu begitu mengerikan. Begitu buruk. Meski sama sekali tidak bikin kamu senang. Kamu juga tidak mendapatkan manfaat dari situ. Seperti saat kamu memfitnah atau menggunjing seseorang. Kamu dapat apa? Kamu ga dapat apa-apa dari perbuatan itu. Tapi kamu toh melakukannya juga.

Atau saat kamu menyakiti seseorang dengan kata-katamu. Disengaja atau tidak disengaja. Kamu tidak dapat manfaat apa-apa. Saat kamu menghina dan merendahkan seseorang. Kamu ga dapat apa-apa.

Atau saat kamu marah. Atau kamu membenci seseorang. Atau apapun yang seperti itu. Saat kamu terlibat kesalahan apapun dengan sesama manusia, mungkin kamu tidak dapat manfaat apa-apa dari situ. Tapi setan menggiring kamu untuk tetap melakukannya. Meskipun kamu ga dapat manfaat apa-apa di dunia ini. Apalagi manfaat di akhirat.

Setan akan terus menarik kita ke arah itu. Membuat kita menjauh dari-Nya. Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan seperti itu.

***

Kata kanan dan kiri juga digunakan dalam konteks kedekatan. Kalo kita ingin dekat dengan seseorang, maka dia ada di sebelah kanan kita. Bos kamu punya satu staf yang jadi orang kepercayaannya. Maka kamu bilang, dia adalah tangan kanan dari bos kamu.

Kalo kamu ga suka sama seseorang, maka kamu tempatkan dia di sebelah kiri kamu. Termasuk juga orang-orang yang nomor hapenya ingin kamu blokir dari contact list kamu. Itu adalah orang-orang di sebelah kiri.

Serangan dari sebelah kiri juga berarti bahwa kamu diposisikan di sebelah kiri Allah. Artinya, kamu ingin diposisikan menjauh dari-Nya. Setan ingin supaya kamu jauh dari Allah. Setan ingin supaya kamu tetap jauh dari Allah. Setan ingin supaya kamu makin jauh dari Allah.

Serangan dari arah kiri berarti, apapun yang bisa membuat kamu mendekat sama Allah, setan akan menghalanginya. Dan apapun yang bisa membuat kamu menjauh dari Allah, setan akan mendorongmu. Setan ingin kamu menjauh dari Allah sejauh-jauhnya.

Jika pun kamu berpikir untuk kembali, kamu sudah milyaran mil jauhnya. Rasanya kamu berpikir, tidak ada lagi jalan untuk kembali. Udah kejauhan tersesatnya.

***

Orang yang kita taruh di sebelah kanan kita, dia adalah orang yang kita hormati. Tapi di saat penghargaan dan penghormatan kita sudah tidak ada lagi, kita akan bilang, “Kamu sekarang sudah di sisi kiri saya.” Artinya, dia sudah tidak kita hormati lagi.

Setan ingin meyakinkan korbannya bahwa dia sudah tidak punya sesuatu untuk dihormati atau dihargai. Allah tidak menghormatinya. Allah mengabaikannya. Tidak ada seorang pun yang menghargainya. Dia tidak usah mengharapkan penghormatan dari siapapun juga. Sehingga dia berpikir, “Apapun yang aku buat, aku tetaplah kotoran. Berbuat baik pun percuma. Orang akan mikir ada yang kotor di balik itu. Jadi biarlah aku terus saja menjalani hidup ini dengan berbuat kotor. Toh ga ada orang yang peduli sama aku. Hidupku sudah ga ada nilainya lagi.”

Setan ingin kita mendevaluasi diri kita sendiri. Dan menjaga kita supaya tetap seperti itu.

***

Kamu bekerja dan mendapatkan penghasilan. Ada cara yang halal yang bisa kamu tempuh untuk itu. Semua orang juga tahu bahwa ada cara yang haram untuk mencari uang.

Setan tetap akan menyerang kamu meski kamu menempuh cara yang halal. Caranya? Seperti makna kata syamala yang pernah kita bahas di bagian awal. Penyertaan. Memasukkan yang belum masuk ke penghasilanmu.

Kamu jadi ingin lebih. Kamu jadi ingin dapat semuanya. Kamu menganggap penghasilanmu dari tangan kananmu tidak cukup. Kamu ingin tangan kirimu turut serta. Supaya mendapatkan lebih banyak.

Artinya, setan membuat apa yang seharusnya cukup buat kamu menjadi tidak cukup lagi. Setan menunjukimu jalan keserakahan. Kamu melangkah di jalan orang-orang yang tamak dan rakus.

Asysyaithaanu ya’idukumul faqra wa ya’murukum bil fahsyaa’ (QS 2:268). Setan bikin kamu takut miskin dan mendorong kamu berbuat keji dan kikir. Jadi serangan dari kiri ini juga berarti bahwa setan mengarahkan kamu ke jalan keserakahan.

Ini mengingatkan kita kembali ke kisah Nabi Adam di surga. Yang digiring setan untuk mendekati satu pohon. Padahal ada trilyunan pohon yang bisa dinikmati di sana.

Begitu juga dengan apa yang Allah halalkan buat kita di dunia. Pohon-pohon kenikmatan yang bisa kita rasakan tidak sedikit jumlahnya. Tapi kita masih bisa digiring setan untuk berjalan ke arah pohon yang berbahaya. Misalnya ke sebuah pohon yang bernama riba.

***

Ketika kita terjerumus dalam perbuatan dosa dan kesalahan, setan mencelupkan kita ke situ, setan ingin supaya kita tetap berada di situ. Setan ingin kita berpikir bahwa seperti itulah satu-satunya cara kita untuk menjalani kehidupan. Tidak ada cara lain.

Kamu harus pintar untuk mencari sendiri, melakukan audit diri, tentang serangan setan yang mana, yang telah membuat kamu dicelupkan setan di dalamnya. Tentang dosa dan kesalahan yang kamu take bisa  lepas darinya. Mungkin kamu sudah tahu itu. Atau mungkin kamu perlu minta tolong sama Allah untuk menunjukkannya.

Tapi setan ingin kamu berpikir bahwa kamu juga melakukan banyak kebaikan yang lain. Jadi tercelup sedikit di situ itu ga papa. Kamu berpikir begitu. Bukan begitu, sebenarnya. Setan lah yang membuat kamu berpikir begitu.

Setan adalah pakar justifikasi. Pakar pembenaran. Kamu tercelup dalam perbuatan dosa atau kesalahan. Tapi kamu tidak pernah merasa bersalah. Karena kamu berteman dengan pengacara yang sekaligus adalah pakar pembenaran. Yang terus membela kamu.

***

Ada pertanyaan yang pantas untuk diajukan setelah mempelajari serangan empat penjuru setan. Setan menyerang hanya dari arah depan, belakang, kanan, dan kiri. Bukan dari atas. Bukan dari bawah. Kenapa?

Apa yang dilakukan setan adalah menyerukan kebohongan. Falsehood. Lawannya adalah truth. Kebenaran.

Ada dua kebenaran yang tidak akan pernah berubah. Pertama, kebenaran dari Allah berupa wahyu. Datangnya dari atas. Kedua, kematian. Saat itu kita nantinya di tanam di dalam bumi. Di bawah.

Dua hal itu adalah sebuah kepastian. Dan jika fokus kamu hanyalah ke atas dan ke bawah, maka kamu akan oke-oke saja. Setan silakan menyerang dari arah mana saja. Kamu akan terlindungi dari atas dan bawah. Setan tidak bisa menyerang dari dua arah itu.

***

Cara lain untuk melihatnya adalah bahwa hamba Allah menengadah ke atas saat berdoa dan tersungkur ke bawah dalam sajdah. Saat memanjatkan doa dan saat bersujud, kita mengakui kekuasaan absolut Allah dan mengakui keterbatasan kita yang lemah.

Saat berdoa, kita mengakui bahwa kita bergantung kepada Allah. Dalam sajdah, kita menyatakan bahwa kita tidak ingin menjadi seperti setan yang menolak untuk sajdah.

Tetap berdoa dan tetap bersujud adalah dua hal yang akan membuat kita aman dari serangan empat penjuru setan.

***

Syaqiq rahimahullah pernah melakukan studi terhadap ayat empat penjuru setan ini (QS 7:17). Komentarnya menarik untuk disimak.

Setiap pagi setan menyerangku dari keempat penjuru. Dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari sebelah kiriku.

Dia datang dari depan dan bilang, “Jangan takut. Apapun yang ingin kamu lakukan, kamu lakukan saja. Nikmati saja apa yang ada di depanmu. Ga usah terlalu mikirin masa depan. Fa innallaaha ghafuururrahiim. Allah Maha Pengampun.”

Dan aku merespon dengan membaca sebuah ayat dari Surah Thaha. Wa innii laghaffaarun liman taaba wa aamana wa ‘amila shaalihan tsummahtadaa (QS 20:82). Sungguh Allah Maha Pengampun. Mengampuni mereka yang bertobat, beriman, dan berbuat kebajikan, kemudian tetap berada di dalam petunjuk-Nya.

Artinya, tidak bisa kita melakukan apapun yang kita mau, lantas Allah mengampuni. Memang benar, Allah mengampuni, tapi yang diampuni adalah mereka yang dilukiskan di ayat tadi. Bukan yang berbuat semaunya dan mau dibohongi setan begitu saja.

Setan menggunakan ayat Qur’an, bahwa Allah Maha Pengampun, tapi ayat itu digunakan untuk maksud yang jahat.

Dan dia datang dari belakang. Setan menakut-nakutiku bahwa anak-anakku akan jatuh miskin saat aku mati. Aku tidak punya banyak uang untuk anak-anakku. Apa yang akan aku lakukan? Bagaimana hidup mereka nanti? Mereka akan sekolah di mana?

Aku merespon. Wa maa min daabbatin fil ardhi illaa ‘alallaahi rizquhaa (QS 11:6). Dan tidak ada satu makhluk pun di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Semut, burung, cicak, ikan, Allah memperhatikan mereka semua. Mana mungkin Allah tidak memperhatikan anak-anakku?

Dan dia datang dari kanan. Mencoba menyanjungku. Dia bilang aku hebat. Dia bilang aku melakukan pekerjaan dengan baik. Dia bilang karya-karyaku keren. Dia bilang shalatku sempurna. Dia bilang bacaan Qur’anku merdu. Dia bilang betapa orang-orang itu berhutang budi atas jasa-jasaku.

Aku merespon. Wal ‘aaqibatu lil muttaqiin (QS 7:128). Kesudahan yang baik hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa. Yang mampu melindungi dirinya. Artinya, melindungi dirinya dari opini-opini tentang kemuliaan dirinya. Artinya, dia tidak terbuai dengan semua sanjungan itu. Artinya, dia takut kalo amal-amalnya itu tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah melindungi kita dari perasaan kemuliaan diri seperti itu.

Dan dia datang dari arah kiri. Mengajakku berjalan ke arah godaan.

Aku merespon. Wa hiila baynahum wa bayna maa yasytahuun (QS 34:54). Dan diberi penghalang antara mereka dengan apa yang mereka inginkan. Semoga kita semua terhalang dari godaan setan dengan penghalang itu.

***

Satu-satunya yang bisa melindungi kita dari setan adalah Allah. Dan hubungan kita dengan Allah adalah seutas tali. Tali itu bernama Al-Qur’an.

Allah bilang, wa lan tajida min duunihii multahadaa (QS 18:27). Dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya. Tidak ada perlindungan yang lain selain Qur’an.

Dalam peperanganmu melawan setan, entah dari depan, belakang, kanan, maupun kiri, dia akan mengalahkanmu kalo kamu tidak memegang tali itu. Tali yang berasal dari atas.

Pesan-pesan Allah itu tidak untuk dijadikan museum. Hanya tersimpan di rak buku. Dibiarkan penuh debu.

Ayat-ayat Allah itu bukan untuk sekedar dibaca. Dengan lantunan indah dan berirama. Tidak bisa berhenti sampai di situ.

Wahyu itu datang untuk melindungi kita. Allah memberi kita hadiah itu, berupa ayat-ayat-Nya, sejak zaman ayahanda kita dulu. Sejak zaman Nabiyullah Adam ‘alayhis salam.

***

Turunnya Adam ‘alayhis salam menjadi bukti keberhasilan setan melancarkan serangannya. Adam telah dibohongi oleh setan.

Bagaimana caranya supaya Adam tidak dibohongi lagi?

Saat Adam turun ke bumi, Allah berpesan, fa immaa ya’tiyannakum minnii hudan. Fa man tabi’a hudaaya fa laa khawfun ‘alayhim wa laa hum yahzanuun (QS 2:38).

Kapan saja petunjuk Allah datang kepadamu, siapa saja yang mengikuti petunjuk itu, tidak ada yang perlu ditakutkan. Tidak ada yang perlu dicemaskan.

Itu adalah janji Allah kepada Adam dan anak cucunya. Supaya Adam tidak dibohongi lagi oleh iblis. Supaya anak cucu Adam tidak termakan rayuan setan.

Dan petunjuk itu telah datang.

Qur’an telah diturunkan.

Qur’an itu kitab suci. Tapi tidak boleh kita beranggapan bahwa karena suci maka lantas kita tidak boleh menyentuhnya. Sehingga akhirnya tidak pernah kita baca. Apalagi kita hayati dan kita amalkan.

Qur’an datang untuk menolong kita melawan musuh terakhir kita. Tidak ada sumber perlindungan yang lain seperti ayat-ayat Allah ta’ala.

Semoga Allah ‘azza wa jalla membuat kita semua aman dan terlindungi dengan ayat-ayat-Nya.

Semoga Allah membuat para orang tua di sini teladan bagi putra putrinya.

Semoga Allah membuat setiap orang tua Dan anak-anaknya paham tentang pentingnya menjalin ikatan dengan ayat-ayat-Nya.

Semoga Allah membuka hati kita untuk mempelajari serta menginternalisasikan makna dan pesan-pesan Al-Qur’an jauh di dalam lubuk hati kita serta menerapkannya dalam kehidupan kita.

Semoga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan melindungi kita dari godaan setan dan serangan-serangannya.

Barakallaahu lii fil qur’aanil hakiim.

Wa nafa’anii wa iyyaakum bil aayaatii wa dzikril hakiim.

***

Ditulis oleh Heru Wibowo

***

Tinggalkan komentar