Serangan Empat Penjuru : Serangan dari Depan

Serangan Empat Penjuru

Bagian 2
Serangan dari Depan

*****

Membaca, berkontemplasi, menuliskan hasil perenunganmu sendiri. Begitulah seharusnya kau jalin hubunganmu dengan Qur’an.

Ketika berkisah tentang Nabi Yusuf, Qur’an menyebut “aayaatun lis-saa-iliin” (QS 12:7). Those who ask. Mereka yang bertanya. Qur’an mendorong kita untuk bertanya.

“Apa ya, yang bisa aku jadikan pedoman dari ayat ini?”

“Apa ya, yang bisa kujadikan pedoman hidupku dari kata-kata suci itu?”

“Apa ya, yang bisa memperbaiki kualitas hidupku setelah membaca kisah di halaman itu?”

Qur’an itu punya purpose. Menjadi guide buat hidup kita. Supaya kita tidak tersesat.

Saat kamu belajar di kelas, apakah kamu termasuk murid pendiam? Atau, kamu banyak bertanya?

Mengambil opsi diam bisa membuatmu mendapatkan manfaat yang minimal. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan menunjukkan minat dan perhatianmu. Bukti bahwa kamu engaged. Sehingga kamu punya kans besar untuk menggapai manfaat maksimal. Dan mengembangkan pemahaman secara jauh lebih baik.

*****

Setan sudah membeberkan strateginya. Dia akan menyerang kita dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri. Saat ini kita akan mempelajari secara khusus, serangan dari depan. Min bayni aydiihim (QS 7:17).

Dari depan, maksudnya tepat di depan kita. Ibarat di depan kita ada bundaran simpang empat, kita tidak bisa jalan terus begitu saja. Kita harus menghindarkan diri kita supaya tidak menabrak bundaran itu. Kalo kita pake Waze, aplikasi itu akan bilang ‘take the second exit’. Alias kita bergerak memutar. First exit adalah kalo kita memutar sedikit lalu belok kiri. Karena kita sebenarnya ingin berjalan lurus, tapi harus memutar menghindari bundaran, maka kita ambil second exit.

Serangan dari depan adalah serangan tepat di depan muka kita. Bagaimana cara kerjanya?

*****

Setan itu invisible. Kita tidak bisa melihatnya. Kita tidak bisa mendengar suaranya. Kita tidak tahu dia itu seperti apa. Apakah mirip Voldemort? Apakah mirip Dementor? Apakah mirip Death Eater? Kita tidak tahu.

Jadi, serangan dari depan itu, apa maksudnya?

Maksudnya adalah segala sesuatu yang kita lihat setiap hari. Bukalah matamu dan lihat apa yang ada di depanmu. Keluargamu. Temanmu. Dunia yang kau lihat. Semua yang terlihat di depanmu, yang menarik perhatianmu. Dan semua yang terlihat di depanmu, yang tidak menarik perhatianmu.

Manusia itu cenderung impulsif (QS 75:5). Manusia cenderung terdorong untuk merespon apa yang ada persis di depan mereka.

Mereka yang pernah belajar consumer behavior alias perilaku konsumen, tahu persis hal ini. Ketika diketahui bahwa mayoritas konsumen membeli telur dan susu, maka dua item ini ditaruh di bagian belakang toko. Supaya konsumen melewati sejumlah aisles atau lorong sebelum ketemu telur dan susu. Harapannya, di lorong depan atau tengah, konsumen tertarik untuk membeli item yang lain yang terlihat di depan mereka. Entah itu roti tawar, mentega, selai, keju, agar-agar, kacang mede, yoghurt, teh kotak, atau yang lainnya. Itu adalah cara untuk merangsang hasrat beli yang impulsif. Itu secara default sudah ada dalam diri manusia.

Setan ingin memanfaatkan impulsivitas manusia. Mungkin setan juga nebeng di balik konsep menikmati hidup hari ini, saat ini. Tanpa terlalu berpikir panjang soal konsekuensi. Membuat kita lebih memilih ‘gimana ntar’. Bukannya ‘ntar gimana’.

Di era digital saat ini, pola itu makin mudah dipahami. Apa pun yang ingin kamu lihat, apa pun yang ingin kamu dengar, apa pun yang ingin kamu pesan, semuanya ada di ujung jarimu. Bisa diakses dalam sekejap saja.

Kalo kita tanya orang yang baru saja berbuat dosa, kenapa dia melakukannya, dia tidak bilang, “Aku memang sengaja ingin jadi seorang pendosa.” Dia akan bilang, “Entah kenapa saat berbuat itu aku tidak memikirkannya.”

Ini adalah jenis pertama dari serangan dari depan. Kamu terjang apa yang persis di depanmu. Kamu tidak memikirkan konsekuensinya.

*****

Kedua, serangan dari depan juga berarti hal-hal yang bersifat materi. Setan ingin kita terobsesi dengan apa saja yang terlihat. Kamu terus berpikir tentang mobil yang ingin kamu miliki. Berputar-putar di benakmu hari demi hari. Kamu terus berpikir tentang penampilanmu. Membuatmu betah berdiri berlama-lama di depan cermin. Lebih cocoknya pake yang ini atau pake yang itu ya?

Terobsesi dengan produk. Terobsesi dengan merk. Terobsesi dengan hasrat ingin pamer. Terobsesi dengan citra diri supaya tidak dianggap memalukan.

*****

Setan berbisik ke dalam dada manusia (QS 114:5). Dalam bahasa Arab, kata “dada” juga digunakan untuk menggambarkan emosi. Amarah, rasa takut, rasa sayang, tamak, dan semua jenis emosi dan perasaan yang kita rasakan setiap hari. Tertarik kepada sesuatu yang indah, juga ada di dada. Berpaling dari sesuatu yang jelek, juga termasuk di dalamnya. Begitu juga kemalasan dan antusiasme.

Artinya, setan bisa mengambil semua emosi yang sudah Allah anugerahkan kepada kita. Setan memanfaatkannya. Memanipulasinya. Setan bisa mengaduk-aduk amarah supaya bikin kita kacau. Setan memanfaatkan apa-apa yang bisa bikin kita happy supaya kita kacau. Pernahkah kamu berada dalam situasi di mana kamu begitu happy sehingga nyaris lupa sholat? Setan memanfaatkan benih kemalasan yang ada dalam dirimu sehingga kamu kena banyak masalah akibat tidak disiplin. Setan memanfaatkan kesedihanmu sehingga kamu terlalu lama berkubang dan tergenang di dalamnya.

Kenapa Allah kasih kamu emosi, perasaan-perasaan itu? Karena kamu memang membutuhkan itu. Karena itu sebetulnya bagus asalkan kamu pintar menggunakannya. Kamu diberi lupa supaya kamu tidak larut dalam kesedihan. Tapi setan pintar memanfaatkannya sehingga kamu lupa sholat.

Setan itu ahli dalam bidang manipulasi perasaan. Kecanggihan manipulasinya bisa kamu saksikan sendiri di sekitarmu. Ada suami yang ‘diserang dari depan’ sehingga perasaan greng-nya tidak lagi kepada istrinya. Malah greng-nya sama istri tetangga. Di level serangan yang lain, greng-nya malah sama suami tetangga.

Siapa sih yang tidak tertarik sama sesuatu yang indah? Rumah yang bagus. Bahkan Allah pun menawarkan surga, berikut mansion dan kebun-kebun plus sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Ketertarikan kita akan keindahan alam di dunia ini justru membawa kita untuk berlipat-lipat tertariknya mengejar apa yang Allah janjikan di surga untuk hamba-Nya yang salih. Ketertarikan akan keindahan-keindahan itu bersifat alami.

Tapi apa yang setan inginkan lakukan? Dia ingin membuat ketertarikan itu menjadi out-of-balance. Menjadi tidak proporsional. Dijadikan indah dalam pandangan kita, sesuatu yang sebenarnya tidak indah, bahkan tidak ada gunanya, tanpa kita merisaukan konsekuensinya.

Analoginya, ada seseorang yang datang kepadamu, menawarkan sebuah mansion. Bagus banget. Full furnished. Fasilitas komplit. Indahnya bukan main. Di depan pantai. Pemandangannya serba indah ke segala arah. Dihiasi suara alam gelombang ombak yang menghempas sekumpulan batu karang. Bahan-bahan bangunannya semuanya persis sesuai keinginanmu. Interiornya lebih dari ekspektasi kamu. Pernak-pernik apapun yang pernah kamu inginkan ada semuanya di situ. Dia bilang harganya 50 miliar, tapi kamu cukup bayar 3 juta saja. Kamu ga percaya. Kamu tanya ke dia, apakah ini serius. Dia bilang iya, serius, tapi dia menambahkan satu syarat. Kamu baru boleh memilikinya setelah 50 tahun. Jadi kamu disuruh bayar 3 juta sekarang, tapi kamu baru boleh memilikinya 50 tahun lagi. Kamu ga mau. Ga jadi deal.

Begitu juga dengan tawaran dari Allah. Tidak ada yang berat-berat amat. Kita tidak harus bayar mahal. Dan kamu harus menunggu. Kamu tidak bisa menikmati surga sekarang juga.

*****

Bisnis kamu sedang bagus. Produkmu laku keras. Tinggal satu stok di gudang. Ada yang datang mau beli, tapi dia baru bisa bayar bulan depan. Di saat yang sama, ada yang berminat juga, bayarnya cash keras dan dia minta diskon 10 persen. Kamu pilih yang terakhir. Deal. Kasih diskon 10 persen, dapat duitnya sekarang juga.

Manusia cenderung pilih yang instan. Yang bisa dinikmati segera. Setan memanfaatkan itu. Dia membuatmu berapi-api untuk segera dapatkan segalanya sekarang juga. Kamu tidak bisa melihat apapun yang lain kecuali apa yang jadi hasratmu. Itu membutakanmu sehingga kamu tidak peduli lagi dengan orang lain yang mungkin menderita akibat keputusanmu. Atau potensi kerusakan yang bisa terjadi pada dirimu. Itulah kehebatan serangan dari depan.

*****

Ketiga, serangan dari depan berhubungan dengan masa depan. Atau sesuatu yang ada jauh di depanmu.

Kamu sedang nyetir di jalan raya yang lurus. Benar-benar lurus. Di depanmu ada truk tronton besar. Begitu besarnya sehingga pandanganmu terhalang. Kamu tidak tahu seberapa macet di depan sana.

Itu mirip yang setan ingin lakukan. Menghalangi pandanganmu.

Jauh di sana di depan kita adalah pertemuan kita dengan Allah. Itu tak terhindarkan. Pasti terjadi. Manusia itu, kaadihun ilaa robbika kad-han famulaaqiih. Manusia itu telah bekerja keras menuju Tuhannya. Manusia pasti akan menemui-Nya” (QS 84:6).

Jika pun kakimu tidak melangkah. Jika pun kamu cuma diam berdiri saja. Kamu tetap akan sampai juga ke sana. Kamu tetap sampai di depan-Nya, Sang Maha Pencipta.

Kenapa bisa begitu? Karena kamu berdiri di atas running belt conveyor, ban berjalan yang bergerak menuju ke arah-Nya. Tidak peduli kamu suka atau tidak suka. Tidak peduli kamu terima atau tidak terima.

Setiap detiknya kita bergerak menuju ke arah-Nya bersama hembusan nafas kita. Pertemuan itu tidak bisa dihindarkan.

Tapi setan tidak ingin kamu untuk melihatnya. Setan ingin kamu terlupakan dari pertemuan itu. Hari ini, jarak kita lebih dekat dengan pertemuan itu dibandingkan kemarin. Tapi setan tidak ingin kamu menyadari itu. Padahal besok hari, kita makin dekat lagi.

Masa depan yang setan ingin kamu pikirkan bukanlah pertemuanmu dengan Allah. Tapi jenis masa depan yang lain. Pertemuanmu dengan teman-temanmu. Liburanmu ke tempat-tempat wisata. Acara-acara hiburan di akhir pekan. Lanjutan episode sinetron nanti malam. Film di bioskop yang baru tayang.

Setan ingin kamu fokus ke masa depanmu di dunia, bukan masa depanmu di akhirat.

Bahkan kamu bisa dibikin bangga dengan dirimu sendiri karena kamu punya rencana jangka panjang. Rencana kepemilikan rumah. Rencana pindah ke rumah yang lebih besar. Rencana mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Padahal Allah ingin supaya kita punya rencana dengan jangka yang lebih panjang lagi. Rencana untuk mempersembahkan apa yang sudah kita tanam di dunia, saat kita kelak berdiri di hadapan-Nya.

Jika kamu benar-benar serius dengan hari yang pasti akan datang itu, maka kamu akan benar-benar punya rencana. Layaknya seorang mahasiswa yang ingin lulus kuliah dengan cum laude. Kamu akan punya rencana mata kuliah apa saja yang akan kamu ambil di semester pertama. Dan juga di semester-semester berikutnya. Jika tujuanmu jelas, kamu pasti punya rencana. Kamu punya target. Dan jika ada yang meleset, yang tidak berjalan sesuai rencana, mungkin kamu perlu bekerja ekstra untuk mengejar ketertinggalan itu.

Tapi jika kamu tidak punya visi, jika kamu kuliah tapi tidak peduli lulus atau tidak, jika kamu sudah sepuluh tahun tapi masih memilih-milih mata kuliah, keadaan tanpa arah seperti itulah yang setan inginkan terjadi di kehidupan kita.

Kesadaran akan pertemuan kita dengan-Nya akan mewarnai setiap tindakan dan keputusan kita. Keputusan apapun. Keputusan untuk menikah. Keputusan untuk memilih karir. Keputusan untuk pindah rumah. Keputusan untuk pindah kerja. Keputusan untuk berolahraga. Keputusan untuk memilih sekolah buat anak. Dan lain-lain. Semuanya akan mempertimbangkan apa pengaruhnya terhadap pertemuan kita dengan-Nya. Punya added value atau tidak, untuk dimasukkan laporan akhir amalan kehidupan kita.

Kesadaran akan pertemuan kita dengan-Nya akan senantiasa mengiringi setiap kali kita akan mengambil langkah yang baru. Setan ingin kesadaran itu hilang. Sehingga kamu melakukan apa saja yang kamu mau. Mengambil apa saja yang lewat di depanmu. Visi tentang pertemuan itu menghilang karena setan menyerangmu dari depan, membuat pandanganmu terhadap visi itu menjadi terhalang.

*****

Keempat. Yang juga ada di depan kita adalah ketakutan dan kecemasan. Setan ingin supaya kita mencemaskan masa depan. Hidup dalam kecemasan. Punya anak laki-laki, cemas. Karena anak laki-laki nantinya harus bisa menafkahi keluarganya. Tapi hal itu terlalu dipikirin.

Atau cemas karena mendengar entah dari berita di media atau dari grup WA, ada anak laki-laki yang melakukan kejahatan dan aksi pemberontakan. Kita tiba-tiba ikutan cemas memikirkan apakah anak laki-laki kita juga akan jadi pemberontak seperti itu.

Setan ingin manusia selalu diliputi kecemasan. Cemas apakah istrinya akan marah-marah lagi. Cemas apakah suaminya akan menikah lagi. Cemas apakah anak perempuannya bisa menjaga diri. Cemas ini, cemas itu. Cemas berkepanjangan.

Seakan-akan dia ini bisa mengendalikan seisi keluarganya. Padahal dia tidak selalu bisa mengendalikan keluarganya, sepenuhnya.

Ada seorang ibu yang terlalu mencemaskan anak gadisnya, kapan dia akan menikah. Atau kapan dia akan punya anak. Sampai-sampai sang ibu menelpon anaknya dan bilang, “Allah ingin supaya kamu punya anak.” Yang benar aja! Ibu itu lah yang menginginkannya, bukan Allah. Lucu sekali ibu itu sampai bilang begitu. Kapan dia dapat email dari Allah sehingga dia bisa ngomong seperti itu … 🙂

Kenapa setan ingin kita diliputi kecemasan? Karena setan tidak ingin kamu happy dengan segala yang sudah Allah berikan. Karena setan tidak ingin kamu sadar bahwa satu-satunya yang pegang kendali atas keluargamu, bahkan juga dirimu, adalah Allah ‘azza wa jalla.

Kita tidak bisa seratus persen mengendalikan anak-anak kita. Ketika mereka sudah mencapai umur tertentu, apa yang mereka lakukan menjadi urusan mereka sendiri dengan Allah. Kita hanya bisa menasihati. Tapi keputusannya, mereka sendiri yang akan mengambilnya.

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam sendiri bilang sama Fatimah untuk menyadari bahwa perbuatannya akan menjadi tanggungjawabnya sendiri. Rasulullah tidak bisa membela putri beliau sendiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah tidak bisa membantu putrinya. Rasulullah bilang begitu sama putrinya. Rasulullah sendiri, shallallahu ‘alayhi wasallam, tidak punya kendali penuh atas keluarga beliau. Jadi bagaimana bisa kita bilang bahwa kita punya kendali penuh atas orang lain? Jadi bagaimana bisa kita bilang bahwa kita punya kendali penuh atas keluarga kita?

Makin kita memaksakan diri bahwa kita pasti bisa punya kendali penuh atas orang lain, makin kita sengsara dan jauh dari rasa syukur. Karena kenyataannya kamu tidak bisa punya kendali penuh atas orang lain, kamu pun makin cemas, dan terus-menerus menjadi negatif. Akibatnya, kamu tidak bisa bersyukur.

Lihatlah bagaimana akhir dari ayat ini. Wa laa tajidu aktsarohum syaakiriin (QS 7:17). “Dan tidak akan Engkau dapati sebagian besar mereka bersyukur.” Menjadi negatif terus-menerus. Menjadi pencemas setiap waktu.

“Bagaimana pekerjaanku nanti?”

“Bagaimana keuanganku nanti?”

“Bagaimana kesehatanku nanti?”

“Bagaimana anak-anakku nanti?”

“Bagaimana kalau begini?”

“Bagaimana kalau begitu?”

Kamu begitu kewalahan dengan hal-hal yang belum jelas dan belum tentu terjadi. Kamu lupa bahwa Allah lah Maha Pemegang Kendali atas segala yang terjadi. Allah lah yang memilikinya. Bukan kamu. Bukan aku.

Meskipun di suatu hari yang indah, kenyataannya kamu serasa memiliki satu hari itu karena segalanya tampak beres, segalanya berjalan sesuai rencana, segalanya mulus dan seratus persen terkendali, itu sesungguhnya bukanlah keberhasilan kamu. Itu karena Allah bantu kamu. Bahkan Allah itu bantu kamu setiap hari. Seringnya tanpa kamu sadari.

Fakta bahwa tubuh kita masih berfungsi dan kita masih bisa menarik-hembuskan nafas, melihat, mendengar, belajar, mentadabburi Qur’an, itu karena Allah bantu kita. Allah yang kasih kemampuan itu.

Jika kita melupakannya, dan berpikir bahwa kita lah yang telah berhasil mengendalikan semuanya, sejatinya itu adalah keberhasilan setan mengendalikan cara berpikirmu.

*****

Salah satu trik terbesar setan adalah membuat kamu pesimistis akan masa depan.

“Tidak akan ada yang berjalan lancar.”

“Hal-hal buruk akan terjadi.”

“Ini semua akan berakhir dengan kegagalan.”

Tidak saja kamu menjadi negatif, dirimu sendiri, tapi sikap negatif kamu itu menular dan menjalar. Infectious.

Orang-orang di sekitar kamu ikut-ikutan jadi negatif.

Ada yang sedang berada di puncak kegembiraan karena diwisuda jadi sarjana. Kamu jumping in di kerumunan wisudawan-wisudawati dan bilang “Tunggu saja saatnya sampai kalian merasakan berbulan-bulan bengong belum dapat kerjaan.” Kamu memutarbalikkan suasana. Dari ceria berubah menjadi duka. Orang-orang melihat kamu sebagai sosok yang selalu membawa awan hitam kemanapun kamu pergi melangkah.

Pesimisme itu bikin kita ga semangat. Pesimisme juga bikin kita berhenti mengharapkan bantuan-Nya. Setan memang pintar memutus konektivitas kita sama Allah. Saat kamu pesimistis, kamu sedang memutuskan hubungan sama Allah. Kamu hopeless. Setan, secara definisi, juga berarti putus asa. Dan dia juga ingin kamu menjadi putus asa seperti dia.

*****

Kelima. Seharusnya goal adalah goal, Bukan purpose. Tapi setan berhasil membuat kamu menganggap bahwa goal adalah purpose.

Manusia itu goal driven. Didorong oleh target. Oleh sasaran. Entah sasaran jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang.

Kita bisa habiskan uang jutaan rupiah untuk ikut seminar karena kita ingin membantu diri kita meraih apapun yang ingin kita capai dalam hidup ini. Seminar tentang self help. Contohnya, yang di-run oleh Anthony Robbins.

Seminar seperti ini bagus dan luar biasa. Masalahnya, seminar itu membidik sasaran yang tinggi, tapi bukan yang tertinggi. Setan tidak ingin kamu meraih sasaran yang tertinggi.

Seperti halnya pemanjat tebing yang melempar hook. Setan ingin hook itu nyangkut di sasaran yang rendah. Bukan di puncaknya.

Setan ingin hook itu cuma nancep di money. “Kalo aku punya uang segitu, pasti hidupku oke.” Maka kamu memanjat tebing itu dan akhirnya kamu cuma dapat uangnya.

Setan ingin hook itu cuma nancep di kesehatan kamu.

Setan ingin hook itu cuma nancep di karir kamu.

Setan ingin hook itu cuma nancep di pendidikan kamu.

Setan berhasil membuat kamu lupa bahwa goal-goal itu sejatinya bukanlah purpose dalam hidup kamu. Itu semua hanyalah alat untuk membantu kamu mencapai tujuan yang sejati.

Hidup di bumi ini begitu singkat. Tujuan kita berada di bumi ini bukan untuk mendapatkan pekerjaan. Bukan untuk mengumpulkan uang. Bukan untuk punya rumah. Karena, itu semua akan ditinggalkan.

Tujuan kita hidup di bumi ini, adalah untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Nantinya kebaikan-kebaikan itu akan mendatangkan kebaikan untuk diri kita sendiri. Nantinya kebaikan-kebaikan itu akan hidup lebih lama dibandingkan hidup kita di dunia.

Cari uang itu bagus. Selama uang itu kamu gunakan untuk melakukan kebaikan-kebaikan itu.

Menjaga kesehatan itu bagus. Selama kesehatanmu membuat kebaikan-kebaikan itu terjadi setiap hari tanpa jeda sakitmu.

Karir itu bagus. Selama karirmu mendatangkan kebaikan-kebaikan yang lebih banyak lagi.

Pendidikan itu bagus. Selama pendidikanmu meningkatkan kualitas dari kebaikan-kebaikan yang kamu lakukan.

Rumahmu adalah sebuah rahim yang melahirkan kebaikan-kebaikanmu.

Mobilmu adalah sebuah bahtera yang kamu gunakan untuk berlayar mengarungi samudera kebaikan.

Setan ingin uang itu kamu jadikan tujuan kamu.

Setan ingin kesehatan itu kamu jadikan tujuan kamu.

Setan ingin karir itu kamu jadikan tujuan kamu.

Setan ingin pendidikan itu kamu jadikan tujuan kamu.

Padahal itu semuanya hanyalah alat.

“BMW i8 Coupe itu keren banget. Harganya 4M. Aku akan banting tulangku. Aku akan peras keringatku. Supaya aku bisa mendapatkannya. Itu tujuan hidupku.”

Hmmm. Itu bukanlah tujuan sejatimu. Karena apa yang kau jadikan tujuan itu hanya berjarak satu peristiwa kecelakaan saja dari kehancuran mobilmu.

Atau kamu terobsesi rumah yang bagai istana? Itu pun hanya berjarak satu tsunami saja dari terhanyutnya rumahmu oleh gelombang yang melumat dan membawanya entah kemana.

Kita ini aslinya meaningful creature. Purposeful creature. Ciptaan yang punya tujuan yang mulia. Tapi setan berusaha membelokkan supaya kita mengejar sasaran yang murahan. Meski mungkin tampak mahal dilihat dari kacamata mereka yang tidak beriman.

*****

Keenam. Ada satu hal di depan kita, yang kita tidak tahu. Yaitu, waktu.

Berapa banyak sisa waktu kita?

Mungkin beberapa detik lagi. Mungkin beberapa tahun lagi. Mungkin masih beberapa dasawarsa lagi. Kita tidak pernah tahu.

Tapi yang pasti, kita masih punya waktu. Entah sedikit, entah banyak.

Ketika setan menyerang dari depan, dia ingin supaya kita tidak menghargai sisa waktu kita. Setan ingin kita berpikir bahwa hidup kita masih sangat panjang. Supaya kita tidak punya sense of urgency. Supaya kita menghindari mengerjakan kebaikan-kebaikan. Supaya kita tidak merasakan kemendesakan itu. Sehingga kita tidak melihat urgensi dari mengerjakan kebaikan-kebaikan yang bernilai dalam hidup kita.

Ketika kesempatan untuk berbuat baik itu lewat di depan mata, setan memprovokasi, “Santai, Bro. Ga perlu sekarang. Besok juga masih bisa.”

Persis seperti yang kita alami setiap saat masuk waktu sholat. Adzan berkumandang di aplikasimu. Kamu pause. Kamu biarkan berlalu. Kakimu masih tetap di situ. Tidak bergerak maju. Padahal masjid sudah lama menunggu.

Tapi kalo main game, kamu bergegas. Kalo nonton, kamu bergegas.

*****

Kamu sedang free. Kamu punya waktu 30 menit sebelum masuk ke mata kuliah berikutnya. Kamu tahu ada Qur’an di tas ranselmu. “Ya, aku tahu. Pasti, pasti. Pasti aku akan baca Qur’an. Tapi ntar aja.” Padahal kamu ga ngapa-ngapain.

Tapi untuk sesuatu yang ga guna, ga ada poinnya, ga ada manfaatnya, kamu malah melakukannya. Kamu punya waktu untuk melihat postingan orang di Facebook. Untuk melihat status teman di Instagram. Atau Snapchat. Tidak lupa kamu kasih komen di sana dan di sini.

Waktu cepat berlalu. Empat puluh menit terbuang sia-sia. Dan kamu telat sepuluh menit di kelas kuliah selanjutnya!

Setan membuat kamu tidak menghargai waktu. Setan ingin kita buang-buang waktu. Membuat kamu menghancurkan sendiri masa depanmu dengan menyia-nyiakan waktu. Dan ketika akhirnya kamu menyadarinya, yang tersisa adalah sebuah penyesalan, “Ya ampun. Begitu banyaknya waktuku yang telah terbuang sia-sia.” Dan kamu pun menjadi makin hopeless. Itulah game yang setan mainkan. Kita mungkin sering terjerat. Tapi kita mungkin juga sering tak menyadarinya.

Jadi itu adalah serangan dari depan. Serangan ini saja sudah multiple-attacks. Serangan berlapis. Baru dari depan saja.

Semoga Allah menjadikan kita sadar akan adanya serangan ini.

Semoga Allah memampukan kita untuk melihat kesejatian dari apa yang lewat di depan kita.

“Allaahumma arinii wa arinaa haqiiqotan asy-yaa-i kamaa hiya.”

“Ya Allah. Tunjukkanlah kepadaku dan kepada kami, kenyataan yang sebenarnya dari segala hal sebagaimana adanya.”

Semoga Allah membimbing kita untuk tetap fokus pada pertemuan kita dengan-Nya di akhirat kelak.

*****

Nasihat pungkasan untuk melawan serangan setan ini: kita harus mengenalinya, dan memeriksa ulang hakekat dari segala hal yang lewat di depan kita.

Kamu punya aplikasi. Ada warnanya. Ada feel-nya. Kamu bisa merasakannya. Ada menunya. Ada fitur-fitur lainnya. Kenyataan yang sebenarnya, ada kode asal (source code) di balik aplikasi itu. Kamu tidak bisa melihat kode-nya. Tapi kamu bisa merasakan fungsinya.

Apapun yang bisa kamu lihat dan rasakan itu, itu hanyalah kulit luarnya. Ada tujuan dan makna di belakangnya sebenarnya. Masalahnya, kita suka memberi makna atau nilai dari kulit luarnya saja. Padahal yang punya nilai adalah yang ada di belakangnya.

Qur’an juga begitu. Kita biasa menilai Qur’an dengan melihatnya melalui mata kita saja. Sehingga yang tampak adalah lembaran-lembaran dengan tulisan Bahasa Arab yang kita ga paham maknanya. Padahal ketika kita melihatnya melalui mata batin kita, menembus ke kedalaman makna dan kata-kata yang penuh dengan kasih sayang-Nya, nilai Qur’an menjadi tidak terhingga.

Lahum a’yunun laa yub-shiruuna bihaa. Bermata tapi tak melihat (QS 7:179). Artinya, realitasnya tidak terlihat. Gagal paham hakekatnya. Penglihatan yang dangkal.

Kita butuh melatih ini terus-menerus. Jeli melihat kesejatian. Apa maknanya. Apa tujuan akhirnya. Dan ketika kita sudah terbiasa melatihnya, cara kita mengatur aktivitas, cara kita membagi waktu, cara kita berpikir terhadap segala hal, cara kita menilai sesuatu, cara kita menyusun prioritas, semuanya akan berubah. Karena kita ingin mengoptimalkan hembusan nafas yang masih tersisa.

Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya (QS 82:5).

Setan akan menyerang dari depan supaya kita salah prioritas. Setan akan membuat kita meminggirkan apa yang seharusnya diutamakan.

Semoga Allah memudahkan kita untuk meletakkan prioritas tepat pada tempatnya.

Semoga Allah tidak membiarkan bisikan setan membuat kita melenceng dari jalan-Nya yang lurus.

Barokallaahu lii wa lakum.

*****

Ditulis Heru Wibowo

*****

Satu pemikiran pada “Serangan Empat Penjuru : Serangan dari Depan”

Yakin Tak Mau Komen?