Serangan Empat Penjuru : Serangan dari Belakang

Apa yang ada di belakang kita adalah masa lalu. Waktu yang telah berlalu. Sebuah masa yang tertinggal di ruang nostalgia. Yang tak bisa kembali.

Setan memanfaatkan masa lalu. Setan memanipulasi masa lalu, untuk menyerang kita.

Kita, sedikit atau banyak, dipengaruhi oleh masa lalu. Masa lalu mempengaruhi cara berpikir kita. Masa lalu mempengaruhi emosi kita. Masa lalu mempengaruhi keputusan-keputusan masa depan kita.

Seseorang mengalami kecelakaan mobil. Dua-duanya dirawat. Mobilnya, dirawat di bengkel. Orangnya, dirawat di rumah sakit. Setelah dia pulih, cara nyetirnya jadi berubah. Lebih hati-hati.

Kamu pernah konflik dengan seorang teman. Kamu pikir perkaranya sepele. Tapi ternyata dia baper kuadrat. Setelah itu, cara berinteraksimu berubah. Kamu lebih berhati-hati.

Pengalaman masa lalu mempengaruhi kita. Setan memanfaatkannya untuk menggelincirkan kita. Supaya keluar dari jalan-Nya yang lurus.

***

Saat kita berpikir tentang masa lalu, kita pikir itu adalah pikiran kita. Padahal, bisa jadi, setan lah yang membuat pikiran-pikiran itu melintas di benak kita.

Kamu pernah punya masa lalu emas. Kamu sangat rajin shalat. Kamu puasa Senin Kamis. Hobi kamu adalah qiyamullail. Air matamu sering menetes hanya di hadapan-Nya.

Standar kehati-hatian kamu sangat tinggi. Kamu tidak neko-neko. Kamu terkenal alim dan baik hati. Di luar rumah maupun di dalam keluarga kamu sendiri. Kalo ada yang tanya contoh Qur’an Surat Al-Mu’minuun ayat 1-11 yang berjalan, orang-orang akan mengarahkan jari telunjuknya ke arahmu. Masa lalu kamu sungguh A plus plus.

“Aku dulu memang seperti itu. Tapi aku kecewa dengan aku yang sekarang.”

“Dulu aku selalu berdoa setiap masuk rumah. Setiap keluar rumah. Setiap mau masuk toilet. Setiap keluar dari toilet.”

“Dulu aku selalu teliti memilih kata. Mengatur intonasi dan nada bicara. Memastikan gesture juga terjaga. Tidak ingin membuat ada hati yang terluka.”

“Sekarang? OMG. Bahasaku ngawur. Aku suka menyerang lawan bicara. Sedikit-sedikit emosiku meluap. Aku jadi temperamental. Aku sering ngomongin orang. Bahkan memfitnah. Ga tahu kok aku jadi begini.”

“Dulu, jaman belum ada aplikasi Prayer Time, aku sangat rajin shalat tepat waktu. Di masjid. Ga perlu pake aplikasi segala. Alarm alami. Muncul sendiri 10 atau 15 menit sebelum adzan. Kadang adzan yang dulu kau dengar itu, tidak lain adalah suaraku.”

“Sekarang, sudah ada aplikasi. Ada alarm hape juga. Tapi dua-duanya ga ngaruh. Begitu bunyi langsung aku snooze. Bunyi lagi, snooze lagi. Sampai hilang sendiri. Dan aku mager ke masjid. Shalatku pun kadang mirip shalat jama’. Selesai shalat dhuhur, masuk waktu ashar.”

Setan memanipulasi masa lalu. Apa yang dia bisikkan?

“Masa keemasanmu itu sudah pergi. Sudah mati. Tidak akan bisa kembali. Kamu tidak akan bisa seperti itu lagi.”

“Hidup itu yang realistis aja. Ya begini lah kenyataannya. Begini lah keadaan kamu sekarang.”

Setan berusaha meyakinkanmu bahwa masa lalumu yang gemilang itu sudah khatam.

Benarkah begitu?

Tentu saja, tidak. Masa lalumu yang baik itu justru membuktikan bahwa kamu bisa hidup dengan standar spiritualitas yang tinggi. Standar yang kamu tetapkan sendiri. Standar yang kamu junjung tinggi. Standar yang juga sudah terbukti, bahwa kamu pernah mampu melakukannya.

Itu hanya berarti bahwa, selamanya, kamu akan mampu melakukannya. Kamu akan mampu mengulanginya.

Fakta bahwa kamu sekarang tidak bisa seperti itu lagi adalah karena kamu belum mencobanya lagi aja. Padahal kamu pernah punya keyakinan itu. Kamu pernah punya kekuatan itu.

Kamu akan mampu mengulanginya.

***

Sebaliknya, mungkin masa lalumu bukan lah sebuah masa keemasan.

Mungkin kamu justru punya trauma di masa lalu. Mungkin kamu kehilangan anak. Mungkin kamu punya ayah, tapi berasa tidak punya ayah. Mungkin orang tuamu tidak mengharapkan kelahirannya. Mungkin kamu terus menjadi sasaran bully di mana saja kamu berada.

Setan memanfaatkan masa lalu itu untuk mengacaukanmu. Bukan hanya secara emosi, tapi juga secara spiritual. Mengacaukan hubunganmu dengan Allah.

Sehingga akhirnya terdengar bisikan itu, “Hidupmu sudah sarat dengan penderitaan. Buat apa lagi kamu shalat?”

***

Contoh-contoh tadi adalah contoh trik setan menyerangmu dari belakang. Memanfaatkan masa lalumu, yang pernah gemilang, atau yang penuh dirundung malang. Sehingga sinyal koneksimu dengan Allah menghilang.

***

Contoh kedua. Khususnya jika kamu punya pengalaman buruk di masa lalu. Setan menghembuskan bisikannya supaya kamu mempertanyakan, kenapa hal-hal buruk itu terjadi. Dan kenapa itu semua harus ditimpakan kepadamu.

Allah menjadikan hidup kita penuh cobaan dan ujian. Masing-masing dari kita kurikulumnya beda. Frekuensi dan intensitas cobaannya beda. Masing-masingnya tidak mudah. Dan jika kamu hanya memikirkan kejadiannya, memang sangat menyakitkan.

Bahkan kamu bisa paralyzed. Lumpuh. Atau sekedar overwhelmed, kewalahan.

Setan ingin kamu tergenang di situ. Memikirkan kesakitannya. Mengaduk-aduk amarahmu supaya protes sama Allah, mengapa tega memperlakukan kamu seperti itu.

“Mungkin aku dikutuk. Inilah sebabnya Allah marah sama aku.” Setan ingin kamu tetap berada di sana. Di masa lalu yang pahit itu. Sementara Allah ingin supaya kamu keluar dari kubangan itu. Tapi setan menahanmu. Menyeretmu masuk kembali. Menjadikan kesedihan itu sesuatu yang bisa kau nikmati.

Setan ingin kamu yakin bahwa ‘tidak ada lagi harapan’. Setan ingin kamu terjebak dalam kubangan ketiadaan harapan (hopelessness). Persis seperti dirinya. Yang sudah tidak ada harapan lagi.

Atau, bahwa yang menimpa kamu itu tidak ada jalan keluarnya. Bahwa yang paling tepat untuk kamu lakukan adalah menyalah-nyalahkan. Menyalahkan orang. Menyalahkan keadaan. Bahkan menyalahkan Allah.

Kita dikipas-kipasi supaya kita menyalahkan orang lain. Siapapun dia, yang telah menyakiti kita. Kita juga dibikin setan untuk berani menyalahkan Allah. Kenapa Allah membiarkan kepahitan itu terjadi. Kenapa juga kita yang jadi korban. Kita tidak layak untuk diperlakukan seperti itu.

***

Beruntunglah yang pernah mempelajari perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Kita bisa mengapresiasi sesuatu dari situ.

Kedua orang tua beliau wafat saat Rasulullah masih kecil. Yatim piatu di usia enam tahun. Rasulullah pun diasuh Abdul Muttalib, kakeknya. Tapi tidak lama. Abu Talib, paman beliau, menjadi pengasuh berikutnya. Betapa sulit gonta-ganti pengasuhan seperti itu untuk seorang anak.

Menjadi anak dengan kondisi seperti itu, sulit. Tapi yang tidak kalah sulitnya adalah kehilangan anak.

Apakah Rasulullah juga mengalaminya? Ya. Rasulullah pun kehilangan anak-anak beliau. Yang wafat mendahului beliau, shallallahu ‘alayhi wasallam.

Buat orang tua yang pernah ditimpa kematian putranya, bisa muncul pertanyaan, kenapa kemalangan itu harus dia alami. Atau, kenapa meninggalnya harus seperti itu. Dan setiap kali dia melihat anak kecil berlari-larian kesana kemari, dia selalu teringat anaknya yang sudah tidak bersamanya lagi.

Semua kepedihan dan kepahitan hidup itu juga dialami oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam.

Untuk apa kita membahasnya? Supaya kita paham bahwa kemalangan seperti itu tidak berarti bahwa Allah mengutukmu. Bahwa Allah murka sama kamu. Bahwa ada hal buruk yang kamu lakukan sehingga Allah marah sama kamu. Tidak seperti itu.

Rasulullah juga kehilangan anak-anaknya. Yang wafat mendahului beliau. Apakah itu berarti Allah mengutuk Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam?

Tidak. Allah tidak pernah mengutuk beliau, shallallahu ‘alayhi wasallam.

Dan sebaliknya, Rasulullah juga tidak pernah mengeluh. Rasulullah tidak pernah menyalahkan Allah.

Tapi setan ingin kita berpikir bahwa Allah sedang mengutuk kita. Setan ingin kita menyalahkan Allah.

Kenapa? Karena menyalahkan Allah itu persis yang dilakukan setan. Fa bimaa agh-waytanii. Setan menyalahkan Allah. Awalnya setan menolak sujud kepada Adam. Lalu setan dikeluarkan dari surga. Akhirnya setan menyalahkan Allah.

Itu lah trik setan. Memanfaatkan pengalaman burukmu, kesakitanmu, kepahitanmu, supaya kamu menjauh dari Allah ‘azza wa jalla.

***

Contoh ketiga. Mungkin dulu kamu pernah punya pergaulan yang menjadi katalis perbuatan dosa. Syukurlah kamu sudah bertaubatbat. Kamu tidak lagi bergaul dengan mereka.

Mereka bisa jadi tidak jahat. Tapi kalo kamu ada bersama mereka, kamu jadi lepas kontrol. Kamu melupakan-Nya. Kamu menjauh dari-Nya. Makanya kamu meyakinkan dirimu sendiri.

“Titik! Enough is enough. Cukup sampai di sini.”

Dan kamu pun memutuskan untuk memilih teman yang membuatmu makin dekat dengan-Nya.

“Urusan mereka biar mereka selesaikan sendiri. Antara mereka dengan Allah. Aku? Aku menarik diri. Aku butuh melindungi diriku. Ini adalah caraku untuk memperbaiki hubunganku dengan Allah.”

Bergaul dengan mereka mungkin bukan salah mereka. Maksudnya, bukan mereka yang memaksa kamu untuk mengikuti mereka. Tapi lebih karena kamu punya sisi lemah yang tidak kamu sadari. Mungkin itu hasratmu untuk bersosialisasi. Mungkin kamu merasa keren jika bisa menjadi bagian dari mereka. Tanpa kamu pernah menilai apakah langkahmu itu, apakah keputusanmu itu, untuk bergabung dengan mereka itu, akan mengorbankan hubunganmu dengan Allah. Menjadi berjarak. Makin menjauh.

Dan alhamdulilah di sebuah titik perjalanan hidupmu, kamu merenungkan itu. Kamu merenungkan keputusanmu. Kamu merenungkan akibat dari keputusanmu. Kamu merenungkan kputusanmu untuk menceburkan diri ke dalam pergaulan itu, dan status hubunganmu dengan Allah yang makin menjauh.

Kini kamu sudah ketok palu. Kamu putar haluan. Hidup dengan lembaran yang baru. Bukan karena kamu benci mereka. Bukan karena kamu merasa lebih baik dari mereka. Bukan karena kamu ingin biarkan mereka menderita. Bukan itu semua. Kamu hanya ingin menyelamatkan dirimu. Ini lah saatnya kamu menarik diri.

Dan saat kamu menarik diri, setan tahu dong. Kan dia terus memonitor gerak-gerikmu. Dia pun mendatangimu. “Hei, beneran tuh kamu mau memutus silaturahmi? Ntar kalo kamu kangen, gimana?” Setan membangkitkan kenangan-kenangan manismu bersama mereka.

Sama halnya dengan orang yang pernah berhenti berbuat dosa. Eks peminum alkohol, pemakai narkoba, atau pezina. Mereka sudah meninggalkan perbuatan dosa. Mereka sudah menjauh dari perbuatan maksiat. Mereka sudah berubah.

Setan tidak tinggal diam. Dia mengetuk pintumu.

“Kamu kan sedang mengalami masa-masa sulit. Kamu ditekan sana-sini. Kamu perlu menghibur diri. Ayolah sebentar saja. Tidak usah lama-lama. Sebentaaar saja. Apa salahnya.”

“Bulan ini bulan terberat di hidupmu. Banyakan hari-hari sialnya. Sudah berapa kali coba, kamu apes. Ketemu orang-orang itu. Orang-orang egois. Lahir ke dunia cuma untuk nyusahin kamu. Menjengkelkan. Ayolah hibur dirimu sedikit. Kamu cuma nongkrong aja ama mereka. Hanya mereka yang bisa ngerti kamu. Apakah itu dosa?”

Kamu tahu bagaimana rasanya kalo bersama mereka. Kamu tahu akan berubah menjadi pribadi seperti apa kamu kalo ada di tengah-tengah mereka.

Everything forbidden is desirable. Segala sesuatu yang terlarang itu tampak menarik hati.

Kamu sudah putuskan bahwa kamu tidak mau ke situ lagi. Tapi bagaimanapun juga kamu manusia biasa. Ada godaan dan keinginan. Setan mencoba memanipulasi itu.

“Ayo lah. Kamu pasti jauh lebih baik. Hidup itu harus seimbang. Kesusahanmu luar biasa sekali bulan ini. Kamu harus senang-senang sedikit.”

Tidak bisa dia, kamu sebenarnya suka sama mereka. Setan makin mengipasinya, sampai kamu benar-benar jatuh di lembah dosa.

***

Setan tidak perlu merayu kita supaya kita berbuat dosa. Supaya kita melakukan kesalahan. Tidak perlu sampai ke situ. Ini penting. Kita perlu tahu ini. Setan tidak perlu berusaha keras supaya kita langsung melakukan kesalahan. Supaya langsung berbuat dosa. Setan tidak perlu merayu sampai ke sana.

Setan ingin supaya kita cukup mengambil satu langkah saja. Ya. Satu langkah saja. Satu langkah menuju perbuatan dosa.

Jika destinasi yang dituju masih seribu kilometer jauhnya. Dan kamu hanya maju satu langkah. Satu langkah itu sepertinya bukan apa-apa. Bisa diabaikan. Bisa dianggap tidak ada. Tidak ada bahayanya.

Ada kebakaran di kampung sebelah. Kamu lihat beritanya di grup WA. Kamu melangkah menuju ke sana. Tapi satu langkah saja. Setelah satu langkah itu, apakah kamu merasakan lebih panas? Tidak, kan? Tidak sama sekali. Apalagi sampai kamu ikut terbakar. Engga lah.

Satu langkah itu sudah cukup bikin setan puas. Kita juga merasa oke-oke saja. Dan jika ada yang teriak, “Hei! Kamu sedang melangkah menjauh dari Allah!” Kita anggap yang teriak-teriak itu kurang kerjaan. Kan kita belum ngapa-ngapain. Kan kita cuma gitu doang.

Tapi memang seperti itu lah kerjaan setan. Menyerangnya halus. Sedikit demi sedikit. Sekarang sedikit. Besok sedikit. Yang penting makin jauh dari Allah.

Tadinya rajin shalat malam. Setan berhasil melancarkan serangan sehingga tidak lagi shalat malam. “Ga papa, kan ga wajib juga,” bisiknya. Biasanya shalat qabliyah wa ba’diyah, sekarang tinggal shalat wajibnya saja. “Yang penting masih shalat lima waktu.” Setan makin senang. Serangan berikutnya membuat shalat wajib pun jadi bolong-bolong. “Bolong satu masih oke lah. Kan masih 80 persen. Lumayan.” Setan makin girang.

***

Surga itu seluas langit dan bumi. Wa jannatin ‘ardhuhas samaawaati wal ardhi (QS 3:133). Jannah artinya diliputi nuansa hijau. Atau, pepohonan yang hijau. Surga itu penuh dengan pohon-pohon yang hijau.

Mari kita renungkan yang ini.

Buat Adam dan Hawa, ada berapa banyak pohon yang terlarang? Satu. Cuma satu. Diantara alam semesta pepohonan yang tak ada habisnya. Jadi kalo cuma satu yang dilarang, menjauhinya harusnya gampang banget, ya kan? Karena menemukan yang satu itu aja pasti sudah. Dari sekian triliun pohon yang ada.

Tapi setan berhasil membuat mereka mengambil satu langkah. Mendekati pohon terlarang. Lalu satu langkah lagi. One step at a time. Sekali rayu satu langkah.

Setan tidak langsung mengarahkan mereka ke pohon itu. Entah bagaimana setan berusaha menutupinya. Pohon itu terlarang, tapi entah bagaimana, setan punya semacam topeng yang membuat Adam dan Hawa tertarik mendekatinya. Langkah demi langkah menuju keburukan. Setan pintar membuat kita merasa seakan-akan itu adalah langkah-langkah menuju kebaikan.

Pemutarbalikan oleh setan ini mengantarkan kita untuk mempelajari serangan setan dari arah kanan. Mempelajari bagaimana setan memerangkap kita dengan serangannya dari arah kanan.

***

Dalam bahasa Arab, kanan itu selalu dihubungkan dengan perbuatan dan hal-hal yang baik. Kanan berhubungan dengan kehormatan dan kebangsawanan.

Ketika seseorang memberi kamu tangan kanannya, itu adalah karena dia sedang berjanji atau bersumpah. Orang kidal pun berjabat tangan pake tangan kanan. Sebagai tanda penghormatan.

Budaya-budaya di luar Arab juga seperti itu. Kanan dihubungkan dengan hal-hal yang baik. Ketika kita bersaksi, atau memberikan kesaksian, yang kita angkat adalah tangan kanan kita.

Budaya Arab maupun budaya berbagai bangsa sepakat bahwa kanan berhubungan dengan penghormatan, perbuatan yang baik. Berhubungan dengan melakukan segala sesuatunya dengan benar.

Oleh karenanya, di hari penghakiman, kita memohon kepada Allah supaya kita dimasukkan ke dalam golongan kanan. Ash-habul yamiin.

Kanan dihubungkan dengan kebaikan. Malaikat yang mencatat amal kebaikan kita, ada di sebelah kanan. Di sini lah mungkin kita mulai bingung karena dibilang bahwa setan menyerang dari kanan. Berarti setan menyerang dengan perbuatan baik? Apa itu maksudnya? Bagaimana contohnya?

***

Banyak cara setan untuk menyerang dari kanan. Ada satu yang akan dijelaskan di sini. Yang lain-lainnya akan dijelaskan secara khusus saat membahas serangan setan dari arah kanan.

Perlu diingatkan kembali tentang pentingnya kita menyadari adanya serangan-serangan setan ini. Kita perlu merenungkan bagaimana serangan-serangan itu berlaku untuk kita.

Cara setan memainkan serangan itu untukku, bisa berbeda dengan cara setan memainkan serangan itu untukmu. Bahkan di keluarga kamu sendiri, juga bisa beda. Karena setan telah melakukan studi atas kamu dan aku, secara terpisah. Setan menyerang masing-masing kita, secara terpisah.

***

Indah sungguhan dengan indah jadi-jadian, itu beda. Perbuatan dosa, setan bisa membuatnya menjadi terasa indah. Indah jadi-jadian. Wa idz zayyina lahumusy-syaithaanu a’maalahum (QS 8:48). Serangan dari kanan yang ini adalah salah satu serangan yang paling menakutkan.

Orang-orang datang ke masjid dan melakukan shalat. Itu hal yang baik. Orang-orang pergi haji ke tanah suci. Itu hal yang baik. Berpuasa. Itu hal yang baik. Membantu, memberi makan fakir miskin. Itu perbuatan yang baik.

Tapi ketika kamu mulai berpikir bahwa semua amal baikmu itu pasti diterima oleh Allah, maka itu sungguh menyedihkan. “Kamu jangan cemas lagi sekarang, karena kamu sudah banyak berbuat baik. Kamu rajin shalat. Kamu itu orang baik.” Lalu setan berhasil mengipasi kita lebih jauh sehingga kita mulai berkata, “Lihatlah orang-orang itu. Mereka muslim. Tapi mereka tidak shalat. Kasihan sekali mereka.” Ini bukan jenis bisikan yang membuat kita memikirkan dakwah terbaik supaya mereka hijrah dan shalat. Bukan yang seperti itu. Ini adalah jenis bisikan yang membuat kita menepuk dada. Berbangga diri. Menganggap diri kita lebih baik dari orang lain.

Setan menyerang melalui perbuatan baikmu. Setan menghembuskan gambaran tentang potret diri yang palsu, bahwa kamu sudah sah diberi label orang baik, selamanya. Orang hebat, selamanya. Bahwa Allah jelas-jelas cinta sama kamu, selamanya. Bahwa kamu lebih baik dari muslim yang lain. Itu semua adalah potret diri yang palsu.

Siapapun yang suka berbuat baik, dan berbuat baiknya hanya untuk Allah, sebaiknya belajar dari kisah Ibrahim ‘alayhis salam.

***

Ibrahim ‘alayhis salam telah melakukan perbuatan baik yang paling menakjubkan yang pernah dibuat manusia. Beliau membangun Ka’bah. Bukan hanya bermanfaat buat yang umroh maupun haji, tapi juga buat setiap mushallin. Karena di setiap shalat, kita menghadap Ka’bah.

Pikirkan ini. Setiap kali seseorang shalat, Ibrahim ‘alayhis salam dapat bagian dari pahala shalat itu. Karena orang itu shalat menghadap Ka’bah. Orang itu memang tidak berkurang pahalanya, tapi Ibrahim ‘alayhis salam dapat pahala juga karena telah membangun Ka’bah.

Sejak dibangunnya Ka’bah, siapapun yang shalat, di belahan dunia mana pun dia shalat, pahalanya juga mengalir ke Ibrahim ‘alayhis salam. Di tahun 2010 saja, sudah ada 1,5 milyar pemeluk Islam di dunia. Bisakah kita bayangkan pahala yang mengalir kepada Nabi Ibrahim ‘alayhis salam karena shalat lima waktunya para mushallin?

Dan apakah kita mengetahui, saat Ibrahim ‘alayhis salam meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, doa apa yang beliau panjatkan?

Beliau minta sama Allah, rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim (QS 2:127). “Yaa Rabb. Terimalah amal dari kami.” Seakan-akan beliau tidak yakin bahwa amalan beliau itu cukup baik. Seakan-akan beliau tidak yakin bahwa amalan beliau itu pantas diterima. Mungkin ada satu batu atau bata yang ditata tidak pas pada tempatnya. Mungkin niat amalnya tidak murni hanya untuk Allah. Mungkin masih ada setitik kemalasan dalam melakukan amalan itu. Nabi Ibrahim melakukan muhasabah terhadap amalannya sendiri. Melakukan audit diri. Introspeksi.

Nabi Ibrahim tidak sombong. “Yaa Allah. Terima kasih sudah memberiku kehormatan untuk membangun Ka’bah ini. Fondasinya sudah beres. Bangunannya sudah jadi. Aku sudah bebas sekarang. Boleh berlibur dan bersenang-senang.” No no no. Bukan seperti itu.

Beliau tidak berpuas diri. Mentang-mentang sudah banyak melakukan kebaikan dan perbuatan super hero. Beliau tidak mengklaim bahwa amalnya pasti diterima. Beliau justru berharap semoga amalnya diterima. Rabbanaa taqabbal minnaa.

Kamu shalat Jumat. Komplit dengan dzikir setelahnya. Seberapa yakinkah kamu bahwa shalat dan dzikirmu itu diterima? Bahwa malaikat mendokumentasikan amalmu sebagai amal yang sempurna?

Apakah sepanjang shalat, atau sepanjang khutbah, pikiranmu melayang kemana-mana? Apakah hatimu bergetar? Atau justru hapemu yang bergetar? Sehingga khusyu’ kamu jadi buyar? Atau mungkin, kamu memikirkan 20 hal yang berbeda saat sedang shalat?

Atau kamu memikirkan orang di sampingmu yang gerakan shalatnya beda? Atau kamu tidak sadar melangkahi jalur orang yang sedang shalat demi mendapatkan shaf yang paling depan?

Betapa tidak sempurnanya shalat kita. Aku dan kamu tidak boleh berpuas diri. Apalagi cuma karena berangkat shalat Jum’at, dan hanya karena sudah sampai masjid sebelum adzan. Lantas kita berasa seperti berhak mendapat tiket VIP untuk masuk surga. Itu bukan sikap yang tepat.

Itu bukan sikap yang tepat untuk shalat kita. Itu bukan sikap yang tepat untuk puasa kita. Untuk haji kita. Atau apapun ibadahnya. Apapun perbuatan baiknya.

Ada sebuah hadits qudsi yang isinya, Allah tidak mengumpulkan rasa aman dan rasa takut jadi satu. Kalo seseorang merasa aman di dunia, maka dia akan diliputi rasa takut di hari kiamat. Kalo seseorang merasa takut di dunia, maka in sya Allah dia diberi rasa aman di akhirat. Setan ingin, perbuatan baik kita melahirkan rasa aman. Setan ingin, kita tidak takut bahwa amal-amal itu tidak diterima.

Ingatlah lagi nabiyullah Ibrahim. Amalannya luar biasa, tapi sikapnya lebih luar biasa lagi. Rabbal taqabbal minnaa. Beliau memohon supaya amalannya diterima.

***

Hendaknya kita tidak mengingat-ingat perbuatan baik yang pernah kita lakukan. Yang perlu diingat adalah keteladanan Nabi Ibrahim. Mengemis sama Allah selesai berbuat baik. Rabbanaa taqabbal minnaa. Minta sama Allah. “Terimalah amal kami, yaa Allah.”

Itu lah yang setan tidak inginkan.

Dan itu lah yang harus kita lawan. Trik setan ini sudah kita pegang. Tinggal kita mohon sama Allah supaya diberi kekuatan dan keistiqomahan untuk melawannya. Untuk tidak membiarkan masa lalu kita dimanipulasi. Untuk tidak mengizinkan kita berpuas diri. Untuk terus memohon supaya amalan kita diterima.

Semoga Allah melindungi kita dari serangan setan dari arah belakang.

Dan semoga Allah juga melindungi kita dari serangan setan dari arah kanan.

Barakallaahu lii wa lakum fil qur’aanil hakiim.

***

Ditulis oleh Heru Wibowo

***

Yakin Tak Mau Komen?