Saling Mengingatkan Dalam Amal

Ada dua hadits yang sudah seharusnya menjadi lecutan setiap orang beriman untuk selalu menuntut ilmu dan saling mengingatkan dalam berbuat kebaikan utamanya amal shalih,

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu perjalanan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim)

Yang kedua,

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)

Dari kedua hadits diatas dapatlah menjadi sedikitnya acuan dalam pembahasan kali ini. Sebelum beranjak pada beramal dan mengingatkan dalam amal, apasih yang diperlukan seorang mukmin?

Yang diperlukan pertama kali ada ILMU. Kenapa kok ilmu? Ilmu adalah landasan awal dalam beramal, setelah itu barulah kita dapat mengingatkan saudara, sahabat, keluarga, maupun masyarakat sekitar untuk ber-amal shalih.

Baiknya kita kutib nasehat Muadz bin Jabal radiyallahu’anhu, “Ilmu adalah pemimpin amal, dan amal adalah pengikut ilmu.” (Dari kitab al-Amru bil Ma’ruf wan nahyu anil munkar karya Ibnu Taimiyyah)

Pada amal tertentu khususnya yang sudah terikat misal shalat, puasa, zakat, dan beberapa lainnya butuh ketentuan khusus dari petunjuk-petunjuk dari Rasulullah atau biasa dikenal dengan ittiba’. Namun, ada amal yang pada aplikasinya tidak terikat bagaimana tata cara namun hanya target yang diberi, misal shodaqoh, infaq yang dikhususkan untuk fakir, musafir, dan lainnya.

Sekiranya pemaparan tentang ilmu dari amal, bagaimana caranya misal shalat dan lain sebagainya maupun yang tidak terikat tata cara yang spesifik misal shodaqoh dapat sahabat-sahabat cari di referensi buku fiqh atau kajian maupun ceramah dari da’i ataupun muballigh yang lebih faqih tentang permasalahan ini.

Disini dapat kita tarik pondasi utama sebuah amaliyah adalah ilmu. Tanpa adanya ilmu dari sebuah amal, dapat menjadikannya setiap hal yang dianggap baik menjadi sebuah amal. Namun, jika telah dikuasainya ilmu, sahabat-sahabat bisa memberikan klasifikasi sebuah amal dari tata cara, penempatan, dan lainnya. Dan jika telah mengerti dan memahami, barulah dapat disebarkan dengan kawan-kawan, saudaranya, bahkan keluarganya.

Sebelum beranjak ke bagian pembahasan selanjutnya, nasehat Abu Darda’ radiyallahu’anhu tentang hanya dengan ilmu, amal yang sedikit terlihat memiliki berkah yang luar biasa, “Duhai seandainya (kita dapatkan) tidur dan makan minumnya orang berilmu. Bagaimana bisa orang terperdaya dengan terjaganya (dalam sholat) dan puasanya orang yang bodoh. Sungguh kebaikan sebesar biji dzarrah dari orang yang bertaqwa dan yakin (berilmu) lebih agung, lebih utama, dan lebih berat timbangannya dibandingkan amalan sebesar gunung dari orang yang tertipu (orang bodoh).” (Hilyatul Awliyaa’ juz 1 halaman 211).

Selanjutnya, apa saja manfaat dari kita mengingatkan saudara, keluarga, ataupun teman untuk ber-amal?

Orang-orang yang mengajak kepada suatu kebaikan maka dia juga akan dapat pahala yang mengerjakan tanpa dikurangi sedikitpun. Dari satu hadits ini ada beberapa faedah hadits yang mengacu pada manfaat saling mengingatkan dalam amal. Apa saja?

Pertama, bagi seorang Aktivis Dakwah Kampus maupun seorang Mukmin pada umumnya diwajibkan atas mereka untuk berdakwah, baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan. Yang jelasnya menunjukkan pada kebaikan dunia maupun akhirat. Bahkan pada masa berkembangnya Islam dipelosok dunia, para wirausahawan muslim, ulamanya, dan para pendatang muslim bukan hanya ingin berjualan dan berdagang, namun juga ingin menyebarkan Islam dengan semangat “Sampaikan walau satu ayat” yang dimana ayat itu benar-benar mereka pahami dan amalkan.

Kedua, dapat pahala yang sama dengan yang mengerjakan walaupun sahabat-sahabat disini hanya mengingatkan hingga saudara, keluarga, maupun teman kita mengerjakan apa yang kita ingatkan misal shodaqoh, sholat, dan beberapa amal lainnya. Misal, saat jam memasuki adzan sholat maghrib, sahabat disini mengingatkan teman yang biasanya menjadi muadzin, kemudian teman kita itu mengerjakannya untuk melantunkan adzan. Jika tidak salah, seorang yang datang karena panggilan adzan itu, muadzin diberikan pahala kurang lebihnya 25 derajat setiap orangnya. Nah, berarti sahabat yang mengingatkan agar teman itu adzan insyaaAllah juga mendapatkan pahala yang sama jika mengacu pada hadits tersebut.

Ketiga, amal yang bisa dirasakan orang lain lebih besar manfaatnya dibandingkan amal yang manfaatnya terbatas untuk diri sendiri. Sebagai contoh, Imam asy’Syafi’i rahimahullah memilih pendapat membaca Basmalah di-jahr-kan (dikeraskan). Beliau memilih pendapat ini karena ingin mengambil manfaat dan pahala lebih. Kok bisa? Karena ada satu hadits yang pada intinya memberikan penjelasan bahwa membaca satu ayat Al-Qur’an mendapat satu 10 kebaikan bukan satu kalimat 10 kebaikan, yang ini Imam asy-Syafi’i berpendapat secara garis besarnya, “Kalau membaca Basmalah ada yang dipelankan dan tidak dibaca sama-sama mendapat kebaikan. Kenapa tidak dibaca saja dan dikeraskan? Jika para makmum membaca kan juga mendapatkan pahala yang sama insyaaAllah, setidaknya mendengar Basmalah dibacakan.”

Keempat, disadur pada QS. Ali-Imron ayat 110 bahwa umat Islam adalah UMAT TERBAIK yang menyerukan kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar, yang beriman kepada Allah. Allah telah memberikan penjelasan bahwa umat Islam adalah umat terbaik, bukan sekedar penjelasan, namun jugalah sebagai nisbah (penyematan). Namun, apakah sebegitu mudahnya menjadi umat terbaik? Ternyata tidak. Ada syaratnya, yaitu mengajak kepada yang ma’ruf (kebaikan), mencegah kepada yang mungkar (keburukan), dan yang terpenting memiliki iman dan keyakinan akan Allah sebagai Rabb dan Illah.

InsyaaAllah empat poin diatas dapat memberikan sedikitnya apa manfaat saling mengingatkan. Namun, jangan lupa! Saat mengingatkan ada ADAB yang harus dijaga. Nih,

Pertama, niat yang benar.

Kedua, memberikan kepada saudara Muslim tanpa diminta untuk dinasehati (peka dan gercep).

Ketiga, mencari cara terbaik dalam menyampaikan nasehat (baik lisan maupun perbuatan).

Keempat, merahasiakan nasehat (diam-diam agar tidak membuatkan merasa direndahkan).

Jangan pernah lelah untuk saling menasehati kepada saudara se-Iman dan memberikan dakwah Islam dengan cara terbaik dari saling menasehati kepada saudara-saudara kita yang belum mendapatkan hidayah Islam, agar dapat menerima indahnya dien ini dan sama-sama kita menuju Surga Allah yang kekal abadi, insyaaAllah.

Tinggalkan komentar