MASJIDKU SEPI

Sudah beberapa hari ini mesjid di tempatku sepi. Entah karena cuaca yang tak bersahabat atau karena iman dalam dada yang sedang tak bersahabat. Pandanganku menyapu setiap sudut tak kutemui pemuda atau pemudi di sepanjang mataku memandang. Tetiba ada yang menyentuh bahuku dari belakang. Seraya berkata
“Nak kamu ngapain di gereja subuh subuh”
“Anu pak.. eh anu..” Terbata – bata menjawab pertanyaan dari bapak-bapak yang menyapaku.
seketika bingung tak tau apa yg mau kukatakan… Hmmm… Aku menjawab “jadi begini bapak, Saya mau berangkat ke masjid untuk sholat subuh berjamaah, sampai di depan gereja Saya kaget melihat Si Christine dari tadi malam hingga pagi ini dia masih tetap di gereja,” kira-kira apa yang dia kerjakan Pak? ” tanya ku ke Bapak itu.
“Christine siapa? Disini ngga ada yang namany christine. Jangan jangan kamu mau ngebom tempat ini ya? Pakaian kamu aja mencurigakan gitu” tanya bapak tersebut seperti sedang menginterogasi pencuri.
“Tidak pak,. Tidak”
Bagaimana mungkin, setelan baju koko putih, sarung kotak-kotak perpaduan warna hitam dan merah, juga peci hitam dan sajadah yang sesikit lusuh. Dikira pakaian yang aneh (batinku sembari mencari jawaban yang tepat atas tuduhan bapak tersebut).

“Sudah keluar sana, kamu itu banyak alasan. Nanti tak laporin polisi kamu. Mau?”
“Hehe, endak pak. Maap ya pak saya tak keluar”
Sesaat ketika keluar dari gereja yang kukira mesjid, aku bertemu pak ustadz. Beliau berkata
“Astaghfirullah, ente murtad sekarang? Tobat ente. Masuk neraka ntar. Subuh subuh bukanya ke mesjid malah ke gereja” kata si Ustadz badrun

Mendengar perkataan ustadz badrun yang terdengar dengan nada sedikit banyak marah, aku hanya bisa menunduk dan tidak berucap apa-apa.
Perjalan ke Masjid, ku coba merenungkan kejadian barusan, bagaiman mungkin Masjid yang kudatangi ternyata gereja. Karena aku begitu yakin. Tempat tadi begitu sama persis dengan tempat yang kudatangi setiap harinya, apalagi suasana sepinya.
Apa mungkin ini efek makan nasi tadi malam ya, kata dokter pribadiku sebenarnya aku tidak di izinkan untuk makan nasi akhir akhir ini. Karena nasi akan bercampur dengan suatu bakteri didalam tubuhku yang mungkin bisa membuat aku menjadi linglung. Tapi sudahlah, aku putuskan untuk beranjak ke mesjid untuk melakukan ibadah rutinku yakni.

“Menukar sendal”

Yeesss…ibadahku kali ini tak ketahuan lagi. Pak ustadz pernah bilang kepadaku, “sembunyikan ibadahmu seperti kau menyembunyikan aib-aibmu.”
Aku rutin menjalankan ibadahku yang satu ini. Dan tak ada seorang pun yang tau. Jadi aku sudah menjalan kan perintah agamaku dengan baik ya?
Tapi setelah aku pikir2. Baik darimana? Apakah ibadahku itu tertuang di dalam Al Qur’an dan Al Hadits? Yang tiap hari di ajarkan oleh pak ustadz tiap sore. Ahh…bodoh amat yang penting aku menjalankan misiku dengan baik dan rapi . Urusan dosa aku pikir belakang.
Selain menyembunyikan ibadahku dengan baik, aku juga mengamalkan apa yang dikatakan pak ustadz badrun tempo hari, agar kita sebagai muslim yang bertaqwa, hendaknya kita selalu meninggalkan yang buruk, dan mengambil yang baik-baik.
Begitu juga ibadah menukar sandalku, aku lakukan secara sembunyi-sembunyi, dan lalu ku ambil sandal terbaik dari yang terbaik..
wussshh..
“Sambil berlari, kumasukkan hasil ibadah terbaikku kedalam baju”
sesampainya dirumah, ku lihat ibu sedang menyapu didepan rumah, dalam hati berkata “waduh ada ibuku, gawat nih kalau ketahuan ibu” .
“Usep kamu dari mana? Kok pake sarung subuh subuh? Kamu maling ya” tanya ibuku
” Ya Allah, mana mungkin bu aku mencuri. Aku tadi habis beribadah bu ”
“Wah hebat kamu ya, ibadahnya rutin. Kali ini bawa sepasang kan? Jangan jangan kamu bawa satu sisi doang kayak kemaren” tanya ibuku
“Engga dong bu, aku bawa sepasang hari ini. Malah yang lebih bermerk. Dan ibu tau nda, ini punya pak ustadz” jawabku bangga
“Wah hebat kamu. Kamu harus sering melakukanya agar lebih hebat dikemudian hari. Tak seperti tetangga sebelah”

“Memang kenapa bu dengan tetangga sebelah? ” tanyaku serius pada ibu.
“Itu lho anaknya pak somad, tadi malam digelandang ke kantor polisi, gara-gara dilaporin sama kurnia putrinya pak handoko, katanya dia nggak mau tanggung jawab atas anak yang dikandung kurnia”
Usep pun terkaget, sambil mlongo seakan tak percaya atas apa yang diceritakan ibunya. Sembari berkata.
“Kurnia hamil bu? Astaghfirullah. Kurnia kan laki laki buk? Memang aneh bu ya buk kidz zaman now. Laki laki bisa hamil”
“Kurnia itu perempuan cah bagus. Kamu itu piye tho? Wong kemaren katanya kamu ambil sendal dia kan?”
“Duh pantesan kemaren yang tak ambil sendal laki laki buk. Jangan jangan sendalnya somad”
“Halah yo biarin, salah siapa sandal ditaruh di depan, nda dikunci lagi. Iya kan?”
“Iya buk, pacar aja kalau ditaruh sembarangan langsung diambil. Lhaini “mung sendal” hahaha”. Aku dan ibuku tertawa kompak.

Setelah puas tertawa. Akupun berfikir kembali atas perbuatanku yang makin hari makin konyol. Kali ini aku berpikir untuk bisa mendapatkan lebih ketimbang sandal. Yaitu sepatu. Kebetulan di desaku sedang kedatangan mahasiswa dan mahasisiwi KKN dr salah satu universitas. Dan tiap ke mesjid mereka selalu terlihat memakai sepatu. Sebenarnya pun aku sudah mengincar salah satu sepatu dr mereka. Keliatannya sih mahal tp gak tau juga kao itu barang KW. Ah…mo ori mo KW penting bisa buat nongkrong bareng temen2. Dan siapa tau ada santriwati yg tertarik denganku setelah memakai sepatu yg dibilang lg tren itu..
“Lagi ngomongin apasih daritadi tak dengerin dari dalam kok ibu sama anak kompak banget kalau perihal ibadah yang satu ini, mbok yo bapak juga diajak, siapa tahu bapak dapat ganti sandal yang bapak idamkan “sambil tertawa terbahak – bahak”. Kata bapakku

“Memang aneh benar keluarga usep, paham ibadah tetapi menyerong dari kaidah kebenaran.”
“Eh pak ustadz. Ngapain disini pak? Mau beli sendal?” tetiba pak ustadz sudah ada didepan keluarga bahagia kami.
” Hendak, ini lho. Si siti minta dikenalin sama pemuda yang alim. Ya saya kenalin kamu tho yaa.”
Gadis disebelah pak ustadz nampak malu mali dan hanya tersenyum seolah terpesona dengan ketampananku.
“Aku memang tampan” gumamku dalam hati.
sambil menundukkan kepala, malu – malu usep dan siti berkenalan..
sejak saat itu, mereka sering bertemu dan berbalas pesan.

Leave a Comment