Hening Tanpamu

Beberapa hari yang lalu dekap rindu mengantar diri ini jumpa denganmu di sebuah bengkel, duduk bersampingan di sudut ruang terbuka merajut sua melebur rasa.

Menunggu kelar keinginanmu di sela denyut kepala tiada tertahan, mengalir keselarasan di setiap lantunan kata yang terucap malu.

Biru udara menambah keindahan suasana, rajutan itu mencincang kesemua perihal sulit, amat berani jemari kasarku membuka tas kecil milikmu hingga daku temui permen, pulpen dan tiga spidol warna berbeda, merah, biru serta hitam.

Sedari waktu itu kembali aku menahan langkah karena tak ingin sesat, aku menahan pandangan karena tak ingin khilaf, tapi ternyata tak mudah bila itu untukmu.

Aku kosongkan jiwa tapi bayanganmu menelusup, aku pejamkan mata tapi kau ada dikelopak tak rela lepas, aku sapihkan mimpi ketika tak kuasa menampik kehendak nurani tuk bertemu, berjumpa, bicara, berkata, tertawa, dan berbagi.

Aku menahan jemari biar engkau tak teraba hingga detak jantungmu yang lembut tak membahana sampai padaku.

Aku menutup jendela jiwa tak ingin merobeki realita biarkan malam tetap pekat menyimpan berjuta-juta keinginan dan mimpi.

Aku Tak ingin tersesat dan tak ingin khilaf.
Tidurlah…. seperti aku yang juga mencoba
tuk tidurkan semua yang tak perlu kita bangunkan, namun biarkan spidol yang kau beri kupakai tuk melukis dirimu dalam hening tanpamu.

Leave a Comment