Bhineka Tunggal Ika

Dulu kami diam saja, berkawan pacul di ladang kami hingga senja,
Dulu kami diam saja, berbekal kata mengungkap fakta dan logika,
Dulu kami diam saja, berdagang sayur dan buah dengan untung seadanya,
Dulu kami diam saja, bertangan pena mengajar anak-anak kami tulis baca,
Dulu kami diam saja, bertatap kanvas melukiskan harapan kami senantiasa,
Dulu kami diam saja, berpayung panas ke samudera dengan sampan sederhana,
Akankah kami diam saja, jika ladang kami kini kamu biarkan kering tak berharga?
Akankah kami diam saja, jika dalam pesan kami kamu tak pernah memetik makna?
Akankah kami diam saja, jika di pasar-pasar kami begitu bebas kamu bermain harga?
Akankah kami diam saja, jika anak-anak kami kamu paksakan dengan pendidikan ujicoba?
Akankah kami diam saja, jika lukisan bahagia kami kamu biarkan menjadi potret metafora?
Akankah kami diam saja, jika hasil laut kami kamu lenyapkan dengan limbah dimana-mana?
Wahai nusantaraku, kemana orang tua bangsamu yang katanya bijaksana?
Mengapa petuahnya begitu lambat meramu alam kaya menjadi sejahtera merata?
Wahai negeriku, kemana wakil rakyat jelatamu yang katanya pandai bicara?
Mengapa aspirasi kami terkadang tak sampai hanya karena buta harta dan tahta?
Wahai tanah airku, kemana para cendekiamu yang katanya cakap berkarya?
Mengapa pembangunan kota maupun desa begitu mudah teraniaya mafia?
Wahai Indonesiaku, kemana putra-putrimu yang beretika dan bersahaja?
Mengapa begitu mudah terjerumus dunia malam, bermain panah dan nark0ba?
Dulu kami diam saja, karena kepada tangan-tangan kalian kami percaya!
Kini pun kami tetap diam berdoa, karena jiwa kami bhinneka tunggal ika!
Semoga kami tetap diam saja, hingga kami merasa merdeka sebenarnya.

Leave a Comment