Benarkah Aku Mencintaimu

Menjelang kedatanganmu, aku gembira
Kusambut dengan ucapan, marhaban
bergetar jiwa saat bertemu.
Hari berlalu bersamamu tanpa terasa…begitu cepat

Kusadar kedatanganmu memang aku nantikan
kepergianmu memang buatku sedih.

Namun, aku dihinggapi keraguan, apakah benar aku mencintaimu?
apakah benar aku ingin selalu bersamamu?

Sedangkan, masih sepuluh malam terakhir
hawa nafsu itu mulai bergejolak lagi
suasana hari raya yang tinggal menghitung hari, membuat kesedihan berpisah denganmu seakan sebuah kamuflase belaka.

Aku masih tergiur gemerlapnya dunia
baju baru, hidangan nan lezat, dan semua persiapan mudik yang menyita waktuku
sehingga ibadahku semakin mengendur.

Aku bertanya, benarkah aku mencintamu?
Kenapa kehadiranmu tiada berbekas,
bukankah dirimu menempaku untuk menahan hawa nafsu?

Namun kenapa, belum berakhirpun hawa nafsu itu sama saja. Bahkan semakin menggila, seolah kehadiranmu hanya angin lalu dan ingin cepat berlalu.

Astaghfirullah,
benarkah aku mencintaimu?
Kenapa kehadiranmu tak membuatku berubah, bahkan dari tahun ke tahun.
Hanya sebagai ritual tahunan tanpa ada perubahan
baik sikap, akhlak dan hawa nafsuku..!

Sungguh, aku malu
aku malu dengan diriku
aku malu kepadamu
aku malu kepada Allah.

Apakah aku mencintaimu, wahai bulan Ramadhan.

Leave a Comment