Bangsaku

dihari yang penuh tanda itu
saat langit malam bersemburat merah
Jutaan kupu – kupu hitam memenuhi langit
ribuan kunang – kunang mewarnai gelap

tanda itu
mengantarkanku ke lorong – lorng kosong
menuntunku ke dinding – dinding kelam
sisi – sisi negeriku

Secarik kertas putih
sebuah pena biru
seakan menarik raga ini untuk mendekatinya
tak ada perlawanan
biar kuturuti apa mau hati
hingga terciptalah sajak sederhana ini
sajak ini kupersembahkan untuk mu
dengarlah
aku buka presiden
aku bukan menteri
aku bukan pejabat
apalagi petinggi – petinggi negara
akku ini hanya ingin mewakili bisikan rakyatmu
sungguh , bisikan yang tak mengenakan hati
“Revolusi Mental”
ku dengar , negerimu sedang kalut dengan kata itu
setahuku
revolusi berarti perubaha
mental berarti karakter diri
lalu, perubahan seperti apa yang kau inginkan ?
sudahkah kau menengok negerimu sendiri ?
lihatlah
para aktor plitik yang merampas hak kami
para aktor politik yang mengabaikan kewajibanya
mereka sang tikus – tikus negeri
mereka tahu hukum
mereka berpendidikan
aku yakin itu
tapi sepertinya
mereka menganggap hukum hanya permainan
jalan kebenaran rupanya telah tertutup diatas kekuasaan
jika melihat itu semua
apakah kau masih yakin akan adanya ” Revolusi Mental ” ?
seberapa yakin kah engkau ?
100 % . . . ?
200 % . . . ?
atau bahkan . . . 1000 % ?
bukan kah engkau punya cermin ?
sudah bercerminkah engkau hari ini ?
apa yang kau lihat ?
dirimu sendiri bukan ?
Nampaknya
sama dengan permasalahan ini
jika para aktormu itu tak menghentikan aksinya,
maka jangan salahkan penerusmu !
karena kami akan bercermin padamu
untuk itu
ayolah ajak para aktormu !
ajak mereka bangkit !
agar mereka melihat dunia !
Ayolah
rubah pola pandang mu !
lihatlah kami !
kami hanya ingin mewujudkan niatmu.
agar “Revolusi Mental ” menjadi nyata
tidak sekedar buaian semata !
Negeriku
bak kertas putih nan bersih
namun kini
nampaknya kertas itu telah usang
karena kau biarkan begiu saja
sedikitpun kau tak menyentuhnya]tuk sekedar mengukir prestasi
barang sacuil
negeriku sayang
negeriku malang
kini kau telah usang
namun tak apa
kau tetap negeri tercinta
tanah kelahiranku
tenanglah
biar kami bantu bersihkan
akan kami kumpulkan kekuatan
tuk meniup debu – debu diatasnya
akan kami carikan segera tinta biru
agar bangsa ini mendapatkan tempat
bagai goresan baru

Leave a Comment