DIA TAK MENCINTAIKU

Aku baru saja menerima pesan pendek dari seorang yang aku kenal. Isinya menanyakan kabarku, aku jawab keadaanku baik-baik saja. Lalu datang lagi sms berikutnya, “Aku ingin ‘ngobrol denganmu. Nanti aku kabari lagi”. Hatiku melonjak kegirangan secepatnya aku balas, “Kapan?”. Satu menit, dua menit sampai lewat seperempat jam tak ada balasan. Aku tak heran. Sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Aku mengerti kapan waktunya berhenti.

Sebetulnya dia orang yang sangat baik. Hampir tak pernah smsku tak dibalas, jika aku yang mengirim pertama. Tapi kelanjutannya aku tak tahu. Bisa saja jadi obrolan panjang, bisa cuma singkat saja. Kadang-kadang aku pun bingung kalau harus membalas sms yang aku tidak tahu persis maksudnya. Dan aku memilih mengikuti caranya, tak membalas sms tersebut.

Dan mungkin sudah lebih dari 14 hari berlalu, baru kemudian datang sms isinya, “Yuk kita ngobrol, (disebutkan tanggal dan tempatnya). Datanglah selepas ashar. Jangan merasa terpaksa. Datang kalau memang mau datang. Gak usah datang kalau memang gak mau.”

Aku hanya tertawa, itulah gaya khasnya. Agak aneh memang. Tapi tidak apa-apa. Biarkan saja.

—-

Ternyata aku jadi menemuinya di suatu tempat yang dijanjikan,

Dengan gemulai dia menarik kursinya,

“Duduk!” katanya sambil tersenyum manis

Aku menurut saja

Ketika waiter datang dengan cekatan ia mengambil menu, kemudian menulis pesanan. Dia samasekali tidak menanyaiku.

“Aku coklat panas, untukmu kopi susu” bibirnya tetap senyum

“Aku juga memesan kue-kue kecil untuk kita berdua. Terserah kalau kau mau pesan yang lain. Pesan sendiri saja” ucapannya terasa datar

“Dan ingat jangan merokok di depanku” katanya tegas dan bersungguh-sungguh.

Lalu ia mengeluarkan HP dari tasnya. lalu asyik membacanya, tanpa menghiraukan aku.

Aku hanya diam menyaksikan tindak tanduknya, kini giliranku yang tersenyum.

Pikiranku melayang , darimana dia tahu bahwa aku memang kadang-kadang lebih suka dipimpin seorang perempuan. Dan dengan senang hati aku selalu memberi kesempatan perempuan berdiri di depan untuk memimpin.

Ketika pesanan kami datang, dia segera menyimpan HPnya ke dalam tas kembali. Sikapnya menjadi lebih ramah dan lembut kepadaku,

“Jangan diminum dulu, kopinya masih panas” katanya

“Sini, biar aku aduk dulu biar gulanya larut

” Cobalah kue-kue ini, enak tidak menurutmu” sambil menyodorkan piring kue ke dekatku

“Sudah-sudah” kataku agak kagok mengingat sikapnya di awal tadi
“Biar aku sendiri saja”

“Kenapa? Tidak boleh aku melayanimu?”

“Boleh, ya boleh” kataku buru-buru.

Perempuan ini begitu dinamis, pandai memainkan irama dan tempo. Kini dia mengambil posisi melayaniku. Bagaikan aku ini orang yang sangat istimewa baginya. Aku merasa melayang terbang. Dia begitu luwes dalam segala hal.

Beberapa menit kami berdua hening.

“Aku ingin mengatakan satu hal padamu” katanya pelan membuka obrolan

“Ya” kataku

“Aku senang kau berterus terang mengatakan kau mencintaiku. Aku samasekali tidak keberatan. Sejujurnya aku pun bersimpati kepadamu Tetapi ada yang ingin aku jelaskan”

Sejenak dia diam, aku pun terdiam. Waktu terus berjalan, entah berapa detik telah terlewati. Baru dia mengatakan sesuatu

“Tapi aku tidak mencintaimu”

“Artinya kau sudah punya pendamping?”

“Bukan urusanmu. Urus saja dirimu sendiri.” katanya agak keras dengan sorot mata yang tajam.

Aku kaget, sungguh aku tak menyangka dalam waktu singkat sikapnya bisa berubah begitu tiba-tiba. Perempuan ini memang memiliki kekhasan tersendiri. Kelembutan dan keakrabannya terhadapku bisa mendadak berubah. Aku bagaikan menjadi orang asing yang belum pernah dikenalnya.

Tapi segera disambungnya,

“Mari kita batasi pembicaraan untuk urusan kita berdua saja” katanya santai

“Aku akan bicara denganmu menggunakan perasaanku, karena kau seorang penulis” katanya

“Dan seorang penulis selalu memulai menulis cerita dengan perasaan, karena cerita yang ditulisnya biasanya bertujuan untuk menggugah perasaan orang. Benar begitu?

Aku mengangguk pelan.

“Baiklah”

“Aku suka mebaca tulisanmu. Setiap tulisanmu aku baca. Namun tidak berarti aku sepenuhnya menyukai isi tulisanmu. Tapi seringkali aku merasa surprise. Aku selalu berhasil menemukan diriku didalamnya. Meskipun aku tahu kau telah berusaha keras menyembunyikannya”

“Tunggu dulu, jangan salah sangka. Sedikit pun aku tidak pernah merasa bangga. Aku justru bangga pada kejujuranmu. Apakah ada yang terbaik dari diri seorang penulis, kecuali apa yang ditulisnya penuh dengan kejujuran?”

“Aku tahu penulis itu punya banyak cinta”

“Maksudmu aku seorang playboy” kataku tidak setuju

‘Bisa juga…’ dia tersenyum lebar

‘Jadi benar, kalau menurutmu aku ini bukan laki-laki yang bisa mencintai seorang perempuan setulus hati?

Dia tertawa,
“Sori, aku hanya bergurau. Maksudku begini penulis itu punya kecintaan yang besar pada cerita. Penulis itu juga punya kecintaan besar pada peristiwa yang dramatis”

Dia berhenti sebentar, menunggu tanggapanku. Karena aku hanya diam saja, ia melanjutkan kata-katanya,

“Dan tentunya seorang penulis itu punya rasa cinta pada kebenaran, kemanusiaan, kesempurnaan, keunikan, dan keindahan”

“Penulis punya kepribadian tersendiri, karena ia cinta pada dualitas, sensualitas, impian, humor dan bahasa. Selain itu, punya kecintaan yang besar terhadap diri sendiri”

“Tidak benar. Aku bukan orang seperti itu” sanggahku keras

“Tidak bisakah kau diam, dan mendengarkan aku? balasnya ketus

“Semuanya memang tidak kelihatan ada pada dirimu sebagai penulis, tetapi akan selalu tampak jelas dalam cerita yang kau tulis”

“Lalu?” tanyaku tak mengerti

“Sedangkan aku mengidamkan orang yang benar-benar mencintaiku sepenuh hati. Bukan karena aku egois. Tapi karena semata aku memang sangat membutuhkannya saat ini”

“Artinya aku bukan orang pantas mencintaimu, begitukah maksudmu

“Tidak begitu maksudku. Kau boleh mencintaiku hinngga kau bosan. Kau boleh merindukan aku setiap waktu bila kau mau. Kau boleh memanggilku setiap kali kau membutuhkan aku.Tapi ingat itu hanya dalam cerita yang kau tulis”

“Di dunia nyata, cukup kau tahu, bahwa dikejauhan ada seorang wanita, yaitu aku, yang menaruh simpati kepadamu. Tapi aku tak bisa mencintaimu..”

‘Aku mengerti. Tidak mengapa” jawabku setengah yakin.

“Dan aku ingin bertanya kepadamu, tak bolehkan aku menikmati hidupku, bagai dirimu di saat kau menikmati menulis cerita?”

“Aku menikmati cerita yang kau tulis. tapi aku tak menyukai kehidupanmu. Karena bagiku seniman, entah dia itu penulis atau pelukis, baginya tidak ada aturan. Dia tidak suka diatur. Tak heran jalan hidupnya sering tak terarur. Sedangkan aku lebih suka keteraturan. Aku ingin semuanya teratur rapih.”

Aku mencintai setiap kalimat yang kau tulis, tapi aku memahami dirimu dari sisi lain. Perasaanku mengatakan kau tak mungkin bisa mencintaiku sepenuh hati. Kau hanya jatuh cinta pada tulisanmu sendiri. Dan kau akan merasa bahagia jika karyamu dicintai banyak orang”

Lalu aku dan dia terdiam melayang dalam lamunan masing-masing.

Tiba-tiba keceriaan muncul di wajahnya, ia bertanya,

“Hei, kapan novelmu diterbitkan”

“Sabtu dan Minggu ini akan di ‘launching’

“Secepat itu”

“Sebetulnya sudah lama tertahan di penerbit, hanya kabar kepastiannya baru aku terima beberapa hari yang lalu”

‘Selamat ya..”

“Terima kasih”
—-

Hari Sabtu, hari saat peluncuran bukuku. Aku benar-benar sibuk menandatangani novelku untuk pembacaku yang sudah memesan sejak lama. . Aku bayangkan hari Minggu besok, pasti lebih ramai lagi. Dan aku pasti akan lebih sibuk lagi. Tapi dua hari yang melelahkan ini benar-benar membahagiakan hatiku.

Sore hari aku pulang ke rumah. rasanya malan minggu ini aku hanya ingin istirahat di rumah saja. Di pintu masuk rumahku ada seikat bunga. Aku baca kartu ucapan selamat yang terselip di situ “Sukses selalu. Aku jatuh cinta pada novelmu”

Tanpa nama. Tapi aku segera tahu siapa yang mengirimkannya, karena aku tahu kelanjutan kalimat itu

“Tapi aku tak mencintaimu…”

Leave a Comment