Blog Single

08 Mei

Ringkasan Ceramah Reconnect with Qur’an – Nouman Ali Khan

“Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya,”Apakah taman syurga itu?” Beliau menjawab,”Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).”

(Riwayat At-Tirmidzi)

Semoga bermanfaat dan selalu memberikan reminder yang baik bagi teman-teman muslim muslimah yang membaca postingan ini. Happy reading!

Reconnect with Qur’an

Ustadz Nouman Ali Khan

Masjid Istiqlal, 6 May 2018

Kisah dari Nabi Ibrahim A.S

Ia hidup di tengah kaum di mana hanya ialah satu-satunya yang memiliki petunjuk (guidance) dari Allah SWT. Ia meninggalkan kaumnya dengan berdoa kepada Allah SWT.

“Ia menciptakanku dan memberiku petunjuk. Ia yang akan memberikanku makanan dan minuman.”
Petunjuk merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan lebih penting daripada makanan dan minuman. Ketika Nabi Ibrahim A.S meninggalkan kaumnya, ia tidak berpikir bagaimana ia akan bertahan hidup karena ia percaya Allah akan menjaganya.

Hidup ini tidak akan terhenti begitu saja. Kita akan dibangkitkan setelah mati dan di kehidupan yang kedua tidak ada lagi petunjuk yang diberikan. Sehingga petunjuk merupakan yang terpenting di kehidupan pertama.

“Semoga Allah mengampuniku”
Kita tidak akan berpikir tentang orang lain di hari perhitungan. Karena it’s all about ourselves. Tidak akan kita pikirkan keadilan atas orang lain, fokusnya pada diri kita sendiri.

“Berikan aku kekuatan untuk mengambil keputusan yang kuat, dan bersamailah aku dengan orang-orang yang baik”
Nabi Ibrahim diberikan banyak ujian seperti harus memutuskan untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail A.S. Kemudian harus melemparkan dirinya ke dalam api. Harus meninggalkan istri dan anaknya di tengah gurun. Manusia membutuhkan orang lain untuk membantunya. Kita juga butuh doa-doa seperti doa Nabi Ibrahim ini.

Nabi Ibrahim berdoa, “Provide for me someone who will speak the truth of me in the last generation.”

“Ya Allah, jadikan aku contoh yang baik bagi orang-orang sesudahku”
Allah memberikan Rasulullah SAW untuk generasi sekarang. Bukti doa Nabi Ibrahim dikabulkan.

“Ya Allah, jangan permalukan aku ketika mereka semua dibangkitkan kembali pada hari itu”
Pada hari ketika uang dan anak-anak tidak akan menjadi penolong. Kita tidak akan memikirkan orang lain. Kecuali, ketika orang-orang yang datang kepada Allah adalah orang-orang dengan hati yang baik. Hati yang baik ini akan menjadi nilai yang baik untuk kita.

Kita harus menghubungkan diri kita dengan Allah di bulan Ramadan terutama, jika kita ingin mempunyai hati yang baik.

Doa Nabi Ibrahim dan Ismail ketika membangun ka’bah: “give us muslim children from our children”. Anak-anak dengan hati yang baik akan memberikan keuntungan bagi orang tuanya. Allah mengabulkan doa ini dengan mengirimkan Rasulullah SAW.

Qur’an juga merupakan jawaban dari doa Nabi Ibrahim A.S. Sebagai petunjuk bagi umat manusia. Sehingga Ramadan yang merupakan bulan turunnya al-Qur’an kita rayakan untuk merayakan dikabulkannya doa Nabi Ibrahim. Ketika Nabi Ibrahim membangun ka’bah, ujian-ujiannya sudah selesai. Kita tidak akan memiliki al-Qur’an apabila Nabi Ibrahim tidak berdoa.

Qur’an adalah untuk hati kita.

Bagaimana kita dapat menghubungkan diri kita, connect diri kita dengan Al-Qur’an? Karena “semakin terhubung kita dengan Al-qur’an, semakin kuat kemampuan kita untuk mengambil keputusan.” Oleh karena itu kita harus punya rasa antisipasi dalam menghubungkan diri kita dengan Buku Allah ini.

Ada 5 cara:

Ar-Rahmaan, Alamal Qur’an (Surat Ar-Rahmaan)
Allah Azza wa Jalla mendeskripsikan cintaNya pada kita dengan kata Ar-Rahmaan ini. Yang mencintaimu pasti akan melindungimu. Qur’an merupakan bukti cinta, yaitu surat cinta dari Allah SWT. Kita harus mencamkan ini baik-baik. Allah ingin memberi rahmatnya.

“Semakin kamu mempelajari qur’an, semakin kamu merasakan cintaNya Allah untukmu.”

Surat Al-Anbiyaa
“We have sent a book to you and it has your story in it. It’s talking about you.”

Semua cerita dalam Qur’an dapat diaplikasikan pada diri kita masing-masing.

Bagaimana dengan Alif Lam Miim? Ini berarti bahwa kita tidak tahu semua, dan Allah yang tahu segalanya. Ia akan memutuskan mana yang dapat kita mengerti.

Maka kita harus datang pada Qur’an sebagai seorang pengemis. Sebagai seseorang yang banyak pertanyaan.

Sebagai cahaya
Dengan cahaya kita tidak akan buta. Qur’an sebagai sebuah ide, sebuah pemikiran bahwa setiap kali kita dalam kegelapan, kita harus menyalakan lampu. Terus menerus. Kita harus terus menerus kembali ke Qur’an.

Surat Yunus
“Advice has come to you from your Rabb.”

Qur’an bukanlah hukum atau informasi. Melainkan saran/advice! Dengan cinta dan kasih sayang. Allah tidak ingin menghukummu, Ia ingin memberikan kemudahan dalam hidup kita. Qur’an merupakan healing atau penyembuh bagi kita yang ada dalam ujian.

Bukalah buku ini dan minta APA SAJA kepada Allah, APA SAJA YANG KITA BUTUHKAN. KESEDIHAN APAPUN YANG KITA PUNYA. Untuk menyembuhkan luka, dan rasa sakit di dada kita.

Jadi Qur’an itu: Saran, Petunjuk, Penyembuh

Qur’an mempunyai semua solusi untuk semua masalah kita. Bagaimana kita dapat mempercayainya? Kita harus benar-benar mempercayainya, maka Allah akan membuka hati kita sepenuhnya.

Bulan Ramadan adalah bulan yang penting. Yaitu saat Allah menurunkan Al-Qur’an. Setelah kita menghubungkan diri kita dengan Al-Qur’an, sesuatu harus berubah dalam diri kita yaitu: DOA KITA.

Qur’an: Allah berbicara pada kita

Doa: Kita berbicara pada Allah

Kita bisa melihat keseluruhan Qur’an sebagai sebuah doa. Kita bisa mengubahnya menjadi doa.

Bagaimana dengan Alif Lam Miim? Kita bisa mengubahnya menjadi doa seperti “Ya Allah, Engkau Mahatahu dan aku tidak. Tunjukkanlah dan lindungi aku dari obsesi pada suatu hal yang aku tidak perlu mengetahuinya.”

Bagaimana dengan cerita tentang Fir’aun? Kita bisa berdoa seperti “Ya Allah, ketika aku melihat kebenaran jangan palingkan aku darinya seperti yang Fir’aun lakukan.”

Maka, setiap kita melihat suatu ayat, pikirkanlah bagaimana kita bisa mengubahnya menjadi sebuah doa. Karena doa itu berasal dari hati.

Rekomendasi hal yang dapat dilakukan untuk memahami Qur’an lebih dalam:

Dengarkan/Bacalah penjelasan tentang suatu bagian dari Qur’an lebih dari satu kali.
Dengarkan bacaan dari bagian yang kita pelajari tersebut terus menerus.
Hubungkan diri kita dengan bagian tersebut.
Pikirkan dan renungkan mengapa kita harus melakukan ini.
Kalau kita tidak bisa mempelajari semuanya tidak apa-apa. Tapi ketika kita mempelajarinya setiap hari, berarti kita sukses mempelajarinya.

Ketika kita melakukan ini hubungan kita terhadap Qur’an dan juga Allah akan semakin kuat.

Ramadan datang sebelum perang Badar. 70% isi dari Qur’an sudah hampir semua turun.

Allah berkehendak untuk mengenalkan kembali Qur’an kepada kita. Ketika Ramadan tiba, itulah saatnya kita mengenalkan kembali diri kita kepada Qur’an. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk berbagi kepada orang lain yang mungkin masih jauh dari Qur’an.

Hudalinnas! Temukan kesempatan untuk berbagi tentang Qur’an yang kita tahu ke orang-orang di sekitar kita. Sesuatu yang indah. Jangan hanya ke diri kita sendiri saja, tetapi ke orang lain pun.

Pelajari dulu Qur’an dari diri sendiri, baru share kepada orang lain.

Jangan pernah menjadikan bagian dari Qur’an, bagian dari qalam Allah untuk mengkritik orang. Allah memberikan Qur’an untuk kita sebagai rahmat, sehingga jangan jadikan ini adzab bagi orang lain.

Allah yang berhak mengejudge bukan kita. Jadikan satu ayat dari Al-Qur’an sebagai pengingat bukan kritikan.

Tidak ada yang memberikan manfaat kecuali hati yang baik. Qur’an diberikan sebagai rahmat, sehingga ia harus penuh dengan kebahagiaan. Qur’an lebih baik dari apapun yang kita kumpulkan.

Apabila kita mengambil, mengumpulkan, memahaminya, hati kita akan menjadi baik.

Al-qur’an juga disebut sebagai the rope of Allah (tali Allah). Merupakan tali dari Allah untukmu. Allah selalu menarikmu ke atas. Semakin kita menghubungkan diri pada Qur’an, semakin tinggi Allah menarikmu.

The more you hold it, the higher you get close to Allah.

Berpeganglah pada tali Allah bersama-sama. Jangan sendirian. Dengan menghubungkan diri kita pada Qur’an kita akan semakin mencintai ummat kita. Inilah satu-satunya cara kita bisa bersatu.

If you’re holding to the rope of Allah, you’re holding on to Allah

Wallahu’alam bisshawab.

Demikian yang bisa saya bagikan. Banyak sekali yang saya dapatkan dari beliau. Meskipun mungkin dari catatan ini masih banyak yang belum bisa tersampaikan, semoga inti-intinya dapat terbagikan dan menjadi manfaat bagi saya dan juga semua yang membaca ini. Aamiin.

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699)

Related Posts

Leave A Comment