Program Kegiatan Harian Keluarga

Satuan waktu itu ada detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan tahun. Di bawah detik ada milidetik, di atas tahun ada windu, dekade, abad, dan lainnya.

Satuan waktu paling ideal untuk dijadikan evaluasi atau penilaian adalah pekan dan bulan. Tapi di sini saya mau bahas kegiatan harian keluarga dengan satuan pekan.

Karena satuan pekan ini adalah poros dari rutinitas berulang dalam kehidupan saya dan keluarga. Dan mungkin juga banyak orang lainnya.

Saya akan mulai dari rutinitas yang sifatnya harian (bangun tidur sampai tidur lagi). Baru kemudian akan ada tambahan catatan mengenai agenda-agenda yang sifatnya pekanan.

Yang pasti, terkait dengan pembagian waktu ini, saya membagi waktu utama menjadi 3 yaitu;

Waktu saya.
Waktu istri.
Waktu keluarga.

Karena ada hal-hal yang memang dijalani oleh dan menjadi hak-tanggungjawab masing-masing, tapi ada juga yang hak serta tanggungjawabnya berkaitan dengan keluarga.

Baik yang urusan duniawi dan ukhrowi.

Untuk urusan langit misalnya, saya biasa melakukan amalan A tapi istri tidak, atau sebaliknya. Tapi juga ada amalan yang menjadi kesepakatan bahwa semua anggota keluarga wajib menjalankannya.

Bangun Tidur

Saya dan istri punya kebiasaan masing-masing.

Saya lebih sering bangun pas shubuh atau mendekati waktu shubuh sedangkan istri sudah bangun sejak jam 3 atau setengah 4 pagi dan sudah mulai beraktifitas. Itu sudah dia lakukan sejak masih single.

Istri biasa sholat tahajjud hampir setiap hari, sedangkan saya tidak. Saya biasanya tahajjud kalau memang sudah diniatkan kuat untuk tahajjud ketika hendak tidur malam.

Istri memulai aktifitas pagi dengan sholat malam, sholat shubuh, dilanjutkan beberes rumah.

Kalau saya ada ritual khusus yang memang saya lakukan ketika bangun tidur.

Mengusap muka dan anggota badan yang lecek karena tidur (ini sunnah).
Baca syahadat, baca tasbih, tahmid, takbir, dan lahaula wa laa quwwata illa billah (sunnah).
Baca do’a bangun tidur (sunnah).
Baca do’a masuk kamar mandi, dan menunaikan panggilan alam, heheh.
Saya tidak mengajarkan ini ke istri, dan mungkin istri baru tahu kalau saya punya rutinitas ini ketika ia membaca tulisan ini.

Ada banyak amaliyah lainnya yang saya tidak minta istri untuk mengamalkan juga. Tapi kadang-kadang saya ajarkan beberapa hal yang menurut saya fadhillahnya sangat luar biasa. Seperti salah satunya do’a masuk pasar (kami menghafalkannya).

Setelah Shubuh

Selesai shubuh tilawah. baca ayat-ayat langit. Alhamdulillah.

Kita melakukan wirid ma’tsur (wirid pagi-petang) secara mandiri sendiri-sendiri.

Meski di rumah, ya tetap sendiri-sendiri.

Biasanya kita lakukan ini dari habis shubuh sampai jam 5.30 atau jam 6.00 pagi.

Setelah Tilawah

Saya seringkali langsung ke depan laptop atau hp, memantau aktifitas online, dan menyiapkan to do list hari itu. Biasanya 30 menit selesai.

Kadang saya lanjut main game, zehihi.

Selagi saya main game, istri saya masak nasi atau melakukan pekerjaan rumah tangga yang lain. Kayaknya jahat ya saya, tapi ini udah jadi habbit. Alhamdulillah istri bisa memaklumi kekanak-kanakan saya, huhuhu.

Nanti dari jam 7.30 sampai jam 09.00 kegiatannya random. Ya masing-masing bebas mau ngapain.

Scroll Facebook, cek email, baca buku, baca resep, baca ilmu-ilmu baru, belajar via YouTube, atau hiburan juga via YouTube, dan lainnya.

Jam Aktif

Saya mempunyai jam aktif, menyesuaikan jadwal dinas. Maklum saya bekerja secara shift di Rumah Sakit.

Waktu diluar dinas adalah waktu di mana saya harus maksimal melakukan sesuatu yang produktif.

Dhuha

Ini adalah program wajib keluarga, tapi pada prakteknya bisa dibilang masih suka bolong. Setidaknya setiap pekan harus ada hari yang terisi dengan dhuha.

Saya sendiri berazzam untuk bisa konsisten dhuha 4 rokaat setelah “belajar” konsisten dhuha dengan 2 rokaat.

Sedangkan istri rutin melakukan sholat dhuha 4 rakaat.

Program ini dilakukan rentang waktu jam 08.00 sampai 11.00

Tidur Qailullah

Tidur siang adalah sunnah, tapi ulama berbeda pendapat apakah dilakukan sebelum atau sesudah dzuhur.

Yang saya temui, pendapat paling banyak termasuk dalam mazhab Syafii adalah tidur siang sebelum dzuhur.

Waktu tidurnya juga tidak lama. Cuma 30 menitan.

Kalau istri biasanya tidak tidur siang. Atau kalaupun sedang ingin tidur siang, ia tidurnya setelah dzuhur. Jadi saya bisa minta tolong dibangunin pas tidur siang sebelum dzuhur.

Dalam ilmu kesehatan modern, tidur siang punya segudang manfaat, dan semua pakar kesehatan sepakat durasi tidurnya tidak perlu panjang. Bahkan ada pendapat yang mengatakan cukup deep sleep selama 5 menit insya Allah sudah cukul recharge energi untuk setengah hari yang akan datang.

Silahkan Googling untuk fadhillah tidur siang lainnya dari sisi kesehatan modern.

Ba’da Ashar

Setelah ashar adalah waktu bebas dalam keluarga.

Artinya, kami harus meninggalkan segala aktifitas pekerjaan dan urusan-urusan lain untuk full kembali menjadi istri dan suami.

Tapi di sini bebas. Biasanya kita isi dengan saling cengkramatau berduaan dengan istri duduk sambil ngobrolin hal-hal sepele yang geli, renyah, atau kadang-kadang serius.

Jelang Maghrib

Memasuki jam 5, kami wajib mengamankan aset-aset yang memang diperintahkan Nabi yang mulia untuk diamankan yaitu:

Anak
Pintu rumah
Jendela rumah

Pintu dan jendela ditutup sambil membaca basmalah di setiap proses menutupnya (setiap daun pintu dan daun jendela).

Kalau anak terpaksa harus keluar rumah pada jam terlarang itu, maka kita berikan doa perlindungan.

U’idzuka bikalimaatillaahit-taammah wa minkulli syaithonin-wahaammah wa minkulli ‘ainin-laammah..

Maghrib Sampai Isya

Program keluarga di jam ini adalah kumpul keluarga dengan bersama-sama membaca wirid ma’tsur.

Berbeda dengan pagi yang dibaca sendiri-sendiri, kalau petang ini jadi program keluarga. Di mana saya dan istri kumpul di satu ruangan (kadang di atas kasur di kamar tidur) dengan sama-sama membaca wirid.

Kurang lebih sekitar 10 sampai 15 menit.

Selesai membaca, kita tiup ke telapak tangan dan kita usap ke seluruh tubuh. Kami saling usap. Saya usap istri, istri usap saya.

Setelah wirid selesai kembali ke program masing-masing. Kadang saya balas-balas chat di WA, FB, atau lihat komen di web. Menunggu sampai isya.

Kami jarang tilawah di waktu maghrib, entah mengapa. Ya kadang-kadang aja sih.

Setelah Isya

Super bebas, semaunya sendiri, zehihi.

Biasanya jam 9 istri sudah terlelap. Kami sepakat jam paling larut adalah jam 11 malam. Tapi saya sendiri jam 10 sudah siap-siap ke peraduan.

Karena saya tidak biasa tahajjud, saya komitmenkan untuk witir sebelum bobo. Selama ini masih konsisten di witir 1 rakaat. Belum nambah ke 3.

Witir 1 rakaat ini khilafiyah, tapi saya ngikut mazhab Syafii yang memang membolehkan dan termasuk (dihitung) sunnah.

Sekali dayung, tidur dalam keadaan wudhu yang terjaga adalah perintah dari sang Baginda tercinta. Dilanjut doa terakhir lelap.

***

Kira-kira itu kegiatan sehari-hari kami. Nothing special, cuma berusaha untuk bisa istiqomah dengan kegiatan dan kebaikan yang sederhana.

***

Selanjutnya saya akan bahas agenda pekanan.

Family Time

Setiap hari selalu ada family time, di mana kami secara khusus menyediakan waktu untuk bersama

Itu family time harian.

Kalau yang pekanan, family time kita adalah kencan keluarga pergi ke suatu tempat yang sederhana, yang penting bisa makan dan minum, sambil lihat sekeliling.

Harinya tidak pasti, tapi kami berusaha untuk rutin mengamalkan setiap pekan. Rutinitas ini bisa menjadi wasilah untuk menjaga kualitas keluarga.

Al Kahfi

Ini juga program keluarga, kami wajib melakukan ini setiap Jum’at.

Kalau kebanyakan teman-teman mungkin bacanya setelah Isya hari Kamis malam (yang mana sudah masuk waktu Jum’at). Saya sama istri bacanya hari Jum’at setelah shubuh.

Banyak fadhilahnya, bisa Googling atau baca ini http://www.tigapuluhmenit.com/keutamaan-surah-al-kahfi/.

Sepakbola Tiap Senin

Karena ini adalah program bersama teman – teman BSMI, saya jadi bisa ikut. Ya seneng aja bisa bal-balan rutin, sambil olahraga sambil senang-senang.

Kerja harus seimbang konsumsi dan pola hidupnya.

Liqo

Saya sama istri punya agenda ini masing-masing.

Ini agenda yang insya Allah useful. Buat kamu yang dulu pernah, tapi sekarang tidak (apapun alasannya), balik lagi yuk.

Kekecewaan selalu ada dalam setiap kehidupan. Kita tidak akan pernah puas dengan keadaan kalau menuntut sesuatu yang ideal.

Bahkan di dalam keluarga kita sendiri, nilai-nilai yang ideal sesuai keinginan kita, tidak semudah itu diterapkan.

Itu kenapa saya membuat waktu menjadi 3. Waktu saya, waktu istri, dan waktu keluarga.

Seharusnya juga begitu untuk jama’ah. Kehidupan jama’ah adalah kehidupan tersendiri. Kehidupan keluarga adalah tersendiri, dan pribadi adalah tersendiri. Semuanya harus dipisahkan.

Maksimalkan idealisme itu untuk kehidupan pribadi. Tapi bijak terhadap idealisme ketika berada di keluarga, jama’ah, juga masyarakat.

Silahkan sujud 10 menit ketika sholat sendiri (dhuha, tahajjud), tapi cukuplah 10 detik ketika menjadi imam di keluarga atau di masyarakat.

Buat saya, liqo itu saya niatkan kumpul sama orang-orang sholeh, bukan sarana yang penuh untuk menuntut ilmu.

Justru di situ letak tarbiyahnya. Belajar untuk konsisten, belajar untuk mengikuti tertib, dan belajar untuk selalu duduk dengan orang sholeh.

Ada banyak cara untuk menuntut ilmu, liqo hanya sebagian kecilnya.

Be wise aja intinya.

Membaca Doa

Hampir setiap aktifitas kami isi dengan doa.

Ada banyak doa yang kita hafalkan. Terutama pada aktifitas yang berulang.

Doa masuk pasuk pasar, market.
Doa punya barang baru.
Doa setelah sholat dhuha.
Doa ketika safar.
Doa perlindungan anak.
Doa masuk kamar mandi (dan keluar).
Doa ketika wudhu, setelah wudhu.
Doa ketika sakit (ringan dan berat). Misal pas anak jatuh atau terbentur.
Mau tidur, bangun tidur.
Mau makan, setelah makan.
Doa dijaga iman, hidayah.
Doa perlindungan fitnah.
Doa pasangan dan keturunan yang baik.
Dan doa-doa lainnya.

Alhamdulillah di atas adalah doa yang rutin kami lakukan setiap hari.

To Do List

Kami punya kebiasaan rutin mencatat setiap hal yang ingin dikerjakan pada hari itu, atau hal-hal yang urgent dan soon harus dikerjakan.

Kami punya banyak sticky note dan nempel di mana-mana di rumah. Itu sangat membantu kegiatan kami yang agak-agak random.

Kami harus menentukan kehidupan kami sendiri karena kerja di rumah itu bisa melalaikan kalau tidak ada perencanaan yang tertata rapi.

Terlibat di Masyarakat

Individu-individu di dalam keluarga harus punya peran di masyarakat, yang dengan itu bisa menjadikan suara-suara kita dipertimbangkan di masyarakat.

Ada beberapa orang tetangga yang akhirnya dekat dan suka mendengarkan pendapat-pendapat kita mulai dari yang sederhana sampai yang tentang masalah-masalah kehidupan mereka.

Dari situ pelan-pelan disisipkan nilai dakwah dan pesan-pesan keislaman.

Kesimpulan

Saya mau membuat kesimpulan ini jadi beberapa poin.

Pertama, punya agenda pekanan itu penting, kemudian dibreakdown ke harian.

Kedua, jangan buat sistem atau ketentuan yang ribet di dalam keluarga. Jangan tumpahkan semua idealisme kita di keluarga. Biasakan musyawarah dan evaluasi.

Ketiga, saya punya sistem seperti yang sekarang itu ya tak mendadak begitu. Berproses.

Jadi misalnya 1 bulan latihan istiqomah wirid ma’tsur, setelah itu ditambah lagi amaliyah atau kegiatan lain seperti menghafal doa kalau punya barang baru, diamalkan.

Ditambah lagi latihan buat to do list yang istiqomah.

Pelan-pelan.

Keempat, jangan banyak-banyak, yang penting istiqomah. Banyak hadits yang menerangkan tentang keutamaan yang sedikit tapi istiqomah.

Kelima, semua butuh latihan. Dan butuh banyak korban perasaan, zehihi. Tapi nanti di situlah letak hadirnya kematangan.

Keenam, selalu minta pertolongan Allah. Doa, doa, doa, zikir, shalawat, diperbanyak. Sebagai wasilah tercapainya permohonan dan niat kita.

Catatan Penting

Terakhir nih. Saya dan keluarga adalah manusia biasa yang banyak lalai dan salah. Agenda di atas adalah sebagian bentuk ikhtiar kami untuk bisa mencapai kehidupan yang ideal.

Pada prakteknya syaithan selalu menjalankan pekerjaannya. Ditambah lagi dengan minimnya kadar keimanan kami, jadilah sunnatullah yazidu-wa-yanqus.

Kehidupan kami tak sempurna, tapi dengan adanya acuan seperti di atas, kami tahu apa yang musti dilakukan ketika ada problematika dan dinamika dalam berkeluarga.

Insya allah seperti itu. Monggo kalau ada yang mau diskusi di bawah silahkan.

One Response

Tinggalkan Balasan