Politik Dialektik

 

Satu partai baru telah lahir. Yakni, Gelora Indonesia. Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, dan Sekjennya, yakni Anis Matta, Fahri Hamzah, dan Mahfudz Siddiq. Ketiganya mantan petinggi PKS. Ini fakta yang tak bisa dibantah. Dan ketiganya memang tak ada juga membantah. Buat apa?

 

Tapi mengatakan partai baru ini sebagai PKS Perjuangan, Partai Sakit Hati, dan lain-lain, itu hanya simplifikasi terhadap realitas. Bukan tak boleh, (ya siapa pula yang melarang), tapi terlalu sederhana membaca realitas. Sekaligus, menghapus dialektika yang bergelora dalam realitas itu. Bahwa, tak ada yang “sakit hati” di sini! Itu ditegaskan betul, para pentingginya.

 

Bikin partai baru, kok berlandaskan sakit hati? Yang benar saja. Tapi, itu, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi partai baru ini. Apakah memang sekadar respon emosional belaka? Ataukah berangkat dari pergulatan-pergumulan, atau dinamika pemikiran yang kuat dan ketat. Waktu yang akan menjawab.

 

Seperti Gerindra, NasDem, Hanura, PKPI, yang merupakan pecahan Golkar. Tapi tak ada juga yang menganggap Partai Sakit Hati atau Golkar Perjuangan. Semuanya berdinamika dengan realitas yang dihadapi saat itu. Walaupun Golkar masih eksis, tapi tak bisa ujug-ujug diklaim sebagai perpanjangan politik Golkar di masa lalu. Semuanya sama sekali berbeda dan telah menjalani takdirnya masing-masing.

 

Begitu juga dengan PDIP, PDP, PDI Marhenisme, dan masih banyak lagi, yang merupakan pecahan PDI di masa lalu. Semua berdinamika dengan realitas yang dihadapi saat itu. Sekecil apa pun, pastilah ada pergumulan, dialektika pemikiran yang melingkupinya. Tak sekadar soal sakit hati, posisi politik, dan lain-lain. Tergantung lagi, seberapa kuat dan ketatnya dinamika itu, sebetulnya?

 

Kurang lebih, begitu juga yang dialami Gelora Indonesia. Bahkan, yang lebih dekat menyorot tentang dialektika di dalam tubuh PKS, sangat jelas bahwa sejak awal dialektika pemikirannya sangatlah tajam. Dua arus pemikiran ini terus membesar dan akhirnya memang tak bisa disatukan lagi. Puncaknya, pemecatan Fahri Hamzah, dan penyingkiran tokoh kunci partai yang lainnya, sejak awal tahun 2016 lalu.

 

Tapi, cobalah cari, pernyataan negatif seorang Anis Matta terhadap PKS sekitar empat tahun belakangan. Pasti tidak ada! Bahkan pernyataan Fahri pun, yang sudah dipecat, hampir tak ada yang buruk. Ia hanya “melawan” apa yang dirampas secara semena-mena dari dirinya, yang sudah diperjuangkannya dengan begitu lama. Justru, jejak-jejak melankolisnya jauh lebih terasa, sejak awal.

 

Dialektika pemikiran seorang Anis Matta, Fahri Hamzah, dan Mahfudz Siddiq dalam politik, sungguh terasa kuat. Bahkan, bukan hanya soal PKS, tapi soal Indonesia dan gejolak dunia global yang tak bisa diabaikan begitu saja. Anis membuat buku Gelombang Ketiga dan Arah Baru Indonesia. Fahri, entah berapa buku, tulisan, yang sudah dibuatnya? Semua tak sedikitpun menyingung soal PKS, apalagi membesar-besarkan persoalan posisinya di PKS.

 

Jadi, jelas, tak ada yang sakit hati di sini. Tak ada yang terlalu personal dan emosional dengan berdirinya Gelora Indonesia. Seperti partai-partai pada umumnya; lahir, tumbuh, berkembang, atau mati; semuanya mengalami dialektika masing-masing. Gagal-berhasil, itu soal lain. Waktu yang hanya bisa menjawab. Seperti Gerindra, NasDem, yang sudah eksis, itu bukan lagi Golkar di masa lalu. Termasuk, kalau nanti Gelora eksis, itu tak ada kaitannya lagi dengan PKS.

Leave a Comment