Perempuan dan Pergerakan

Membicarakan perempuan dan gerakan memang menarik, apalagi sejak dahulu, sejarah telah merekam bagaimana jejak perempuan dan gerakan itu sendiri.

Dari jaman Rasulullah, kita akan senantiasa ingat bagaimana peran Khadijah R.A sebagai best supporting system perjuangan Nabi. kita juga akan senantiasa ingat bagaimana peran Asma’ binti abu bakar yang rela hamil tua naik gunung demi mengantarkan logistik untuk nabi dan ayahanda.

Pada jaman awal Indonesia saat masih dijajah, sejarah juga mencatat peran heroik dari Dewi Sartika. meski lahir dari keluarga bangsawan, tapi tidak surut memperjuangkan hak rakyat. terutama pendidikan bagi kaum wanita. mendirikan sekian sekolah agar perempuan pada jamannya, mampu merasakan pendidikan yang saat itu kebanyakan hanya mampu dirasakan laki-laki.

Jauh setelah kemerdekaan Indonesia, tahun 2000-an, saya begitu teringat dengan salah satu pejuang parlemen muslimah, (almarhumah) Yoyoh Yusroh, yang dengan luar biasanya memperjuangkan hak ummat. disamping menjadi ibu dari sekian belas anaknya, tapi tetap mampu bersuara lantang terhadap kebathilan. terlibat aktif dalam isu palestina dan ruu anti pornografi dan pornoaksi, serta lainnya. Dan disela kesibukannya, tapi tak lupa tetap menjaga ibadah kepadaNya.

Potret perempuan-perempuan luar biasa dari masa ke masa. Perlu dipahami peran sebagai seorang perempuan bahwa ada kewajiban-kewajiban yang harus perhatikan.

Secara umum ada dua,

1. Kewajiban terhadap diri sendiri
Sebagai seorang individu yang senantiasa menghamba kepadaNya, ada beberapa aspek yang harus dibangun, yakni ruhiyah dan fikriyah.
Aspek ruhiyah menjadi motor dari segala sisi. Betapa penting agar jiwa kita senantiasa diupayakan untuk bersih, karena hati yang bersih akan melahirkan laku yang benar pula. Para pendahulu yang luar biasa membuktikan, diri yang hebat disebabkan hubungan dengan Sang Pencipta yang dekat.

Aspek fikriyah atau kekuatan akal. Menjadi perempuan yang akan terjun ke dalam gerakan penting sekali untuk memiliki pemahaman yang benar dan utuh. Karena amal atau gerak yang tidak dilahirkan dari sebuah pemahaman maka akan lemah dan rapuh. Penting bagi perempuan untuk senantiasa memperbaharui tsaqafah islamiyah sebagai dasar bergerak serta pengetahuan-pengetahuan umum lainnya. Solusi lahir dari permasalahan, menjadi penting pula untuk memahami permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar kita.

2. Kewajiban terhadap sesama
Setelah menunaikan kewajiban terhadap diri sendiri, bergerak ke tahap selanjutnya untuk peduli terhadap sesama. Disini peran perempuan dan gerakan begitu dimainkan. Mengapa harus bergerak? Berawal dari salah satu dari tiga tuntutan iman kita, al amal bil jawarih, beramal dengan seluruh anggota badan. Ibarat air, semakin bergerak dan mengalir, semakin jernih dan semakin sehat air itu. Pun begitu kita sebagai perempuan, semakin banyak amal baik yang diproduksi, semakin banyak daya untuk membersihkan dirinya karena amal baik menjadi penghapus dosa.

Usai kita pahami alasan mengapa kita sebagai perempuan harus bergerak, mari melihat bagaimana perempuan dan gerakan saat ini.

Gerakan perempuan saat ini

Isu yang kerap dihembuskan terkait perempuan dan gerakan ialah feminisme dan kesetaraan gender. Mustahil perempuan dan laki-laki disamakan perannya. Karena Allah jelas menciptakan perempuan dan laki-laki berbeda secara fisik dan psikologi. Saat ini jaringan gerakan perempuan di dunia bergerak mengacu pada Konvensi PBB tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (CEDAW – Convention on the Elimination of all
forms of Discrimination Against Women). Prinsip yang dipegang dalam CEDAW adalah non-diskriminatif, keadilan substansitif dan kewajiban negara. CEDAW disepakati tahun 1979 dan diratifikasi Indonesia dengan UU No 7 Tahun 1984. Yang dimaksud diskriminasi menurut CEDAW adalah pembedaan, pengucilan dan pembatasan yang dibuat atas dasar jenis kelamin yang mempunyai pengaruh dan tujuan untuk mengurangi atau menghapuskan pengakuan, penikmatan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, sipil atau apa pun lainnya oleh kaum perempuan terlepas dari status perkawinan mereka atas dasar persamaan antara laki-laki dan perempuan.

Lantas dimana posisi perempuan sebaiknya?

Gerakan perempuan sudah semestinya menjadi gerakan terbuka, bersinergi dengan gerakan perempuan yang lain di Indonesia dalam isu-isu universal. Namun tetap, prinsip yang mesti dipegang sesuai dengan syariah Islam. Selama tidak bertentangan dengan syariah, perempuan bisa berkolaborasi dengan gerakan perempuan lain. Bersinergi menghasilkan pengaruh yang lebih luas.

Permasalahan-permasalahan sekitar, membutuhkan peran perempuan serta untuk membenahi. Banyaknya jumlah perempuan dibanding laki-laki membutuhkan turut andil perempuan itu sendiri. Gerak perempuan bukan untuk mengalahkan laki-laki, tapi sebagai partner kebaikan dalam melangkah dan berjuang. Pembenahan diri sendiri dengan bergerak itu juga bekal dan persiapan sebelum tahap perempuan selanjutnya untuk membentuk keluarga yang baik

Kita memang tidak akan tuntas untuk perbaikan diri, tapi sembari memperbaiki diri, baik kiranya memperhatikan sekitar juga.

Mengutip kata erdogan;

Kemenangan dalam pertarungan demokrasi tanpa didukung dan dikendalikan oleh para perempuan adalah hal yang mustahil. Sebuah sastra yang tidak mendapatkan sentuhan tangan wanita akan jauh dari ketelitian, keanggunan dan kedalaman makna. Jika di sebuah negara para perempuannya tidak aktif dalam dunia bisnis dan kerja, yakinlah bahwa kemajuan perkembangan pencapaian target-targetnya hanyalah sebuah mimpi. Seperti yang dinyatakan oleh sebagian orang, perempuan dan laki-laki bukanlah saingan tapi pelengkap antara satu sama lain.

Tinggalkan Balasan