Perempuan dan Pendidikan

Ibu adalah madrasah pertama, mungkin kita tidak asing dengan kalimat tersebut. Ibu dan Pendidikan, memang tidak bisa dilepaskan. Salah satu peran yang menjadi kewajiban bagi seorang perempuan adalah mendidik. Jika rumah diibaratkan sekolah, maka kepala sekolah adalah ayah dan ibu adalah gurunya. Namun peran teknis terbesar ada pada ibu. Pendidikan yang diberikan kepada anak sebenarnya bukan dilakukan setelah anak itu lahir, namun mendidik sudah dilakukan sejak dalam kandungan. Tentunya dengan cara yang berbeda dengan pendidikan ketika anak sudah terlahir didunia.

Fitrah perempuan sebagai pendidik juga dijelaskan oleh Allah, _Ashsholihatu qonitatun haafidzatun_, bahwa kewajiban istri adalah taat dan memelihara. Istri wajib taat kepada suami, selagi perintah suami tidak menyimpang dari aturan Allah dan sunnah Rasul. Sedangkan kewajiban memelihara adalah menjaga harta suami, anak adalah salah satu harta yang berharga. Sehingga sudah barang tentu mendidik adalah tupoksi seorang istri.

Namun, di era kids jaman now ini, saya mengamati masih banyak orangtua, yang memasrahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada Lembaga pendidikan. Memintarkan anak, ya tugas guru di sekolah. Tugas men-shalih-kan anak ya tugas guru ngaji atau TPA. sedangkan tugas orangtua adalah mencarikan nafkah bagi penghidupan sang anak. Tentu hal ini tidak sesuai fitrah pengasuhan. Sesungguhnya anak-anak adalah masa imitasi, yakni peniru ulung. Apa yang dia sering lihat, rasakan dan terima secara berulang-ulang, akan masuk menjadi bekal bertindak, berinteraksi dan bersosialisasi. Dan area pertama kali anak belajar dan meniru adalah lingkungan rumah. Jadi sudah pasti orangtua merupakan subyek yang banyak ditiru oleh anak. Disini sebenarnya proses mendidik sedang berlangsung.

Maka, tidak heran jika kita juga sering mendengar kalimat buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Ini menjadi kiasan seperti apa perilaku, sikap dan sifat anak, orangtua menjadi sumber pembentuk terbesar. Maka dibutuhkan sosok yang meluangkan waktu, pikiran dan tenaga optimal untuk membersamai pendidikan dan tumbuh kembang anak. Ibu, dialah orangnya. Sebab, sosok yang familiar bagi anak, yang memiliki ikatan paling kuat dan memahaminya adalah ibu

Sekolah formal, TPA dan Lembaga pendidikan lainya adalah sarana bagi anak untuk menambah wawasan, keilmuan dasar, ilmu agama, dan keilmuan lain yang juga berfungsi memupuk minat bakat anak. Namun ibu tetap perlu memantau bagaimana perkembangan, perubahan dan perilaku bagi anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *