Peran Orangtua dalam Pendidikan Anak

Tsunami di Aceh tahun 2004 adalah sebuah bencana yang dahsyat. Jumlah korban wafat mencapai puluhan ribu jiwa. Manusia tak mampu menghindarinya, tatkala Tuhan sudah menggariskan takdir-Nya.

Namun ada juga malapetaka yang besar, yang bisa terjadi di mana saja. Tidak hanya di Aceh. Tidak hanya di Indonesia. Gelombangnya bisa menyerang setiap keluarga di seluruh dunia. Korbannya bukan ribuan lagi, tapi bisa jutaan, atau bisa lebih dari itu. Malapetaka besar dunia itu adalah bencana yang menimpa anak-anak, ketika mereka, tidak menemukan seorang pun, di dalam keluarga, di rumah mereka, untuk diajak bicara!

Kabar baiknya, malapetaka besar ini bisa dihindari. Asalkan setiap orangtua mau belajar. Mau memahami apa saja yang bisa menjadi penyebab malapetaka tadi. Mau mempelajari apa yang bisa dilakukan untuk menghindarkan keluarga dari bencana. Dan mau berubah, memperbaiki diri, serta mencoba pendekatan yang berbeda.

Ada juga kabar buruknya, yaitu, ketika saya dan istri saya, atau siapapun orangtua di dunia ini, menganggap bahwa masalah ini bukanlah masalah di keluarga saya. Merasa ‘baik-baik saja’ sering menjadi awal yang kurang baik dan terkesan takabur. Sebaliknya, ‘terus belajar dan siap berubah’ selalu membawa ke arah hasil yang lebih baik dan membahagiakan.

Esai ini lebih menyerupai alarm supaya para orangtua, saya dan istri saya termasuk di dalamnya, bisa lebih mengoptimalkan upaya mereka untuk menghindari terjadinya malapetaka besar tadi, yang bisa mengintai setiap keluarga, tanpa mereka mungkin menyadarinya.

Membangun Komunikasi, Menjalin Persahabatan

Setiap orangtua pasti punya rasa sayang terhadap anak-anaknya. Sesuatu yang wajar. Alamiah. Anugrah ilahi. Namun jika kurang cermat, rasa sayang tadi bisa menuai malapetaka. Misalnya, saking sayangnya, orangtua membelikan gadget atau tablet buat anak-anaknya.

Tidak ada yang salah dengan rasa sayang itu. Tidak ada yang salah dengan pemikiran atau pertimbangan bahwa anak-anak perlu mendapatkan pengenalanlebih dini terhadap produk canggih demi penguasaan teknologi. Yang berbahaya adalah, ketika anak-anak menjadi terlalu terobsesi dengan games yang membuat mereka bergerak malas untuk mandi pagi, dan terserang rasa malas yang dahsyat untuk menunaikan shalat! Dan malapetaka juga makin menjadi ketika mereka
lebih suka berbicara kepada tabletnya ketimbang kepada kedua orangtuanya!

Dalam hal ini, saking sayangnya terhadap anak-anak, orang tua menerapkan aturan weekend-only buat mereka untuk mengakses tablet mereka. Juga untuk menonton televisi. Tanpa tablet di tangan, tidak berarti anak-anak ready to go saat adzan berkumandang. Mereka punya kesibukan lain. Entah membaca buku, main bola, bulu tangkis, atau aktivitas kebalikannya, yang justru memasukkan energy, seperti makan dan ngemil. Begitu adzan terdengar, mereka seperti tidak mendengar apa-apa.

Begitu adzan sudah kelar, orangtua sudah basah oleh air wudhu, bisa saja mereka masih tenggelam dalam kesibukan tadi. Ketika seruan ‘Ayo wudhu!’ sudah tidak mempan, muncul godaan untuk berseru lebih keras. Satu tanda seru tidak cukup, mungkin butuh tiga!!!

Tapi Tuhan boleh jadi tidak senang dengan cara ini teriak-teriak seperti ini. Yang harus segera diingat, situasi ini bisa saja sudah ada di skenario Beliau Yang Maha Kuasa dan Bijaksana, untuk menguji kesabaran orangtuanya.

Saat seperti itu adalah saat untuk membuka pintu komunikasi.

Orang tua harus mengeri pentingnya membuka jalur komunikasi dan menjadi sahabat terdekat bagi anak-anaknya. Menjadi tempat bertutur tentang apapun yang terjadi saat mereka tidak sedang bersama. Bersahabat dan membuka jalur komunikasi dengan teman-teman dekat anak, baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Membuka kran komunikasi ini menjadi semakin penting terutama saat anak-anaknya menginjak usia remaja dan mulai banyak teman-teman lawan jenis mereka yang datang singgah ke rumah.

Membangun komunikasi sudah pasti penting. Tapi tidak harus verbal. Simbol-simbol tertentu, bunyi-bunyian atau musik, bisa juga digunakan untuk membangun komunikasi. Musik juga membantu mengoreksi hal yang salah, meski tampak sepele dan kecil, menjadi benar. Saat mengantar anak-anak masuk sekolah, mungkin anda akan menemukan bahwa cara anak-anak mencium tangan orangtuanya, tidak lagi benar. Tidak semua anak sih, ada beberapa, mungkin cukup banyak, yang cara cium tangannya perlu dikoreksi. Mencium berarti pakai hidung. Tapi anak-anak sering menggenggam uluran tangan kanan orang tuanya, dan menempelkannya di pipi.

Sering terjadi, saat membangun komunikasi, ada pesan tertentu yang ingin orangtua sampaikan kepada anak-anaknya. Ada dua hal yang menjadi landasan penting dalam hal ini. Pertama, muatannya. Pesan itu memuat nilai kebenaran. Misalnya, saling menolong. Nilai kebenarannya mutlak, universal. Tidak bisa ditawar atau diragukan lagi. Kedua, cara menyampaikannya. Tidak boleh buru-buru, tapi harus penuh kasih sayang dan dengan kesabaran.

Dalam pendidikan anak, kesabaran adalah salah satu elemen penting yang tidak boleh dikesampingkan. Salah satu contoh kesabaran yang menginspirasikan bisa kita pelajari dari kisah Nabi Ya’qub ‘alayhis salam. Beliau adalah seorang ayah yang luar biasa. Anak laki-lakinya diculik, dibuang di parit, di tengah hutan, dan anak-anak laki-lakinya yang lain, yang melakukan perbuatan itu kembali dengan baju berlumuran darah palsu. Pertanyaannya, apakah Ya’qub tahu bahwa
mereka sedang berbohong? Sudah pasti, sang ayah tahu. Tahu bahwa mereka melakukan sesuatu yang salah secara mengerikan. Pertanyaannya berikutnya, apakah Ya’qub lantas bilang, “Kalian semuanya sampah! Kalian balik aja kehutan dan bawa Yusuf kembali ke rumah!?” Tidak. Sama sekali tidak. Ya’qub memiliki kesabaran yang luar biasa. Mengapa Ya’qub bisa seperti itu? Karena, Ya’qub adalah seorang ayah yang terampil. Seorang ayah, yang sungguh-sungguh peduli akan pendidikan anak, tahu, kapan saatnya menasihati anak-anaknya, dan kapan saatnya anak-anak itu telah merdeka, yaitu saat di mana mereka tidak akan mendengarkan kita, betapapun kita bicara banyak dan berbusa-busa kepada mereka.

Jadi, ada saat di mana satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh seorang ayah adalah, memiliki kesabaran yang luas. Karena saatnya telah tiba untuk anak-anak itu, di mana mereka memiliki diri mereka sendiri. Tugas orangtua adalah sebelum mereka mencapai titik ini. Dan sebelum mereka mencapai titik ini, hal terbaik yang bisa orangtua lakukan adalah mengenalkan mereka kepada famili,
tetangga, lingkungan agama, teman, kenalan, yang lebih baik. Yang kita tahu persis, mereka adalah orang-orang yang anak-anak kita boleh mencontoh kehidupan maupun sifat-sifat mereka. Dengan upaya ini, kita sedang melakukan pengkondisian supaya anak kita bisa mencontoh orang-orang yang baik tadi. Semakin sering anak-anak kita melihat contoh yang baik, maka mereka akan berpikir bahwa yang normal adalah melakukan apa yang dicontohkan oleh orang-orang baik tadi.

Membangun komunikasi dan menjalin persahabatan juga perlu dilakukan di saat ada perubahan.

Peran Orang Tua Dalam Pendidikan Anak

Peran pertama yang penting untuk dimainkan oleh setiap orangtua adalah membangun komunikasi dan menjalin persahabatan dengan anak-anaknya. Komunikasi adalah kunci. Bisa verbal, bisa nonverbal. Ketika orangtua ingin menyampaikan pesan, perlu dipastikan bahwa pesan itu mengandung nilai kebenaran yang universal. Berikutnya, pesan tadi perlu disampaikan dengan penuh kasih sayang dan dengan kesabaran. Seperti pesawat terbang, pesan itu landing-nya diusahakan sebisa mungkin mulus. Semua penumpang, dalam hal ini, anak-anak kita, masih tetap merasa nyaman. Mereka lebih berasa mendapatkan inspirasi ketimbang mendapatkan perintah.

Peran kedua yang tak kalah pentingnya adalah mengenalkan anak-anak sedini mungkin dengan orang-orang atau figur yang bisa dijadikan contoh. Anak-anak bisa meneladani mereka. Anak-anak menjadi terbiasa melihat perilaku yang baik, yang akhirnya mereka anggap normal.

Peran ini sangat penting dimainkan oleh para orangtua jauh-jauh hari sebelumnya saatnya tiba buat anak-anak kita untuk berpikir merdeka. Jika anak-anak sering melihat contoh yang tidak baik, mereka akan berpikir bahwa itu lah yang normal dan hal ini sangat berbahaya jika terbawa anak-anak kita saat mereka dewasa.

Yang tidak boleh kita lupakan, upaya kita, para orangtua, tetaplah sebuah upaya. Hasilnya selalu kita pasrahkan sesuai kehendak-Nya. Nabi Nuh juga seorang ayah yang luar biasa. Kesabarannya pun tercatat dahsyat, melayani kaumnya hingga 950 tahun. Tapi anak beliau pun tidak terselamatkan.

Saya meyakini bahwa yang dicatat oleh-Nya adalah upaya kita. Dan untuk keselamatan anak-anak kita, bahkan keselamatan kita sendiri, para orangtua, kita menyerah pasrah dan memanjatkan doa tanpa kenal lelah kepada-Nya.

Leave a Comment