Nikahilah Wanita yang Subur dan Penyayang

Dalam Al-Qur’an kalau berkisah soal wanita, kisahnya lebih banyak ke sosok bagaimana menjadi istri yang baik, kalau wanita sebagai ibu, lebih banyak dalam hadist, salah satunya:

“Nikahilah wanita yang subur dan penyayang..” (HR. Abu Dawud). Yang dimaksud penyayang adalah cinta yang begitu besar sehingga membuat anaknya ingin menempel terus ke bundanya. Karena siapa yang dari kecil wajah dan suaranya dilihat dan didengar nya, maka kasih sayangnya akan lebih mengena.

Zaman sekarang, banyak ibu yang kurang komunikatif dengan anaknya, misal ketika menyusui disambi mainan HP, dsb, padahal Rasulullah selalu mengajak interaksi dan menatap muka cucunya ketika menghibur (face to face),

Wanita ahli surga itu ada 4, hanya satu yang tidak mempunyai anak, yaitu Asiyah (istri fir’aun). Tapi kenapa bisa menjadi ahli surga? Karena ia berhasil mendidik anak (walaupun anak angkat yaitu Musa) menjadi seorang Nabi.

Maka, yang dimaksud penyayang hadist di atas tidak harus kepada anak sendiri, tapi bisa anak didiknya, karena fitrah dan prestasi wanita itu adalah menjadi seorang guru.

Ta’liful qulub dengan Bunda harus ditekankan pada usia 0-2 tahun, bunda menjadi yang pertama, anak harus terikat dan tergantung sama ibu,

Ibnul Qayyim mengatakan: “Jika asi berhenti sebelum anak berumur 2 tahun, maka hak anak untuk bermain dengan puting ibunya tak boleh dilarang, maksudnya jika terpaksa berhenti menyusui sebelum 2 tahun, disebabkan harus bekerja, dsb,

Maka, tetap penuhilah kebutuhan yang paling vital yaitu asupan jiwa, banyak peluklah dia dan tempelkan pada puting walau tak menyusui, jangan jadikan ia anak botol. Karena fase pertama adalah membangun ikatan batin.

Banyak anak sering memaki dan memarahi ibunya, hal itu dikarenakan kegagalan dalam mengikat hati. Ibnu Taimiyah mengatakan “Mengikat hati diberi tahu, dan diberi tahu sebelum memberi beban”

Ali bin Abi Thalib mengatakan “Didiklah anakmu 0-7 tahun layaknya raja, agar hatinya terikat dan tak mudah dikendalikan orang lain, kalau hati tunduk yang lain pun akan mengekor,

Dalam rumah tangga, janganlah Bunda yang menegakkan aturan, biarlah Ayah karena ia sebagai Qawwam, sedangkan Bunda sebagai tempat berkasih sayang dan kelembutan.

Jikalau ketika bunda yang marah menegakkan aturan, anak larinya ke siapa ?

Ikatan hati orang tua dengan anak dibagi 2:

1. Menjadi rujukan (kata ayahku, kata bundaku), menjadi penyambung kebaikan karena inilah nilai keberhasilan parenting.

2. Anak tak lagi punya privasi, karena privasi bagi anak sejatinya akan merusaknya. Dengan keterbukaan, kalau anak ada yang baik kita bisa apresiasi dan kalau ada yang buruk kita bisa menguatkan atau bahkan memberi solusi.

Ikatlah hati anakmu wahai Bunda, jangan biarkan ia mudah jatuh ke hati orang lain yang tak kita harapkan. Tanamkan rasa kebaikan pada dirinya, hadirkan kasih sayang dan kelembutan, dan anak pun akan lebih dekat denganmu..

Tinggalkan komentar