Blog Single

29 Agu

Negeri tanpa Ayah

Banyak para ayah mengira bahwa tanggung jawab nya sebagai ayah dan sebagai suami adalah hanya memberi nafkah, ayah sibuk bekerja siang malam, lalu menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada ibunya. Pemahaman ini keliru besar, justru peran ayah sangat mempengaruhi tumbuh kembang anaknya. Apa dasarnya?

1. Fitrah Anak

Hadist “Setiap bayi dilahirkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanya-lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi..” HR Mutafaqun Alaih, Bukhari No.1296. Makna hadist ini kata Imam Asy Suyuti maksudnya bukan sekedar pindah agama, tp berkarakter spt org2 yahudi, nasrani dan majusi,
Karakter Yahudi yg suka ngeyel, serakah, narsis, dll. Karakter Nasrani yang suka menghalalkan segala cara, apapun dilakukan, mudah berzina, dll. Karakter Majusi yg pendendam, dll.
Imam Asy Suyuti jg menjelaskan bahwa yg dimaksud org tua dlm hadist ini adl Bapak, krn bapak lah yg menentukan kemana arah tujuan keluarga itu dibentuk.

2. Ayah Durhaka?

Suatu hari datang bapak dgn anaknya kpd umar utk mengadukan nakalnya sang anak, singkat cerita umar langsung memarahi anak tsb. Lalu berkatalah anak itu :
“Adakah hak anak dari org tuanya?” Lalu umar menjawab
“Ada 3 hal, engkau berhak mendapatkan ibu yang baik, nama yg baik dan pengajaran kitab Al-Qur’an”
“Sesungguhnya tak satupun aku mendapatkan hal itu” kata anak tsb.
Mendengar itu Umar langsung memarahi bapak tsb.
Setiap anak berhak mendapatkan 3 hal tsb, jikalau hak itu belum disampaikan maka ayah itu durhaka kpd anaknya, dan wajarlah bila ada masalah dengan anak tsb, banyak kisah anak durhaka bisa jadi dikarenakan hak-hak yang belum tertunaikan.

3. Menyelamatkan keluarga dari Api Neraka

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Maksud ayat ini kata imam At-Thabari adalah “Ajarilah keluargamu dengan melakukan ketaatan kepada Allâh yang dengannya akan menjaga diri mereka dari neraka.”
Yang bertanggung jawab atas keimanan dlm rumah tangga itu adl bapak, jadi maksud ayat itu jelas ditujukan ke bapak sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga, baik buruhnya keimanan istri dan anaknya tergantung dirinya.

4. Jumlah ayat tentang ayah dalam Qur’an

Di dalam Al-Qur’an ada 17 dialog antara orang tua dan anak, dan diantaranya yang 14 dialog adalah dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak dan 1 dialog antara anak dan orang tuanya,
Jelaslah kalau pengajaran dalam Al-Qur’an lebih menekankan pendidikan anak lebih banyak melalui seorang ayah. Diantara 14 dialog itu ada dialog Lukman dgn anaknya, nabi ya’kub dengan anaknya yusuf, nabi ibrahim dengan ayahnya, nabi hud dengan ayahnya, dst.

5. Tokoh hebat dalam sejarah punya sosok ayah

Setiap tokoh yang ada dalam Al-Qur’an maupun kisah-kisah orang islam yang hebat pasti mempunyai sosok ayah dibaliknya. Ada Rasulullah, walaupun ayah biologisnya sdh meninggal to beliau mempunyai ayah ideologis, kakeknya Abdul Munthalib kemudian pamannya Abu Thalib,
Kisah Maryam seorang wanita luar biasa, beliau dididik ayah ideologisnya Nabi Zakariya yg tak lain adalah pamannya, dikarenakan ayahnya Imran meninggal ketika ia msh dalam kandungan. Ada juga Imam Syafi’i yg diasuh guru pertamanya Imam Waqi’. Ada pula Muhammad Al-Fatih yg dididik gurunya Syeikh Syamsudin, dll

6. Harta dan Anak milik Ayah

Dari Jabir bin Abdillah, ada seorang berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak namun ayahku ingin mengambil habis hartaku.” Rasulullah bersabda, “Engkau dan semua hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ibnu Majah, no. 2291, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Hadis ini menunjukkan bahwa sang anak dalam hal ini sudah berkeluarga bahkan sudah memiliki anak meski demikian Nabi tetap mengatakan “Semua hartamu adalah milik ayahmu”. Artinya ayah bertanggung jawab atas apapun yang terjadi kepada anak.

7. Rusaknya anak jika tidak ada ayah

Ibnul Qayyim Al Jauziyyah mengatakan, betapa banyak orang tua menyengsarakan anaknya dunia akhirat karena 3 hal :

~ Tidak perhatian/tidak peduli/cuek terhadap anak

~ tidak mendidiknya dgn baik

~ terlalu memfasilitasi syahwatnya

Dan jika ada kerusakan pada anak, maka penyebab utamanya adalah ayahnya.

~ DR Rumaya Jauhari beliau membuat riset hubungan antara ayah dan anak wanitanya, berdasarkan riset dampak dari ketidakdekatan ayah dengan anak wanitanya adl :

a) Jika anak wanita besar ia akan mudah jatuh ke laki-laki lain, krn dari kecil ia tidak mendapatkan sesosok laki-laki yang yg tertanam dalam hatinya, dalam hal ini ayah

b) Jika anak wanita telah menjadi istri seseorang dan ketika terjadi masalah rumah tangga cenderung wanitalah yg pertama kali akan meminta cerai, krn menganggap semua lelaki sama, tdk ada contoh ideal yg dihadirkan ketika msh kecil. Data BPS dalam tahun 2016 ada 350.000 kasus perceraian, artinya setiap 1 jam ada 14 pasangan bercerai.

~ Muncul riset, banyak anak rusak psikologisnya karena tidak ada sosok ayah disisinya, ciri-cirinya :

a) Minder/rendah percaya diri. Riset Dr Athan Baharis mengatakan bahwa anak yang dibangunkan waktu subuh oleh ayahnya lebih berprestasi daripada dibangunkan ibunya,

b) Cenderung bergantung/lambat psikisnya, dia Baligh tapi tidak Akil, siap kawin tapi tidak siap nikah yang ujung-ujungnya perzinaan, lambat mengambil keputusan dan baperan.

Inilah negeri tanpa ayah, ayah tidak ada di rumah, tidak ada di sekolah. Riset penelitian BKKBN tahun 2013 prof Heny mengatakan anak SD sekarang yang laki-laki berkarakter kebanci-bancian, sebab pengasuhan dari kecil (usia emas) dikepung oleh ibu-ibu, dari kecil hingga dia SD selalu ibu yang mengurusi, tanpa kehadiran ayah yang intens,

Padahal dalam membentuk fitrah seksualitas ada pembagian waktu bagi orang tua :

– umur 0-2 tahun harus lbh dekat dengan ibunya, krn itu masa2 awal ia menyusui

– umur 3-6 tahun harus lebih dengan kedua orang tuanya, krn masa itu merupakan masa tumbuh kembang bagi fisik dan akalnya,

– umur 7-10 tahun harus lebih dekat sesuai dengan jenis kelaminnya, anak wanita dengan ibu, anak lelaki dengan ayahnya, krn masa itu adalah masa dia mulai baligh, mulai mengenal fitrah dia sbg lelaki/perempuan

– umur 11-14 tahun harus lebih dekat dgn lawan jenisnya, anak wanita dgn ayahnya, anak lelaki dengan ibunya, krn pada masa itu anak mulai ada kecenderungan menyukai lawan jenis, maka orang tua hadir sebagai sosok yang diharapkan.

Benar memang, Ibu merupakan madrasah pertama bagi anak, tapi ayah adalah Kepala Sekolahnya, ayah yang membuat nyaman, ayah yang menentukan visi misi, menegakkan aturan, evaluasi, dst.

Ayah dalam Al-Qur’an disebut yaa abati , maknanya ayah yang jauh, ayah yang super sibuk tapi kalau pulang anak selalu ingin dekat dengannya.

Pulanglah dengan semangat wahai ayah, jadilah ayah terbaik agar anakmu mencintaimu, like father like son

Related Posts

Leave A Comment