Wanita, Usia, dan Kecantikan (Kenapa Wanita Semakin Jarang Menikah)

Saya di beberapa seminar ditanya tentang bagaimana peran usia bagi daya tarik wanita untuk pria. Saya memahami pertanyaan ini sebagai sebuah kemungkinan dari kepanikan dalam diri seorang wanita mengingat hampir kebanyakan wanita sekarang justru menikah di usia antara 22-27 tahun (umumnya).

Estimasi ini didasarkan bahwa wanita sekarang cenderung menikah selepas S1 selesai, saat itu usia 22 tahun. Artinya juga cukup banyak wanita yang menikah di usia lebih dari usia tersebut di atas, bahkan ada yang 30 tahun.

Berbicara mengenai usia wanita, maka ada beberapa aspek yang selalu menjadi pertimbangan pria untuk memilih seorang wanita. Aspek pertama sesungguhnya bukanlah kecantikan. Aspek pertama adalah pertimbangan mengenai keturunan.

Di saat dunia medis sekarang banyak memberikan pemberitaan, maka sudah menjadi pengetahuan umum jika di atas usia 35 tahun wanita cenderung memiliki kesuburan yang terus menurun. Artinya kemungkinan untuk hamil mengecil. Laki-laki tentu lebih senang memiliki generasi penerus. Maka daya tawar wanita tentu saja menurun.

Pertimbangan selanjutnya adalah persoalan gairah seksual. Di mata laki-laki, perempuan cenderung memiliki percepatan penuaan. Jika perempuan dan laki-laki berusia sama, maka secara penampilan di usia lima puluh tahun, perempuan cenderung lebih tua. Padahal, hasrat menyalurkan seksual bagi laki-laki terkadang justru meninggi kembali di usia tertentu, seperti empat puluh tahun. Maka meskipun di usia muda begitu cantik, tapi jika sudah termakan usia, kecantikan itu akan benar-benar tergerus habis, daya tarik menurun drastis.

Sehingga laki-laki cenderung memilih yang jauh lebih muda, agar ketika hasrat itu datang tidak lari kepada wanita lain. Maka cenderung benar jika salah satu alasan untuk memilih wanita lain terkadang persoalan penampilan istri yang lebih cepat menua dari seharusnya.

Padahal laki-laki di usia empat puluh terkadang terlihat jauh lebih matang dan gagah. Pesonanya sedang berada di puncak. Inilah alasan mengapa laki-laki cenderung memilih yang muda meskipun tidak begitu cantik, daripada yang sedikit tua dan cantik. Kecantikan terbatas usia.

Dari beberapa pertimbangan ini sesungguhnya wanita dan usia memiliki keterkaitan cukup tinggi sebagai sebuah daya tarik bagi lelaki. Hal inilah yang selanjutnya menjadikan salah satu hal penting yang ditanya laki-laki tentang perempuan adalah usia, bukan pekerjaan. Bagi laki-laki usia perempuan adalah hal yang cukup penting.

Artinya, bagi perempuan itu sendiri di usia cukup muda memiliki daya tawar yang cukup mahal. Atau bisa dikatakan sedang mahal-mahalnya. Sedang puncak berada di masa keemasan. Sehingga pada saat itu pula wanita terkadang bisa dengan leluasa menerima atau menolak laki-laki yang datang padanya.

Sayangnya, banyak wanita menganggap bahwa saat itu ia sedang memiliki kecantikan yang cukup dijadikan tawaran tinggi bagi lelaki. Sehingga ia berusaha dengan kecantikan tersebut bisa memilih sesuka hati pasangannya. Padahal pikiran ini tak selamanya benar, karena banyak wanita di usia 40 saja masih cukup cantik. Lalu kenapa tidak juga kunjung ada laki-laki yang datang melamarnya? Tentu saja karena laki-laki memiliki pertimbangan seperti yang disebutkan di atas dalam persoalan usia.

Paling tidak kita bisa menyimpulkan bahwa perempuan memiliki usia emas di rentang 17-26 tahun. Di masa ini perempuan cukup subur, terlihat muda, dan tentu saja memiliki kecantikan. Tapi tidak semua usia ini dimaksimalkan bagi perempuan dalam hal perjodohan. Umumnya usia tujuh belas sampai dengan dua puluh tahun adalah masa putus nyambung dengan pasangan. Perempuan masih memiliki wibawa yang cukup tinggi. Daya tarik tinggi, tapi kemungkinan menikah hanya 20%. Banyak laki-laki datang, tapi umumnya tidak bertahan lama. Laki-laki cuek sedikit, putus.

Sedangkan usia dua puluh sampai dua puluh dua adalah masa-masa puncak kuliah yang konon justru lagi sibuk-sibuknya mengerjakan tugas akhir atau skripsi. Jika kemudian ingin menikah, pasti kemungkinan ditolak oleh orang tua 90%. Jawabannya, “Kuliahmu diselesaikan terlebih dahulu.” So, Anda berarti hanya punya kesempatan di masa kini dari usia dua puluh dua sampai dengan usia dua puluh enam tahun.

Jika Anda memanfaatkan waktu ini dengan baik untuk persoalan jodoh, kemungkinan berhasil mendapatkan jodoh cukup tinggi. Sayangnya, lagi-lagi, perempuan terjebak dengan stigma, “Masa udah kuliah S1 nganggur, padahal mahal.” Maka yang selanjutnya dilakukan justru mencari pekerjaan. Padahal pekerjaan tidak mudah lho didapatkan. Bisa jadi butuh satu sampai dua tahun. Sehingga sisa usia Anda hanyalah dua tahun. Dari dua puluh empat, sampai dua puluh enam.

Pada usia ini, perempuan paling banyak yang menikah, khususnya di era modern, bisa diteliti dari undangan-undangan pernikahan, rata-rata pasti di usia 24-26, era sekarang lho.

Meskipun demikian ada beberapa pengecualian. Ada sebagian pihak yang justru mulai menjual dirinya lebih mahal. Alasannya, sudah punya penghasilan, make up lebih baik, penampilan lebih menunjang. Sehingga kemudian terkadang muncul barometer unik, penghasilan pria harus lebih tinggi dari penghasilan wanita.  Ada keangkuhan yang muncul. Tidak menyadari ada unsur usia di sisi wanita yang selalu menjadi pertimbangan sudut pandang pria. Pria yang mengedepankan logika tidak mau ambil pusing, “Cari yang lain”. Apalagi wanita angkuh dianggap bukan wanita solecha.

Apa yang terjadi? Masa emas itu hilang. Usia dua puluh enam pun lewat. Laki-laki yang mulai mendekat berkurang. Satu persatu mundur mencari yang lain. Di saat inilah perempuan kebanyakan merasa panik, kok ga’ nikah-nikah. Belum lagi banyak sindiran setiap silaturahim, “Kok masih sendirian” atau “Kapan nikahnya? Katanya sudah ada calon”.

Fenomena baru pun muncul. Wanita pada akhirnya memilih laki-laki bukan berdasarkan pada seleksi, sehingga laki-laki yang datang pada akhirnya yang sering diputus perempuan karena mungkin memiliki sikap yang kurang baik. Alasannya, “Pumpung masih ada yang mau”. Akhirnya pertengkaran sering timbul.

Sisi lain, ketika terus ketat menyeleksi, usia emasnya justru hilang yang pada akhirnya memiliki dua imbas. Pertama, laki-laki sudah semakin jarang yang mendekati. Kedua, keinginan untuk menikah pada diri wanita justru menghilang. Maka cukup mudah sekarang menemukan perempuan di usia 28 tahun bahkan ke atas belum menikah. Inilah kenapa wanita semakin jarang yang menikah.

Wanita memang punya daya pikat pada kecantikan, tapi usia adalah pertimbangan penting yang selalu dikedepankan oleh pria dan ini sering dilupakan wanita. Jebakan-jebakan tren pergaulan yang ada justru melupakan satu kenikmatan hidup paling tinggi, pernikahan. Sehingga ada beberapa masa yang sering dilewati oleh wanita yang tanpa sadar justru melemahkan wanita itu sendiri.

Namun jika Anda sudah melewati masa itu, maka jangan terlalu gelisah. Jodoh, Maut, Rizki hanya Allah yang tahu. Sudah selayaknya semua dikembalikan kepada Allah, dan banyak berdoa agar bisa dipertemukan dengan jodoh. Toh sangat banyak yang juga menikah di atas usia tiga puluh tahun.

Leave a Comment