Wanita dalam Sudut Pandang Islam

Wanita memiliki stigma negatif sebagai makhluq nomor dua, hanya sebagai pelengkap. Bahkan menurut Aristoteles dalam buku Dunia Sophie disebutkan bahwa“Wanita adalah pria yang belum lengkap”. Atau dengan kata lain karena sifatnya sebagai pelengkap, maka derajatnya lebih rendah daripada pria.

Pandangan ini memiliki pengaruh besar kepada cara bersikap terhadap wanita. Kerendahan kedudukan membuat wanita seolah layak untuk ditindas, dilecehkan, dan dipinggirkan. Meskipun sudah lahir banyak tokoh-tokoh wanita hebat, namun kenyataannya hal itu tidak mengurangi begitu banyaknya pelecehan terhadap wanita baik di ruang publik atau privat.

Sumber dari pandangan negatif ini salah satunya bermula dari teks agama Kristen yang menganggap bahwa wanitalah sumber kejatuhan Adam ke dalam dosa hingga dihukum turun ke dunia. Kesalahan awal ini selanjutnya menjadi sebab utama hilangnya kesejajaran wanita dengan pria. Tidak ada unsur saling melengkapi, yang ada hanyalah segala kesalahan bersumber dari wanita (Wanita dalam Agama-agama).

Bahkan kesakitan ketika melahirkan, kepayahan dalam memelihara anak, sakit perut dahsyat ketika datang bulan dianggap sebagai kutukan abadi atas apa yang sudah diperbuat oleh wanita sebagai sumber dari terjerumusnya Adam ke dalam dosa.

Padahal bila diteliti lebih jauh dalam al Qur’an, wanita dan pria diciptakan dari diri yang satu. ”Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya…” (An Nisa: 1).

Ketika Qur’an menekankan penciptakan dari diri yang satu, Min nafsin waahidatin, maka akan mengindikasikan sesungguhnya dari satu dibelah menjadi dua. Atau justru dari yang satu hanya diambil salah satu bagian kecilnya untuk menciptakan wanita.

Dalam hadis dijelaskan “Berbuat baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.Maka sikapilah para wanita dengan baik.” (HR al-Bukhari Kitab an-Nikah no 5186)

Kalimat min nafsin waahidatin pada akhirnya memang menjadi sebuah kunci untuk mengartikan awal sudut pandang terhadap wanita dalam Islam. Jika memang satu, maka sudah tidak lengkap lagi kesatuannya tanpa bagian yang diambil darinya. Atau bisa diilustrasikan dari nilai mata uang. Meskipun yang diambil dari seribu rupiah hanyalah dua puluh lima perak, tapi hal itu sudah menjadikan nilai seribu hilang.

Oleh sebab itu dua bagian tidak bisa dipisahkan. Untuk membentuk kembali satu jiwa, maka kedua bagian harus disatukan, tidak bisa dipisahkan. Pria dan wanita harus bersatu untuk menciptakan sebuah kesempurnaan. Justru ketika pria menomor duakan wanita, yang terjadi justru bukan kesempurnaan, tapi justru satu bagian tidak sempurna. Meskipun coraknya berbeda, namun hakikatnya tetap satu jua, manusia.

Pada akhirnya muncul kesadaran saling memerlukan antara keduanya. Tidak bisa terpisahkan, karena memang satu jiwa. Meskipun ada pria yang bisa bekerja dan urusan lainnya diselesaikan oleh pembantu, namun pembantu itu seringkali wanita. Pria tidak akan bisa lepas dari wanita.

Bahkan bisa dikatakan, meskipun ada pria menjadi susah hidupnya karena adanya wanita, tidak bebas dan terikat, namun jika diminta berpisah dengan wanita pasti enggan. Lebih baik susah hidup bersama wanita daripada hidup sendirian. Tak lain karena pria dan wanita nafs wahidah, tidak bisa dipisahkan.

Sehingga Islam, ketika itu bahkan hingga sekarang, membawa sudut pandang yang cukup berbeda tentang filosofi dasar wanita, kedudukan keduanya tidak jauh berbeda. Wanita Arab dengan budaya mengubur bayi wanita hidup-hidup menjadi cukup bahagia dengan adanya pandangan ini terhadap wanita. Mereka terangkat, menjadi terhormat. Bukti sahih tingginya wanita dalam Islam adalah hadirnya surat khusus dalam al Qur’an yang bernama An Nisa, justru surat bernama pria nihil.

Wanita dipandang sama tingginya dengan pria, sama pentingnya pula dengan pria dalam memikul tanggung jawab beragama, mengokohkan aqidah dan ibadah sehingga timbullah harga diri yang setinggi-tingginya pada diri mereka (Buya Hamka Berbicara tentang Wanita), bukan kerendahan atau kenistaan.

“Dan orang-orang yang beriman. Pria dan wanita, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tat kepada Allah dan Rasul-nya.” (At Taubah: 71-72)

Leave a Comment