Sebab Perokok Remaja Putri Meningkat Drastis

Saat ini hubungan pra nikah cenderung lebih bebas. Batasan antara laki-laki dan perempuan sudah hampir mirip di film-film Barat. Bahkan data dari Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementrian Kesehatan (Kemenkes) pada Oktober 2013 menunjukkan bahwa 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah.

Jika berbicara hubungan seks di luar nikah, maka tidak menjamin setelah hubungan yang katangan sebagai bukti cinta itu akan menuju pernikahan. Hal inilah kemungkinan yang menyebabkan tingginya perempuan mengalami stress tingkat rendah di usia remaja.

Bagaimana tidak stress, terkadang sudah melakukan hubungan di luar nikah, tidak dinikahi. Bahkan banyak di antaranya yang hamil. Data dari KPAI dan Kemenkes menunjukan 20% dari pelaku hubungan seks di luar nikah pada akhirnya hamil, sekitar 94.270. Kalau sudah hamil juga belum tentu dinikahi, mereka terombang-ambing dalam kebingungan dan stress, faktanya 21% dari angka itu melakukan aborsi, aborsi sangat dekat dengan rasa malu karena tidak ada ayah yang mau menikahi, atau tidak mau tanggung jawab.

Alih-alih produktif, mereka justru mengalihkan kepada hal-hal yang negatif. Contoh sederhana adalah budaya merokok di kalangan remaja yang meningkat. Faktanya, justru konsumsi rokok remaja perempuan meningkat 10 kali lipat dalam dua dekade terakhir (tempo). Perlu dicatat, rokok memiliki nikotin yang saat dihisap akan mencapai otak dalam waktu hanya 10 detik. Efeknya akan muncul hormon dopamine di otak. Hormon inilah yang memacu munculnya rasa senang, bahagia, puas, dan santai.

Sudah bukan rahasia jika perempuan cenderung memiliki rasa stress yang lebih tinggi dalam persoalan putus cinta. Sekarang tidak aneh melihat perempuan-perempuan duduk di kursi café meminum segelas kopi dan menghisap sebatang rokok. Mereka tidak cukup dengan curhat, tapi juga mencari cara melampiaskan.

Padahal rokok memiliki efek negatif dalam jangka panjang, salah satunya adalah kecanduan yang sangat sulit untuk diberhentikan. Jika remaja perempuan sudah sangat dekat dengan rokok, maka kemungkinan anak untuk meniru perilaku ibunya cukup besar.

Yang cenderung tidak disadari adalah, bau mulut perokok cukup kentara, bahkan bisa diditeksi tanpa perlu berdekatan. Baju yang terkena asap rokok cenderung mudah tercium bagi para laki-laki yang tidak merokok. Maka banyak laki-laki kemudian menimbang-nimbang untuk lebih dekat dengan gadis tersebut. Yang terjadi kemudian perempuan itu justru semakin jauh dari pernikahan.

Buktinya, akibat tingkat stress yang terus meninggi di kalangan perempuan karena persoalan pra nikah, kemudian berimbas pada kebiasaan rokok, angka pernikahan di beberapa daerah menurun drastis. Di Bangka, angka pernikahan pada tengah tahun 2015 turun mencapai 23.31% (kemenagbateng.blogspot.com), tentu saja bukan angka yang sedikit.

Bila diperhatikan lebih dalam, ada hal yang sering kurang tepat dilakukan remaja perempuan yang mengakibatkan rentetan hal negatif yang cukup panjang. Kecenderungan sulit move on selepas gagal dalam hubungan pra nikah harus dicoba untuk dialihkan pada hal yang positif. Pelampiasan kepada hal semacam merokok, atau menjadi playgirl, justru akan memunculkan masalah baru yang cukup panjang. Perempuan justru tidak menjadi tenang, tapi berada dalam kesulitan yang diciptakan oleh diri sendiri secara berurutan.

Leave a Comment