Pacaran Berbeda Agama, Positif dan Negatif

Pernikahan berbeda agama menjadi populer seiring munculnya konflik-konflik pacaran berbeda agama oleh selebriti dan diberitakan besar-besaran. Pernikahan berbeda agama lebih menggaung lagi ketika artis yang sudah menikah berbeda agama disorot dengan tajam dan kemudian dipublikasikan terus menerus.

Kini, banyak remaja yang mulai mengikuti fenomena pacaran berbeda agama. Bagi mereka agama bisa melebur dalam melodi cinta yang mereka punya. Agama tidak sulit menyesuaikan ketika hati mereka sudah sama-sama mencinta. Kecocokan antara kedua pasangan dalam pacaran berbeda agama sudah membongkar kesulitan batas-batas agama.

Dalam persoalan pra nikah, maka salah satu yang paling tajam masalahnya ketika pasangan ingin menikah tapi berbeda agama. Hal ini salah satunya karena hampir mayoritas keluarga laki-laki akan berbeda sudut pandang  dengan keluarga perempuan. Agama sendiri adalah cara memandang kehidupan.

Ketika dasar berpikir sudah berbeda, maka akan melahirkan perbedaan-perbedaan yang berkelanjutan. Contoh sederhana adalah ketika memandang tata cara pernikahan. Ketika mempelai satu beragamaIslam, mempelai satunya lagi beragama Kristen, maka cara keduanya berbeda. Di Islam harus dengan ijab Kabul. Sedangkan di Kristen harus dengan pemberkatan.

Sekarang jika menikah berbeda agama, maka upacara pernikahan diadakan dua kali, di masjid dan di gereja. Hal ini sebenarnya membingungkan, karena jika di masjid berarti mengakui agama Islam, jika di gereja mengakui agama Kristen. Artinya, bagi kedua mempelai, agama memang tidak benar-benar penting.

Jika suami atau istri melebur menjadi satu dalam bingkai berbeda agama sangatlah mudah, maka yang sulit adalah menarik anak dalam toleransi atas perbedaan agama kedua orangtuanya. Anak kecil belum tahu mana yang benar mana yang salah, baik buruk juga bergantung orangtua. Ketika anak masih balita, tidak masalah, yang ia pikirkan adalah bermain, tapi ketika anak beranjak dewasa, dan mulai memikirkan baik buruk, maka mulai timbul banyak masalah.

Contoh, saya mengikuti sebuah acara, di tempat itu kemudian ada seorang anak perempuan berusia sekitar 18 tahun bertanya, “Saya lahir dari keluarga yang ibu adalah muslim, sedangkan ayah adalah katolik. Pada usia tujuh tahun saya dibaptis oleh sang ayah dengan cara paksa, sehingga secara agama saya adalah Kristen dalam sudut pandang ayah saya.

Kenyataannya, dalam hati, saya merasa bukanlah seorang katolik, tapi bukan pula seorang muslim. Sejak saya dibaptis, saya tidak pernah ke gereja karena merasa bukan katolik, tapi juga tidak ke masjid karena saya merasa sudah bukan muslim. Saya kebingungan, ke mana saya harus kembali karena orangtua saya terus memeluk agama yang berbeda. Yang jelas saya bukanlah seorang atheis.”

Dari kisah ini kita bisa becermin bahwa pernikahan berbeda agama seringkali muncul masalah yang sangat runcing ketika sudah lahir anak. Padahal dalam pernikahan, salah satu fokus utama adalah bagaimana bisa menyiapkan generasi yang jauh lebih baik dari kedua orangtuanya. Sehingga beberapa publik figur yang menikah dengan pasangan berbeda agama, akan berpisah ketika sudah dihadirkan dengan masalah anak. Anda cukup mencari di Google, dan akan ditemukan banyak cerita.

Pada masa pacaran, menikah berbeda agama akan melebur karena cinta. Sehingga sulit dicermati sisi positif dan negatif di dalam pernikahan berbeda agama. Namun ketika sudah menikah dan memiliki anak, akan muncul satu persatu persoalan tentang dorongan kepada anak untuk memeluk kepada satu agama.

Faktornya adalah, dalam setiap agama selalu ada misi bisa mengajak umat lain agar masuk ke dalam agamanya. Sudah menjadi rahasia bahwa di setiap agamanya selalu menyebut bahwa agama itulah yang paling benar. Jika suami muslim, maka baginya agama Islamlah yang paling benar. Jika istri katolik, maka baginya agama katoliklah yang paling benar. Di luar itu akan masuk neraka. Dorongan agar orang di luar agamanya bisa masuk agama yang diyakini disebabkan harapan agar masuk surga bersama.

Dalam agama Kristen, yang non Kristen selalu disebut dengan domba-domba yang tersesat. Karena umat bagi mereka adalah sebuah gembala, maka di luar gembalanya dianggap tersesat. Ia ingin menjadikan domba lain tidak tersesat apalagi keluarganya sendiri. Agar bisa masuk surga sama-sama.

Dalam agama Islam, yang non Islam disebut dengan kafir. Bagi orang Islam, kafir selalu masuk neraka tanpa banyak babibu ini dan itu. Toleransi apa pun tidak ada. Intinya orang kafir masuk neraka. Sehingga orang Islam selalu mengajak sesama untuk masuk agama Islam agar bisa masuk surga sama-sama. Begitu juga dengan agama yang lain.

Oleh sebab itu, ketika sudah masuk dalam pernikahan. Cinta itu kemudian memudar, bukan persoalan tidak cinta lagi, namun sudah memasuki dalam tema bagaimana mengajak anak itu masuk dalam surga bersama. Dari sini kemudian muncullah pemaksaan, pertikaian, bahkan pertengkaran yang tidak bisa ditemukan jalan keluar. Padahal suami istri itu juga tidak bertemu dalam satu surga karena berbeda agama. Bersama di dunia, tapi berbeda di akhirat.

Oleh sebab itu, pacaran berbeda agama cukup mudah ditemukan, tapi berbeda agama hingga puluhan tahun hidup bersama bersama anak-anak sangat sulit ditemukan. Bagaimanapun orangtua sangat menyayangi anak kandungnya, sehingga dengan sekuat tenaga tidak ingin menyengsarakan di dunia dan di alam baka.

Saran kami, lebih baik pikirkan matang-matang sebelum melangkah lebih jauh. Anda temukan cinta di satu agama akan jauh lebih baik. Kristiani bersama satu agamanya, muslim bersama satu agamanya. Pernikahan adalah menyatukan dua perbedaan, tapi bukan dua agama. Tuhannya sudah berbeda, surganya sudah berbeda, tidak bisa dipaksakan sama-sama. Apalagi bergantian masuk surga agama Kristen, baru masuk surga agama Islam seperti kos kosan.

Leave a Comment