Nikah Dulu atau Kuliah Sarjana Dulu?

Pertanyaan ini sering sekali masuk ke inbox saya, terutama dari para akhwat ketika tiba-tiba ada yang berani datang dan mengajaknya menikah, sedangkan posisi Anda masih kuliah, atau bahkan si laki-laki yang masih kuliah. Pertanyaannya, apakah harus menyelesaikan kuliah dulu, kuliah s2, atau langsung nikah?

Jika dalam agama Islam, pernikahan memang menjadi pendorong rizki yang besar. Jika kita meyakini hal ini baik-baik, maka rizki akan mengalir. Tapi bukan berarti Anda menikah begitu saja, diam, kemudian rizki akan datang sendiri. Anda tetap harus bekerja. Allah akan memudahkan rizki Anda.

Di sinilah kemudian banyak yang menyangsikan, apakah bisa kuliah sambil bekerja sekaligus mengurus rumah tangga? Dalam hal ini keyakinan adalah faktor utama. Semakin yakin, maka Allah akan membalas keyakinan Anda dengan rizki.

Kenyataannya, mengurus rumah tangga membutuhkan usaha besar. Kestabilan emosi dalam menghadapi masalah bersama istri bukan perkara mudah. Sedangkan kelelahan menjadi faktor utama dalam mematik emosi yang labil. Atau dengan kata lain, semakin lelah kehidupan Anda, semakin mudah terpatik emosinya. Lihat bagaimana seorang ibu marah kepada anak, itu terjadi karena sangat lelah.

Bekerja sudah pasti melelahkan, apalagi jika ditambah dengan jadwal kuliah, akan sangat jauh menyita waktu. Di sinilah kemudian banyak keluarga muda yang keduanya masih kuliah belum berhasil. Lain halnya jika yang kuliah hanya pihak perempuannya, atau hanya pihak laki-lakinya, ini akan jauh lebih mudah. Yang laki-laki fokus bekerja, istri fokus kuliah.

Dengan kata lain, persoalan bagaimana menikah sembari kuliah tergantung kekuatan pada calon suami dan istri. Jika belum terbiasa dengan kehidupan yang serba tertekan, memasuki dunia pernikahan sembari kuliah bisa lebih tertekan. Sebaliknya, jika dari muda sudah terbiasa bekerja, maka ketika menikah sembari kuliah menjadi hal yang biasa.

Sebelum melangkah ke pernikahan, jika belum selesai kuliah, harus dipahami betul bahwa tanggung jawab Anda cukup besar. Anda harus benar-benar siap untuk menanggung. Bukan hanya pihak laki-laki saja. Pihak perempuan juga demikian. Seandainya pihak laki-laki yang belum selesai kuliah, maka pihak perempuan yang mengalah untuk rela membanting tulang.

Bagaimanapun,  ketika menjalani pernikahan sebelum selesai kuliah, tentu akan ada masalah, kerikil-kerikil kecil yang akan dihadapi, ketika itu tidak mampu dilewati maka akan menghadapi dua pilihan, menyelesaikan kuliah atau terus bekerja untuk keluarga. Rata-rata karena tanggungjawab keluarga, akan memilih terus bekerja, sehingga kuliah molor, molor, bahkan drop out.

Oleh karena itu faktor penunjang utama keberhasilan menikah ketika masih kuliah sebenarnya ada pada orang tua masing-masing. Ketika masalah kecil atau besar datang, dan orangtua hadir bersama Anda, maka mereka akan siap sedia membantu. Nafas keluarga tersambung, kuliah terus berjalan. Semakin besar kedekatan kepada orangtua, akan semakin menunjang keberhasilan Anda dalam menjalani rumah tangga sembari kuliah.

Hal yang fatal adalah ketika Anda menikah sembari kuliah, restu orangtua belum didapatkan. Ini sama artinya memasuki perang tanpa siap sedia bantuan. Di sinilah mengapa seringkali banyak pernikahan sembari kuliah gagal. Anda tidak hanya menghadapi permasalahan kuliah dan biaya hidup, tapi juga menghadapi masalah pertentangan orangtua.

Orangtua seringkali menyayangkan anaknya belum selesai kuliah tapi ingin menikah. Bagi orangtua, kuliah hanya sebentar, dua semester lagi, selesaikan terlebih dahulu. Tapi bagi sang anak lain. Lebih baik menikah dulu, akan lebih semangat kuliah, sehingga bisa lebih cepat selesai. Titik temu tidak dapat, orangtua tidak merestui, anak memaksakan diri menikah meski masih kuliah. Padahal ridho Allah ada pada ridho orantua, maka jika Anda ingin sukses memasuki dunia pernikahan ketika kuliah, restu orangtua adalah faktor paling utama.

Saya sering mendapatkan cerita tentang kesuksesan remaja menikah ketika masih kuliah. Rata-rata, semua yang sukses karena orangtua masih memberikan “subsidi” kepada anaknya. Sehingga anaknya tidak begitu berat dalam mencari nafkah, masih bisa fokus kepada kuliah, sekaligus juga fokus untuk keluarga. Orangtua mendorong, memahami kemuliaan niatnya sang anak. Maka tugas Anda adalah meyakinkan orangtua. Namun jika tidak kunjung berhasil, jangan justru menyalahkan orangtua.

 

Lebih baik lagi ada orangtua yang mendorong anaknya untuk menikah ketika masih kuliah. Pertimbangannya, karena daripada pacaran ketika kuliah, lebih banyak bahaya, bahkan bisa jadi karena pacaran kuliahnya molor, maka lebih baik menikah. Namun sebagai orangtua mendukung penuh anaknya menikah sembari kuliah. Orangtua memberikan biaya kuliah penuh kepada anak, meskipun biaya hidup silakan dicari sendiri. Istilahnya beasiswa dari orangtua. Tugas Anda menyelesaikan kuliah tepat waktunya. Jika selesai tidak tepat waktu, orangtua menarik beasiswanya.

Lebih fantastis Anda memiliki orangtua yang mau mendukung penuh pernikahan Anda meski belum selesai kuliah. Maksudnya semua biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung orangtua. Biasanya kasus ini terjadi ketika orangtua memahami betul niat mulia Anda, sedangkan Anda bersama pasangan keduanya masih kuliah.

Bahkan saya pernah menemui keluarga muda masih kuliah, dan dua orangtua masing-masing mempelai mendukung. Jadi biaya hidup laki-laki ditanggung orangtua laki-laki, biaya hidup perempuan ditanggung orangtua perempuan. Bahkan ketika hamil dan melahirkan orangtua iuran bersama untuk menanggung biaya hidup anak-anaknya. Pada posisi ini Anda sangat beruntung mendapatkan orangtua yang demikian.

Maka pernikahan ketika masih kuliah harus mempertimbangkan banyak faktor. Anda sendiri yang memahami keadaan Anda ketika hendak masuk dunia pernikahan. Maka Anda yang bisa memutuskan apakah Anda menikah atau menunda pernikahan.

Leave a Comment