Ngontrak atau Tinggal dengan Orangtua

Setelah menikah persoalan yang sering diperdebatkan adalah tetap tinggal dengan orangtua atau ngontrak mencoba untuk mandiri. Biasanya, orangtua selalu mengatakan, di sini saja bersama ibu biar hidup tidak terlalu susah. Tapi di sisi lain Anda bersama istri berkeinginan untuk hidup mandiri dan belajar menjalani hidup bersama tanpa menyusahkan orangtua. Oleh sebab itu kami akan menuturkan pengalaman sekaligus pertimbangan antara hidup ngontrak atau tinggal dengan orangtua setelah menikah.

Saya akan mulai membahas dari hidup bersama orangtua. Memang ketika Anda baru menikah biasanya keadaan ekonomi masih amburadul, jauh dari kata mendapatkan penghidupan yang cukup. Bahkan seringkali minus. Sedangkan rumah tinggal merupakan satu kebutuhan dengan biaya yang tergolong tinggi. Belum lagi jika ngontrak jauh dari tempat kerja, butuh kendaraan dan biaya lebih. Jika Anda tidak terbiasa akan tertekan, apalagi jika terbiasa dengan hidup serba ada. Maka hidup dengan orangtua akan meringankan beban ini dan itu.

Maka wajar jika kemudian orangtua menawarkan. Ini bertujuan untuk pembelajaran kepada Anda, didampingi oleh orangtua yang menjadi mentor Anda. Tapi harus diingat, tujuannya adalah pembelajaran untuk bisa hidup mandiri. Jangan sampai justru sebaliknya. Mentang-mentang hidup sama orangtua dan tidak memikirkan tempat tinggal dan makan, uang dari bekerja tidak ditabung, justru buat gonta-ganti hp. Awas, Anda bisa didepak dari rumah biar merasakan hidup mandiri.

Tapi jangan lupa, seringkali jika hidup bersama orangtua, ada hal yang membuat Anda kurang leluasa. Dalam artian Anda tidak bisa membentuk keluarga sesuai dengan kemauan Anda. Jika berada di rumah suami, maka Anda tidak bisa mendidik suami Anda dengan sebaik-baiknya. Begitu juga jika sebaliknya. Ada batasan-batasan yang harus Anda patuhi. Bagaimanapun keluarga mertua atau orangtua memiliki aturan sendiri. Anda harus mengikutinya. Sehingga tinggal di rumah orangtua sedikit terbatas, dan jika terlena justru tidak belajar untuk hidup mandiri.

Lain halnya jika hidup ngontrak sedari awal menikah. Anda akan mendapatkan pembelajaran kehidupan langsung dengan praktek. Tidak punya uang ya bokek sendirian atau harus pinjam untuk selanjutnya berpikir bagaimana mengembalikan. Ingat energi kepepet seringkali menghasilkan energi besar yang luar biasa. Inilah yang akan mendongkrak semangat hidup Anda dan semangat kebersamaan bersama istri. Hidup ngontrak juga akan mengembangkan romantisme dengan istri secara leluasa.

Anda pernah melihat perjuangan kakak beradik meraih hidup masa depan dari garis kemiskinan. Ya, suami istri yang masih pas-pasan juga diibaratkan demikian. Ringan sama dipikul berat sama-sama untuk dijinjing. Sehingga ketika Anda sudah sukses, Anda benar-benar merasakan arti hadirnya istri untuk Anda, atau hadirnya suami bagi Anda. Saya sendiri pernah merasakan bagaimana hidup ngontrak di rumah 6 x 5 meter dengan satu anak. Wuih, ajib pokoknya. Bahkan pernah membeli amplop tiga puluh dan memasukkan 50 ribu ke setiap amplop agar di tiap akhir bulan tidak berhutang. Hehehe. Ketika sudah mendapatkan penghasilan yang cukup, Anda pasti merasakan betapa berharga uang yang ada di tangan Anda.

Minusnya tentu saja adalah rasa kaget menghadapi susahnya hidup jika tidak terbiasa. Kehidupan yang tadinya serba ada langsung berubah drastis dengan keadaan yang berbeda. Biasanya jika tidak kuat akan emosi, marah-marah, dan lain sebagainya. Bahkan bisa jadi sang istri kembali ke orangtua karena hidup yang tidak pernah terduga sebelumnya. Ingat, jarang ada laki-laki langsung mapan di usia 25 tahun.

Semoga ini menjadi pertimbangan bagi Anda apakah tetap hidup serumah dengan orangtua atau mertua, atau justru langsung ngontrak di rumah yang apa adanya.

Leave a Comment