Hebatnya Wanita Jika Menjadi Penulis

Perempuan memang sudah naluri mencintai dunia tulis menulis. Hal ini karena kebiasaan wanita menyembunyikan isi hatinya. Maka biasanya saluran untuk melapangkan kegundahan hanya ada dua, air mata, dan tulisan.

Anda pasti sering melihat bagaimana banyaknya buku agenda sangat berwarna-warni, berbunga-bunga. Ya, semua karena penulis agenda kebanyakan adalah wanita. Mereka rela untuk meluangkan waktu setiap malam hanya untuk mengisi agenda dengan curahan isi hatinya. Bahkan ada pepatah yang menyatakan, kalau mau tahu isi hati perempuan, intip saja buku agendanya.

Anehnya, meskipun secara praktik lebih banyak wanita yang menggeluti dunia penulisan, tapi justru yang tampil menjadi penulis lebih banyak adalah laki-laki. Bisa dihitung dari penulis yang ada di Indonesia saja, lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Padahal perempuan sedari kecil sudah menggeluti dunia penulisan.

Bukan persoalan karena tulisan tidak bagus. Kebagusan tulisan sangat subjektif sekali di mata pembaca. Bahkan sekarang tulisan guyon saja menjadi best seller. Apalagi tidak ada teori paling bagus dalam hal menulis kecuali menulislah setiap hari. Dan wanita sudah hampir sepanjang waktu sanggup menulis.

Persoalan terbesar perempuan sesungguhnya dalam sensitivitas hatinya yang begitu besar. Karena hal ini banyak yang selanjutnya terpental dalam perjalanan menjadi penulis. Maksudnya, menjadi penulis pasti memiliki konsekuensi tulisannya akan dibaca oleh banyak orang. Ketika dibaca pasti ada yang menilai, mengkritik, mencaci, bahkan mencemooh. Di sinilah kelemahan perempuan yang utama.

Wanita disindir sedikit saja bisa menangis, dicemooh hatinya terluka berkeping-keping, apalagi dikritik habis-habisan, air mata tak terhitung berjatuhan. Efeknya bukan persoalan mereka tidak mau menulis lagi, tapi wanita tidak lagi mau menunjukkan tulisannya ke publik.

Anda pasti tahu betapa susahnya untuk membaca buku agenda wanita. Maka ada desain buku agenda dengan gembok yang kuat. Tidak lain dikhususkan pada wanita. Padahal disebut penulis ketika tulisannya dibaca oleh banyak orang, bukan dibaca sendiri.

Oleh sebab itu langkah paling penting bagi perempuan untuk menjadi penulis bukanlah belajar menulis, tapi menyingkirkan rasa takut dikritik dan membangun rasa percaya diri. Laki-laki punya rasa cuek yang cukup dan pede yang lebih. Maka perempuan yang ingin menjadi penulis harus menirunya.

Mengapa saya katakan betapa hebatnya perempuan menjadi penulis? Perempuan memiliki ketelitian, ketekunan, dan kerapian yang seringkali melebihi laki-laki. Buktinya kalau ada pekerjaan kantor menyangkut administrasi, pasti lebih banyak perempuan. Artinya ketika perempuan mampu mendobrak rasa mudah tersinggung oleh kritik, maka ia akan jauh lebih hebat daripada laki-laki.

Kita pasti sangat mengenal Mba’ Asma Nadia. Ia mampu memiliki jiwa penulis sejati. Dengan memadukan jiwa wanita yang kental, maka kontinuitasnya menjadi penulis cukup disegani. Lebih dari dua puluh buku yang ia tulis sendiri, belum lagi buku yang ditulis bersama dengan penulis lain. Padahal usianya masih 44 tahun. Entah berapa karya lagi yang akan dilahirkan.

Hal lain yang kadang dilupakan adalah betapa sesuainya pekerjaan menulis dengan wanita. Cukup dikerjakan di laptop, dari dalam rumah. Bisa sambil mendidik anak-anak. Maka ketika wanita menggeluti dunia tulis menulis, ia akan melejit dan menghasilkan karya-karya luar biasa. Jangan lupa lho, jangan mudah jatuh jika dikritik.

1 thought on “Hebatnya Wanita Jika Menjadi Penulis

Leave a Comment