Efek Samping Foto Selfie Yang Dilupakan

Selfie merupakan bahasa inggris yang berarti memfoto objek yang memotret. Kata selfie sendiri sebenarnya tergolong muncul bersamaan dengan maraknya perkembangan dunia gadget. Oleh sebab itu dalam Wikipedia, kata selfie baru masuk di kamus resmi bahasa inggris pada tahun 2013.

Selfie sendiri sudah menjadi tren di semua kalangan, pria, wanita, anak muda, bahkan orang tua. Meskipun demikian, di media sosial sendiri yang paling banyak mengunggah foto selfie justru perempuan. Dan menurut Yahoo yang dikutip dari techno.id foto selfie perempuan jauh lebih menyedot perhatian, salah satu alasannya, karena foto selfie perempuan lebih cenderung berhias senyum. Hal inilah yang menjadikan foto tersebut serasa beraura positif.

Namun demikian, kegiatan selfie justru memiliki banyak efek samping yang sering dilupakan. Salah satunya adalah harapan terlalu tinggi akan respon pengguna media sosial dari foto selfie yang diunggah. Saat ini memang sudah menjadi kebanggaan jika melakukan selfie, diupload di media sosial dan disukai sampai ratusan orang.

Masalahnya, justru kemudian orang tersebut memiliki standard yang muncul dengan sendirinya seakan-akan jika mengunggah foto harus disukai sekian orang. Jika belum disukai sekian orang, maka akan berusaha foto lagi, lagi, dan lagi. Pada akhirnya tanpa sadar menjadi sebuah candu bagi personalnya. Dan tidak akan merasa lelah untuk berselfie ria. Buktinya techno.id memaparkan bahwa 38% foto yang diunggah di instagram adalah foto selfie. Tuh kan.

Efek selanjutnya adalah perasaan untuk selalu tampil sempurna semakin muncul. Tidak ada istilah kekurangan, harus tampil dengan kesempurnaan. Maka setiap hari yang dipikirkan adalah cara untuk tampil tanpa cacat sedikit pun. Usaha ini uniknya dilakukan dengan sangat sungguh-sungguh. Coba saja perhatikan foto selfie di media sosial, hampir semua indah, karena ketika (contoh) sisi kurangnya dari segi hidung yang pesek, maka tidak mungkin diambil dari samping. Ia akan memikirkan segala cara. Ini justru membuat penyakit psikologis yang cukup mengganggu.

Imbasnya adalah kepercayaan diri yang terlalu berlebihan. Maksudnya, orang yang suka narsis dengan adanya likers yang banyak justru akan selalu mempercayai bahwa dirinya jauh lebih baik dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Ukurannya likers tadi. Padahal secara sikap dan perilaku belum tentu. Terutama yang sangat suka mengunggah selfie sendiri.

Maka saat ini sangat jarang anak muda yang mau menerima kritikan dari orang lain. Karena baginya ia adalah pusat perhatian meski hanya di dunia maya. Ia akan terus mengharapkan pujian dan kekaguman dari orang lain dan sangat anti dengan kritikan. Lebih buruk lagi adalah kegagalan orang tersebut untuk mengenali emosi orang lain, dan hanya mengenali emosi dirinya sendiri.

Bisa dikatakan dengan sederhana. Orang selfie ibarat seorang remaja yang tak begitu rupawan becermin di atas air, ia sangat kagum melihat wajahnya sendiri, hingga berusaha sangat dekat dengan air, dan lebih dekat lagi yang akhirnya justru kehilangan keseimbangan dan tercebur bahkan tenggelam. Kalaupun tidak tercebur, maka disenggol sedikit saja, ia sudah masuk ke dalam sungai.

Leave a Comment