Awal Munculnya Emansipasi Wanita

Dalam buku perempuan-perempuan dalam agama, hampir semua agama dikatakan memiliki unsur sudut pandang laki-laki yang lebih dominan. Patriarkhal, atau dianggap hanya sebagai wujud khayal laki-laki untuk menguasai wanita.

Dalam buku ini dijelaskan, Agama Islam diwakili dengan ayat yang menjelaskan bahwa laki-laki pemimpin dari perempuan. Di Kristen memiliki hirarki yang tetap, Kristus, laki-laki, perempuan. Catatan-catatan ini menjadi contoh penting yang mengarah pada penindasan perempuan berdasarkan teks agama.

Oleh sebab itu kemudian muncul banyak gerakan-gerakan pembebasan perempuan. Emansipasi wanita dari teks-teks agama yang mengungkung. Sehingga memiliki prinsip melepas ikatan agama dan mendudukkan wanita dengan setara. Di Indonesia sendiri sudah cukup banyak muncul.

Di Indonesia gaung gerakan ini dibawa oleh RA. Kartini. Namun gerakan ini lebih kepada mendobrak budaya yang ada ketika itu. Pengaruh agama jika melihat dari buku teks-teks tentang kartini tidak banyak. Bahkan cenderung mempersoalkan adat dan tata hubungan sosial yang berlaku ketika itu.

Gerakan ini sebenarnya muncul lebih awal di Barat. Dilanjutkan dengan publikasi-publikasi yang tersebar di banyak belahan dunia. Barat ketika itu berada pada masa keterpurukan. Kemudian Gereja hadir sebagai satu-satunya ajaran alternative untuk rekonstruksi tatanan sosial. Pada akhirnya ajarannya cepat menyebar di seluruh daratan Eropa melibas banyak pengaruh pandangan hidup lainnya (Wajah Peradaban Barat: 32).

Sayangnya pandangan hidup yang disebarkan oleh geraja justru membuat wanita lebih tertindas. Bahkan jika Anda lihat kata kunci inkuisisi di Google akan banyak ditemukan alat-alat penyiksaan untuk wanita.

Dogma dalam Kristen mengajarkan bahwa wanita adalah makhluk paling kotor yang sudah menyebabkan manusia mengandung dosa. Dalam agama trinitas ini sosok perempuan diwakili oleh dua sosok, Maria dan Hawa. Maria digambarkan sebagai sosok wanita yang taat pada Tuhan. Sebaliknya, Hawa digambarkan sebagai wanita penyebab dosa di bumi (perempuan dalam agama-agama).

Jadi salah satu sumber pokok ajaran adalah pengkambinghitaman wanita sebagai sumber dosa di dunia. Bahkan dalam bentuk paling buruk, seolah-olah wanita diciptakan oleh setan, bukan oleh Tuhan. Sehingga hal-hal buruk dianggap bersumber dari wanita.

Peraturan tetap berada di tangan suami, sedangkan istri wajib menaati. Laki-laki mengatur rumah dan Negara. Sebaliknya, wanita bagaikan sebuah paku yang dipukulkan ke tembok. Dia harus di rumah dan mengurus segala hal di rumah bagaimana pun alasannya. Dengan cara inilah dalam buku Perempuan dalam Agama-agama dijelaskan menerima hukuman.

Bila melihat teks dari Injil, memang ada banyak ajaran yang menjadikan wanita inginkan kebebasan.

[Ulangan 3:6] “Perempuan (Hawa) yang tergoda iblis untuk memakan buah pohon pengetahuan dan menyebabkan laki-laki (Adam) ikut memakan buah tsb dan melanggar larangan Tuhan” [Ulangan 3:16] “Firman-Nya kepada perempuan itu: Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu”.

[Ulangan 25:11-12] “Apabila dua orang berkelahi dan isteri yang seorang datang mendekat untuk menolong suaminya dari tangan orang yang memukulnya, dan perempuan itu mengulurkan tangannya dan menangkap kemaluan orang itu, maka haruslah kaupotong tangan perempuan itu; janganlah engkau merasa sayang kepadanya.”

Penolakan-penolakan terhadap ajaran gereja terkait perempuan selanjutnya meluas dan setiap wanita menginginkan kebebasan dari ikatan dogma yang mengekang perempuan. Hingga muncullah pembebasan wanita, gerakan feminisme, dan gerakan lainnya yang menyebar ke seluruh penjuru dunia melalui publikasi tulisan-tulisan dan berita.

Leave a Comment