Mitigasi Bencana Melalui Local Wisdom Minangkabau Sumatera Barat

Sejak usia dini, anak Minang sudah diajarkan tentang ancaman bencana alam jika alam semesta rusak akibat ulah tangan manusia. Melalui pantun, Ibu-ibu minang dulu senantiasa mendendangkan syair-syair tentang alam dan ancaman kepada anaknya.

Nak kanduang sibiran tulang, ubek jariah palarai damam.

Nak kanduang capeklah gadang, kok lah gadang jan marusak alam.

Kearifan lokal terkait kebencanaan sesungguhnya dapat kita temukan di Provinsi Sumatera Barat.

Bila ditilik dari histori kebudayaan, warga Sumatera Barat atau yang lebih akrab disebut Minangkabau telah begitu mengenal akan ancaman bencana itu sendiri. Dengan demikian edukasi dan mitigasi bencana telah jauh diajarkan oleh para leluhur dulu dari generasi ke generasi.

Berada di antara pertemuan dua lempeng benua besar (lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia) dan patanan besar (Sesar) Semangko menjadikan Sumatera Barat sebagai wilayah yang rawan bencana.

Bencana alam sudah bukan lagi menjadi ancaman bagi warga Sumatera Barat, namun sudah menjadi realitas yang berulang dari waktu ke waktu. Masyarakat minang tempo dulu juga telah memiliki kearifan lokal dengan cara merancang pembangunan sesuai dengan lokasi dan kondisi wilayah itu. Hal itu ditujukan agar pembangunan tersebut bisa sinkron dengan alam. Tata ruang bumi di Minang sudah ditentukan nenek moyang orang Minang.

“Nan lereng ditanam bambu, nann miriang ditanam tabu, nan bancah buek kolam, nan rawa buek sawah, nan kariang buek ladang, nan munggu buek pandam kuburan,

Jika kearifan lokal sebagaimana yang telah diajarkan oleh para leluluhur itu dapat diimplementasikan dalam kehidupan saat ini, khususnya tentang tata ruang, maka dampak dari bencana yang akan terjadi bisa di minimalisir. 

Definisi Kearifan Lokal

Banyak definisi tentang kearifan lokal atau local Wisdom menurut para ahli. Menurut Keraf (2002) kearifan lokal ialah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan, atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Sedangkan Wahono (2005) menyebutkan bahwa kearifan lokal adalah kepandaian dan strategi-strategi pengelolaan alam semesta dalam menjaga keseimbangan ekologis yang sudah berabad-abad teruji oleh berbagai bencana dan kendala serta keteledoran manusia.

Dari kedua definisi tersebut diatas kearifan lokal sering diartikan sebagai pengetahuan setempat, kecerdasan setempat dan kebijakan setempat. Sikap, pandangan, dan kemampuan suatu komunitas dalam mengelola lingkungan (rohani dan jasmani) sehingga komunitas tersebut tetap bisa bertahan dan tumbuh.

Kearifan lokal merupakan suatu tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungannya secara arif. Kearifan lokal tidaklah sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan pada suku yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh tantangan alam dan karena kebutuhan hidupnya manusia yang bermacam-macam, sehingga pengalamannya dalam pemenuhan kehidupan memunculkan sistem pengetahuan baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial. Sehingga peran kearifan lokal yaitu menjaga kelestarian alam dan lingkungannya berpedoman pada nilai moral dalam pikiran dan tingkah lakunya dengan baik.

Kearifan lokal sebagai warisan masa lalu merupakan tradisi yang dilaksanakan oleh individu maupun kelompok dalam suatu wilayah kecil dan atau luas. Tradisi tersebut memiliki muatan nilai penghormatan pada sesama makhluk, alam semesta dan yang Maha Kuasa yang ditujukan untuk mencapai kesejahteraan manusia. Kearifan lokal juga mengacu pada kekayaan budaya yang tumbuh dikenal, dipercayai, atau diakui, sebagai elemen penting yang mampu mempertebal ikatan antar warga masyarakat. Kearifan lokal mencirikan suatu partisipasi masyarakat lintas kelas, lintas golongan, lintas gender dan lintas religi.

 

Contoh Kearifan Lokal di Pulau Mentawai – Sumatera Barat

Salah satu contoh kearifan lokal terkait dengan kebencanaan di kepulauan Mentawai. Ada lagu daerah yang berjudul Teteu Amusiat Loga (gempa datang Tupai sudah menjerit), Lirik lagunya menceritakan bahwa sebelum gempa datang beberapa binatang seperti tupai memberikan pertanda tertentu yaitu kegelisahan dengan berteriak menjerit-jerit dan hewan lain seperti ayam berkotek tanpa sebab. Lagu tersebut seperti early warning system (Peringatan dini) yang berifat kultural bagi masyarakat disana.

Selain lagu, adapula aturan tidak tertulis yang dimiliki warga Mentawai bahwa masyarakatnya dihimbau untuk mendiami kawasan hulu sungai, hidup di ketinggian, dan menggantungkan hidup sebagai peladang. Tiap kepala keluarga di Mentawai berladang disaat hari-hari kerja, dan diantaranya memiliki semacam rumah gudang yang memiliki stok pangan. Jadi jika melakukan evakuasi mandiri atau mengungsi, tempat tersebut jadi salah satu tujuannya. Dalam pertanian, Untuk membuka ladang yang baru jika akan berpindah maka petani/peladang akan mengadakan musyawarah terlebih dahulu, kegiatan tersebut disebut dengan istilah Uma. Sedangkan untuk membuka hutan menjadi ladang sebuah ritual yang disebut Panaki dilakukan untuk meminta ijin kepada roh-roh penjaga hutan.

Contoh Kearifan Lokal Suku Minangkabau

Kearifan lain di Sumatera Barat yaitu di Minangkabau (kabupaten/kota dalam lingkup Sumbar) yang populer adalah Nagari. Selain merupakan sistem pemerintahan, Nagari mempunyai seperangkat mekanisme adat untuk mengatur bentuk hubungan sosial (antar manusia) dan hubungan antara manusia dengan alam. Ada prinsip tali tigo sapilin yang merupakan dasar untuk mengatur hukum adat, syariat Islam dan hukum negara. Antara Adat dengan Islam , orang Minang berpegang pad prinsip Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (Adat berlandaskan Syariat-Syariat berlandaskan Alquran) mengatur dan menciptakan keseimbangan antara hubungan manusia, alam dan Tuhan. Pemerintahan Nagari yang otonom dipegang secara kolektif dengan prinsip tigo tungku saranjangan (ninik mamak, alim ulma, dan cadiak pandai) dan pengambilan keputusan dilakukan melalui permusyawaratan antara pemimpin dan warga Nagari.

Dalam falsafah orang Minangkabau banyak ungkapan-ungkapan yang bermakna kemanusiaan, kepedulian dan solidaritas. Sebagai contoh berikut ungkapan dan pantun khas Minangkabau:

1. Mancaliak contoh ka nan sudah, mancaliak tuah ka nan manang, alam takambang jadi guru.
Ungkapan diatas bermakna belajarlah dari pengalaman yang sudah terjadi, belajarlah dari karakter atau kompetensi yang dipunyai oleh para pemenang, belajarlah dari alam yang terbentang.

2. Kaluak paku kacang balimbiang – Tampuruang lenggang-lenggangkan – Anak dipangku kamanakan dibimbiangUrang kampuang di patenggangkan.
Inti dari pantun diatas bahwa selain mengurus anak sendiri, juga ada tanggung jawab untuk mengurus keponakan dan kepada masyarakat juga harus punya tanggung jawab sosial.

3. Kaba baiak baimbauan, kaba buruak bahamburan.
Ungkapan diatas menyiratkan jika merayakan suatu hal yang membahagiakan hendaklah mengundang tetangga dan handai tolan (relasi) tapi apabila terjadi musibah pada seorang anggota masyarakat, tanpa adda yang mengajak pun masyarakat akan datang memberikan bantuan.

Realitas dan fakta di lapangan terkait pengungsian, bisa dibilang dalam banyak kasus bencana angka pengungsi bila terjadi bencana di Sumatera Barat khususnya Minangkabau dapat dikatakan jumlah pengungsi yang timbul sangat minim. Memang perlu penelitian lebih lanjut apakah terkait kearifan lokal dari falsafah dan nilai-nilai tersebut diatas. Kearifan lokal setempat juga menempel di zona kehidupan berdasarkan geografisnya. Kehidupan di Pantai akan berbeda dengan kehidupan di pegunungan. Kehidupan di perkotaan juga bertolak dengan di pedesaaan. Kehidupan di pinggir danau pun akan berbeda pula dengan kehidupan di daerah aliran sungai. Masing-masing kearifan lokal tersebut sudah tertanam dengan kuat sehingga sulit berubah dalam waktu cepat. Atau bisa jadi dalam kasus daerah tertentu kearifan lokal yang dimilikinya memudar sehingga perlu dihidupkan sebagai bagian kesiapsiagaan bencana dan rencana kedaruratan.

Leave a Comment