Menolak Apatis

By | Desember 22, 2018

Kenapa tidak boleh apatis?
Mengapa apatisme berbahaya dan tidak relevan bagi manusia?
Apa saja bentuk apatisme yang berbahaya?
Bagaimana praktik melatih mereduksi apatisme?

————————
Apatis merupakan sikap ketidakpedulian atas sesuatu, lawannya adalah empati.

Mengapa apatisme ini harus kita lawan?

1. Manusia adalah makhluk sosial
Tentu kita semua sepakat bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang memerlukan satu sama lain dalam memenuhi kebutuhannya baik karir, keagamaan apalagi asmara.

Kemampuan membangun relasi akhirnya menjadi salah satu skill abad ini yang mutlak dibutuhkan dan perlu dipraktikkan terus menerus dalam rangka menjafa eksistensi seseorang di dunia.

Maka mau tidak mau, seseorang yang butuh pada orang lain tidak bisa bersikap apatis karena dia butuh. Hal inilah yang setidaknya menjadikan “kepentingan” sebagai alasan melawan apatisme diri. Kamu apatis, kamu ga eksis.

2. Hukum kausalitas
Hal ini juga diperkuat dengan ide hukum kausalitas alias tidak ada akibat tanpa sebab. Seseorang makan disebabkan lapar. Bekerja disebabkan butuh uang buat beli makan. Jadi (maaf) obesitas karena makan tidak teratur diperparah tidak olahraga. Orang punya sixpack karena latihan dan jaga nutrisi. Ada akibat atau hasil, pasti ada penyebabnya.

Oleh sebab itu, apatisme dalam diri juga seharusnya tidak punya ruang karena PASTI akan memberikan akibat baik pada diri maupun orang lain.

Hal ini juga terkait dengan freedom of choice yang dimiliki oleh manusia. Seseorang yang mendapatkan akibat buruk dari apatisitasnya tentu tidak bisa menyalahkan keadaan. Contoh, Anda apatis dengan lampu merah, tentu kalau Anda ditabrak dan celaka, Anda tidak bisa menyalahkan penabrak karena secara asasi penabrak tidak bersalah disebabkan dia yang berhak melaju, sementara Anda seharusnya berhenti.

Ada juga teori organisasi bernama “the broken window” yang pada pokoknya, apatisitas organisasi atas kesalahan kecil dan diremehkan bisa mempengaruhi kinerja seluruh lembaga.

Jadi, Apatisitas pasti akan berdampak pada hidup Anda, baik secara kecil dan remeh atau besar dan determinan.

3. Perspektif pertanggungjawaban hukum

Apatisitas seseorang juga bisa masuk dalam tindak pidana. Sebagai contoh, kalau ada tindakan pembunuhan dan Anda sengaja membiarkan saja, Anda bisa terjerat tindak pidana pembantuan dalam Pasal 56 ayat 2 KUHP. (Kecuali Anda mau jadi saksi di persidangan dan punya alasan pembenar kenapa Anda membiarkan)

Hal ini disebabkan orang tersebut memberikan kesempatan terjadinya tindak pidana yang seharusnya bisa dicegah jika dia tidak apatis.

Dari ketiga perspektif itu saja, apatisme seharusnya tidak memiliki ruang didalam pemikiran manusia.

Belum dari perspektif agama salah satunya Islam mulai dari ayat yang berbicara tentang kebaikan sosial, amar maruf nahi munkar hingga akibat membiarkan tindakan dosa. Termasuk ajaran Nabi soal hak sesama muslim, salam, bahkan seperti sholat berjama’ah saja, mengandung nilai empati dan secara langsung mereduksi sifat apatis dalam diri seorang muslim.

Poin pentingnya adalah apatisme merupakan hal yang seharusnya tidak boleh ada dalam sanubari manusia.
—————
Adapun di hari-hari ini ada banyak sekali fenomena apatisme yang berbahaya.

Salah satu yang cukup bisa jadi pelajaran adalah apatisme politik dan hukum. Sebagai contoh adalah terpilihnya Donald Trump di USA. Bagi banyak kalangan hal ini cukup mencengangkan dari berbagai perspektif mulai dari sifat hingga kebijakannya. Namun realitanya adalah Trump terpilih secara konstitusional sebagai POTUS (President of the united states). Usut punya usut, diantara penyebab yang disinyalir memuluskan Trump ke singgasana adalah masih tingginya angka golput.

Mungkin banyak dari kita berpikir, halah saya cuman sendirian, cuman satu suara, ga ngaruh.

Tapi faktanya yang berpikir seperti itu tidak sendirian dan akhirnya tinggi juga yang golput yang kemudian yang terpilih bisa jadi bukan yang terbaik.

Apatisitas politik pada akhirnya juga menjadikan kebijakan dan program yang ada tidak berpihak pada kepentingan publik.

Sebagai contoh lagi yang viral adalah soal PSSI. Kalau seseorang ingin reformasi sepakbola, tidak cukup hanya berhenti pada tagar dan cacian semata, namun harus dikawal secara konkret dan pengawalan itu butuh partisipasi. Apatis dan ketidakpedulian hanya akan melanggengkan oknum untuk berkuasa.

Itu konteks bahaya apatisitas politik.

Dalam konteks hukum, apatisitas juga berbahaya mengingat seseorang pasti terikat dengan urusan hukum dalam setiap aktifitas. Mulai dari kerja, nikah, jalan-jalan dll.

Maka mau tidak mau, seseorang harus mengetahui aspek hukum yang akan mengikat dirinya di urusan tersebut mulai dari dasar hukum, hak dan kewajiban serta konsekuensinya.

Katakanlah mau pinjam uang online, harus baca dulu hak kewajiban dan segala hal yang penting sebelum memutuskan tandatangan.

Makanya dalam sistem hukum dikenal istilah “fiksi hukum”, yang artinya semua orang dianggap tahu hukum ketika hukum tersebut sudah diundangkan.

Artinya tidak ada alasan “maaf saya ga tahu hukumnya” karena negara sudah mengundangkan secara tertulis baik di UUD, UU hingga Perda.

Polisi juga tetap akan menilang Anda walau alasannya “saya ga bawa helm karena ga tahu kalau wajib”.

Jadi, apatisitas Anda dalam hukum pasti akan membawa konsekuensi yang biasanya merugikan Anda.

Yang terakhir,
Gimana mereduksi apatisitas dalam diri khususnya pada hal yang berpengaruh pada hidup jangka panjang seperti politik dan hukum.

1. Pahami dan sadari bahwa semua tindakan kita termasuk tidak bertindak pasti memiliki dampak. Biasanya orang apatis karena ga tahu kalo urusan yang di apatisi penting, coba kalau dia apatis dari makan, pasti mati;

2. Perbanyak diskusi dan update urusan lain, ga perlu tahu secara mendalam, minimal tahu dan nyambung kalau diajak bicara;

3. Follow akun/sosmed/channel yutub yang berfaidah dan mencerahkan,

4. Perbanyak dan jaga jaringan, barangkali Anda membutuhkan nantinya, ya seperti pengacara lah, hehe.

Mungkin itu sekelumit dari saya, semoga bisa sedikit banyak mereduksi apatisitas kita.

Tinggalkan Balasan