Mengenalkan Buku Kepada Ibrahim

Sejak usia sebulan, kami mulai mengenalkan buku pada Ibrahim. Mungkin beberapa orang menganggap bahwa saya ibu yang ambisius dan terlalu memaksakan kehendak. Mungkin ada juga yang bertanya-tanya, “Emang anak kecil dah ngerti buku? Dah bisa baca? Pengen banget ya anaknya bisa cepet baca”. Ya tentu belum bisa baca, makanya kami yang membacakan. Tujuan utama saya dan suami mengenalkan buku bukan agar Ibrahim bisa cepat membaca. Kami ingin Ibrahim “mencintai buku”. Itu salah satu hal yang ingin kami tanamkan pada Ibrahim. Ibarat proses menemukan pasangan, kenal dulu kan baru bisa cinta dan yakin. Nggak bisa tiba-tiba langsung cinta kan. Hehe

Bagi kami, buku adalah investasi

Buku itu nggak ada kata kadaluarsanya. Bisa juga diturunkan ke adiknya kelak. Jadi, pilih buku yang awet ya. Bisa juga baca disini, tentang tips memilih buku untuk Ibrahim.

Apakah prosesnya mudah?

Tentu saja TIDAK. Namanya juga proses, pasti bertahap. Awalnya Ibrahim nggak langsung ngerti kalau benda ini buku, buku untuk apa, cara mainnya gimana. Dibuka satu halaman, lalu ditinggal pergi. Bukunya hanya dilirik juga pernah. Giliran mulai bisa banting-banting, bukunya dipegang terus dibanting. Pernah juga dimasukin mulut. Atau, buku yang kertasnya tipis disobek. Oh bhaique! Daripada ibu tensinya naik, mending buku tipis simpan saja dulu atau dibuka ketika sesi dongeng sebelum tidur. Anggap saja sebagai stimulasi motoriknya juga kan proses buka tutup buku.

Ibrahim sejauh ini adalah anak dengan tipe observer yang “lihat dan kenal dulu baru suka”. Jadi kami nggak menyerah mengenalkan buku pada Ibrahim. Kami mengenalkan ya, bukan memaksa. Kalau memang Ibrahim menolak ya, berarti dia bosan atau sedang tidak tertarik. Kami ulangi lagi kegiatan membacakan buku lain kali. Tunggu waktu yang tepat, atau membacakannya sambil bernyanyi. Atau membawa buku saat jalan-jalan ke luar rumah. Kami membuat kegiatan membaca atau bermain dengan buku adalah sesuatu yang menyenangkan.

Intinya, fokus pada proses dan turunkan ekspektasi, anak tidak akan langsung paham dan suka pada buku. Bapak ibunya harus punya stok sabar. Karena anak bayi masih tahap mengenal dan eksplorasi sekitarnya. Rentang perhatian bayi juga masih pendek, jadi jangan heran kalau buku cuma dibolak-balik terus ditinggal. Heuheuu. Kami juga memberikan contoh dengan membaca baca buku di depan Ibrahim.

Sekarang gimana?

Setelah setahun ya Ibrahim ada tanda-tanda cinta sama buku. Semoga sih bukan hanya tanda-tanda, tapi memang cinta. Ibrahim selalu penasaran kalau ada buku baru, dibuka berkali-kali. Apalagi kalau ada gambar hewan. Fokus (sampe manyun) kalau lihat buku. Ekspresi mukanya seolah-olah mengatakan bahwa dia penasaran. Sudah mulai ada komunikasi dua arah, bahkan seperti bertanya “apa” kalau sudah dijawab, dia buka halaman berikutnya. Ada buku yang berkali-kali disentuhnya lalu digeser-geser fiturnya. Melihatnya saja kami sudah bahagia. Semoga kegiatan membaca yang selama ini kami lakukan, menjadi memori membahagiakan bagi Ibrahim.

Harapan saya, Ibrahim mencintai buku dan aktivitas membaca. Membaca itu adalah hal yang indah dan menyenangkan. Kecintaan membaca akan membuka dunia. Banyak hal baik yang bisa kita dapat dari buku dan membaca. Buku bisa jadi teman, sumber inspirasi dan pemahaman sekaligus pengingat. Mungkin, hasil nya tidak akan langsung terlihat. Layaknya menanam bunga, maka butuh proses dari benih hingga tumbuh dan mekar bunganya. Saya percaya, bahwa usaha yang baik, akan membawa hasil yang baik pula.

Yuk, buka dan bacakan bukunya Bapak Ibu. Semangat!

Leave a Comment