Mengapa Aktivis Menghilang setelah Menikah?

Artikel ini ditulis karena sebuah keresahan kolektif tentang beratnya ber-aktivisme setelah menikah. jangankan setelah menikah, setelah bekerja saja berat. mungkin ini yang d sebut quarter live crisis. Para aktivis yagg hilang itu bukan hilang, tapi pindah ke lajur aktivisme yang lain. tidak mengapa. karena kita punya definisi masing2.

Saya punya seorang kawan, seorang ideolog gerakan. kami dulu bertemu d thailand. pasca lulus s1 dan merampungkan s2, beliau menikah dan bekerja sebagai peneliti. karena memang cerdas, sering mendapat panggung d media. statemen2 dan analisisnya selalu membela kepentingan rakyat. ini namanya baru aktivisme yang naik level.
kalau yg disebut menghilang seperti yg dibahas dalam buku ini yg bagaimana? y seperti yg sering kita temui sehari2. sibuk ngurusi papan, sandang dan pangan.

Sebuah kisah yang menginspirasi.

Pada sebuah kesempatan saya mendapatkan sebuah kisah menarik dari seorang ustadz. Kisah ini sebetulnya hanya analogi semata, fiktif, namun begitu berkesan bagi saya karena dalamnya hikmah yang hendak disampaikan. Kira-kira ceriteranya begini. Kira-kira ceritanya begini, ada dua orang sahabat yang aktif di organisasi karang taruna di kampungnya, yang satu risingstar organisasi, bahkan menjabat sebagai ketua karang taruna, sedang yang lain hanya anggota biasa.

Si pemuda risingstar begitu menonjol, memililki ide, narasi dan gagasan yang luar bisa. Kemampuan menggerakkan anak-anak muda di kampung untuk aktif berpartisipasi sangat memukau. Menjadi idola banyak orang. Bahkan digadang-gadang menjadi tokoh di kemudian hari. Sedangkan si pemuda kedua, cenderung biasa saja dan tidak menonjol sama sekali. Hanya sekedar aktif saja. Bahkan terkadang tidak turut serta dalam kegiatan. Alhasil tak banyak yang mengenalnya.

Singkat cerita, saat beranjak dewasa keduanya telah bekerja menekuni profesi masing-masing serta sudah pula menikah. Menariknya dari kisah ini, pasca bekerja dan berkeluarga, si risingstar, mantan ketua karang taruna ini justru tidak muncul kembali sebagai aktivis. Mendadak teggelam dan menghilang dari peradaban, dia menjadi sibuk dengan dunianya sendiri, dengan keluarga dan pekerjaanya. Seperti dalam lirik lagu Surat Cinta untuk Starla, “Telah habis sudah cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia”. Ibarat kata semua perhatian, daya dan fikiran hanya dicurahkan untuk pekerjaan dan keluarga. Tidak ada lagi waktu untuk aktif dalam kegiatan organisasi dan kemasyarakatan seperti waktu bujang dulu. Dia yang dulu begitu lincah kesana kemari untuk mengurusi kegiatan karang taruna, hari ini lebih banyak menghabiskan waktu senggang diluar kantor bersama keluarga. Selain karena istrinya tidak mendukung potensi aktivitas organisasinya, dia juga merasa lelah karena hampir seharian waktu dan pikirannya sudah dihabiskan di tempat kerja. Sehingga berfikir untuk memanfaatkan waktu luang di rumah. Sudah bukan lagi waktunya untuk aktif di organisasi seperti saat bujang dulu.

Di sisi lain, sahabatnya yang dulu cuma pengurus karang taruna biasa justru menemukan spirit baru setelah bekerja dan berkeluarga. Hal-hal yang dahulu tidak bisa dikerjakan,kini dapat dia kerjakan setelah berpenghasilan, misalnya, dahulu dia tak bisa mentraktir kawan-kawan karangtaruna karena uang saku dari orang tuanya sangat terbatas, sekarang setelah berpenghasilan dia mampu ngopeni, mengayomi anak-anak karang taruna serta sedikit banyak memberi sumbangan untuk kegiatan desa. Karena kontribusinya, masyarakat memilihnya sebagai ketua RT. Pernikahan membuatnya semakin produktif. Dulu dia sering tidak bisa aktif di kegiatan karang taruna karena dilarang orang tua, setelah menikah dia memiliki otoritas penuh untuk aktif di manapun. Begitu pua jika dulu dia harus mengatur semua keperluan pribadinya sendiri, mulai mengatur anggaran sampai urusan teknis rumah lainnya, saat ini ada istri yang membantu, sehingga dia bisa fokus bekerja dan berkegiatan dalam aktifitas sosial masyarakat. Pendek kata dia menemukan spirit baru dan menjadi semakin produktif.

Setelah ustadz merampungkan ceriteranya, saya kemudian bertanya cara menemukan spirit sebagaimana pemuda yang kedua. Ustadz hanya tersenyum dan meminta saya untuk menemukan, mencari dan merumuskan metodenya sendiri. Ada sebuah pertanyaan lain yang menggelitik dari kisah ini. Banyak anak-anak muda mampu melakukan hal-hal besar, membuat gerakan, bahkan melakukan propaganda sampai berkeliling Indonesia dan ke seluruh dunia, dengan sumber daya yang terbatas. Tapi setelah bekerja dan berkeluarga, dengan sumber daya dan kondisi yang lebih baik, mengapa justru banyak yang tak menemukan spirit untuk bergerak? Ternyata sumber daya bukan segalanya. Visi dan spiritlah yang mendorong manusia untuk terus bergerak. Mari menemukan spirit di setiap marhalah kehidupan dengan cara kita masing-masing.

Tentang Babak-Babak Ujian Kehidupan

Sejatinya dalam hidup, manusia akan mengalami ujian sesuai dengan usia dan fase hidupnya. Secara umum, ujian tersebut bisa dikelompokkan menjadi beberapa fase. Fase pertama adalah fase kanak-kanak, pada fase ini seorang anak seyogyanya banyak belajar, tapi godaan mengabiskan waktu untuk bermain seringkali akan membuat mereka melewatkan masa emas otak. Fase yang kedua adalah fase remaja, pada fase ini anak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan softskill seperti kemampuan komunikasi, berorganisasi dll. Sayangnya, pada fase ini anak manusia sering tergelincir dan tidak optimal karena godaan dari lawan jenis. Fase selanjutnya adalah dewasa. Pada fase ini anak manusia sudah mandiri, sudah berpenghasilan dan bahkan mungkin sudah bekerja. Godaan terbesar pada fase ini adalah tentang berhutang, riba, dan mendapatkan kekayaan dengan cara yang tidak halal. Ketiganya berujung pada masalah financial karena pada fase ini anak manusia cenderung ingin segera mapan. Kemudian fase selanjutnya adalah fase golden age, ini adalah fase saat anak manusia berumur sekitaran 40an tahun. Godaan yang paling berat adalah kekuasaan. Apakah mereka bisa sabar meniti karir menuju sebuah kekuasaan dengan cara yang baik dan halal? Fase terahir adalah fase senja. Fase dimana anak manusia sudah masuk usia senja. Ditandai dengan kondisi fisik yang menurun, sakit-sakitan dsb. Ujian terbesar pada fase ini adalah ujian keimanan, karena secara medis tentu penyakit yang diderita sudah kompleks, akibat menuanya tubuh.Alternatif pengobatan yang irasional dan banyak berhubungan dengan hal ghaib akan banyak ditawarkan.

Fase ketiga adalah yang akan menjadi fokus bahasan kali ini. Babak ketika anak manusia mulai mandiri dan dewasa. Godaan terberat adalah perihal keuangan, mulai dari berhutang, riba dan mengambil harta haram. Ujian ini tidak terkecuali juga menimpa para aktivis muda yang berstatus puna kampus, bekerja dan membina keluarga.
Akar dari ujian tersebut adalah mitos bahwa pemuda harus mapan di usia tersebut. Sayangnya parameter yang dipakai untuk kata mapan disini bukan dalam hal pemikiran, kedewasaan dan akidah serta aklaq. Akan tetapi, yangdigunakan justru kesiapan materi; papan (rumah), sandang (pakaian yang baik) dan pangan.

Demi mengejar kata mapan yang sesegera mungkin, maka seringkali godaan berhutang datang dengan deras tanpa bisa terbendung. Seorang aktivis yang ingin segera tinggl dirumah milik sendiri, memiliki mobil pribadi dan sebagainya jika tak cukup uang untuk membeli dengan kontan akan mengambil dengan sistem kredit. Sistem inilah yang akan membelenggunya dalam waktu yang cukup lama. Untuk melunasi cicilan mobil biasanya dibutuhkan waktu lima tahun, sedang untuk membayar cicilan rumah bisa 15-20 tahun. Mari kita berhitung, jika seorang aktivis lulus kuliah umur 23 tahun kemudian dia mengambil kredit rumah selama 20 tahun, makan rumah itu akan lunas saat ia berusia 43 tahun. Sehingga, dia akan sibuk dan menghabiskan masa emas usia aktivismenya untuk memikirkan cara membayar cicilan. Tanpa disadari, tiba-tiba dia sudah masuk fase golden age (40an tahun) tanpa menyiapkan bekal pengalaman dan ilmu yang memadai. Jadilah cita-cita menjadi tokoh bangsa tinggal kenangan.
Jika skema hutang yang diambil adalah kredit syariah maka masih untung, yang akan terlewat paling-paling hanya masa muda yang habis untuk membayar cicilan. Tapi jika skema hutang yang dipakai adalah skema riba, ya sudah, tamat. Kalau dari hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Muslim, orang yang bergelut dengan riba doanya tidak diterima. Lain lagi hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, mereka yang bergelut dengan riba akan hilang keberkahan dalam umurnya. Bagi seorang aktivis gerakan, kedekatan dengan Allah adalah harga mati. Hal ini adalah sumber energi utama bagi sang aktivis untuk bergerak. Lantas bagaimana jika dirinya sudah terperangkap dalam jebakan riba? Apakah memungkinkan untuk terus bergerak?

Ujian yang cukup berat adalah untuk tidak mengambil harta haram. Jika seorang aktivis sudah terlanjur mengambil hutang, apalagi sudah terjerat riba, maka skenario untuk mencari harta dengan segala cara akan muncul sebagai opsi. Tidak diperdulikannya lagi darimana sumbernya, yang penting banyak dan cepat. Sekali saja jalan ini diambil, maka akan menjadi candu yang sulit untuk dihentikan. Pada mulanya mungkin akan muncul rasa bersalah, tapi lama-kelamaan, setelah menjadi kebiasaan, rasa bersalah itu tidak akan muncul. Bahkan, upaya-upaya mencari legitimasi untuk menyatakan cara bathil yang diambil tersebut, sifatnya sah dan halal serta bisa diatur. Karena memang sudah fitrah manusia, lebih suka mencari pembenaran dari pada kebenaran. Maka sangat mungkin sekali para pengambil jalan ini akan sering bersinggungan dengan tujuh dosa sosial yang dirumuskan oleh Gandhi:

1. Kaya tanpa bekerja
2. Kesenangan tanpa nurani
3. Ilmu tanpa kemanusiaan
4. Pengetahuan tanpa karakter
5. Politik tanpa prinsip
6. Perniagaan tanpa moralitas
7. dan ibadah tanpa pengorbanan

Semoga keberkahan Allah SWT senantiasa terlimpah untuk kita, sehingga bisa lulus dari tiap babak ujian kehidupan yang nampaknya sudah menjadi keniscayaan akan selalu datang. Boleh jadi kita kalah oleh ujian-ujian yang datang di fase hidup yang lalu, tapi masih ada fase ujian hidup saat ini dan akandatingyang bisa kita tuntaskan. Bukankan orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang beruntung, sedang mereka yang lempeng-lempeng saja adalah orang merugi, dan yang paling celaka adalah yang mengalami kemerosotan.

1 thought on “Mengapa Aktivis Menghilang setelah Menikah?”

  1. sangat nyata, para aktivis mulai hilang ketika menikah… saat lajang berapi-berapi itu benar, tapi setelah menikah sibuk dengan keluarga

Leave a Comment