Memperbaiki 7 Perspektif Peserta Program JKN-KIS BPJS Kesehatan

“Tidak ada yang lebih kaya dari orang-orang yang sehat dan terus berdaya.”

Di tengah deraan isu dan berita miring terkait BPJS Kesehatan, saya termasuk dalam barisan orang-orang yang memiliki pengalaman manis dengan lembaga ini.

Pada tengah tahun 2018, melalui program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan, alhamdulillah, istri saya melahirkan anak pertama dengan tenang, tanpa perlu memikirkan biaya, alias gratis.

Bahkan, lebih dari sekadar persoalan materi, mekanisme JKN-KIS dari BPJS Kesehatan juga memberi saya tiga pelajaran berharga tentang pelayanan kesehatan.

Pertama, tidak harus mahal untuk mendapatkan manfaat yang optimal. 

Sebagai pasien, kita tercerahkan bahwa pelayanan di fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama telah mencakup hal-hal esensial. Bahkan, puskesmas atau faskes tingkat pertama, cenderung berupaya memudahkan masyarakat untuk mendapat obat yang lebih hemat, secara cermat.

Jadi, tidak perlu memaksakan diri berobat ke rumah sakit hanya karena stereotip penanganan yang lebih lengkap dan berkualitas, jika faktanya Anda tidak benar-benar membutuhkannya.

Kedua, tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit maupun puskesmas, sama-sama memiliki dedikasi dan kepekaan tinggi dalam menjalankan tugas.

Mereka telah terdidik untuk menentukan prioritas dan tidak akan mengambil risiko yang membahayakan nyawa pasiennya.

Maka, tidak perlu ragu untuk mendatangi puskesmas. Karena, nakes di faskes tingkat pertama justru memiliki jam terbang tinggi dalam berinteraksi dengan pasien dari beragam latar belakang, yang menjadikan pelayanan mereka lebih membumi dan humanis.

Kesehatan keluarga adalah segalanya (dok.pribadi)

Karena itulah, berdasarkan dua pelajaran berharga di atas, saya ingin meninjau beberapa perspektif menarik. Ketika memutuskan untuk menjadi peserta program JKN-KIS dari BPJS Kesehatan, secara mandiri, lembaga, maupun PBI (Penerima Bantuan Iuran), ada baiknya kita fokus pada 7 kerangka berpikir berikut ini:

1. Pelayanan tanpa batasan

Kendati tidak lepas dari lika-liku perbaikan sistem, program JKN-KIS oleh BPJS Kesehatan telah sukses membuka lebar akses pelayanan kesehatan kepada seluruh lapisan masyarakat. Rumah sakit dan tindakan medis pun kini tidak lagi terasa eksklusif.

Dalam perspektif positif, masalah biaya bukan lagi kendala untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang prima. Masyarakat dari golongan prasejahtera, bahkan dapat menjadi peserta JKN-KIS melalui jalur PBI (cek laman resmi BPJS untuk melihat update jumlah peserta dari berbagai jalur).

Perihal ini menjadi penting, karena hanya dengan tubuh yang sehat, kita dapat sama-sama berjuang agar kualitas hidup terus meningkat.

2. Meretas prioritas

Kesuksesan program JKN-KIS oleh BPJS Kesehatan semakin kokoh dengan adanya kader JKN yang bertindak sebagai penggerak partisipasi masyarakat. Mereka begitu gencar melakukan sosialisasi hingga ke akar rumput, agar masyarakat semakin memahami pentingnya jaminan kesehatan.

Iuran yang terjangkau dan terbagi menjadi tiga kelas, memang seharusnya dapat dipenuhi oleh siapa saja. Dengan kecerdasan finansial yang cukup, sudah saatnya, orang-orang meretas prioritas yang sering kali salah sasaran, dan mulai membagi porsi penghasilan, terutama untuk kesehatan yang menjadi poros bagi kehidupan.

3. Asas tolong-menolong

Sering kali terlontar, “Sudah bayar BPJS, kok tidak dipakai?” Hmm … hindari pikiran seperti itu, ya. Demi mencapai kesejahteraan bersama yang menjadi tujuan program JKN-KIS, ingat himbauan dari BPJS Kesehatan, yaitu “Dengan gotong royong, semua tertolong”.

Dengan menerapkan asas dan kerangka berpikir tolong-menolong, BPJS Kesehatan mengadaptasi prinsip asuransi syariah yang saling menanggung, dan bukan saling menukar. Skema ini pula yang berusaha ditanamkan BPJS Kesehatan dalam setiap iklan layanan masyarakat mereka.

Karenanya … yuk, bekerja sama membangun kesejahteraan bangsa!

Sumber: bpjs-kesehatan.go.id
Sumber: bpjs-kesehatan.go.id

4. Asuransi keberkahan

Bagi sebagian orang, konsep asuransi masih menjadi polemik. Karena itulah, perjelas akad dan luruskan niat ketika kita memutuskan ambil bagian dalam program JKN-KIS yang dikelola BPJS Kesehatan. Kuatkan tekad untuk membantu saudara kita, kaum duafa yang membutuhkan bantuan.

Dengan niat tolong-menolong dan saling memberi rasa aman, ikatan solidaritas antarmanusia pun dapat semakin kuat. Bukankah kita sama-sama yakin bahwa jaminan hidup terbaik berasal dari keberkahan-Nya?

Sumber: bpjs-kesehatan.go.id
Sumber: bpjs-kesehatan.go.id

5. Peduli dan rasa memiliki

Peserta bukan hanya objek, melainkan subjek yang aktif berkontribusi terhadap kesuksesan program JKN-KIS. Dan, kita tidak ingin memungkiri, masih ada kekurangan yang harus diperbaiki, dari segi pelayanan, sistem, maupun kinerja BPJS Kesehatan.

Maka, tumbuhkan kepedulian dan rasa memiliki. Hindari keluhan sumbang yang hanya jadi penghias linimasa atau obrolan warung kopi semata. Ingat, “no wrong door”.

Layangkan aduan, kritik, saran, dan penilaian tentang program JKN-KIS langsung kepada lembaga, baik melalui Care Center 1500-400, aplikasi Saluran Informasi dan Penanganan Pengaduan (SIPP), atau LAPORI, agar dapat segara dikelola dan ditangani oleh BPJS Kesehatan.

6. Perbaikan berkelanjutan

Bersikaplah adil dalam menilai kinerja BPJS Kesehatan selama menjalankan program JKN-KIS. Karena di luar pro dan kontra yang marak diperbincangkan, BPJS Kesehatan telah sepenuh hati mengabdi untuk negeri, melalui penataan konsep, serta peningkatan efisiensi dan efektivitas pelayanan.

Bahkan, pada bulan Oktober 2018, BPJS Kesehatan meraih sembilan penghargaan dari asosiasi jaminan sosial internasional, atau International Social Security Association (ISSA), dari aspek kepesertaan, iuran, sistem informasi, hingga mekanisme efektivitas pembayaran kepada fasilitas kesehatan.

Tiga penghargaan juga menyebutkan secara khusus terkait implementasi manajemen risiko sesuai panduan ISSA, optimalisasi program melalui kader JKN, dan aplikasi mobile JKN.

Selain itu, BPJS Kesehatan juga proaktif berdiskusi dengan MUI, untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip syariah yang baik bagi seluruh peserta JKN-KIS.

7. Fokus pada kepuasan peserta

Demi mencapai kepuasan peserta program JKN-KIS di era revolusi industri 4.0, BPJS Kesehatan juga menghadirkan beragam inovasi.

Contohnya, implementasi CSTI-Supel (Customer Service Time Index-Suara Pelanggan) yang berguna untuk menilai performa pelayanan frontliner, sehingga peserta JKN-KIS dapat mengetahui perkiraan waktu mendapatkan pelayanan, serta memberikan customer feedback.

Selain itu, ada pula aplikasi mobile JKN, untuk menyelesaikan beragam urusan administrasi JKN-KIS hanya dalam genggaman. Kalau bisa mudah, kenapa pula memilih susah, kan.

Sumber: bpjs-kesehatan.go.id
Sumber: bpjs-kesehatan.go.id

Bagaimana? Dengan maslahat yang melimpah dan perbaikan berkelanjutan pada setiap celah, BPJS Kesehatan tentu layak mendapat apresiasi dan dukungan evaluasi dari seluruh masyarakat Indonesia.

Maka, untuk mendapatkan manfaat program JKN-KIS yang optimal, jangan sampai salah fokus.

Tetaplah kritis, tapi jangan lupa tersenyum manis! 🙂

Salam sehat, penuh semangat.

8 pemikiran pada “Memperbaiki 7 Perspektif Peserta Program JKN-KIS BPJS Kesehatan”

Yakin Tak Mau Komen?