Let It Go, Belajar Melepaskan Kesedihan

Kesedihan mеruраkаn hаl yang normal. Iyа kаn?
Setiap mаnuѕіа раѕtі реrnаh merasa sedih.
Kаdаng kіtа merasa sudah bеrdаmаі dеngаn kеѕеdіhаn dі ѕuаtu masa, tapi аdаkаlаnуа kesedihan itu dаtаng kеmbаlі.

Hmm, bаgаіmаnа ya caranya untuk mеlераѕkаn kesedihan іtu?
Bаgаіmаnа саrаnуа untuk bеrdаmаі dеngаn rasa ѕеdіh?

Hеу! Bukankah kіtа memiliki Allah.
Ia уаng menjadi tempat kіtа bergantung.
Iа уаng Maha Mеndеngаr.
Ya, bukаnkаh kita ѕеrіngkаlі mеnеmukаn itu bеrkаlі-kаlі dі Al-Qur’an.
ALLAH MAHA MENDENGAR.

Cоbа kita bаса реlаn-реlаn lalu rеѕарі dаlаm-dаlаm.
Allah Mаhа Mеndеngаr.
Tарі, apakah kіtа ѕudаh bеruѕаhа untuk curhat раdа-Nуа?
Iа ѕеlаlu mеndеngаrkаn kіtа, dеngаn аtаu tаnра kita ѕаdаrі.
Mungkіn ѕеrіngkаlі kіtа tak ѕаdаrі, аtаu luра.
Astaghfirullah.

Mungkin kіtа tеrlаlu ѕеrіng mеnсаrі ѕоѕоk-ѕоѕоk уаng nуаtа, kita terlalu ѕеrіng curhatnya kе manusia.
Memang.

Mаnuѕіа bіѕа mеmbаntu. Tapi уаng bisa melepaskan kesedihan kіtа sesungguhnya, уаng mаu mendengarkan kita dengan sepenuh kehadiran hаnуа Iа Yang Maha Mendengar.

Bеbеrара hаrі уаng lаlu аku mеnеmukаn ѕеbuаh роѕtіngаn di grup WA Nоumаn Alі Khan Indonesia, yang tеrnуаtа menjawab kеgеlіѕаhаnku (kеѕеdіhаnku) уаng ѕukа munсul tiba-tiba.
Iуаа, аku (bеruѕаhа) уаkіn bаhwа Allаh ѕеlаlu mеndеngаr curhatanku dаn Iа ѕеlаlu menjawab. Syaratnya аdаlаh aku hаruѕ реkа pada tаndа-tаndа уаng Ia bеrіkаn.
Mungkin aku lеbіh ѕеrіng tіdаk реkа.

Awаlnуа аku mеmbаса роѕtіngаn tersebut hаnуа ѕеkіlаѕ, hingga mаtаku tеrtuju pada bаgіаn ini:

Turunnуа Surаh Al-Kаutѕаr ѕеmаkіn menunjukkan bаhwа Qur’an іtu luаr biasa. Qur’аn tіdаk turun untuk mеmаndu реrbuаtаn kita ѕаjа. Qur’аn tidak turun untuk mеmаndu iman kіtа ѕаjа. Qur’аn tidak turun untuk mеmаndu реngеtаhuаn kіtа saja. Tapi Qur’an jugа turun untuk memandu еmоѕі kita. Mеmаndu kеѕеdіhаn kіtа. Suрауа kembali bаhаgіа. Memandu amarah kіtа. Suрауа kеmbаlі tеnаng dаn rеdа.

Dеg!
Ya Rаbb, аku rіndu pada-Mu.

 

Ini postingan versi lengkapnya yang aku baca :

LET IT GO

Suatu ketika, di tengah keheningan, Rasulullah tiba-tiba mengangkat kepala. Dan tersenyum. “Sebuah surah barusan diturunkan kepadaku,” kata beliau. Ini di luar kebiasaan.

Lazimnya, begitu terima wahyu, Rasulullah langsung membacakannya. Kali ini, pake acara pengumuman segala. Bahwa wahyu yang spesial baru saja turun.

Tentu saja, buat kita, Qur’an itu seluruhnya spesial. Semuanya. Tapi kita jadi paham juga, bahkan di dalam Qur’an itu sendiri, ada beberapa momen buat Rasulullah yang super spesial. Dan Nabi ingin umatnya juga menyadari hal itu.

Kalaupun Rasulullah langsung membaca wahyu, kita pun akan dengarkan karena itu kata-kata Allah. Apalagi sekarang ada pengumumannya dulu. “Apakah kamu menyadari sebuah surah telah datang kepadaku?” Belum lagi senyum itu. Pasti sesuatu banget.

Ya. Turunnya surah Al-Kautsar ada hubungannya dengan senyum Rasulullah. Ada hubungannya dengan kebahagiaan beliau, shallallahu ‘alayhi wasallam. Kebahagiaan yang bersifat personal yang beliau rasakan sendiri. Ini sangat penting untuk dipahami. Mengapa?

Karena kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam penuh dengan situasi yang sulit. Bahkan sebelum beliau menjadi Rasul.

Allah ‘azza wa jalla melukiskan, sebagai contoh, wa wajadaka ‘aa-ilan fa aghnaa.

‘Aa-ilan berasal dari kata ‘aa-ilah. Artinya, keluarga. Tapi ‘aalaa, ya’uulu, berarti membutuhkan seseorang. Bersandar pada seseorang.

Bayangkan seorang anak yang sedang putus asa. Dia akan bersandar pada ibunya. Ibunya menjadi ‘aa-ilah baginya.

Bisa ibunya, bisa ayahnya. ‘Aa-ilah adalah kepala rumah tangga. ‘Aa-ilah adalah orang yang namanya tercantum di bagian atas kartu keluarga.

Dan ketika kamu menjadi seorang ayah, keluargamu seluruhnya bisa menjadikanmu sebagai ‘aa-ilah. Karena mereka bersandar kepadamu. Mereka membutuhkanmu.

Sementara itu, yang membutuhkan adalah ‘aa-il. Allah melukiskan, Rasulullah dalam konteks ini adalah ‘aa-il. Karena Allah menemukan beliau dalam keadaan sangat membutuhkan.

Dengan kata lain, seorang anak laki-laki sangat membutuhkan ayahnya. Sangat membutuhkan ibunya juga.

Rasulullah belum sempat mengenal ayahnya. Rasulullah kehilangan ibunya saat masih kecil. Rasulullah juga kehilangan kakek yang menyayanginya seperti putra sendiri.

Rasulullah pun kehilangan Abu Thalib, justru di saat Rasulullah sangat membutuhkan sandaran pamannya itu.

Rasulullah akhirnya berlabuh kepada istri beliau, radhiyallahu ta’ala ‘anha, saat serangan Quraisy sudah semakin parah dan menjadi-jadi.

Semua umat manusia tanpa kecuali membutuhkan dukungan emosional. Ini juga berlaku buat Rasulullah. Nabi juga manusia. Nabi juga butuh dukungan emosional.

Di peristiwa Hudaibiyah, saat para sahabat menolak melepas ihram, ini adalah momen yang menggoncangkan jiwa Rasulullah. Ketidaktundukan alias pembangkangan itu ditunjukkan oleh mereka yang beriman.

Di momen ini, sebagaimana dikisahkan dalam sirah, para sahabat merasa frustrasi. Dan yang frustasi ribuan. Sebagian sirah bilang 1,800-an. Mereka berdiri di luar sana. Mereka sedang berapi-api untuk segera melakukan ibadah haji.

Rasanya seperti kereta api supercepat yang sedang melaju di atas 200 kilometer per jam tapi disuruh berhenti seketika.

Itu juga yang dirasakan para sahabat. Mereka sebelumnya telah menempuh jalur yang tidak manusiawi. Jalur aneh itu harus dipilih. Khawatir diserang jika pake jalur normal. Bahkan untuk sampai di Hudaibiyah mereka harus lewat jalan yang hewan pun tidak lewat situ.

Itulah sebabnya pakaian ihram mereka berselimut darah di bagian bawahnya. Kaki mereka besot. Lecet. Baret-baret. Sepatu mereka sampai meleleh karena batu hitam.

Sesampai mereka di sana, terjadilah negosiasi. Situasinya tidak mudah. Timbul sentimen diantara para sahabat. Kenapa jadi sentimen begitu?

Karena, setelah semua kesulitan dan perjalanan itu, setidaknya mereka berharap bisa menunaikan ibadah haji. Setidaknya mereka juga bisa berkurban. Karena mereka pun sudah membawa hewan kurban.

Tapi jawabannya adalah tidak. Mereka harus berbalik. Mereka harus kembali. Mereka harus pulang. Rasulullah menyuruh mereka pulang. Tidak ada ibadah haji saat itu.

Goncangannya begitu dahsyat. Bisa dibilang, rombongan manapun, kloter dari negara manapun, jika mengalami situasi seperti itu, pasti ujungnya adalah keributan. Kerusuhan. Huru-hara.

Bisakah kamu bayangkan kamu sudah melunasi paket hajimu. Kamu sudah pake pakaian ihram. Kamu sudah bilang selamat tinggal sama keluarga. Kamu sudah pamitan sama orang sekampung halaman. Kamu juga sudah menyebar ribuan permintaan maaf.

Belum lagi kamu harus beresin semua tetek-bengek dan tahapan yang tidak mudah. Urusan administrasi lah. Urusan pelunasan lah. Urusan pemeriksaan kesehatan lah. Urusan manasik lah.

Kamu pun masih berjuang di detik-detik keberangkatanmu. Kamu harus sabar kena macet sepanjang jalan menuju airport. Kamu repot saat check-in. Kamu masih harus menunggu boarding. Kamu habiskan waktu berjam-jam di pesawat. Akhirnya kamu sampai di Jeddah.

Alhamdulillah. Lega rasanya sudah sampai Jeddah. Terbayar sudah jerih payah selama ini. Pikirmu. Lalu tiba-tiba petugas paspornya bilang, “Kamu harus pulang.”

Kamu seperti disambar petir. Kamu, dan ratusan orang di belakangmu. Terjadi frustasi massal. Berujung keributan di airport. Tidak mungkin kamu dan orang-orang itu cuma duduk tenang.

Para sahabat radhiyallahu ajma’in saat itu syok berat. Sama halnya dengan aku dan kamu yang tidak terima disuruh pulang sama petugas paspor. Para sahabat juga tidak terima. Tapi mereka diam.

Mereka bungkam. Sepatah kata pun tidak keluar. Memang ada satu dua sahabat yang mengecam. Tapi ribuan lainnya hanya diam. Hening. Tapi mereka tetap tidak mau melepas ihram.

Ini adalah untuk pertama kalinya mereka tidak mau mendengarkan Rasulullah. Mereka dirundung pilu. Diliputi kesedihan. Karena tidak bisa menunaikan ibadah haji.

Bahkan Umar Radhiyallahu ‘anhu pun terguncang.

Peristiwa ini perlu dikisahkan kembali karena di saat-saat mereka diselimuti kebingungan seperti itu, yang sedih bukan hanya mereka, para sahabat. Yang lebih-lebih lagi sedihnya, adalah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Di titik ini, Rasulullah butuh ‘aa-ilah.

Maka beliau pun kembali ke ummul mukminin. Beliau butuh dukungan emosional. Beliau kembali ke pasangan hidup beliau.

Kita pun punya kebutuhan seperti itu. Kebutuhan untuk kembali ke pasangan hidup kita. Kebutuhan untuk kembali ke orang tua kita.

Bahkan, yang sebaliknya juga berlaku. Artinya, bukan anak saja yang butuh dukungan emosional dari orang tuanya. Tapi seorang anak juga bisa memberi dukungan emosional buat orang tuanya.

Pernahkah kamu mendengar seseorang bercerita, bahwa saat dia menggendong anaknya, stres-nya hilang? Pernahkah kamu sendiri merasakan, saat kamu melihat anakmu bahagia, kamu ikut bahagia?

Hubungan itu, pertalian antara orang tua dan anaknya, begitu dalam. Akan terasa sulit sekali jika hubungan itu harus dipisahkan. Begitu pahit. Begitu getir. Khususnya untuk seseorang yang tidak punya siapa-siapa kecuali anaknya.

Kita harus pahami bahwa Rasulullah dicabut hubungan kasih sayangnya dengan ibunda beliau. Karena wafat. Demikian juga dengan ayah beliau.

Jadi ketika beliau dikaruniai seorang putra, beliau ingin pastikan bahwa putra beliau menerima kasih sayang yang terbaik dari beliau, shallallahu ‘alayhi wasallam. Bahkan meskipun beliau sendiri pun tidak mendapatkan kasih sayang itu dari ayah beliau.

Kita juga mengamati banyak orang yang tidak bisa mengenyam pendidikan yang baik. Lalu apa mimpi terbesar mereka? “Sekurang-kurangnya anakku harus mendapatkan pendidikan yang tidak bisa aku dapatkan.” Itu muncul dari perasaan cinta dan kasih sayang yang sangat dalam kepada buah hatinya.

Apa yang terjadi dengan putra Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam? Putra beliau wafat. Masih di usia dini. Kehilangan ini adalah salah satu pengalaman yang paling traumatis dalam kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Dan ketika putra beliau wafat, radhiyallahu ‘anhu, ada kesedihan yang nyata di dalam rumah. Kesedihan yang menyelimuti seluruh keluarga.

Kamu mungkin pernah merasakan kesedihan meninggalnya anggota keluarga yang kamu cintai. Di saat-saat seperti itu, sulit untuk bicara dengan orang lain.

Orang-orang datang takziah. Mereka menghiburmu. Mereka ingin bertemu sama kamu. Tapi ada saat-saat di mana kamu ingin dibiarkan sendirian.

Bahkan ketika mereka benar-benar datang takziah, akan sangat membantu jika seseorang meletakkan tangan di bahumu. Biar terbagi beban itu. Kamu sangat butuh “me time” di saat-saat seperti itu. Bukan saat yang tepat untuk hal apapun yang lain.

Masalahnya adalah, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam tetanggaan sebelah rumah dengan Abu Lahab. Salah satu musuh terburuk dalam Islam. Salah satu musuh yang paling kasar dalam Islam. Tinggalnya persis di sebelah rumah.

Tetanggaan dalam konteks jadul saat itu tidak seperti apartemen atau rumah-rumah kita di jaman now. Jaman dulu, tembok atau dinding pemisah antar rumah sangatlah tipis.

Rumah jaman dulu juga tidak ada halaman belakangnya. Hanya ada halaman terbuka di depan rumah. Pagarnya ada di depan rumah. Tanpa atap.

Halaman depan rumah saat itu berupa ruang terbuka dan dianggap sebagai ruang tamu. Ruang tamu yang beratapkan terik matahari.

Situasi rumah, halaman depan dengan pagar dan ruang terbuka tanpa atap, serta dinding pemisah yang sangat tipis ini penting untuk disebutkan. Supaya kita paham bahwa Abu Lahab bisa mendengar apa saja yang terjadi di rumah sebelahnya. Rumah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Privasinya terbatas sekali.

Ketika putra Rasulullah meninggal, berita itu terdengar di rumah Abu Lahab. Saat Nabi menggendong jenazah putra beliau, Abu Lahab malah ngakak. Malah sangat gembira. Padahal Abu Lahab adalah paman Rasulullah sendiri.

Terdengar Abu Lahab meneriakkan “Batara Muhammad! Batara Muhammad!” Dia keluar rumah. Paman Nabi itu berteriak-teriak di jalan. Bahagia di atas penderitaan keponakannya.

Cara Abu Lahab berteriak, menjerit, dan seakan merayakan kematian putra Nabi, sangat menjijikkan. Dia berjalan keluar rumah, berteriak dan menjerit. “Nama Muhammad tidak ada yang membawa! Tidak ada lagi yang meneruskan namanya!”

Anak perempuan tidak membawa nama ayahnya. Garis keturunan anak perempuan ngikut suaminya. Tapi nama laki-laki dibawa oleh putranya. Abu Lahab sangat hepi karena tidak ada lagi yang membawa nama Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam.

Tega-teganya dia mengatakan begitu keras-keras. Padahal dia ngomong pelan dan di dalam rumahnya sendiri saja Nabi bisa mendengarnya. Seluruh keluarga di kedua rumah pun bisa mendengarnya.

Bayangkan kalo kamu yang mengalaminya. Kamu punya putra. Masih kecil. Meninggal. Lalu tetanggamu sangat girang. Teriak-teriak di jalan. Bilang dinasti yang menyandang namamu sudah berakhir.

Ini peristiwa yang ga terbayangkan. Sinetron pun sepertinya ga ada yang sadisnya kayak gini. Tapi ini terjadi. Dan yang mengalaminya adalah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Sebuah duka cita yang tak terbayangkan. Sebuah kenestapaan yang luar biasa.

Dan di saat-saat itulah surah ini diwahyukan. Rasulullah menegakkan kepala. Dan tersenyum. Dan mengumumkan, “Sebuah surah, baru saja diturunkan kepadaku.”

Turunnya Surah Al-Kautsar semakin menunjukkan bahwa Qur’an itu luar biasa. Qur’an tidak turun untuk memandu perbuatan kita saja. Qur’an tidak turun untuk memandu iman kita saja. Qur’an tidak turun untuk memandu pengetahuan kita saja. Tapi Qur’an juga turun untuk memandu emosi kita.

Memandu kesedihan kita. Supaya kembali bahagia. Memandu amarah kita. Supaya kembali tenang dan reda.

Memandu perasaan kita. Wa man yu’min billaahi yahdii qalbahu. Siapa yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah, Allah akan memandu hatinya, tidak peduli apapun yang telah merasuki dan meracuni hatinya.

Jika hatinya diliputi kecemburuan, Allah akan memandu supaya tidak lagi merasa cemburu. Jika hatinya diliputi ketamakan, Qur’an akan memandunya menjadi orang yang suka beramal.

Kembali ke kisah wafatnya putra Rasulullah dan ganasnya Abu Lahab.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam di titik ini sedang terkena banjir kesedihan. Tapi saat surah Al-Kautsar datang, beliau mengangkat kepala dan orang-orang melihat beliau tersenyum, shallallahu ‘alayhi wasallam.

Ini adalah efek yang seharusnya Qur’an miliki di hati orang-orang yang beriman. Semoga kita termasuk dalam golongan yang, ketika kita mentadabburi Qur’an, kita mampu merasakan efek dari ayat-ayatnya, sebagaimana yang pernah Rasulullah rasakan.

Al-Qur’an memang mukjizat. Kata-kata itu, berhasil mengubah situasi Rasulullah yang penuh kesedihan menjadi situasi yang penuh kegembiraan. Ini penting untuk dicatat. Karena, sangat kecil kemungkinannya saya dan kamu akan berada dalam situasi yang sama menyakitkannya dengan situasi yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Allah menempatkan Rasulullah dalam situasi menyakitkan yang luar biasa itu. Lalu menghadiahi Rasulullah surah ini. Dan surah ini diturunkan bukan hanya untuk Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Surah ini adalah hadiah untuk semua umat manusia.

Rasulullah mengalami situasi-situasi yang lain. Sampai akhirnya selesai Qur’an turun seluruhnya.

Penerima pertama dari hadiah Qur’an ini dari Rasulullah adalah umat yang beriman.

Allah bisa saja kasih hadiah Qur’an itu langsung satu paket satu buku. Tiga puluh juz sekaligus. Seratus empat belas surat dicetak, dijilid, dikirim turun ke bumi. Tapi bukan seperti itu kejadiannya.

Allah memutuskan untuk menurunkan surah maupun ayat di momen yang paling tepat yang sudah diantisipasi sebelumnya. Ini adalah cara Qur’an diturunkan.

Jadi surah ini, yang begitu pendek, yang dibaca dan dihafal setiap orang, tidaklah murah. Kita mungkin baca surah ini karena kita sedang tergesa-gesa. Kita mungkin baca surah ini kalo kita sedang ada urusan dunia yang segera harus dibereskan setelah shalat.

Kita mungkin baca surah ini biar shalat kita ringan dan cepet selesai. Tapi Rasulullah membayar harga yang sangat mahal dan mengalami situasi yang teramat berat untuk menerima surah ini.

Surah ini tidak datang dengan mudah. Surah ini tidak turun kepada Rasulullah secara gratis. Kita lah yang menikmatinya secara gratis. Tapi kalo kita menghubungkannya dengan apa yang terjadi, kalo kita menghubungkannya dengan senyum Rasulullah, maka kita akan menyadari kekuatan surat ini dalam hidup kita. Kita akan menyadari apa yang surah ini bisa lakukan untuk hidup kita.

Marah? Sedih? Stres? Tertimbun beban kehidupan? Itu semua bisa sepenuhnya dihapus dari dirimu. Hanya karena surah yang telah diturunkan ini.

Orang-orang datang menjengukmu. Menghiburmu. Tangannya diletakkan di bahumu. Bikin kamu merasa lebih baik. Itu membantu. Tapi ketika Allah yang melakukannya, bagaimana rasanya? Efeknya jauh beda. Tak akan ada bandingannya.

Innaa a’thoynaa kal kawtsar. Tidak ada lagi keraguan. “Kami telah menganugerahimu Al-Kautsar”. Al-kautsar itu sebenarnya susah untuk diterjemahkan. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, tidak cuma satu dua kali, tapi dalam beberapa hadits, dalam beberapa riwayat, bercerita tentang telaga yang dihadiahkan oleh Allah di surga.

Ibnu Katsir rahimahullah, atas surah yang pendek ini, tafsirnya ada tujuh halaman. Enam dari tujuh halaman hanya membahas ayat pertama.

Mengapa ayat pertama ini dibahas begitu mendalam? Karena Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam begitu gembira dengan hadiah telaga ini. Dan juga manfaat yang bisa didapat darinya.

Dan Rasulullah berulangkali menghubungkan hadiah ini dengan umatnya. Apa implikasinya buat kita? Apa yang seharusnya kita, sebagai umatnya, rasakan?

Rasulullah tentu saja adalah seorang ayah yang mencintai anak-anaknya. Tapi kecintaan beliau kepada umatnya adalah lebih-lebih lagi. Maksudnya, Nabi Ibrahim bahkan mengatakan wa min dzurriyatii. “Apa yang akan terjadi dengan anak-anakku?” Sementara Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, yang dipikirkan adalah “ummatii ummatii”. Umatku. Umatku.

Itu adalah wujud cinta yang luar biasa yang ditunjukkan Rasulullah untuk kamu dan aku. Ketika bicara soal umatnya, Rasulullah selalu penuh kasih sayang dan peduli. Jadi Rasulullah menyadari hadiah itu bukan untuknya semata, tapi juga untuk seluruh umatnya. Itu yang membuat Rasulullah meluap-luap kegembiraannya.

Kalo saja ayat ini hanya bicara soal nikmat yang banyak, maka redaksi kata-katanya menjadi innaa a’thoynaa kal katsiir. Kalo al-kautsar, beda. Al-kautsar berarti nikmat yang tidak biasa, yang banyak. Beberapa sahabat juga menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al-kautsar di sini sebenarnya adalah Al-Qur’an.

Jadi al-katsiir artinya banyak jumlahnya. Al-kautsar artinya banyak jumlahnya, banyak jenisnya, dan tidak biasa.

Al-kautsar juga berarti umat yang terus bertambah. Makin banyak yang mengikuti beliau, shallallahu ‘alayhi wasallam. Belum lama ini dunia menyaksikan masuk Islamnya Sinead O’Connor. Sementara itu di Indonesia, kita menyaksikan masuk Islamnya Roger Danuarta.

Semuanya itu dihadiahkan untuk Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam.

Coba kita lihat konteksnya sekarang. Kita menyaksikan seorang manusia, shalallahu’alayhi wasallam, yang berada dalam situasi kehilangan yang paling mengerikan dalam kehidupan manusia. Allah, alih-alih menyuruh beliau untuk bersabar, justru minta beliau untuk bersyukur.

Bahkan saat kamu datang takziah untuk bela sungkawa dan menghibur temanmu yang kehilangan anggota keluarganya, kata-kata pertama yang keluar dari bibirmu pastinya bukan, “Bersyukurlah sama Allah.” Bukan itu. Yang kamu ucapkan pasti, “Sabar ya.” Atau sejenis itu. Karena memang saat-saat seperti itu adalah saatnya untuk bersabar.

Tapi Allah bilang sama Rasulullah bahwa beliau telah diberi karunia yang luar biasa yang tidak pernah diberikan sama orang lain di bumi. Allah tidak menyebut-nyebut apa yang sudah “diambil” dari Rasulullah, yaitu putra beliau. Allah hanya menyebutkan apa yang sudah “diberikan” kepada Rasulullah.

Tidak ada percakapan soal apa yang sudah diambil. “Maaf ya, Rasulullah. Dengan sangat menyesal aku ambil kembali putramu.” Tidak ada kata-kata seperti itu. Allah ingin supaya Rasulullah tidak memikirkan apa yang sudah Allah ambil. Allah ingin supaya Rasulullah sepenuhnya memikirkan tentang apa yang sudah Allah berikan. Allah ingin supaya Rasulullah mengubah cara berpikirnya.

Ketika kamu memikirkan tentang apa yang sudah Allah ambil, hal itu membutuhkan kesabaran. Ketika kamu memikirkan tentang apa yang sudah diberikan, hal itu membutuhkan rasa syukur.

Dalam situasi Rasulullah dimana orang berpikir bahwa Rasulullah butuh kesabaran, Allah mentransformasikannya dengan Qur’an dan membuatnya menjadi situasi yang membutuhkan rasa syukur. Subhanallah. Betapa luar biasanya proses transformasi berpikir ini. Mengubah dari yang paling negatif menjadi yang paling positif.

Makin besar hadiah dari Allah, seharusnya makin besar pula rasa syukur kita. Makin menakjubkan hadiahnya, makin sering pula kita membicarakannya. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam sering membicarakan tentang hadiah spesial ini. Ada beberapa riwayat yang menyebutkannya di sirah.

Lalu ada yang lebih luar biasa lagi. Fa shalli lirobbika wanhar. Sebagai konsekuensi dari rasa terima kasih yang luar biasa. Qur’an sudah diberikan. Telaga di surga sudah diberikan. Umat yang luar biasa, yang ketika nama Rasulullah disebut, segera menggumamkan shalallahu ‘alayhi wasallam, itu pun sudah diberikan. Penghargaan kepada Nabi, dimana Rasulullah ditinggikan namanya bersama Allah, rofa’naa laka dzikrok, juga sudah diberikan. Kedudukan yang khusus di hari kiamat, maqooman mahmuudan, juga sudah diberikan. Setelah berderet pemberian yang luar biasa itu, apa yang harus Rasulullah lakukan?

Allah menjawab, “Fa shalli lirobbika.” Tunaikan shalat untuk Rabb-mu. Karena Allah masih peduli sama kamu. Bahkan di saat-saat putramu diambil oleh-Nya.

Mari kita aktifkan radar untuk memonitor sekeliling kita. Mungkin kita mengamati atau mendengar orang-orang yang bilang, “Kenapa Tuhan tega melakukan ini padaku?”

Di film Venom, tepat sebelum seseorang bernama Isaac diinfeksi dengan simbiot, Drake bicara soal Isaac dan pengorbanannya. Di Bible, yang diyakini disembelih Abraham adalah Isaac. Atau Ishaq, kalo kita menyebutnya. Kita mengimani bahwa yang disembelih Ibrahim adalah Ismail, ‘alayhis salam. Drake bilang bahwa dengan semua masalah yang dibiarkan tetap ada di dunia ini, jelas bahwa Tuhan telah meninggalkan umat manusia. Bahkan Drake juga sempat menyindir, Tuhan macam mana yang membiarkan Abraham membunuh Isaac, putranya sendiri.

Seakan-akan Allah sudah tak lagi peduli.

Lirobbika. Untuk Rabb-mu, dzat yang tak pernah dan tak akan meninggalkanmu.

Setiap kali Allah menawarkan dukungan untuk menghibur Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, Allah gunakan kata robbuk. Seperti di Surah Dhuha, maa wadda’aka robbuka wa maa qolaa.

Yang kita pelajari di sini adalah, bagaimana kita bisa berterima kasih sama Allah atas segalanya yang sudah Allah berikan? Jawabnya, kamu berterima kasih sama Allah melalui shalat.

Shalat itu kamu pikir adalah sebuah kewajiban. Sebelum mempelajari ini, ya.

Lima kali. Jadwal shalatnya bikin ga nyaman. Keluar kantor untuk shalat ke masjid. Atau berhenti bekerja sejenak untuk menuju mushalla. Atau bahkan ada juga yang harus cari space di gudang atau di bawah tangga. Atau cari space di sudut ruang kampus. Apalagi coba? Membosankan kan? Kenapa aku harus shalat kalo begitu?

Ada juga yang terpaksa shalat karena keyakinan bahwa kalo tidak shalat, akan kena hukuman. Jadi banyak juga orang yang shalat, yang berpikir lebih baik shalat itu segera ditunaikan, karena kalo tidak ditunaikan, mereka akan dibakar di neraka. Jadi mereka menghubungkan shalat dengan hukuman yang sangat ganas.

Tapi buat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, shalat adalah cara, tidak saja supaya beliau mengatasi kesedihannya, tapi juga beliau bisa mengubahnya menjadi kegembiraan. Tidak ada cara yang lebih baik untuk berterima kasih sama Allah dibandingkan shalat.

Lalu Allah bilang, wanhar. Diterjemahkan sebagai berkorban. Tapi dalam bahasa Arab, wadzbah juga berkorban. Dzibh juga berkorban. Apa bedanya?

Dzibh itu kalo hewan qurban disembelihnya dari depan leher. Nahr dari belakang leher. Menyembelih dari belakang leher hanya bisa dilakukan untuk hewan yang lebih besar. Artinya, jangan berkorban dengan sesuatu yang kecil. Berkorbanlah dengan pengorbanan yang besar.

Nahr juga berarti pengorbanan sebagai manifestasi dari kesetiaan. Sebagai tanda bakti. Bahkan dalam kisah Ibrahim kita menemukan anni adzbahu. Pake dzibh, Bukan nahr. Allah minta sama Rasulullah pake kata nahr. Pengorbanan yang lebih besar.

Allah mengajarkan perumpamaan antara warisan Ibrahim dengan warisan Muhammad shalallahu ‘alayhi wasallam. Keseluruhan institusi shalat dan qurban adalah warisan Ibrahim ‘alayhis salam. Robbij’alnii muqiimash shalatii, wa min dzurriyyatii, begitu Nabi Ibrahim bilang. Jadikan aku orang yang menegakkan shalat. Dan ketika Ibrahim berpikir tentang anaknya, beliau berpikir tentang seseorang yang mau berkorban. Keseluruhan warisan itu dirangkum bersama Ibrahim ‘alayhis salam.

Itulah mengapa kita shalatnya lebih banyak. Kita juga berdzikir, saat menjalankan ibadah haji. Ritualnya dimulai dengan shalat, diakhiri dengan nahr. Kita bisa merasakan warisan dari Ibrahim ‘alayhis salam. Jadi Allah mengingatkan Rasulullah di ayat yang satu ini bahwa risalah beliau secara sempurna terhubung dengan risalah Ibrahim ‘alayhis salam.

Dan Ibrahim ‘alayhis salam diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri. Allah telah meminta Ibrahim lebih sedikit. Kenapa dibilang begitu?

Jika kamu meletakkannya dalam perspektif, Ibrahim hanya tinggal melaksanakan yang diperintahkan. Anaknya pun tidak benar-benar wafat disembelih, karena ditukar dengan seekor hewan. Segalanya dibikin mudah oleh Allah. Sementara Rasulullah, putranya benar-benar wafat. Masih ditambah the guy next door yang kasar dan kata-katanya menyakitkan. Lebih tajam dari silet.

Lantas bagaimana dengan pamannya itu? Inna syaa-ni-aka, dia yang melawanmu, dia yang membencimu, huwal abtar. Dia tidak akan ada lagi. Episode kehidupan dia akan segera berakhir. Kamu ga usah cemasin itu.

Rasulullah bahkan tidak perlu memanjatkan doa untuk menghadapi Abu Lahab. Rasulullah tidak perlu terganggu sama dia. Allah tidak ingin Rasulullah menyisakan ruang dalam pikiran dan hatinya untuk memikirkan Abu Lahab. Let it go. Ga ada gunanya.

Rasulullah tidak perlu berurusan dengan Abu Lahab. Rasulullah cukup fa sholli lirobbika wanhar. Allah akan beresin sisanya. Bahkan Rasulullah tidak perlu berdoa, “Ya Allah, lepaskan aku dari orang itu.” Rasulullah tidak perlu melakukannya. Allah yang akan mengurusnya. Buktinya, sebuah surah diturunkan. Tabbat yadaa abii lahabin watabb. Padahal inna syaa-ni-aka huwal abtar ini saja seharusnya sudah memadai. Sudah cukup untuk menegaskan bahwa Rasulullah shalat aja. Bahwa urusan Abu Lahab adalah urusan Allah.

Surah Al-Lahab turun tanpa Rasulullah memintanya. Rasulullah tidak minta supaya Allah memusnahkan musuh-Nya. Rasulullah tidak pernah minta supaya Abu Lahab dibalas. Rasulullah tidak pernah minta supaya Abu Lahab diserang. Rasulullah kan rahmatan lil ‘aalamiin. Tapi meskipun begitu Allah mengurusnya juga. Membereskan Abu Lahab.

Apa yang kita pelajari dari kisah ini adalah pentingnya shalat untuk kehidupan kita.

Masing-masing kita pernah stres dalam hidup kita. Masing-masing kita pernah mengalami kesedihan. Masing-masing kita pernah merasakan berbagai macam kesulitan.

Di saat-saat seperti itu kita butuh diingatkan lagi tentang kebaikan-kebaikan yang banyak, yang Allah pernah berikan.

Di saat-saat seperti itu kita butuh diingatkan lagi tentang telaga yang diberikan kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam karena telaga itu bukan hanya untuk beliau. Umat Rasulullah boleh minum dari telaga itu. Jadi telaga itu untuk kita juga.

Di saat-saat seperti itu kita butuh diingatkan lagi tentang Al-Qur’an yang diberikan kepada Rasulullah, yang tidak hanya untuk Rasulullah. Al-Qur’an juga diberikan kepada kita.

Di saat-saat seperti itu kita butuh diingatkan lagi tentang maqooman mahmuudaa yang diberikan kepada Rasulullah. Kedudukan itu mendatangkan manfaat buat kita.

Membaca surah ini mengingatkan kita bahwa apapun yang diberikan kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, akhirnya akan nyampe ke kita juga.

Dan dari semua kebaikan yang Allah berikan kepada kita, yang tidak pernah mampu untuk kita bayar itu, kita akan dan seharusnya tak pernah berhenti untuk berterima kasih kepada-Nya. Duka nestapa kita akan mulai berkurang dan bahkan terhapuskan. Kesedihan kita akan berubah menjadi senyuman.

Semoga Allah memberikan senyuman, baik yang tampak secara fisik, maupun senyuman di hati para mukminin setelah mempelajari surah yang luar biasa ini.

Barakallahu lii wa lakum fil qur’aanil hakiim

Satu pemikiran pada “Let It Go, Belajar Melepaskan Kesedihan”

Yakin Tak Mau Komen?