Lebih Jauh, Yang Baru, Semuanya

Konon, di akhirat nanti, bukan hanya orang yang berdosa saja yang menyesal, orang yang beramal atau berbuat baik pun, menyesal. Di antara ungkapan penyesalan orang beramal itu adalah kenapa tidak lebih jauh; kenapa tidak yang baru; dan kenapa tidak semuanya?

Ungkapan kenapa tidak lebih jauh mengemuka, saat diperlihatkan balasan amalan dari seorang yang beramal itu membantu seorang “buta” ke tempat tujuannya. Kebetulan, ia diperlihatkan saat tergerak membimbing seorang buta yang sedang tertatih-tatih berjalan.

Ternyata, amalan membantu seorang buta itu sangat besar. Padahal, sudah cukup jauh ia membimbing orang buta itu. Tapi, tetap saja terasa dekat. Maka terlontarlah ungkapan dari mulutnya, kenapa tidak lebih jauh ia membantu orang buta itu? Kenapa tidak lebih jauh lagi?

Ungkapan kenapa tidak yang baru, mengemuka saat seseorang itu memiliki dua benda yang sama dan salah satu diberikan kepada orang lain yang sangat membutuhkan. Hanya saja, ia memberikan benda itu kepada orang lain bukan yang baru, melainkan yang lama.

Yang lama saja, ternyata balasan sangat besar, apalagi yang baru? Ia menyesal kenapa tidak yang baru saja memberikan benda itu kepada orang lain? Padahal, yang lama pun, tak ada masalah. Dan yang baru pun, ia sudah pernah juga memakainya, dan seterusnya.

Sedangkan ungkapan kenapa tidak semuanya, mengemuka saat memberi makan kepada fakir miskin yang minta-minta. Ia hanya memotong roti yang sedang berada di tangannya. Ternyata balasan dari perbuatan itu sungguh besar. Ia menyesal, kenapa tidak semuanya saja? Toh, ia tidak sedang kelaparan ketimbang orang itu?

Kalau orang yang berbuat baik saja menyesal, apalagi orang yang dalam hidupnya lebih banyak berbuat dosa? Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan untuk selalu berbuat kebaikan dan memiliki akhir hidup yang terbaik pula. Aamiin.

1 thought on “Lebih Jauh, Yang Baru, Semuanya”

Leave a Comment