Lama lama Terbiasa

Terkadang aku lupa kapan untuk memulai peran baru. Beranjak status dari gadis menjadi seorang istri. Kemudian naik tingkat menjadi seorang ibu.
Namun aku tak pernah tau kapan aku siap menjadi seorang ibu.
Namun kini peran itu tengah aku lakoni. Peran terbesar sebagai seorang perempuan.

Tiada lagi waktu huru hara, suka suka semaunya, menikmati drama korea ala anak muda, atau sejenak bersantai dengan konco konco semasa sekolah.
Yang berbeda kini belajar mengurus rumah tangga plus dengan embel embel didalamnya.

Tidak mau tahu dengan “kebisaan”nya. Dituntut untuk bisa adalah kosekuensinya. Bukan pembantu namun kini seorang istri yang berperan ganda manjadi madrasah bagi anaknya. Menjadi pendengar yang baik untuk tiap tangisannya (fase awal), meski tidak pernah tau makna dibalik buliran air matanya (haus,gerah,BAK,BAB,takut), yang pasti 24 jam waktu ku hanyalah untuk mu๐Ÿ˜Š.

Lama lama kamu akan terbiasa, begitulah kata malaikat tak bersayap ku pada awalnya. Disaat fase pemulihan “obras” yang tiada duanya. Untuk 40 hari kedepan kamu tidak boleh ngapa ngapain, cukup istirahat dan menyusui. Makan yang banyak biar asi nya melimpah. Anak sehat kamunya pun sehat.

Menjadi tahanan rumah pada awalnya memang tidaklah menyanangkan. Ingin kemana mana, ingin ngapa ngapa, ingin ini ingin itu kini tidak lagi bisa seenaknya. Namun dengan cengkokkan “lama lama terbiasa” akhirnya mau tidak mau adaptasi adalah jalan tengah bagi keberlangsungan hidup kedepannya๐Ÿ˜… .

Saat gerakan pun menjadi sumber masalah. Ada sakit yang luar biasa saat bagian tubuh itu digerakkan. Menjerit sudah biasa, tangis pun menjadi pelengkap kisah. Namun lagi lagi “lama lama akan terbiasa, lama lama akan sembuh juga”. Pertanyaan yang membuat marah sebagai pemula “kapan waktunya?”.
Bukan kah cukup sembilan bulan dengan fase lahirannya. Kenapa masih bertambah ke fase selanjutnya (lupa akan proses yang tiada pernah putus dan tangga yang dipijak semakin tinggi).

Sabaar… semua ibu pasti mengalaminya. Bukan kamu seorang, kalimat yang membuat ku sedikit marah. “Aku belum siap untuk sampai di posisi ini”. Namun ketidak siapan ku bukanlah mutlak menjadi untuk ku dimaklumi sebagai seorang pemula. Karena label lama terbiasa dan harus dicoba adalah bumerang untuk semuanya.

Kadang timbul iri pada mereka yang masih lajang, iri akan waktu tidur yang drastis berkurang, makanan yang ada pantangannya, perjalanan yang ada saja hambatannya. Dan suara tangisan yang dulu tiada pernah mendengarnya.

Namun memasuki usia satu bulan darinya dia yang dititipkan. “Lama lama terbiasa dan bisa” ternyata menjadi jimat ampuh. Mulai menikmati peran yang belum tentu setiap perempuan diberikan amanah yang sama. Mulai menikmati semua ocehan yang tiada bisa dahulunya. Mulai melakoni menjadi malaikat tak bersayap baginya yang kini tengah terlelap dipenghujung malam adalah peran berharga selama hidup ku di antara sekian banyak waktu yang telah terlewati.

Selamat datang ibu muda di fase yang mau tidak mau kau harus terima dengan setiap perubahannya ๐Ÿ˜Š.
Lakukan karena semua bernilai ibadah. Niatkan ikhlas hanya untukNya. Bukankah makhluk kecil itu adalah amanah yang kau minta dan seharusnya kau jaga dengan sebaik baiknya.

Kini kembali lah tidur di
tengah kantuk mu dalam berjaga. Karena esok PR mu masih akan terus bertambah๐Ÿ˜Š

Satu pemikiran pada “Lama lama Terbiasa”

  1. Maa Syaa Allah..itulah sebab ny knpa ibu derajat ny mlebihi ayah ka. Krna prjuangan ibu jga lbih bnyak utk mnghadirkn buah hati. Insyaa Allah smkin hari, kita akn smkin mningkatkn rasa syukur kita melalui prjuangan2 yg hnya Ibu yg tau rasa ๐Ÿ˜Š.
    Alhmdulillah ka, Allah amanah kpd kita , amanah yg tdk semua wanita mndapatkn nya..๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Tinggalkan komentar