Blog Single

03 Jun

Lailatul Qadr : The Blessing Of This Ummat

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
[QS Al Qadr 1-5]

LAILATUL QADR : THE BLESSING OF THIS UMMAT

Konsep Lailatul Qadr adalah blessing of this ummat. Seperti halnya konsep THR buat yang jadi karyawan (yang sangat kita nanti beberapa hari ini) adalah anugerah yang diberikan perusahaan untuk kita mempersiapkan hari raya. Sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata untuk menggambarkan luarbiasanya malam ini. Tidak ada malam yang lain yang di-highlight Allah dengan eksklusif selain malam ini sampai-sampai ada satu surah khusus yang dedicated membahas tentang ini, agar kita tau sepenting apa Lailatul Qadr ini.

Kenapa disebut blessing? Karena dulu banyak para sahabat mengeluh dengan kaum-kaum terdahulu yang umurnya panjang, ada yang umurnya 100, 200 tahun, 250, 500, hingga 900 tahun dalam sebuah riwayat umur Nabi Nuh dan kaumnya. Mereka khawatir tidak ‘kebagian’ syurga karena jumlah amal ibadah mereka kalah dengan ummat-ummat terdahulu yang life span-nya panjang.

Disinilah Allah menciptakan momen khusus untuk ummat Rasulullah SAW, sebuah malam yang ekuivalen bahkan lebih dari 1000 bulan. The night of quality and quantity of worship.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” [Al Qadr:1]

Ya, Allah menurunkan Al Qur’an di Lailatul Qadr ( ‘Lailatul Qadr’ aja ya, bukan malam Lailatul Qadr, nanti artinya jadi ‘Malam-malam Qadr’). Lailatul Qadr menjadi spesial karena diturunkannya Al Qur’an di malam tersebut. Allah jadi malam tersebut sebagai malam yang diberkahi.

Di ayat pertama, ada beberapa diksi yang menarik untuk dibahas.
1. ‘Inna anzalna’, Allah menggunakan kata ‘Kami’ bukan ‘Aku’. Memiliki dua makna yaitu plurality respect dan secara literal bahwa Al Qur’an Allah turunkan tidak sendiri, namun Allah memerintahkan kepada Malaikat Jibril membantuNya. Plurality aspect bermakna, ketika Allah menunjukkan kebesaranNya, keagungan dan kemuliaNya, Allah menggunakan kata “We” bukan “I”. Seperti contoh-contoh di kerajaan-kerajaan sering kita denger kalau nonton film,
We have declared ….”
This is our land…”

2. Makna Qadr secara bahasa setidaknya memiliki tiga makna.
– ‘Dzu Sa’nin Adzim‘, yang juga Allah mention di QS Adh Dukhon : 3 , yang bermakna Majesty, Dignity, Night of Majesty, Night of Izzah.
– Qadr juga bermakna padat atau penuh, istilah dari Syaikh Yasir Qadhi “restricted / constrainted” yang bermakna malam itu akan menjadi malam yang sangat padat/penuh karena jumlah malaikat sangat banyak yang turun ke Bumi. Insya Allah kita akan bahas lebih lanjut di ayat ke-4
– Qadr juga bermakna Destiny. Dimana dimalam ini juga akan ditentukan takdir setiap orang. Insya Allah kita akan bahas lebih lanjut setelah ini.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
[QS Al Qadr 1-3]

Satu lagi mukjizat bahasa Al Qur’an yang luarbiasa disini. Allah menyebutkan 3 kali kata “Laylatul Qadr”, tidak sekedar kata ganti “malam itu”. Saking spesialnya. Sama seperti kalau lagi ada diskon atau promo, biasanya akan disebut terus menerus. Hari Senin harga naik dan seterusnya.
Lalu disini Allah menggunakan kata ‘adrooka’, bukan ‘yudriika’. Seperti dalam surah….
Kalau Allah menggunakan ‘adrooka’ maka hanya Allah SWT yang dapat memahami dengan sempurna. Dengan pemahaman akal manusia secerdas apapun tidak akan pernah bisa menjangkau makna yang utuh dari penjelasan tersebut. Masyaa Allah..

Namun, Allah berikan hint disana untuk kita bisa membayangkannya.

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
[QS Al Qadr 1-3]

Min alfi syahr. Bahwa Laylatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Tapi sekali lagi ini hanya hint atau analogi yang Allah berikan agar kita bisa menangkap artinya karena Lailatul Qadr is beyond our understanding. Makna sesungguhnya, menjelaskan sebuah makna kebaikan yang infinite. Tak berhingga. Tak terjelaskan luarbiasanya. La haula walaa quwwata illa billah.

Tapi kita bisa mencoba memahaminya literally dari makna “malam yang lebih dari seribu bulan”. Jadi ingat lebih baik, bukan ekuivalen dengan 1000 bulan.

LAYLATUL QADR : MALAM YANG SANGAT ‘RIUH’

Buat pernah ke Puncak Bogor, membayangkan jalan kesana bawa kendaraan setiap weekend, atau saat pagi hari di jalan di kawasan Pusat Grosir Cililitan sampai otista macet dan padatnya naudzubillahi min dzalik. Tapi ada kepadatan yang justru kita akan sukai bahkan sangat mengharapkannya.

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”
[QS Al Qadr 4]

Makna kata ‘Tanazzalul malaaikah’ berarti frequent quantity, sejumlah malaikat turun terus menerus dari langit ke bumi. Batch of angels is coming down. Terus menerus dan tidak berhenti selama malam itu.

Berapa jumlah malaikat yang turun? Tidak ada yang tahu persis tentunya selain Allah. Yang jelas di setiap air yang turun dari hujan, malaikat pun turun. Setiap manusia yang meninggal pun juga ada malaikat. Berapa jumlahnya? Dalam surah Al Mudatsir 31 : wa maa ya’lamu junuuda robbika illa huwa. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.

“wa maa ya’lamu junuuda robbika illa huwa.” – “Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.” (QS Al Mudatsir 31)

Lalu kenapa kita harus peduli bahwa para malaikat ini turun? Jawabannya sederhana, karena dengan turunnya malaikat maka juga SIMULTAN dengan datangnya mercy, blessing, rahmah dari Allah SWT…Masyaa Allah.

Tidak sampai disitu saja, di malam itu juga akan dihadiri oleh sosok yang agung. Ruh yang mulia, yang diberikan kemuliaan bertemu dengan semua Rasul untuk membawa wahyu. Dialah Malaikat Jibril a.s. Ia turun di malam tersebut! The only time!

Para salafus shalih dulu banyak berdoa, “Aku Berlindung kepada Allah agar tidak tertidur ketika Jibril sedang mengunjungiku..” Disinilah pentingnya kita untuk terjaga di 10 hari terakhir atau tidur sangat sedikit sekali.

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
[QS Al Qadr 5]

Allah menjelaskan “Salaamun hiya” bukan “Hiya Salaam”. “Hiya” adalah sebuah kata tunjuk yang umumnya diletakkan didepan sebelum kata objeknya. Seperti “Hadza kitaabun”, artinya “Ini kitab”. “Hadzihii mistorotun”, artinya “Ini penggaris”.

Tapi disini Allah menjelaskan kata “Salaam” didepan dan “Hiya” setelahnya yang memiliki makna Mubtada’ & Khobar. Singkatnya, struktur kalimat ini menjelaskan penekanan Allah SWT akan kedamaian, kemuliaan yang luarbiasa di malam tersebut.

Dan seluruh kehebatan ini, kedamaian ini hanya sampai fajar. Malam yang sangat pendek. Hatta mat lail fajr. Maka jangan sia-siakan. Sejak maghrib sudah standby di masjid, perbanyak ibadah. Sahurnya juga jangan banyak-banyak, segera saja. Khawatir lailatul qadr datang pas kita lagi makan, pas lagi ngobrol-ngobrol pula.

Related Posts

Leave A Comment