Blog Single

29 Sep

Kok Bisa Ada Kamera?

Kita semua pasti merasakan bagaimana majunya ilmu pengetahuan saat ini. Satu di antara hasil pemikiran-pemikiran sains yang kita rasakan sekarang adalah di bidang optik. Banyak sekali alat bantu yang dapat kita temui sekarang, seperti kaca mata, cermin, hingga kamera. Kamera sendiri merupakan suatu alat yang digunakan untuk merekam suatu kejadian, baik dalam bentuk ruang mau pun waktu. Lantas, pernakah timbul pertanyaan dalam benak kita, siapa sih yang menciptakan kamera pertama kali? Nah, jawabannya adalah Ibn Al Haytham, seorang ilmuwan muslim loh!

Pada awalnya, Ibn Al HAITSAM menjelaskan cara kerja mata kita hingga menghasilkan sebuah penemuan berupa kamera yang diberi nama Kamera Obscura. Alat ini memiliki sebuah lubang yang menjadi tempat untuk cahaya masuk. Cahaya yang masuk sendiri akan memroses kejadian atau peristiwa yang sedang terjadi menjadi rekaman terbalik, dan akan diperbesar melalui bagian lain darinya. Nah, sistem kerja alat yang seperti inilah yang kemudian menjadi inspirasi cara kerja lensa kamera seperti alat-alat yang dapat kita temui hingga saat ini.

Ibn Al Haytham tumbuh dan besar di zaman kekhalifahan Bani Abbasiyah. Pada zaman tersebut, telah dilakukan tafsir kitab besar-besaran dari berbagai sumber ilmu, termasuk dari Yunani. Setelah itu, tafsir tersebut dikaji ulang oleh ilmuwan muslim dan dikoreksi menjadi sebuah alat penelitian dan menjadi teori baru. Teori-teori ini merupakan teori yang sebelumnya belum pernah ditemukan, atau bahkan sudah pernah ditemukan namun berkembang stagnan dan tidak mengalami kemajuan. Satu contohnya adalah teori korelasi kinerja mata dan prinsip cahaya. Ibn Al Haythamlah satu-satunya orang yang mampu memecahkan permasalahan perihal teori Al Bashariyah atau ilmu optik seperti yang dapat kita ketahui sampai saat ini, setelah sebelumnya sempat stagnan beratus-ratus tahun sejak ditemukan di Zaman Yunani.
Dalam teorinya, Ibn Al Haytham menyampaikan bahwa prinsip cahaya adalah selalu berjalan lurus walau terhalang oleh benda apa pun. Teori ini kemudian berkembang ke arah tema pencahayaan dan visualisi optikal. Secara bersamaan, Ibn Al Haytham mengamati cara kerja mata, yang ternyata sama persis dengan cara kerja ruang gelap, atau yang bisa disebut kamera. Ketika itu, Ibn Al Haytham diriwayatkan pernah membedah mata seekor hewan untuk melakukan penelitiannya ini. Maka dari itu pula, Ibn Al Haytham juga dikenal sebagai seorang ahli atau dokter mata. Dari penelitian-penelitian ini, Ibn Al Haytham juga dapat menarik beberapa kasus gangguan pada mata seperti yang kita kenal saat ini, yaitu katarak, hipermetropi (rabun dekat), dan miopi (rabun jauh).

Setelah penelitian tersebut, Ibn Al Haytham menemukan cara untuk menangani permasalahan gangguan mata tersebut, dengan menggunakan lempengan kaca yang memiliki bentuk dan ketebalan yang berbeda-beda. Hal tersebutlah yang telah kita kenal sekarang sebagai lensa. Dewasa ini, lensa-lensa tersebut telah diproduksi dan dipasarkan di masyarakat untuk menjawab berbagai permasalahan, baik digunakan sebagai kaca mata, kamera, dan berbagai macam alat bantu lainnya.

Semenjak penemuan itu, Ibn Al Haytham selalu menerima konsultasi dari beragam pasien dengan berbagai keluhan. Hal ini semakin membuat beliau Rahimallaahu Ta’aala untuk selalu berpikir keras dan menemukan solusi permasalahan baru untuk mencapai masyarakat yang sejahtera, terutama untuk umat islam yang sehat dan damai. Maa syaa Allah, begitu besar jasanya dan itu dilakukan tanpa harap balas jasa dan semata-mata hanya karena Allah ta’aala.

Nah, setelah tahu hal itu, kurang bangga apalagi kita sebagai umat muslim? Mulai sekarang, buktikan, bahwa umat muslim juga mampu berjaya, dimulai dari mengenal ilmuwan-ilmuwannya yang telah berjasa, hingga menerapkan semangat juangnya dalam menjalani hari-hari untuk menghasilkan karya-karya yang luar biasa. InsyaAllah kita bisa!

Related Posts

Comments

There are 1 comments on this post.

  1. Nisa Hanifiani

    29 Sep, 2018

    Balas

    Yang hobi selfie harus tau nih kisahnya

Leave A Comment