Kisah Rumah Peradaban dari Baghdad

By | Februari 19, 2019

Hari-hari kejayaan baghdad telah berlalu 1200 tahun yang lalu ketika baghdad menjadi ibukota seluruh dunia islam, selama kurang lebih 500 tahun kota baghdad menikmati hegemoni keunggulan, kemajuan ilmu pengetahuan dan budaya. Sebuah reputasi yang diraih dalam masa kepemimpinan Khalifah Al-Rashid, Al-Ma’mun, Al-Mutadhid, dan Al-Muktafi. Kota baghdad adalah kota terkaya, pusat dari pengembangan ilmu pengetahuan, kota terbesar kedua di dunia setelah konstantinopel.

kalangan intelektual yang menjadi ujung tombak dalam penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan bergabung dan bekerja sama di bawah kepemimpinan keempat khalifah besar dinasti Abbasiyah. salah satu alasan kuat baghdad dapat mencapai puncak kegemilangannya adalah kegemaran dan keinginan kuat keempat khalifah besar dinasti Abbasiyah ini untuk mengumpulkan manuskrip-manuskrip ilmiah dari berbagai penjuru dunia, sebagaimana pengumpulan karya-karya ilmiah, para khalifah Abbasiyyah juga mendatangkan dan mengumpulkan para ilmuwan dari berbagai belahan dunia untuk mendirikan salah satu Akademi Ilmu Pengetahuan termasyhur sepanjang sejarah yakni Bayt Al-Hikmah.

Bayt Al-Hikmah, sebuah Lokomotif intelektualitas yang berpadu dengan kemegahan Baghdad menjadikan kota tersebut pusat penyebaran dan pengembangan Seni, Ilmu Pengetahuan. Para Ulama, Seniman, dan Ahli Bahasa Abad Pertengahan ini bertemu setiap hari untuk menterjemahkan, mengkaji, dan berdiskusi, Baghdad merupakan sebuah kota cosmopolitan dimana berbagai kultur budaya manusia bertemu dan berpadu, dimana bahasa yang digunakan meliputi lingua franca, Farsi, Hebrew, Syriac, Aramaic, Greek (Yunani), Latin, & Sanskrit (Sansekerta) yang digunakan untuk menterjemahkan manuskrip matematika kuno India

Brian Whitaker menulis didalam UK Guardian Newspaper pada bulan September 2004 bahwa “House of Wisdom” adalah pusat tak tertandingi untuk studi humaniora dan Sains, termasuk matematika, astronomi, kedokteran, kimia, zoologi, dan geografi, bekerja diatas pijakan warisan Naskah Ilmiah Persia, India, dan Yunani – Aristoteles, Plato, Hippocrates, Euclid, Pythagoras, dan lainnya – para cendekiawan mengumpulkan koleksi pengetahuan terbesar di dunia dan membangun di atasnya melalui penemuan mereka sendiri.

salah satu dari Ahli Penterjemah Manuskrip Ilmiah diantaranya adalah Yuhanna bin Al-Bitriq, yang menterjemahkan dari bahasa latin sebuah karya Aristoteles berjudul “The Book of Animals”. Hunayn bin Ishaq juga merupakan penterjemah masyhur yang menterjemahkan buku karya fisikawan yunani kuno, Galen dan Hippocrates. Al-Kindi, seorang Fisikawan, Filsuf, Matematikawan, Kimiawan, sekaligus Astronom yang ditunjuk langsung oleh khalifah Al-Ma’mun untuk memimpin proyek penterjemahan karya-karya Aristoteles.

Khalifah Al-Ma’mun juga memerintahkan sekelompok Cendekiawan untuk menyusun sebuah Peta Dunia yang kemudian disebut “al-surah alma’muniyyah”. Diantara para tokoh-tokoh cemerlang Bayt Al-Hikmah pada zamannya, adalah Al-Khawarizmi yang merupakan Matematikawan, bapak dari “Al-gebra“, dan Al-kindi penemu dari Enkripsi dan Dekripsi.

3 thoughts on “Kisah Rumah Peradaban dari Baghdad

Tinggalkan Balasan